Home TEKNOLOGI TEKNOLOGI KONSTRUKSI MEDIA TERHADAP PAPUA
KONSTRUKSI MEDIA TERHADAP PAPUA
Saturday, 12 July 2014 04:24

Penulis: Ishak Bofra


Setiap manusia yang dilahirkan ke dunia ini memiliki hak yang sama sebagai manusia karena kita semua adalah bagian dari karya penciptaan TUHAN yang diwujudkan dalam rupa Tuhan sehingga tidak adil bagi orang Papua melihat suku bangsa Papua di jajah oleh Indonesia. Yang sangat tidak manusiawi bagi ukuran suatu harkat dan martabat kita sebagai manusia dimana ditindas, dianiaya, termarjinalkan baik secara ekonomi,politik,dan social budaya.

Selain itu juga, dirampas hak hidup kita sebagai orang papua, pembunuhan oleh militer,dan direkayasa pembunuhan seperti pengiriman PSK dari daerah Jawa yang sudah terkena HIV/AIDS sehingga mengakibatkan kematian ,miras yang mengakibatkan pembunuhan dan merusak moral dan karakter sehingga mematikan akal sehat dan merusak tubuh.

Persoalan eksploitasi sumber daya alam tanah Papua yang dilakukan oleh perusahaan TNC/MNC secara brutal sehingga mengakibatkan hutan Papua rusak. Persoalan ini semua adalah potret ketidakadilan yang dilakukan oleh Negara terhadap bangsa papua, dengan melihat kondisi yang sedemikian mengerikan ini maka masyarakat Papua mulai menuntut keadialan baik itu pelurusan sejarah pepera, dan juga menuntut diadakan pengadialan Ham untuk mengusut tuntas pelaku-pelakku pelanggaran Ham berat di papua.

 

Kehadiran Freeport di tanah Papua tidak memberikan kontribusi yang baik bagi masyarakat lokal suku Amungme dan Kamoro yang memiliki hak ulayat di sekitar area Frepoort beroperasi. Selain itu, masyarakat Papua menuntut agar pemerintah menarik militer dari Papua baik itu militer organik maupun non organik karena Papua bukan sarang teroris .Orang papua adalah manusia yang mencintai kedamaian.

Sekian persoalan yang terjadi di Papua segera diperhatikan oleh Negara, bukan pelihara kekerasan di Tanah Papua. Ketika kekerasan menjadi kenyataan maka perlawanan menjadi kebenaran, anjing ketika dipukul saja melawan apalagi manusia Papua yang mempunyai akal budi pasti tidak tidak terima. Melihat jejak masa lalu hingga kini mama, bapa, adik, kakak,dan ,saudaranya dibunuh di tanahnya sendiri namun perlawanan yang kami lakukan adalah selalu melalui mekanisme yang baik seperti menyuarakan lewat aksi turun jalan, tulisan, dan meminta dialog Jakarta papua yang sampai sekarang tidak direspon baik oleh Negara.

Oleh karena demikian penulis akan mencoba melihat dari persepktif media karena media tidak professional ketika menyampaikan berita tentang Papua dalam menyuarakan apa yang terjadi di Papua. Media hadir untuk mempolitisir pemberitaan setiap persoalan yang diangkat oleh masyarakat Papua, sehingga muncul opini yang kurang fear bagi Papua. Papua selalu di tanggap negative oleh masyarakat internasional, masyarakat Indonesia dan masyarakat Papua secara khusus.

Media Tidak Adil Mengangkat Berita Tentang Papua

Salah satu fungsi media adalah untuk menyampaikan informasi kepada khalayak umum, maka sudah tentu menjadi tanggung jawab media, baik itu media nasional, local: cetak maupun elektronik agar dalam setiap pemberitaaan dapat memperhatikan rasa keadialan dalam mengangkat berita tentang papua, sehingga masyarakat secara umum dapat memahami dan mengerti apa yang sebenrayan terjadi di Papua.

Berbagai media di Indonesia terkadang berita yang disiarkan tidak adil bagi Papua, dimana Papua selalu di sudutkan bahwa apa yang terjadi di Papua, baik itu kekerasan, perang suku, konflik vertical dan horizontal antara orang Papua dengan orang Papua, orang Papua dengan pendatang, orang Papua dengan pihak militer.

Pemberitaan yang tidak objektif, berimbang, serta data yang akurat membentuk suatu wacana publik bahwa Papua adalah daerah konflik pada hal konflik di Papua adalah konflik yang direkayasa oleh agen-agen Negara yang tersebar di Papua. Agen –agen negara seperti organik maumpun yang non organik dilatih untuk menjadi wartawan di Papua. Mereka disebarkan di Papua untuk meliput aktifitas masyarakat Papua. Oleh karena itu, media harus di adil dalam melihat persoalan dan dan objektif dalam menyampaiakan berita tentang Papua.

Berita Tidak Sesaui Dengan Fakta Lapangan

Berita yang sering disiarkan oleh media nasional dan juga beberapa media lokal terkadang tidak sesuai dengan fakta lapangan, sehingga apa yang diberitakan sering kontakproduktif dengan apa yang sebenarnya terjadi. Hal ini sangat mengecewakan orang Papua, secara umum bahwa peran media adalah mengangkat dan menginvestigasi fakta di lapangan agar dalam pemberitaan yang dikeluarkan sesuai dengan apa yang sebenaranya terjadi di lapangan. Bukan sebaliknya berita yang disampaikan atau dikeluarkan adalah pembohongan dan rekayasa berita.

Hal semacam itu sangat merugikan orang Papua, seperti pemberitaan tentang tragedy tinju Bupati Cup Nabire bahwa bencana murni. Dalam pemberitaan bertentangan dengan fakta lapangan karena korban yang meninggal diindikasikan mati secara tidak wajar. Sebenarnya di sini adalah ruang bagi media untuk melakukan investigasi lapangan yang baik agar informasi yang diberitakan sesuai dengan fakta di lapangan. Media jangan merekayasa karena orang Papua juga ingin berita yang diberitakan dapat mengangkat persoalan yang sebenarnya agar masyarkat secara umum dapat mengerti bahwa apa yang sebernya sedang terjadi di Papua bukan mengkambinghitamkan masyarakat Papua.

Profesionalisem Wartawan dan Independis Media di Pertanyakan

Kode etik jurnalistik menekankan bahwa profesionalisme wartawan harus diutamakan dalam setiap peliputan serta pemberitaan agar masyarkat secara luas dapat memproeleh informasi yang baik, benar, dan adil tentang suatu persoalan. Terutama persoalan yang sering terjadi di Papua.

Terkesan bahwa wartawan tidak professional dalam menyampaikan pemberitaaan tentang apa yang terjadi di papua, seperti kasus penembakan yang sering terjadi di papua. Mereka (wartawan) menulis bahwa kasus penembakan di Papua merupakan penembakan murni OPM. Sangat ironis apakah benar OPM yang melakukannya, ataukah ada rekayasa penembakan yang dilakukan oleh agen Negara lalu mengkambing hitamkan OPM.

Meminjam terori konsiprasi, maka sangat mungkin ini terjadi untuk melegalkan apa yang terjadi dilakuan oleh OPM dan kesalahan dilimpahkan kepada OPM. Hal tersebut diperkuat oleh media, maka opini yang terbentuk bahwa OPM makar dan separatis. Jika ditelusuri sebenarnya siapa yang makar dan siapa yang separatis. Semua pihak harus dilihat secara baik dan benar, mungkin saja agen Negara yang berada dibalik semua peritstiswa penembakan yang sering terjadi di daerah Papua. Sumber Informasi yang sering diperoleh media dari satu pihak sehingga pihak lain jadikan tumbal untuk melegalkan operasi. Kemudian menambahkan jumlah militer demi keamanan.

Indepedensi media dipertanyakan karena media tidak fair dalam memberitakan setiap persoalan yang terjadi di Papua. Media Cuma mengejar rating sehingga berita yang selalu di siarakan berkaitan dengan Papua pasti bertema tentang konflik dan konflik, sehingga kontruksi masyarakat terhadap Papua adalah daerah rawan konflik dan daerah konflik. Hal ini sangat bertolak belakang dengan karakter masyarakat Papua yang mencintai kedamaian dan keharmonisan karena alam Papua adalah alam yang memberi kehidupan yang damai.

Oleh karena itu, sangat disayangkan dengan indepedensi media dalam memberitakan tentang Papua. Jangan mengejar rating dengan mengorbankan kedamain di Papua, jangan Papua dijadian sebagai isu miris yang negative untuk meluruskan agenda Negara. Agenda negara untuk menghancurkan Papua karena dengan pemberitaan yang kurang benar sudah secara langsung menghancurkan eksistensi kehidupan orang papua secara psikologi. Media jangan memelihara status qua yang tidak adil di Papua. Media harus tampil untuk menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi di Papua karena apa yang terjadi di Papua adalah rekayasa Negara yang mencoba untuk menghancurkan Papua secara langsung namun perlahan-lahan. Oleh karena itu, independesi media harus di pertahankan dan dijaga.

Meminjam pernyataan Jean Boudrillard bahwa ketakutan jangan sampai media mengkaburkan pemberitaan sehingga kebenaran dan kenyataan menjadi tidak relevan dan bahkan lenyap. Hal ini yang sedang dilakukan oleh media indonesia untuk setiap persoalan yang terjadi di Papua. Media mencoba mengaburkan kebenaran dan melenyapkan kebenaran tersebut dan menyiarkan kehobongan dan rekayasa berita untuk melegalkan praktek kekerasan dan ekploitasi yang di lakukan oleh Negara terhadapap masyarakat dan alam Papua di tanah Papua. Oleh karena itu masyarakat harus cermat dan teliti dalam menerima informasi yang disampaikan baik oleh media elektronik maupun media cetak, agar tidak terjebak pada opini yang negative terkadap Papua. Oleh sebab itu, harus digali sebanyak mungkin informasi tentang Papua agar dapat mengerti dan memahami tentang Papua secara baik dan utuh karena perjuangan Papua adalah perjuangan untuk memperoleh keadialan dan kebenaran bukan untuk menghancurkan kehidupan orang lain.


Penulis Adalah Mahasiswa Papua, Kuliah Di Yogyakarta


Editor: Fransiskus Kasipmabin

 

Share
 


Copyright by KOMAPO.