Home SUARA PEREMPUAN SUARA PEREMPUAN APAKAH PEREMPUAN PEGUNUNGAN BINTANG SUDAH MERDEKA DALAM PENDIDIKAN?
APAKAH PEREMPUAN PEGUNUNGAN BINTANG SUDAH MERDEKA DALAM PENDIDIKAN?

Dalam rangka Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia (HUT RI) ke 70 yang tepatnya jatuh pada hari senin tanggal 17 Agustus 2015, Kumpulan Perempuan KOMAPO Koordinator Wilayah (KOORWIL) Salatiga dan KOORWIL Semarang mengadakan diskusi via Short Message Service (SMS) dengan tema Apakah Perempuan Pegunungan Bintang Sudah Merdeka Dalam Pendidikan?.

Elka Mimin, S.Pd sebagai pemimpin diskusi membuat pertanyaan lalu disebarkan via SMS ke seluruh anggota. Kalaupun via SMS tampak semua anggota sangat antisius untuk menjawab seluruh pertanyaan dengan jawaban yang cerdas dan cermat. Fokus diskusinya adalah memaknai kemerdekaan dari aspek pendidikan, lebih khusus untuk kaum mudi Pegunungan Bintang.

Kemerdekaan berasal dari kata dasar merdeka, yang artinya bebas. Bebas dari segala macam belenggu, aturan, dan kekuasaan dari pihak tertentu disemua aspek kehidupan. Sehingga pertanyaan replektif yang diajuhkan sebagai bahan diskusi adalah Apakah perempuan Pegunungan Bintang sudah bebas dalam Pendidikan?. Berikut kutipan jawaban dari sejumlah putri masa depan Pegunungan Bintang?.

Menurut Atamina Duyala, perempuan Pegunungan Bintang belum bebas dalam berpendidikan. Ada dua faktor yang mempengaruhi, yaitu faktor pertama dari dalam diri sendiri misalnya rendahnya keinginan untuk sekolah sehingga berpengaruh juga pada nikah usia dini. Faktor kedua adalah faktor lingkungan atau pergaulan, jika kita bergaul dengan orang-orang yang berkebiasaan malas (malas belajar organisasi maupun ilmu pengetahuan) kita dibentuk menjadi orang malas, tetapi jika kita bergaul dengan orang-orang yang rajin kita akan dibentuk menjadi orang yang rajin, mampu memahami ilmu pengetahuan dan berorganisasi.

Mahasiswi jurusan Kesehatan Masyarakat Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) ini menambahkan bahwa kita perempuan belum memiliki perempuan senior yang berpengalaman dalam tingkat pendidikan dan tingkat organisasi sehingga kita perempuan ini belum maju dan berkembang dalam kedua bidang tersebut, karena kedua bidang ini merupakan tolak ukur kemajuan perempuan Pegunungan Bintang.

Elka Mimin berpendapat bahwa perempuan Pegunungan Bintang belum bebas dalam berpendidikan, jika diibaratkan bagaikan kehidupan manusia dalam penjara. Untuk itu, bebas mutlak harus terjadi demi perubahan yang lebih baik. Maksud dari bebas adalah tidak ada yang menghambat seseorang untuk bergerak.

Pendidikan secara luas dibagi tiga yaitu pendidikan formal, nonformal dan informal. Pendidikan yang ditekankan oleh lulusan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ini adalah pendidikan formal dan nonformal.

Kuantitas tingkat kelulusan Perempuan Pegunungan Bintang untuk semua jenjang pendidikan dari SD, SMP, SMA, S1, dan S2 tergambar bahwa jumlah lulusan SD dan SMP banyak, SMA agak banyak, S1 kurang, S2 sangat kurang, hanya bisa dihitung dengan jari, kata perempuan asal distrik Kiwirok ini.

Lulusan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) ini menambahkan bahwa jabatan-jabatan birokrasi dilingkungan pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang juga dikuasai oleh laki-laki.

Bidang lain misalnya, belum ada perempuan asli pegunungan Bintang yang membuka kursus jahit atau memasak, belum ada restoran atau warung makan yang dimiliki atau dikelola oleh perempuan Pegunungan Bintang.

Dalam berorganisasi, keterlibatan perempuan juga sangat minim, terutama dalam hal sumbangsi pemikiran-pemikiran yang kritis dan konstruktif. Belum ada yang menguasai dibidang jurnalistik (menulis surat, menulis artikel, menulis berita dll), penguasaan bidang jurnalistik ini hampir laki-laki saja.

Sejumlah fakta ini membuktikan bahwa kita perempuan Pegunungan Bintang belum bebas dalam berpendidikan. Perempuan Pegunungan Bintang memiliki kemampuan namun sayangnya kemampuan tersebut belum pernah diasah atau ditingkatkan. Ada beberapa hal yang mempengaruhi permasalahan ini, diantaranya (1) kurangnya minat dari dalam diri perempuan untuk bersekolah, (2) perempuan belum memiliki tujuan/Gold yang tertanam kuat di dalam hati, (3) perilaku malas perempuan masih ada (perempuan malas dalam bersekolah dan perempuan malas dalam berorganisasi), (4) kurang diberikan kesempatan oleh kaum laki-laki untuk perempuan berkembang. (5) Faktor ekonomi keluarga berpengaruh terhadap keberlanjutan pendidikan.

Salomina Walopka, mahasiswi Jurusan Teknik Kimia di Akademik Kimia Industri (AKIN) Semarang, berpendapat bahwa Perempuan Pegunungan Bintang belum bebas dalam berpendidikan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi misalnya orangtua belum memiliki pengetahuan mengenai manfaat dan tujuan dari sekolah. Tidak berpikir demikian, dari sekolah anak saya akan mendapatkan ilmu pengetahuan dan ketrampilan hidup, setelah selesai sekolah anak saya akan mendapatkan pekerjaan dan pekerjaan ini yang akan menunjang kehidupannya.

Pemikiran-pemikiran seperti ini belum dimiliki oleh sebagian orangtua sehingga mereka tidak menyekolahkan anak-anak mereka hingga ke perguruan tinggi. Hal ini menyebabkan beberapa anak perempuan mereka nikah dini. Nikah dini bukan hanya dipengaruhi oleh minimnya pengetahuan orangtua mengenai pendidikan, tetapi ada beberapa faktor yang mempengaruhi misalnya nikah dini karena paksaan dari laki-laki yang dipacarinya dan kurangnya dana yang dimiliki oleh orangtua mereka, kata mahasiswi asal Distrik Iwur ini.

Menurut Kristina Wakei, perempuan Pegunungan Bintang belum merasa bebas karena dipengaruhi oleh keterbatasan pengetahuan. Sehingga pemikiran perempuan masih sangat dangkal. Mahasiswi Fakultas Pertanian Jurusan Agribisnis UKSW ini menambahkan bahwa kebanyakan perempuan Pegunungan Bintang berpikir bahwa mereka adalah ibu rumah tangga dengan tugas dan tanggung jawabnya adalah masak, mengasuh anak-anak dan mengurus kehidupan keluarganya. Pemikiran seperti ini yang mempengaruhi perempuan Pegunungan Bintang sehingga belum maju, kata mahasiswi yang sedang melakukan penyusunan skripsi ini.

Klemensia Sipka, mahasiswi Jurusan Keperawatan UKSW mengatakan bahwa kebebasan sudah ada tetapi masih belum bebas sepenuhnya, misalnya perempuan bisa diberikan kesempatan berpendidikan dan berpolitik di daerah kabupaten Pegunungan Bintang tetapi kembali lagi pada diri sendiri, apakah diri sendiri siap atau tidak, ujarnya. (Komnews)

 

Share
 


Copyright by KOMAPO.