Home SOSPOL SOSPOL ORANG PAPUA JANGAN PERNAH MENJADI ORANG ASING DI NEGERI SENDIRI
ORANG PAPUA JANGAN PERNAH MENJADI ORANG ASING DI NEGERI SENDIRI
Friday, 23 March 2018 13:12

Oleh: Oksianus Bukega

Prolog

Orang Papua jangan pernah menjadi orang asing di negeri sendiri. Judul ini lahir dari kenyataan hidup orang Papua. Bahwasanya di setiap pusat/sentral ibu kota kabupaten yang ada di Provinsi Papua saat ini didominasi dan dihuni oleh orang-orang migran (orang-orang pendatang). Pendominasian dan penghunian migran ini mengakibatkan orang Papua menjadi terasing di negerinya sendiri. Keterasing yang tercipta kemudian adalah dapat melemahkan ruang gerak bagi orang Papua dalam mana mengekspresikan jati dirinya sebagai tuan tanah pemilik negeri ini.

Pertama-tama perlu dinisiasi kalimat ajakan dari anak pemilik negeri Papua berikut: "Orang Papua di mana pun di pulai Papua ini engkau pergi tinggal/menetap, engkau bukan menjadi seorang mingran atau pendatang di tempat di mana engkau pijaki tetapi engkau adalah tuan rumah/tuan tanah di negeri ini. Engkau sebagai tuan tanah/rumah di negeri ini maka engkau harus menerima sesama lain yang hadir sebagai tamu yang datang bertamu." Sebaliknya bagi migran, mereka perlu memiliki kesadaran bahwa mereka adalah orang-orang pendatang bukan pemilik negeri ini (Papua).

Transmigrasi adalah salah satu potensi yang menciptakan terasingnya orang Papua. Orang Papua menjadi terasing di negeri sendiri itu boleh dikatakan hal baru. Sebab sebelum orang asing masuk dan menempati negeri Papua ini, orang Papua dengan kejayaannya mengekspresikan dirinya kapan pun dan di mana pun. Naman, dalam perkembagan dinamika hidupnya, sprit ini mulai lemah dan mulai terkikis habis. Untuk itu perlu dilihat kembali akan hal ini. Perlu ada sikap kritis lahir dari anak pemilik negeri ini. Kalau tidak dipikirkan dari saat sekarang maka negeri ini akan menjadi negeri orang migran.

Cukup Sudah Program Transmigrasi. Dalam pemerintahan LUKMEN (Lukas Enembe dan Klementinal) sudah diambil satu kebijakan untuk menutup program transmigrasi. Kebijakan yang diambil merupakan suatu keperihatinan anak negeri terhadap negeri ini. Namun, untuk realisasinya belum terlaksana maksimal. Antisipasi waktu yang akan datang adalah, bila program transmigrasi ini belum ditutup maka predikainya 2030 di pulau Papua ini akan diunih oleh orang-orang migran. Pastinya akan tinggal kenangan dan cerita saja, bahwa Pulau ini pernah hidup orang Papua yang berkulit hitam dan berambut keriting.

Faktor-faktor lahirnya keterasingan: Transmigrasi legal dan ilegal; Pendominasian masa di segala sektor: pendidikan, ekonomi, politik, budaya, insprastruktur dll. Bukan menjadi minimalis dalam menghadapi perkembagan yang sedang berkembang melainkan perlu dilihat ekaistenai manusia dan segala kepunyaannya. Oleh karena itu perlu ada pembenahan dan pembinaan karakter bagi orang Papua untuk kembali pada penemuan jati diri yang sebenarnya. Orang Papua jagan pernah lupa akan jati dirimu sebagai anak negeri.

 

 

Share
 


Copyright by KOMAPO.