Home SOSPOL SOSPOL MEMOAR: MENGENANG YANG LUPA ARNOL CLEMENS AP BERNYANYI UNTUK HIDUP BUKAN HIDUP UNTUK BERNYANYI
MEMOAR: MENGENANG YANG LUPA ARNOL CLEMENS AP BERNYANYI UNTUK HIDUP BUKAN HIDUP UNTUK BERNYANYI
Tuesday, 20 March 2018 20:47

Oleh: W. Yuventus Opki

Arnold Clemens Ap itulah nama lengkapnya. Ia sering dipanggil Arnold Ap. Beliau lahir 1 Juli 1945 dan wafat 26 April 1984. Arnold Clemens Ap adalah pendiri sekaligus pemimpin budaya Papua Barat, Antropolog, dan seorang musisi. Di masa kuliah, ia memimpin sebuah kelompok musik bersama teman-temannya, yaitu grup Mambesak dan kurator dari Museum Universitas Cenderawasih yang terkenal. Tujuan terbentuknya musik grup Mambesak ini adalah menjunjung tinggi harkat dan martabat budaya orang Papua serta mempersatukan masyarakat Papua menjadi bangsa yang menghargai budayanya di setiap daerah di seluruh tanah Papua. Studi budaya dan musik Papua yang dibangun Arnold Ap bersama grup Mambesak-nya itu dianggap oleh pemerintah Indonesia sebagai sebuah ancaman terhadap keutuhan NKRI.

Hadirnya musik Mambesak dan studi budaya yang dilakukan Arnold Ap terbukti menumbuhkan nasionalisme Papua dan menemukan jati diri atau identitas bangsa Papua. Upaya yang dilakukan Arnold Ap adalah untuk menyatukan rakyat Papua barat. Pada tahun 1940-an, musik adalah sumber potensial yang masih menjadi hambatan bagi budaya di Papua Barat. Namun, Arnol Ap dan Mambesak masih populer di Papua Barat dan karya-karya mereka dipandang sebagai simbol identitas bangsa Papua.

Pada tahun 1983, Arnold Ap pernah mempromosikan lagu-lagu ciptannya ke Jerman dalam Festival Kebudayaan Tingkat Internasional. Lagu-lagu yang diciptakan dan dinyanyikan tidak hanya dari satu bahasa, melainkan juga terdiri dari bahasa-bahasa daerah yang ada di seluruh tanah Papua, misalnya Awinkaman (Bahasa Biak), Woi-Wanang (Bahasa Yapen), Waniambei (Enggros Tobati, Jayapura), Nit Punghuluok Eh (Bahasa Kurima Jayawijaya), dan bahasa daerah lainnya. Inilah yang menjadi suatu kebanggaan bagi masyarakat Papua.

Sejak tahun 1990-an, pemerintah Indonesia tidak terima dengan hadirnya grup musik Mambesak di Papua Barat dan melarang untuk orang Papua mengembangkan bentuk-bentuk budaya pribumi yang melambangkan jati diri mereka. Pemerintah berupaya melalui inteljen memata-matai untuk menghilangkan sosok pemimpin musisi Mambesak asal Biak ini. Pada November 1983, Arnold Ap ditangkap oleh militer Indonesia, yaitu pasukan kusus (Kophasanda) atau sekarang berubah dengan nama Kopassus.

Kronologisnya, pada tahun 1984, Arnold Ap ditangkap pada malam hari. Dia dibawa menggunakan helikopter sejauh 500 mil dari kota Jayapura lalu ditembak bagian punggungnya dan dibuang ke laut. Pada keesokan harinya, ditemukan mayat terkapar di pinggiran pantai Besji di Dok V bawah kota Jayapura, tepat dipinggiran rumah tetangganya. Mayat Arnold Ap diangkat dan disemayamkan di Jalan Kamke, Abepura, Kota Jayapura. Selain itu, rekan Arnold Ap bernama Eddie Mofu juga diculik lalu dibunuh.

Pada saat itu, lagu dari Mambesak sangat digemari dan disukai oleh masyarakat Papua dari anak-anak, remaja, sampai dengan orang tua. Hadirnya lagu-lagu bernuansa daerah Papua ini membuat pemerintah Indonesia mencurigai adanya kampanye pemisahan Papua dari NKRI. Pikiran buruk ini muncul di benak pemerintah pusat hingga akhirnya menculik dan membunuh Arnold Ap, pendiri grup Mambesak di tanah Papua.

Masyarakat Papua menganggap sosok Arnold Ap adalah seorang pahlawan budaya orang Papua dirasakan melalui karya-karyanya yaitu lagu- lagu dari grup Mambesak. Melalui lagu-lagunya, Arnold Ap mengangkat spiritualitas jati diri bangsa dan alam Papua. Setiap tanggal 26 April Arnold Ap dikenang dalam peringatan sebagai Bapak Budaya Papua dengan doa bersama serta menyanyikan lagu-lagu Mambesak sebagai rasa ungkapan serta doa baginya dan bagi bangsanya. Diharapkan agar spirit MambesakBernyanyi Untuk Hidup Bukan Hidup Untuk Bernyanyi” selalu hidup dan dikenang oleh setiap generasi orang Papua.

Namun apa yang terjadi, semua harapan itu terjadi dengan hal yang tak bisa dibendung. Di dunia ini tak pernah kita merasa puas dengan yang kita miliki. Yang ada harus dipuji dan dihormati. Harus menjadi yang utama dan apa yang aku katakan itulah yang benar.

Sekalipun Arnold Ap dibunuh oleh para penguasa, semangat Mambesak selalu hadir dan membangkitkan setiap insan Papua tumbuh dan memperjuangkan harkat dan martabatnya bahwa setiap manusia di dunia ini memiliki hak yang sama untuk berkarya. Oleh karena itu, bagi masyarakat Papua semangat Mambesak adalah menyanyi untuk hidup dulu, kini dan nanti. Filosofi dibalik itu adalah dulu kami Papua, sekarang juga kami Papua, dan sampai kapanpun kami tetap Papua. (Opki)

Share
 


Copyright by KOMAPO.