Home SOSPOL SOSPOL EKSPEDISI PEGUNUNGAN BINTANG TAHUN 1959
EKSPEDISI PEGUNUNGAN BINTANG TAHUN 1959
Sunday, 04 March 2018 12:24

Artikel ini membahas tentang Review Buku Van Zanten, B.O. (2014) berjudul De Sterrengebergte Expeditie naar Nederlands Nieuw-Guinea in 1959. Perjalanan Van Zanten, B.O pada ekspedisi Pegunungan Bintang dirangkum oleh Anton Ploeg dengan judul artikel” Review Book About The 1959 Star Mountains Expedition. Artikel ini diterjemahkan secara terbatas untuk konsumsi publik. Hasil terjemahkannya belum sempurna, namun harapannya para pembaca dapat memahami inti dari perjalanan seorang ahli biologi yang pernah menyelidiki kekayaan flora di Bumi Aplim Apom- Papua. 

Ekspedisi ilmiah ini pada masa Belanda disebut Sterrengebergte Expeditie, kemudian diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi Star Mountains Expeditionadalah satu dari serangkaian ekspedisi ilmiah yang  dilakukan pada  abad ke-20 (tahun 1959) untuk mengeksplorasi bagian barat New Guinea. Star Mountains atau saat ini disebut Pegunungan Bintang terletak di bagian timur pegunungan tengah, dekat perbatasan Papua New Guinea. Sampai tahun 1957 daerah tersebut belum disentuh  oleh tim ekspedisi maupun para misionaris (Sneep 2005: 108). Untuk memudahkan ekspedisi, sebuah pos administrasi dibuka dan sebuah lapangan terbang udara dibangun di lembah Sungai Sibil (Oksibil) di sebuah tempat bernama Mabilabol, yang menjadi markas ekspedisi.

Ekspedisi berlangsung dari awal April hingga September. Hal itu dipimpin oleh L.D. Brongersma dan G. F. Venema. Yang terakhir, seorang perwira angkatan laut, bertanggung jawab atas aspek teknis dalam ekspedisi tersebut. Brongersma, ahli zoologi, memimpin group riset yang terdiri dari  dua belas ilmuwan yang didominasi oleh pakar ilmu alam (Brongersma dan Venema 1960: 278). Ilmu sosial diwakili oleh Jan Pouwer  ahli antropologi budaya  dan Joop Anceaux selaku ahli bahasa. Pemrakarsa ekspedisi tersebut adalah ilmuwan alam dan termasuk ahli  antropologi fisik, yaitu  H.J.T. Bijlmer, yang telah mengambil bagian dalam beberapa ekspedisi Pra-Perang Dunia II di New Guinea (Brongersma dan Venema 1960: 8; Wentholt 2003: 104). Penyertaannya mungkin menjadi alasan mengapa dua antropolog fisik ini menunjuk anggota staf ekspedisi Star Mountains, pada waktu itu sebuah disiplin yang ada  sudah dipertanyakan (Mok 2000: 129-32), sedangkan dokumentasi Budaya orang asli Papua bukan salah satu tujuan ekspedisi (Kooijman 1962: 15-6).

Terlepas dari dua ahli antropologi fisik, ilmuwan alam terbagi menjadi kelompok ahli geologi dan kelompok ahli biologi, dengan jadwal kerja yang terpisah. Brongersma mengarahkan parah peneliti. Dan saat kelompok ahli biologi menaiki Antares, dia menunjuk seorang pemimpin sementara. Ahli biologi tugasnya mengumpulkan tumbuh-tumbuhan dengan kadar lebih rendah, seperti lumut-lumut dan jamur. Ekspedisi pertama ini  seorang staf ditugaskan untuk mengumpulkan tumbuhan sebagai tugas utamanya (Van Zanten 2003: 108). Hasil penyelidikan tersebut dibukukan lebih dari lima puluh tahun setelah ekspedisi selesai. Meski menyerupai buku harian, Van Zanten secara detail menuliskan spesimen botani yang telah dikumpulkannya.

Ekspedisi tersebut diliputi masalah keuangan dan logistik. Pada awalnya, hal itu terhambat oleh penundaan karena peralatan yang diperlukan belum diterbangkan dan pada tahap selanjutnya nampaknya harus diputus sebelum waktunya karena uangnya yang akan habis (Wentholt 2003: 111). Sementara lapangan terbang yang telah dibangun sebelumnya memungkinkan transportasi udara reguler, diharapkan cuaca bersahabat untuk membawa persediaan penting. Ekspedisi tersebut secara resmi dimulai  pada tanggal 10 April 1959.

Namun, sebagian besar staf tidak tiba di Mabilabol pada tanggal tersebut, bahkan setelah kedatangan mereka, mereka harus menunggu peralatan yang memungkinkan mereka melakukan penelitiannya. Misalnya, Van Zanten membutuhkan pengering untuk mengawetkan spesimen dan kamera untuk merekamnya.

Awal ekspedisi yang penuh tantangan tersebut membuat kekhawatiran di kalangan para pimpinan  di Dutch New Guinea, sehingga Adjunct Director Departemen Dalam Negeri meminta kepala pos patroli di Mabilabol, Jan Sneep, untuk mengirimkan laporan yang merinci keadaan saat itu. Dalam memoarnya tahun 2005, Sneep mengungkapkan banyak hal. Dia mengatakan kesalahan utama pada Venema.

Ketika Van Zanten menderita tukak radang pada awal Mei, obat-obatan yang dibutuhkan untuk mengobatinya belum sampai, jadi dia diterbangkan kembali ke Hollandia (sekarang Jayapura) di mana dia dirawat, kemudian kembali melalui Tanah Merah (Boven Digoel), di dataran rendah arah selatan dari Pegunungan Bintang. Ia berupaya juga agar  persediaan harus diterbangkan ke Mabilabol. Van Zanten menemukan peralatannya dan akhirnya bisa bergabung dengan petugas Departemen Pertanahan yang akan pergi ke Mabilabol.

Dari Tanah Merah dia memulai perjalanan, menyeberangi sungai dengan perahu dan kemudian melanjutkan perjalanan jalan darat hingga ke Mabilabol. Perjalanan darat memakan waktu sepuluh hari. Van Zanten pasti berada dalam kondisi fisik yang sangat baik untuk melakukan perjalanan itu, dan telah mengumpulkan spesimen dalam perjalanan. Dia kembali pada waktu  yang tepat sehingga mengambil bagian dalam pendakian Gunung Antares yang memiliki ketinggian 3.650 meter, puncak tertinggi Pegunungan Bintang. Mereka beruntung karena Antares belum pernah dinaiki orang sebelumnya, tampaknya pada waktu itu orang asli Papua sendiri-pun belum pernah  mendaki gunung tersebut, jadi vegetasinya tidak terganggu oleh manusia. Perjalanan memakan waktu lebih dari satu bulan.  Pada awal Agustus Van Zanten kembali ke Mabilabol lagi. Dia meninggalkan Pegunungan Bintang  pada awal September.

Buku yang ditulis Van Zanten sangat menarik dan berharga karena menggambarkan perjalanan ahli biologi yang sangat berdedikasi di lapangan. Dia senang dengan pekerjaannya, terutama lumut-lumut yang dia kumpulkan. Sepertinya dia tidak pernah lelah untuk mengumpulkan spesiman, bahkan ketika bos membatasi pergerakannya, Ia tetap menekuni tugasnya. Selama tinggal di dekat Holandia, ia berusaha mengumpulkannya. Selama berhari-hari dia trekking, beristirahat sebentar di kamp lalu kembali mencari  spesimen sampai sore hari. Dia menganggap perjalanan daratnya dari dataran rendah ke Mabilabol sebagai keberuntungan yang menguntungkan pengoleksinya.

Setelah meninggalkan New Guinea, Van Zanten pergi ke Selandia Baru untuk mengunjungi saudaranya. Dia juga menggunakan kesempatan kunjungan itu untuk mengumpulkan spesimen. Yang mengejutkan, ada banyak hal yang  tumpang tindih dengan apa yang telah dikumpulkannya di Gunung Antares. Penemuan ini membawanya untuk memperluas penelitiannya ke dalam difusi lumut (Van Zanten 2003). Dalam epilog bukunya, dia menulis bahwa baginya ekspedisi tersebut adalah 'kesuksesan besar' (hal.204). Dia beruntung karena jauh dari base camp dan bisa mengumpulkan lebih dari yang direncanakan semula.

 

Dalam dokumentasi ekspedisi luar negeri Belanda, terutama di wilayah koloni Belanda, Wentholt berkomentar bahwa penyelenggara Star Mountains Expeditionmenganggap publisitas lebih tinggi dari pada sains (2003: 116).  Dia menyesalkan bahwa hasilnya belum banyak dipublikasikan. Kritik tersebut tidak berlaku untuk Van Zanten, karena dia menerbitkan sebuah catatan panjang tentang karyanya di Nova Guinea (1964) untuk memastikan bahwa hasil ilmiah ekspedisi ke Papua Baru dicetak (Van Baal, Galis dan Koentjaraningrat 1984: 2), dan Dia menambahkan hasilnya di makalah pada Wentholt's 2003. Karyanya dipuji dalam Ekologi Papua dan Beehler (Frodin 2007: 73).

REFERENCES

Brongersma, L.D. and G.F. Venema. (1960). Het witte hart van Nieuw-Guinea: Met de Nederlandse expeditie naar het Sterrengebergte. Amsterdam: Scheltens and Giltay.

Brongersma, L.D. and G.F. Venema. (1962). To the Mountains of the Stars. London: Hodder and Stoughton. Translation of Brongersma and Venema 1960.

Frodin, D.G. (2007). 'Biological Exploration of New Guinea', in: A.J. Marshall and B.M. Beehler (eds), The Ecology of Papua, Part 1: 14-107. The Ecology of Indonesia Series, Volume 6. Singapore: Periplus Editions.

Kooijman, S. 1962. 'Material aspects of the Star Mountains Culture', Nova Guinea 2: 16-44.

Mok, I. (2000). 'Een beladen erfenis: Het raciale vertoog in de sociale wetenschap in Nederland 1930-1950' [A Loaded Inheritance. The Racial Discourse in the Netherlands 1930-1950], in: M. Eickhoff, B. Henkes and F. van Vree (eds), Volkseigen. Ras, Cultuur en Wetenschap in Nederland 1900-1950, pp. 129-55. Elfde Jaarboek van het Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie. Zutphen: Walburg Pers.

Sneep, J. (2005). Einde van het stenen tijdperk: Bestuursambtenaar in het witte hart van Nieuw-Guinea [The End of the Stone Age: Administrator in the White Heart of New Guinea]. Amsterdam: Rozenberg.

Van Baal, J., K.W. Galis and R.M. Koentjaraningrat. (1984). West Irian: A Bibliography. Bibliographical Series of the Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde, No 15. Dordrecht: Foris Publications.

Van Zanten, B.O. (1964). 'Mosses of the Star Mountains Expedition', Nova Guinea, Botany 16: 263-368.

Van Zanten, B.O. (2003). 'Verspreiding en evolutiesnelheid bij mossen' [Diffusion and Rapidity of Evolution of Mosses], in: Wentholt 2003: 108-10.

Wentholt, A. (ed.). (2003). In kaart gebracht met kapmes en kompas: Met het Koninklijk  Nederlands Aardrijkskundig Genootschap op Expeditie tussen 1873 en 1960 [Mapped by  Machete and Compass: With the Royal Dutch Geographical Society on Expedition between  1873 and 1960]. Heerlen: Algemeen Burgerlijk Pensioenfonds; Utrecht: Koninklijk Nederlands Aardrijkskundig Genootschap.

Penerjemah: Melkior N.N Sitokdana

 

Share
 


Copyright by KOMAPO.