Home SOSPOL SOSPOL "GEREJA DI MATA ORANG PAPUA"
"GEREJA DI MATA ORANG PAPUA"
Wednesday, 28 February 2018 12:14

Oleh: Oksianus Bukega

Prolog
Judul "Gereja di Mata Orang Papua" diangkat untuk memberi gambaran tentang hakekat Gereja. Dengan merujuk pada beberapa pertanyaan berikut dapat melengkapi pemahaman tentang hakekat Gereja. Apa arti Gereja? Mengapa Gereja disebut satu, kudus, katolik dan apostolik? Jawaban yang dikemukakan ini kemudian akan dikontekskan dengan realitas di Papua. Karena itu, pertannyaan lanjutan untuk mensingkronkan pertanyaan tersebut di atas adalah Gereja itu manusia atau gedung (siapa)? Mengapa Gereja di mata orang Papua? Gereja ada buat apa untuk orang Papua? Mengapa Gereja diam dan tidak berpihak ketika ada pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) terjadi di Papua? Pertanyaan ini lahir dari realita dan merupakan suatu cara pandangan orang Papua tentang Gereja. Penjelasan lebih lanjut akan dikemukakan pengertian Gereja yang dirujuk pada sumber asali Gereja dan realita yang memumgkinkan lahirnya jawaban orang Papua tentang Gereja.

Gereja:
GEREJA merupakan gedung atau tempat berdoa dan melakukan upacara agama Kristen; merupakan badan (organisasi) umat Kristen yang sama kepercayaan, ajaran, tata cara ibadahnya (KBBI). Dalam Konstitusi Dokmatis Tentang Gereja (Lumen Gentium) menjelaskan bahwa Gereja dalam Kristus sebagai sakramen, yakni tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia. Gereja itu sejak awal dunia telah diperlambangkan, serta disiapkan dalam sejarah bangsa Israel dalam perjanjian lama. Maka datanglah Yesus. Dalam Yesus, Allah berkenan membaharui segala sesuatu (bdk Ef 1:4-5, dan LG 1).

Gereja: Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik. Itulah satu-satunya Gereja Kristus, yang satu, kudus, katolik dan apostolik (LG 8). Keempat sifat ini, yang tidak boleh dipisahkan satu dari yang lain, melukiskan ciri-ciri akhiki Gereja dan perutusannya. Hanya iman dapat mengakui bahwa Gereja menerima sifat-sifat ini dari asal ilahinya (KGK 811, 812). Maka jelaslah hakekat Gereja.

Gereja yang Satu: Gereja itu satu menurut asal (Allah Tritunggal) dan pendiriNya (Yesus) sebagai kepalaNya. Gereja yang satu itu sejak awal memiliki kemajemukan dengan demikian kesatuan termasuk dalam hakikat Gereja. Gereja yang Kudus: Gereja tidak dapat kehilangan kesuciaannya. Sebab Kristus, Putra Allah, yang bersama Bapa dan Roh dipuji, bahwa hanya Dialah Kudus, mengasihi Gereja sebagai mempelai-Nya. Dengan demikian Gereja adalah "Umat Allah yang kudus" (LG 12), dan anggota-anggotanya dinamakan "kudus". Gereja yang Katolik: kata Katolik berarti merangkul semua/seluruhnya. Gereja yang katolik karena di dalamnya ada Kristus. Gereja bersifat Katolik, karena ia diutus oleh Kristus kepada umat manusia (KGK 830, 831). Gereja yang Apostolik: Gereja itu apostolik, karena ia didirikan atas para Rasul dalam tiga macam arti, ia dibangun atas para rasul dan para nabi, dengan bantuan Roh Kudus, dan diajarkan, dikuduskan dan dibimbing oleh para Rasul sampi pada kedatangan kembali Kristus (KGK 857).

Gereja Itu amnusia atau gedung (Siapa)?

Pertama dan terutama harus dimengerti dan dipahami bahwa Gereja adalah Umat Allah, (persekutuan dengan Yesus). Umat Allah ditandai dengan kekhususan-kekhususan dari semua kelompok agama, bangsa, dari semua kelompok politik dan budaya dan sejarah. Allah bukan milik satu bangsa secara khusus. Tetapi Ia telah membentuk satu umat dari mereka yang sebelumnya bukan merupakan bangsa: "bangsa yang terpilih imamat yang rajawi, bangsa yang kudus" (1Ptr 2:9). Jadi amat jelas bahwa Gereja itu bukan kolektif melainkan satu persekutuan umat Allah. Gereja secara bentuk fisiknya adalah gedung tetapi secara imani merupakan sakramen: tandah dan sarana persekutuan dengan Allah dan di antara manusia.

Gereja: di mata orang Papua. Secara umum di pandangan (mata) orang Papua, Gereja merupakan sesuatu yang baru, asing yang hadir dan berkembang. Untuk itu perlu dipertimbangkan lebih awal supaya ketika menyinggung pandangan orang Papua tentang Gereja dapat dijelaskan tidak secara sepihak (maknawi Gerejani) tetapi dilihat dan dikaji pula dari dan secara maknawi kebudayaan. Sebab dalam perkembang dan pelayanan misi Gereja di Papua tidak terlepas dari perjumpaan Gereja dengan adat istiadat setempat. Dengan merujuk pada adat istiadat setempat maka di sana akan ditemukan rupa-rupa warisan nilai dan wejagan yang merupakan harta warisan. Namun perjumpaan gereja dan adat selalu tidak luput dari jejak terjal yang menghasilkan bendungan-bendungan untuk tidak saling terbuka dan menerima apa yang menjadi nilai hakiki. Sikap ini masih terus bertumbuh subur dalam kehidupan real di Papua. Sebab musabab perjumpaan Gereja dan adat istiadat, juga dengan sejumlah persoalan yang menyertainya merupakan jejak langkah yang tentu mendapatkan perhatia dan juga belar.

Gereja: ada buat apa untuk orang Papua. Perlu ditegaskan lagi di sini, bahwa Gereja adalah umat Allah, maka semua orang yang dibaptis menjadi satu persekutuan dalam Allah Tritunggal merupakan Gereja itu sendiri. Sebagaimana Yesus sendiri adalah kepala-Nya. Karena itu amat keliru bila secara kolektif atau secara individual mengklaim dan memvonis Gereja universal/umum ini untuk kepentingan sepihak dan mengatakan Gereja ada buat apa untuk Papua. Lebih tepat bila orang Papua atau siapa pun dia yang ingin memberi masukan yang bernada komentar, kritis dan lain sebagainya kepada pemimpin Gerejanya. Dengan demikia pernyataan bisa berubah menjadi "Pemimpin Gereja ada buat apa untuk Papua." Pernyataan pemimpin Gereja ada buat apa untuk Papua merupakan pernyataan yang amat tepat untuk segera memberi dan menunggu jawaban dari pemimpin Gereja. Selain memilih berkomentar untuk pemimpin Gereja juga harus memiliki kesadaran pula bahwa semua kita (umat) Allah yang dibaptis merupakan satu persekutuan Gereja itu sendiri. Karena itu kita semua berkewajiban untuk bersuara terhadap persoalan kemanusiaan yang terjadi di tanah Papua.

Mengapa Gereja diam dan tidak berpihak ketika terjadi pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Papua. Perlu dipahami bahwa Gereja bertumbuh dan berkembang di tengah hiruk pikuknya dunia. Oleh karena itu, persatuan dan kekudusan Gereja merupakan urat nadi dari misi pelayanan gereja yang tumbuh dan terus berkembang. Amat tepat bila judul buku "Menjadi Gereja Yang Berjalan Bersama Papua" (A. Eddy K OFM, 2017) diinisiasi dalam melihat perjalanan dan perkembagan Gereja di Papua. Sesungguh perlu diakui bahwa Gereja (pemimpin Gereja maupun jemaatnya) banyak memberi sumbangsi yang besar untuk menyuarakan pelanggaran HAM dan dinamika pelanggaran dan persoalan kemanusiaan yang terjadi di tanah Papua. Sejatinya Gereja (pemimpinnya dan jemaatnya) mesti berjalan bersama Papua (manusia dan dinamikanya) namun harapan ini belum nampak penuh di pandangan orang Papua. Menjadi suatu titik balik bagi pemimpin Gereja agar misi kemanusiaan perlu di dahulukan dan dibacking sesuai harapan orang Papua.

Tujuan yang Ideal: "Gereja yang digerakan oleh tujuan". Pertayataan yang salah: apa yang akan membuat gereja kami tumbuh? Pertanyaan yang benar apa yang menghalangi gereja kami bertumbuh" (Rick Warren, 2016). Dengan demikian dalam tugas pemimpin Gereja ialah menemukan dan menyingkirkan penyakit-penyakit dan halangan-halangan/rintangan-rintangan yang menghalangi pertumbuha, sehingga pertumbuhan yang normal dan wajar dapat terjadi. Idealnya demikian. Oleh karena itu pemimpin Gereja (religius maupun kaum awam) yang bertugas dan berkarya) diajak supaya bila ada persoalan-persoalan kemanusiaam terjadi, khususnya di Papua perlu mengambil peran serta menyuarakannya. "Tidak ada orang yang hidup hanya untuk dirinya sendiri".

 

Share
 


Copyright by KOMAPO.