Home SOSPOL SOSPOL SATU "KATA" UNTUK PAPUA
SATU "KATA" UNTUK PAPUA
Friday, 23 February 2018 12:01

Oleh: Oksianus Bukega

Satu "Kata" Untuk Papua: merupakan judul yang sepintas bernada memberitahu pun pula mengajak. Judul ini pertama-tama diajukan dan ditujukan bagi orang Papua agar sedapat mungkin mengungkapkan satu kata untuk Papua. Tetapi juga tidak menutup kemungkinan bagi siapa pun agar sedapat mungkin pula mengungkapkan satu 'kata' untuk Papua. Muatan dalam tulisan ini bertujuan memberitahu dan mengajak dan sekaligus menggambarkan jejak langkah mula Papua dan dinamika persoalan yang terbungkus di dalamnya. Karena itu, setiap orang yang mendiami di pulau Papua yang layaknya seekor cenderawasih ini dipanggil untuk belajar tentang sejarah Papua dan dinamika yang ada agar dapat memberi dan mengungkap satu kata untuk Papua. Mungkinkah Papua adalah SAYA atau KITA.

Ada apa dengan Papua?: Merupakan suatu kesempatan untuk bertanya dan mengajukan jawaban untuk Papua. Pertanyaan dan jawaban yang selalu dikemukakan tentang Papua dapat ditemukan bernada dan bermuatan pro dan kontra. Pertama, orang Papua akan mengatakan bahwa Papua itu SAYA. Sementara dari pihak lain yaitu orang Indonesia akan mengatakan bahwa Papua itu KITA. "Papua adalah Indonesia. Tetapi realitanya belum sepenuhnya diterima oleh semua orang Papua dan non-organisasi yang ada di luar (negeri) Papua" (bdk. Nico Gere 2016). Sebenarnya orang Papua bukan orang Indonesia dan sebaliknya pun orang Indonesia bukan orang Papua (prespektif budaya kebangsaan), yang perlu tahu dari sejak awal. Melihat perbedaan ini maka semua kita dipanggil untuk memberi dan mengungkap satu kata untuk Papua dari prespektif masing-masing. Satu kata kita adalah sebuah sumbangsi besar bagi Papua.

Bicara Untuk Papua: Bicara Papua berarti tidak terlepas dari bicara sejarah Papua. Nama Papua (New Guinea) bukanlah nama sebenarnya yang digunakan oleh suku-suku bangsa asli yang sudah mendiami pulau ini rata-rata 7 turunan. Papua (New Guinea) merupakan nama yang kini populer dan eksis dalam peta dunia serta dikenal, baik di tingkat lokal, regional maupun internasional karena suatu proses rekayasa sejarah (bdk. Melkior, 2016). Proses rekayasa sejarah perlu mendapatkan perhatian, sebab polemik tentang perkembagan Papua dahulu hingga saat ini (1969-2018) salah satunya adalah rekayasa sejarah ini (prespektif self determination) yang belum tuntas terungkap dan mendapatkan keputusan yang pasti.

Tindak Lanjut Proses Rekayasa: Menyebut proses rekayasa sejarah maka tentu ada jejak langkah mula untuk mengkaji dan mengemukakan serta mengungkap kebenaran dari pada nama Papua. Awal mula nama Papua sebenarnya adalah New Guinea (724), kemudian digangi menjadi Irian Jaya, dan saat ini dugunakan nama Papua (1524/didapatkan). Jejak langkah mula ini tidak terlepas dari rekayasa yang bermuatan politis adu domba negara-negara asing (Portugis, spanyol, Belanda, Amerika dan Indonesia). Motivasi dari negara-negara asing ini merupakan motivasi colonialism (penjajahan), command (menguasai) dll. Motivasi yang berlatar belakang penjajahan dan penguasahan (khususnya Papua) hingga saat ini masih berjalan. Upaya terus dilakukan agar rekayasa sejarah yang berdimensi politis ini bisa direalisasi kepada publik bahwa penjajahan dan penguasaan di atas dunia (Papua) harus dihapuskan. Namun berbicara tentang Papua hingga saat ini hanya menjadi sebuah ironi. Ada apa dengan Papua! Mungkin kalimat ini tepat ditempatkan di sini.

Dari prespektif sejarah: di atas terbukti bahwa nama Papua yang sekarang digunakan dan dikumandangkan merupakan suatu rekayasa yang berdimensi politis. Oleh karena itu, amat dianjurkan kepada siapa pun untuk belajar sejarah Papua. Sebab, barang siapa belajar sejarah Papua dia memiliki sans of belonging dan memiliki pengetahuan yang cukup untuk berani tampil berbicara dan mengungkap satu kata untuk Papua. Satu kata yang terungkap nantinya akan menjadi barometer dalam mengungkap kebenaran tentang Papua.

Pulau seekor Cenderawasih: "Papua layaknya seekor cenderawasih yang menawan mata-mata yang melihatnya, dengan keberanekaragaman warna, dan segala keindahannya. Kecantikan dan kekayaan inilah yang mendatangkan decak kagum bagi siapa pun yang melihatnya, tetapi juga mendatangkan bencana bagi yang ingin merampas kekayaannya" (Lukas E 2016). Sangat inspiratif bila kita menyimak pernyataan demikian. Dari sisi lain keindahan Pulau Papua ini terbungkus segala dinamika, misalnya persoalan HAM, Status Politik Papua, dan persoalan sosial lainnya yang tak kunjung terselesai.

Anjuran Untuk Mengungkap Persoalan: kompleksitas persoalan yang terbungkus di pulau Papua yang layaknya seekor burung cenderawasih ini mengajak semua orang memiliki perahtian agar belajar dan memberi solusi yang bisa menyelesaikan persoalan yang ada. Sebab kalau bukan kita siapa lagi. Amat dianjurkan bagi orang Papua khususnya agar tak henti-henti berjuang dangan satu kata untuk mengungkap kebenaran dan mendapatkan kembali ibu pertiwi Papua. Sangat disayangkan bila orang Papua sendiri tidak pernah tahu sejarah perkembagan dan dinamika persoalan yang dahulu kini dan yang akan datang di Papua ini. Tentu konsekunsinya adalah perlu belajar mengikuti peradaban dan menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Asumsinya adalah bahwa pasti pada suatu kesempatan akan terlahir anak kandung Papua yang memberi dan mengungkap satu kata untuk Papua sebagai ibu pertiwinya.

Share
 


Copyright by KOMAPO.