Home SOSPOL SOSPOL ORANG PAPUA TIDAK BISA: SATU STIGMA NEGATIF ORANG INDONESIA?
ORANG PAPUA TIDAK BISA: SATU STIGMA NEGATIF ORANG INDONESIA?
Tuesday, 20 February 2018 17:18

Oleh: Oksianus Bukega

Prolog
Stigma merupakan salah satu istilah negatif yang dikenakan pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya. Pun pula sebuah signal atau tanda negatif yang dikenakan terhadap seseorang atau sekelompok orang oleh orang lain dengan maksud ingin menjatuhkan dan merendahkan martabat, mematikan langkah gerak maju, melemahkan ruang gerak berekspresi, dan ingin menguasai dan mendominasi ruang dan waktu orang lain, dan sejenis kalimat senada negatif lainnya. Pemaham demikian membuka peluang dan sekaligus kesempatan bagi orang lain (orang Indonesia) untuk bermental menguasai orang lain dan mendapatkan lebih dari cukup banyak apa pun yang ia mau. Mental orang Indonesia sepintas demikian itu. Bahwasanya stigma orang Indonesia terhadap orang Papua perlu ditinjauh dari sudut pandang penguasaan dan pendominasian. Mari bercermin sejenak!.

"Orang Indonesia bilang bahwa orang Papua itu tidak bisa." Satu kalimat bernada negatif yang perlu direfleksikan bersama. Sebab sesungguhnya kalimat demikian ini secara langsung maupun tidak langsung memvonis orang Papua untuk tidak majuh menuju perubahan dan perkembangan. "Menuju Papua baru" dan mewijudkan kebebasan sejati maka orang Papua perlu antisispasi dan harus lawan sejumlah penilaian negatif yang berlabel destruktif oleh orang lain (orang Indonesia) yang bernada "Orang Papua Itu Tidak Bisa." Orang Papua diajak untuk menanggap secara positif dan lawan segala bentuk teror yang berdimensi menguasai dan mendominasi di segala sektor tentunya. Harus lawan dengan kekuatan persatuan dan kesatuan sebab "persatuan dan kesatuan adalah kekuatan kita." Persaruan dan kesatuan yang dimaksudkan di sini terealisasi dalam persatuan dan kesatuan pengembagan sumber daya manusia. Melalui SDM orang Papua pasti akan mengatasi dan melawan segala bentuk hal negatif yang dikenakan.

Orang Papua 'Tidak Bisa': Satu Stigma: Judul yang diangkat ini merunut pada realita di Papua yang mana sudah, sedang dan akan digunakan oleh orang non Papua (orang Indonesia) dan kemudian dikenakan kepada orang Papua. "Orang kulit putih akan memandang orang kulit hitam itu bodoh, miskin, tidak mampu, tidak bisa bersaing, tidak tahu apa-apa, terbelakang, dan lain sebagainya." Pandangan demikian disebut sebagai stigma. Dengan demikian, pandangan orang Indonesia terhadap orang Papua (yang merupakan ras Melanesia: orang kulit hitam, rambut keriting) adalah sama yakni orang Papua itu bodoh, miskin, terbelakang dll. Pandangan berdimensi destruktif bagi orang Papua ini menjadi luka mendalam yang tak disembuhkan nantinya mana kala pandangan ini tetus dikenakan.

Belajar dari pengalaman lapangan: Pengalaman di lapangan membuktikan bahwa sebagian besar orang Indonesia berpandangan bahwa orang Papua itu 'tidak bisa'. Sementara hanya sebagian kecil orang Indonesia yang memandang dan mengakui bahwa orang Papua itu bisa. Pengakuan demikian ini tidak serta merta merubah dan memperbaiki orang Papua yang juga merupakan manusia yang mana mengikuti peradaban dan dan mengaktualisasi dirinya dengan perkembangan zaman. Karena itu tidak seperti pandangan demikian ini "orang Papua bukan bayi yang baru lahir yang harus mendapatkan perhatian dari ibunya atau orang lain yang menjadi simpatisan." Orang Indonesia lebih baik dan secara bijak harus mengetahui hal ini. Bahwa orang Papua itu punya kemampuan untuk bersaing di segala sektor. Baiklah bila orang Indonesia mau merendahkan diri untuk memberdayakan orang Papua secara intensif.

Sekilas pandang stigma orang Indonesia: stigma orang Indonesia terhadap orang Papua berindikasi pemanfaatan dan penguasaan kesempatan di segala sektor kehidupan. Tidaklah mungkin terjadi pemerataan, penerimaan dan pengakuan eksistensi sesaman manusia di segala sektor bila stigmatisasi masih tetap dikumandangkan. Sebab pandangan stigma itu amat merendahkan dan melemahkan ruang gerak berekspresi orang lain. Sebagaimana pandangan orang Indonesia terhadap orang Papua saat ini. Orang Indonesia sampai dengan saat ini masih memegang dan mempraktekan padang stigma ini di Papua. Dengan dali penguasaan dan pendominasian di segala sektor.

Papua berpotensi stigmatisasi: Di Papua amat nampak sekali praktek stigma ini. Praktek demikian itu ditemukan di segala sektor formal maupun non formal. Praktek stigma tesebut berlaku baik di ruang lingkup formal maupun non formal. Rungang lingkup formal misalnya di lembaga perkantoran, pendidikan, agama, dll. Sementara non formal misalnya pasar, ruko-ruko, kios, dll. Di segala sektor baik formal maupun non formal yang terwakili disebut ini amat sarat dengan stigma sehingga pendominasiaan dan penguasaan berpotensi bertumbuh subur.

Perbandingan persentase: Coba anda baik orang Papua maupun orang Indonesia yang berprofesi sebagai PNS, guru/dosen, mahasiswa!/murid, petani, pedagang, pemimpin agama dll, menegok disekeling anda dan lihat dan hitung persentase orang Papua dan Indonesia. Berapa jumlah orang Papua yang menjalankan aktivitas di salah satu bidang atau menjabat sebagai salah satu pemimpin. Ketika anda temukan bahwa orang Papua lebih sedikit dari orang Indonesia maka disitu ada potensi penguasaan dan pendominasian dapat ditemukan. Hal ini timbul dari hasil stigma bahwa orang Papua tidak bisa ini dan itu. Itulah sebabnya tidak bisa segampang membalik telapak tangan untuk meniadakan atau menghapus stigma ini dari orang Indonesia tentunya.

Belajar dari contoh khasus: Ada cukup banyak contoh khasus yang bisa ditemukan dan dilihat disekeliling anda. Khususnya anda orang Indonesia yang saat ini tinggal dan menetap di Papua. Satu contoh khasus misalnya: ketika salah seorang mahasiswa tampil di depan ruang kelas dan berbicara atas ide yang dikemukakan lalu tiba-tiba ada yang berbisik-bisik atau tertawa besar atas pembicaraannya yang keliru maka secara tidak langsung praktek stigma itu berlaku. Sikap-sikap orang Indonesia untuk menguasai dan mendominasi orang Papua itu sudah mulai dari hal-hal kecil yang orang Papua sendiri tak pernah sadari sehingga sudah tumbuh subur dari dalam keluar atau pun sebaliknya dari luar ke dalam. Contoh khasus semacam bisa ditemukan di bidang mana saja. Mari bercermin dan melawan lupa.

Epilog
Stigma merupakan istilah yang bernada negatif. Orang Indonesia sedang mempraktekan stigma negatif di Papua. stigma ini merupakan salah satu cara orang Indonesia menguasai dan mendominasi di segala sektor yang ada di Papua. Dengan pandangan stigma memungkinkan orang Papua tidak diperhitungkan oleh orang Indonesia dari segala bidang yang ada nantinya. Satu cara yang bisa digunakan sebagai pisau cukur oleh orang Papua untuk mengatasi cara pandang ini adalah maju bersaing dan lawan dengan persatuan dan kesatuan yang terealisasi dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM). Sebab persatuan dan kesatuan ini adalah kekuatan orang Papua.

 

Share
 


Copyright by KOMAPO.