Home SOSPOL SOSPOL MAHASISWA PAPUA CUTI DAN PUTUS SEKOLAH SALAH SIAPA?
MAHASISWA PAPUA CUTI DAN PUTUS SEKOLAH SALAH SIAPA?
Monday, 19 February 2018 12:38

Oleh : Oksianus Bukega

Ketika salah satu pejabat pemerintah Papua ditanya oleh salah satu pejabat pemerintah pusat. Pertanyaannya demikian: Bapak mengapa mahasiswa asal Papua yang berstudi di luar Papua banyak yang memilih putus atau cuti sekolah? Apakah karena dana untuk pembiayaan studi (sekolah) mereka sudah berhenti dan sudah tidak ada lagi? Atau apakah bapak sudah lupa mereka? Lalu jawabnya, kami di Papua sedang konsentrasi dengan orang yang bapak kirim dari pusat ke Papua, dan dana yang seharusnya diperuntukan untuk pembiayaan bagi mahasiswa terpakai untuk mengurus dan memberdayakan kepentingan orang-orang yang bapak kirim ini. Sampe-sampe kami lupa mahasiswa kami yang sedang berstudi.

Pertanyaan dan jawaban di atas menggambarkan dinamika cuti dan putusnya mahasiswa Papua di dunia pendidikan, yang merupakan tanggung jawab penuh pemerintah. Fenomena cuti dan putusnya mahasiswa Papua, khususnya di perguruan tinggi negeri maupun swasta sebenarnya salah siapa? Atau mau persalahkan instansi atau lembaga mana? Pertanyaan yang muncul kemudian ini diajukan untuk melihat tugas, tanggung jawab dan wewenang yang diberikan dan dimandatkan kepada pihak yang berkepentingan. Dengan demikian dalam hal ini pemerintah adalah pihak yang berkepentingan, karena itu mendapatkan porsi yang lebih dalam pembiayaan mahasiswa Papua yang berstudi, khususnya yang berstudi di luar Papua, selain tanggung jawab dari pihak keluarga dan simpatisan (karena itu suatu tanggung jawab semua pihak nantinya).

Akhir-akhir ini ada banyak mahasiswa yang berstudi di luar Papua memilih putus dan cuti sekolah. Sebab putus dan cutinya studi mahasiswa ini berangkat dari keterlambatan dana studi dari pihak-pihak yang berkepengtingan (pemerintah/orang tua/keluarga dll). Informasi ini bukan merupakan sebuah rahasia untuk disembunyikan melainkan suatu fenomena yang nyata di mana ada kesaksian dari individu dan informasi yang diberitakan melalui media online maupun cetak merupakan data yang bisa dipertanggung jawabkan. Cerita-cerita variasi di bawa ini memperjelas fenomena cuti dan putusnya studi mahasiswa Papua.

Pemerintah Papua membiayai mahasiswa Papua palsu? "Kami putus dan cuti dari studi karena pemerintah tidak serius membiayai kami. Pemerintah hanya membiayai lebih banyak mahasiswa Papua palsu (bukan orang Papua). Hal ini terbukti dari hasil perbandingan jumlah mahasiswa yang di kirim berstudi di luar Papua. Hitung-hitung kami mahasiswa Papua lebih sedikit dari mahasiswa yang mengatasnamakan kami anak Papua." Diskusi-diskusi nyata seperti ini perlu dilihat dan diberi perhatian untuk tindak lanjutnya.

"Fenomena lain adalah ada sejumlah mahasiswa yang menyalagunakan uang studi dengan sembarang. Mereka menggunakan uang yang dikirim itu dengan hal-hal yang tidak menguntungkan. Walaupun pihak pemerintah sudah berupaya membiayai kami mahasiswa Papua namun mahasiswa sendiri juga tidak pernah menyadari hal ini sebagai kesempatan sekaligus peluang." Bisa saja pilihan cuti dan putus studi mahasiswa datang dari kesalahan mahasiswa sendiri (salah siapa?).

"Kami punya harapan besar untuk menjadi orang sukses dan membangun di daerah kami di Papua tetapi kalau pemerintah tidak serius memperhatikan studi kami mahasiswa Papua khusunya maka harapan kami itu tidaklah mungki terwujud. Kami berharap suapay cukup kami saja yang menjadi korban studi di luar Papua" (harapan yang besar untuk studi).

Mahasiswa putus dan cuti sekolah salah siapa? Merupakan suatu tugas besar bagi pemerintah dan pihak-pihak yang berkepentingan. Bidang pendidikan merupakan salah satu bidang vital yang mesti menjadi perhatihan utama. Pemangku kepentingan mesti mengambil peran utama dalam mengembangkan sumber daya manusia (SDM) Papua.

"Papua akan maju berkembang bila ada sepuluh atau dua puluh orang Papua pintar (dari studi) duduk bersama dan membicarakan dan merancang daerahnya tanpa ada kepentingan apa pun yang menghancurkan."

 

Share
 


Copyright by KOMAPO.