Home SOSPOL SOSPOL MARTABAT MANUSIA MENJADI BURUAN DI MATA KELOMPOK KRIMINAL BERSENJATA (KKB)
MARTABAT MANUSIA MENJADI BURUAN DI MATA KELOMPOK KRIMINAL BERSENJATA (KKB)
Monday, 14 August 2017 09:40

Oleh: Oksianus Bukega

 

Setiap manusia yang hidup di muka bumi ini memiliki martabat yang sama. Martabat pada hakekatnya adalah sakral dan memiliki muatan kesakralan rohani dan manusiawi. Kesakralan martabat tersebut mesti dijaga dan dipeliara oleh manusia dalam kehidupan ini, sebab sampai pada titik tertentu kesakralan dari martabat itu selalu dihadapkan dengan sejumlah persoalan yang mebuatnya menjadi terkontaminasi. Supaya kesakralan martabat itu tidak terkontaminasi oleh hal-hal yang mengancam atau membahayakannya maka mesti dijaga dan dipelihara oleh manuisa itu sendiri sebagai pemiliknya. Pemeliharaan terhadap martabat itu tidak hanya datang dari diri individu tetapi semestinya dijaga dan dipelihara secara saksama, baik dari pihak individu itu sendiri maupun oleh pihak lain yang adalah sebagai simpatisan. Mengikuti perkembangan zaman, akhir-akhir ini kita banyak melihat, menyaksikan dan menemukan bahwa martabat manusia seolah-olah menjadi buruan di mata kelompok kriminal bersenjata (KKB). Di tanah Papua aksi penembakan oleh KKB menjadi persoalan yang sangat hangat dibicarakan diberbagai media lokal, nasional bahkan internasional. Aksi penembakan pada akhirnya selalu berujung dengan kehilangan martabat manusia atau menghilangkan nyawa orang lain. Tentang aksi penembakan ini cukup mendapat banyak perhatian untuk memastikan sipa itu pelakunya. Secara umum diberitakan bahwa pelakunya adalah KKB, sebab penghargaan terhadap martabat manusia di mata KKB ini sudah tidak mendapat tempat yang semestinya sehingga martabat manusia seperti buruan. Boleh dikatakan seperti “Seorang pemburu yang hendak masuk ke hutan dan memburu buruan dengan semaunya saja tanpa dikontrol”. Fenomena terkaita aksi penembakan terhadap warga sipil oleh KKB amat sulit dibendung, karena selalu terjadi aksi penembakan yang kejadiannya sama tetapi memiliki muatan dan tujuan yang berbeda. Fenomena aksi penembakan tersebut tidak hanya terjadi sekali tetapi sudah, sedang dan mungkin akan terjadi sesuai dengan berjalannya waktu.

Beberapa aksi penembakan oleh KKB di sejumlah daerah di tanah Papua yang terjadi akhir-akhir ini mengindikasikan bahwa manuisa (KKB) tidak lagi menghargai martabat sesama lain sebagai manuisa yang perlu dilihat, dihormati dan dihargai martabatnya. Aksi penembakan yang terjadi di Kabupaten Puncak, distrik Sinak oleh KKB beberapa waktu lalu dengan menewaskan empat orang karyawan (Cepos 16 Maret 2016), penembakan terhadap tukang ojek di Puncak Jaya (Cepos 07 Agustus 2017) dan yang pernah terjadi adalah aksi penembakan yang amat tidak manusiawi. Disebut tidak manusiawi karena KKB menembak orang yang tidak bersalah dan semestinya orang-orang yang ditembak mati (karyawan dan tukang ojek) itu harus dilindungi. Aksi penembakan tersebut sekaligus mau mengambarkan juga bahwa martabat orang lain seolah-olah ‘tergantung’ dimoncong senjata. Fenomena ini aneh tetapi sudah menjadi kenyataan karena senjata yang seharusnya digunakan pada situasi berperang dan digunakan pada saat-saat tertentu kelihatnya telah dialhifungsikan untuk menembak manusia seperti hewan buruan yang tidak memiliki harga diri. Kelihatannya KKB menembak sesama manusia lain dengan tidak melihat latar profesi. Apakah yang ditembak itu adalah masyarakat sipil, kelompok militer, pemerintah, karyawan dan sebagainya. Dalam hal ini KKB tidak memandang siapa dia atau mereka, tetapi dalam eksekusinya serentak disamaratakan. Jika demikian apa yang menjadi tujuan dan target kelompok KKB ini sehingga harus melakukan aktivitas penembakan yang kemudian berujung dengan terancamnya martabat manusia.

Pada saat-saat tertentu amat membingungkan juga untuk memastikan tujuan dari pada KKB ini sehingga menimbulkan pertanyaan. Sebenarnya apa yang melatarbelakangi KKB untuk melakukan aksi penembakan terhadap orang yang tidak bersalah? Apa yang menjadi tujuan utama mereka? Pertanyaan semeacam ini seringkali berujung dengan pertanyaan pula. Kesulitan untuk memastikan tujuan itulah yang juga membuat instansi terkait yang menangani kelompok KKB juga dapat dibingungkan sehingga dalam memberi penilaian sering kali keliru. keliru karena penilainnya tidak berdasarkan pada latar situasi dan kondisi yang ada dan terjadi. Situasi dan kondisi yang dimaksudkan disini berkaitan dengan keberadaan kelompok KKB. Penilaian yang sering diperdengarkan dan ditemukan adalah tidak hanya Kelompok Kriminal Bensenjata (KKB) tetapi ada kelompok lain, misalnya Organisasi Papua Merdeka (OPM), Orang Tak Dikenal (OTK), Manusia Topeng (MT), dan sebagainya. Sejumlah kelompok ini digolongkan sebagai kelompok yang melakukan aksi penembakan, khususnya di tanah Papua. Agar tidak lagi ada penilaian yang membingungkan maka perlu ada analisis kritis untuk memastikan keberadaan kelompok ini karena nantinya akan berujung dengan stikmatisasi bahwa kelompok ini adalah kelompok yang selalu mengacaukan kehidupan masyarakan atau penilaian lain adalah kelompok yang selalu bertolak belakang dengan integritas suatu negara atau wilayah tertentu. Penilaian seperti itu sedang diperdengarkan kini dan disini.

Aksi penembakan yang dilakukan oleh KKB tentu memiliki tujuan terselubung yang ingin ditampilkan ke muka umum. Tujuan terselubung dari KKB adalah mempertahankan ideologi tertentu tentang pembelaan terhadap bangsa dan cinta akan tanah air mereka. Ideologi pembelaan terhadap bangsa dan tanah air ini terurai dalam pemahaman mereka tentang pembebasan dan kemerdekaan sejati. Ideologi tentang pembebasan dan kemerdekaan sejati adalah suatu harapan yang mesti terwujud dalam pandangan mereka (KKB). Suatu ideologi “pembebasan dan kemerdekaan sejati” yang dipikirkan ini sudah berurat dan berakar dalam benak KKB. Pemahaman tersebut inilah yang juga memungkinkan KKB dalam melakukan aksinya, sebab apa bila ideologi ini tidk terlaksana maka berbagai aksi dan reaksi akan selalu ditampilkan sebagai bentuk pembelaan mereka. Jika aktivitas itu terus tercipta instansi mana yang mesti bertanggung jawab. Apakah fenomena ini dibiarkan agar berjalan terus sesuai putaran waktu yang sedang berjalan atau bagaimana cara untuk mengatasinya.

Untuk mengatasi fenomena aksi penembakan oleh KKB terhadap masyarakat sipil ini, maka solusi dapat ditawarkan sebagai berikut, perlu dilihat latar belakangnya: siapa yang menjadi aktor pergerakan atau yang bermain dibelakang layar. Apa tujuan yang mau dicapai? Suapaya fenomena yang diciptakan oleh KKB ini tidak lagi tercipta atau terjadi maka dibutuhkan kerja sama. Melalui kerja sama, baik pihak pemerintah, pihak militer (keamana), pihak masyarakat sipil maupun siapa saja yang menjadi simpatisan sedapat mungkin diajak untuk bisa dibicarakan dan bisa menjaga kamtibmas. Dengan kerja sama itulah yang akan tercipta situasi aman dan damai yang diinginkan.

(Penulis adalah Mahasiswa pada STFT “Fajar Timur” Abepura Papua)

 

Share
 


Copyright by KOMAPO.