Home SOSPOL SOSPOL ADAKAH SERIBU LILIN UNTUK MEREKA YANG DITINDAS
ADAKAH SERIBU LILIN UNTUK MEREKA YANG DITINDAS
Monday, 15 May 2017 18:50

RAJA INDONESIA

(Ahok)

Setelah Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok divonis dua tahun penjara atas dugaan penistaan ayat Alquran, kitab suci umat Islam. Secara serentak, di seluruh tanah air Indonesia dari Indonesia bagian Barat, Tengah, sampai ke Timur Papua, turut andil bela sungkawa, menolak dengan memasang 1.000 lilin di setiap kota masing-masing. Anehnya, di pemerintah Indonesia sendiri masih punya banyak masalah yang perlu harus diselesaikan di dalam negeri. Misalnya, Korban Lumpur lapindo, korban pelanggran HAM di Papua, larangnya akses Jurnalis internasional ke Papua, kasus sumber waras, dan lain sebagainya. Banyak nitisen menanggapi dengan berbagai cara untuk membela Ahok, yaitu ada yang berlinagkan air mata melalui stiker (emotikon) di account facebook, di instagram, di dalam grup account WhatsApp bahwa save Ahok dan di media sosial lainnya. Lalu pertanyaan saya adalah Apakah Ahok difonis 2 tahun penjara oleh karena ia menistakan ayat alqur’an, kitab sucinya umat Islam? Ataukah, ada kepentingan Politik yang terpaksa harus Ahok dilengserken dari tahtanya sebagai Gubernur DKI karena ia berlatar belakang Kristen dan berketurunan Tionghoa? Ya. Mungkin saja, kedua hal ini bisa terjadi dua-duanya, karena ingin merebut kekuasaan di kursi pemerintahan atas nama agama.

Menariknya lagi di sini, sejumlah nitisen dari berabagi daerah mendukung Ahok dengan caranya masing-masing. Itu dari setiap oragnisasi maupun lembaga, bahkan aksi dukung Ahok sekaligus menolak keuputusan MK dengan menyalakan 1.000 lilin, tidak hanya di Indonesia sendiri, di luar negeri juga berlangsung dengan aksi menyalakan 1.000 lilin di Negaranya masin-masing, seperti Australia, Timor Leste, Belanda, Jerman, bahkan ada tekanan keras yang dilontarkan oleh komisi PBB. Padahal, orang Papua berteriak “Merdeka” ditengah keramaian baik di dalam negeri maupun di luar negeri bahkan dibicarakan di siding dewan HAM PBB dari tahun ke tahuan. Lalu pertanyaan saya adalah, Dimana demorasi yang adil, beradab, dan kemanusiaan, di negeri ini? Semua aksi dukungan ini, saya merasa bingung. Bingungnya adalah saat ini, Indonesia sendiri mendapatkan tekanan dari pihak luar terhadap, masalah pelanggaran HAM di Papua, masih menutupnya akses Jurnalis masuk ke Papua, ada kematian orang asli Papua hampir setap hari terjadi. Namun, Indonesia belum pernah menuntaskan persoalan itu, yang ada hanya membuat sebuah retorika: bahwa Indonesia sudah berhasil membangun kepercayaan melalui pembangunan. Misalnya yang terusik di telinga public adalah adanya trans Papua. Apakah dengan trans Papua itu mengatakan sudah berhasil? Oh tidak. Semua proyek yang ada di Papua, yang kerja bukan orang Papua. Orang pendatang yang memegang peran penting di dalamnya. Misalnya proyek jalan Trans Papua, yang kerja bukan masyarakat, tetapi militer. Dengan hadirnya militer di sana (Papua) dan proyek dikerjakan oleh militer, bagaimana kenyamanan orang Papua hidup dengan nayaman?

Aksi menyalakan 1.000 lilin atas difonisnya Ahok dua tahun penjara karena diduga Ahok menistakan ayat alqur’an kitab sucinya umat Islam itu, di seluruh tanah Papua ikut aksi menyalakan 1.000 lilin di kota masing-masing, seperti di Jayapura, Nabire, Merauke dan daerah lainnya. Lalu pertanyaan saya, Setaip hari Orang Papua di tangkap dan dibunuh di depan mata orang Papua trus, orang Papua yang lain ini sembunyi dimana? Melihat dari aksi 1.000 lilin dari Orang Papua untuk Ahok, hanya ada sedikit Orang Papua yang sangat berpikir kritis dan menolak aksi 1.000 lilin di tanah Papua. Kenapa hanya sebagian kecil orang Papua menolaknya? Apakah orang Papua yang menyalakan 1.000 lilin dukung Ahok itu disuap oleh pihak ketiga? Sehemat saya, sebenarnya Papua punya masalah tersendiri. Tapi seolah-olah Negara ini menutup sebela mata. Sehingga mereka yang peduli terhadap rakayatnya harus berpikir dan munculkan bahwa Kami orang Papua punya masalah tapi kenapa masih ada yang percaya dengan Negara colonial di tanah Papua? Mereka (Orang Papua) yang tidak ikut aksi menyalakan 1.000 lilin untuk mendukung Ahok, mereka beranggapan bahwa “Orang Papua masih didiskriminasi oleh NKRI yang sangat tercinta ini”. Sehinnga mereka harus memprotes aksi 1.000 lilin di seluruh tanah Papua. Artinya mereka mengutuk orang Papua yang ikut dukung Pak Ahok yang sedang dalam tahanan, hanya karena ia dituduh menistakan ayat alqur’an kitab sucinya umat Islam. Di balik aksi itu, ada beberapa tanggapan nitisen orang Papua yang menolak pemasangan 1.000 lilin di Papua.

Di account Robert Muyapa, membagikan tulisan Frederika Korain.

“Orang Papua Yang Dukung dan Tidak Dukung AHOK Boleh Baca Tulisan Di Bawah Ini Baik-baik Agar tidak Gagal Paham”.

Frederika Korain menulis:

‘’Di Tanah Papua, ada 1.000 lilin untuk Ahok, bagus sekali. Tapi manakah lilin yang sama untuk Arnold Ap, Theys Eluay, Kelly Kwalik, Yawan Wayeni, Filep Jees Karma-Linus Hiluka-Steven Itlay, dkk yg dipenjara sewenang-wenang, Marthen Tabu, Melkianus Awom, Mako Tabuni, Gobay-You-Yeimo-Pigay....dst..dst..dst....??? Kalaulah itu benar-benar gerakan yang muncul dari nurani karena dorongan kemanusiaan, hai Orang Papua maupun para saudara yang hidup, makan dan besar di atas Tanah Papua ini, maka tindakan yang benar adalah pasanglah 1000 lilin yg sama juga untuk Orang Papua yang dibunuh oleh negara, dipenjara karena proses hukum Indonesia yg semena-mena, selalu didiskriminasi, diperlakukan tidak adil oleh penegak hukum di segala lini di Tanah Papua ini, didiskriminasi karena dianggap minoritas di tanahnya sendiri.

Mama-Mama Papua yg tersingkir dan hanya bisa mencari makan dengan jual pinang di pinggir jalan atau di emper toko milik saudara pendatang, serta korban akibat berbagai ketidakadilan hukum dan kebijakan negara ainnya. Kalau tidak demikian, maka aksi lilin itu hanyalah aksi genit, ikut ramai, pameran nurani yang tidak utuh, alias aksi 'tebang pilih': tajam kepada elite penguasa yg metropolis dan populer (akibat publikasi media), tapi tumpul kepada orang kecil dan marjinal, kaum pinggiran, apalagi aslinya memang Orang Papua yg korban ini su hitam dan kariting sehingga tidak terhitung! Camkan bahwa yang Ahok ada alami sekarang itu Papua sudah alami 1/2 abad lamanya, sejak tahun 1962. Jadi adil dan humanis itu sebaiknya sejak dari pikiran...’’

Yuventus Melanesia Opki, menulis:

ü ‘’Jangan kita (Papua) asyik bergoyang di atas kematian kita sendiri atas duka mereka hari ini. Duka mereka adalah biarlah duka mereka, duka kita (Papua) adalah duka khusus yang selama ini kita tidak duka, padahal ada duka di mana-mana di rumah kita sendiri. Di luar sana, duka kita tak pernah dinyalakan api unggun untuk duka kita bukan? Ya, tapi kalau ingin mengapikannya, silahkan. Tapi ingat, di tengah 1.000 lilin itu, di kita, banyak yang harus kita duka, doa, dan nyalakan api unggun, kepada Tuan Arnol Ap dan kawan-kawannya. Salam Papua, Jangan Kita Pura-pura Percaya Yesus. Sebab Ia pernah berkata pada muridnya ketika diterpa badai di tengah lautan; Dimanakah Imanmu”?

ü ‘’Adakah 1.000 Lilin Untuk sahabatku yang ditemabak oleh TNI, POLRI, dan BRIMOP di Paniai, beberapa tahun yang Lalu? Apakah dunia ini hadir untuk orang beragama’’?

ü ‘’Kalau orang Papua ditembak, ditangkap atau ditahan di Penjara, adakah 1.000 lilin untuk mereka’’?

Dari kedua orang di atas, Yuventus Melanesia Opki menulis sebuah puisi juga, yaitu bagaimana ia mengungkapkan rasa terharu dengan kematian seorang perempuan bernama Febby Wetipo. Berikut puisinya.

Di Kamar Luka

Di kamar luka itu, terlihat bocah kecil
terbaring karena gigitan semut
sayup terdengar tangisan di kamar,
hanya sesama satu rumah

Ditengah keramain iman dan dunia,
ia tersengat anjing
iman dan suasana dunia berbincang
langit menyaksikannya

Luka bocah kecil di kamar itu,
sunyi senyap dari dunia kita
karena angin memilih iman dan dunia
Si bocah kecil itu terperangkap dalam dua lubang yang berbeda
Yang didengar diramaikan adalah soal iman
bukan luka si bocah kecil di kamar ajal itu

Untukmu, sahabatku, Febby Wetipo.

Yogayakarta, 2017

Di tengah kesibukan orang Papua menyalakan 1.000 lilin untuk Ahok di Papua, ada seorang nitisen dia mengaploud foto dengan bergambar peta Papua berwarnah Merah berilustrasi kerangka (tulang) manusia. Di dinding fotonya bertuliskan “hentikan kekerasan di tanah PAPUA”!. Menariknya adalah dia bukan orang asli Papua. Dia adalah Reza Satriadi, asal Batoepajoeng, Kalimantan Barat, kota Pontianak. Bagi saya, 1.000 lilin sangat berarti, tapi lebih berarti dan bermakna adalah satu orang, satu lilin untuk menerangi banyak orang.

Berikut tulisan dan gambar yang ia tulis dan uploud di grup facebook” Buktar Tabuni Ketua PNWP, Deklarator ULMWP”.

“Untuk saudara2 ku di Papua Kalian lebih layak menerima cahaya ini....Maaf cuma 1 karna OAP bukanlah apa2 bagi mereka yang punya 1000 lilin...”.

“Kawan, tra ada kado yang kitong dari Papua berikan hadia atas lilin ini. Lilin ini walau pun satu buah, dari satu lilin akan menerangi banyak orang Papua. Baik yang sombong maupun yang tra sombong”. Terima kasih kawan. Sebuah lilin ini merupakan roh yang selalu akan menyala di atas negeri Papua. Lilin ini sangat berarti bagi kitong orang Papua. Dalam kebebasan umat Israel menuju tanah terjanji, hanya dipimpin oleh seorang yaitu Nabi Musa. Mereka bebas dari segala perbudakan di mesir oleh Raja Firaun.

Dalam Firman Tuhan juga bahwa, “banyak yang dipanggil namun sedikit yang dipilih”. Itulah yang akan terjadi, di atas penderitaan Orang Papua, banyak orang sombong menikmati denghan dunianya, yang berpikir berjuang untuk kebebasan hanya sedikit. Namun sedikit itulah yang akan membawa terang bagi rakyat yang tertindas. Orang Papua Asli setiap hari ditindas, ditangkap, dipenjara, dibunuh, di depan mata orang Papua sendiri, didiskriminasi, bahkan orang Papua dimarjinalkan oleh nonpribumi tapi orang Papua masih berfoya-foya di atas penderitaan masyarakat Papua lainyang sedang ditindas. Ingat kitong orang Papua hareus berada pada pendiriannya sendiri, soal ahok, itu pemerintah pusat punya urusan, Mengapa harus masyarakat Papua korban karena dia? Sudah tahu bahwa kita sedang ditindas. Kenapa harus ikut-ikutan? Sudakah kita sadar atas kematian orang kita di negeri ini?.

Ditengah keramain pasar di kota, ditengah kota ini, anak-anak gugur di setiap waktu. Tangisan pun memeluk peti-petih di atas tanah, oleh karena ingin bebas merdeka di atas negerinya sendiri. Kematian yang tak bisa henti dari waktu-waktu, masih saja kita sombong mencintai kambing dari pada domba. Agama menjadi suatu taruan untuk memenangkan dalam perpolitikan dewasa ini. Oleh karena itu, orang Papua, tidak harus berfanatik dengan agama. Agama hanya sebagai perangkat fungsi control dalam hidup manusia di dunia dengan menjalankan keyakinan masing-masing. Tidak bisa diintervensikan oleh agama (keyakian) lain terhadap agama lainnya (keyakinan). Dan Orang Papua perlu ingat bahwa di Republik ini, tidak pernah dianggap Papua itu bagian dari Indonesia, sebab banyak sejumlah hal yang kita pelajari bahwa orang Papua selalu mendapatkan stikma yang sangat pedis. Misalnya, pembungkaman demokrasi dalam berkumpul dan berserikat, menutup akses informasi (jurnalis) justru wartawan di disiksa saat meliput berita di Papua khususnya.

Baik kita kembali ke Lilin, 1.000 lilin yang di nyalakan di Papua adalah sebuah pertanyaan besar, yaitu Apakah ini hanya permainan INTELEGEN untuk menarik perhatian public bahwa orang Papua cinta NKRI?

Jika ia, berarti dibalik itu, mereka (INTELGEN) sedang menertawakan karena mereka berhasil menipu orang Papua, menipu pihak Internasional, bahwa Papua tidak minta Merdeka kok, Papua baik-baik saja, yang hanya minta merdeka hanya segelintir orang. Hasil dari pada itu, INTELEGEN ini mereka naik pangkat seperti ketiga jakasa penuntut hukum atau pengacara yang naik pangkat setelah mereka menjatuhkan palu memfonis Ahok dua tahun penjara.

Mungkinkah kita buta?. Mungkinkah kita menyombongkan diri sendiri? Mungkinkah kita lebih percaya pada orang-orang bijak dari pada orang-orag kecil? Ya, itulah permainan politik. Haruskah kita meyerahkan seluruh jiwa raga kita pada orang-orang asing? Kalau iya, caranya bagaimana? Kalau tidak, caranya bagaimana untuk menjadi diri sendiri? Aksi lilin yang dinyalakan di Papua sebenarnya menarik.

Di sini saya ingin memberi beberapa argument, yaitu Pertama: Orang Papua lebih menghormati Indonesia karena Indonesia adalah orang tua. Kedua: Orang Papua sangat takut Yesus datang dan menghukumnya, kalau tidak menyalakan lilin untuk ahok (bernapas). Ya tapi tidak papa. Yesus mengajarkan juga jika pipi kirimu ditampar, berilah pipi kananmu juga ditampar. Ketiga: Indonesia adalah Negara yang sangat demokratis. Keempat: orang Papua sangat pintar. Kelima: Orang Papua 100 % Nasarani.

Dari kelima argument saya di atas, saya ingin menggaris bawahi bahwa, Pertama: orang Papua bantu menyalakan 1.000 lilin karena mereka menunjukkan kesetian mereka atas pelayanan umat Tuhan di seluruh daratan bumi Papua, karena bumi Papua dihuni oleh orang Papua yang 100% Orang Nasrani.

Bahwa mereka harus memikul salip Yesus. Kedua: Mereka menunjukkan sekaligus mengajarkan kehormatannya kepada serigala untuk berusaha bisa menjinak. Selain itu ada seorang nitisen yang tulis di account facebooknya yang bernama Davina Elijah Al-Khalifah, ia menulis bahwa,

Apa yang bisa dimaknai dari kejadian itu? Bahwa Papua rindu sosok pemimpin seperti Ahok. Pemimpin yang BERSIH, sehingga memiliki integritas Pemimpin yang melayani masyarakat dengan tulus & ikhlas Pemimpin yang berani melawan kebijakan yang merugikan rakyat. Pemimpin yang tidak memperkaya diri pemimpin yang selalu hadir ditengah - tengah masyarakat, mendengar keluh kesah masyarakat, dan membuat kebijakan yang pro rakyat. Pemimpin yang berani membuka borok borok birokrasi pemerintah yang BERBELIT Pemimpin yang berani menjegal langkah koruptor. Papua rindu pemimpin, yang punya jiwa kepemimpinan yg dilandasi semangat pelayanan tinggi, untuk membawa Papua ke arah yang lebih baik. Mari Pace, Mace, Kaka, Bapa, Ibu.....Bangkitlah...Pimpin Kami!!!! Setelah dia menuliskan di dinding facebooknya, ia juga mengaploud foto aksi 1.000 lilin untuk Ahok. Berikut foto-foto aksi 1.000 lilin oleh masyarakat Papua untuk ahok.

Foto-foto yang diupload ini sangat menarik dan menjadi perhatian besar bagi masyarakat publik terutama masyarakat Indonesia di dunia maya. Artinya, orang bisa menduga bahwa Papua itu aman-aman saja. Buktinya, orang Papua turut aksi menyalakan 1.000 lilin untuk mas Ahok. Maaf pikiran kotornya begini, “Orang Papua Cinta NKRI”. Dari foto-foto di atas saya katakan menarik, karena dari 1.000 lilin ini, seakan-akan Papua terbebas dari segala gong-gongan anjing dari kehidupan mereka. Alangkah bagusnya, 1.000 lilin ini dipersiapkan dan dinyalakan saat Orang Papua menjemput kemerdekaannya waktu yang akan datang. Aksi 1.000 lilin ini, akan memberi warnah yang sangat berbeda dengan gambar berikut ini.

Kematian Orang Asli Papua oleh Militer Indonesia di tanah Papua adalah salah satu bentuk ketidak manusiawian, bahwa hadirnya Indonesia di tanah Papua bukan untuk memanusiakan manusia Papua, melainkan dehumanisasikan manusia Papua di atas negerinya sendiri tanpa fungsi control yang jelas. Sehingga, orang Papua dibunuh, ditangkap, diteror, dintimidasi diluar hukum Indonesia. Bagi mereka (Indonesia) membunuh orang Papua adalah seperti binatang buas yang harus dimusnakan dari negerinya sendiri. Perbandingan keadilan yang kita terjemahkan adalah Ahok sekali pun ia juga korban dari penistaan ayat alqur’an kitab sucinya umat Islam. Ahok kan masih bernafas, dia dipenjara karena penistaan agama. Besok dia akan bebas lagi. Lalu bagaimana dengan orang Papua yang mati ditembak oleh TNI, POLRI, BRIMOP, dan BIN di Papua? Hukum tidak pernah berbicara di Jakarta maupun Papua. Pertanyaan saya adalah apakah orang Papua tidak tahu hukum? Ahok yang dipenjarakan bisa menyalakan 1.000 lilin di seluruh tanah air di Indonesia.

Kemudian mayat-mayat yang baring di atas tanah, pemiliknya memeluk kayu petih menangis tersendu tanpa terangnya 1.000 lilin di depannya. Di atas petinya, mama-mama menangis terangnya mentari. Mereka menangis karena anak-anak mereka yang lahir ditembak oleh TNI, POLRI oleh karena nasionlisme NKRI di tanah Papua. Mereka tahu, bahwa mereka dengan susah paya melahirkan anaknya, bahwa anaknya adalah titipan Tuhan. Hidup itu hanya sekali. Berhentilah memburu masyarakat Papua seperti binatang di negeri yang kaya akan madu dan susu. Adakah 1.000 lilin untuk mereka yang sedang baring di dalam petih dengan tenang?

Kesimpulan dari tulisan saya adalah sebagai berikut:

1. Mungkin ahok dipenjara karena ia orang kafir, berdarah Tionghoa

2. Orang Papua adalah orang buta. Maka orang Papua sama-sama menuntun orang buta. Akhirnya masuk jurang yang dibuat harimau.

3. Adakah 1.000 lilin untuk orang Papua yang gugur dalam memperjuangkan “Kemerdekaan”?

4. Perbedaan foto-foto di atas merupakan tujuan yang sama, namun cara yang berbeda. Tujuannya adalah sama-sama mendapatkan keadilan. Cara yang berbeda adalah orang Papua menuntut kemerdekaannya di atas negerinya sendiri diluar NKRI,karena orang Papua merasa “Papua bukan bagian dari NKRI itu sendiri” (historical indepencences). Sedangkan Ahok, memperjuangkan nasip warga Jakarta melalui politik partai rebut kursi 01 (gubernur) DKI, Jakarta. Namun yang dikendaki adalah dia dihukum di penjara dengan alasan penistaan agama (Islam vs Kristen)

5. Masyarakat Indonesia mengadakan aksi 1.000 lilin termasuka Papua, bahwa Ahok adalah sosok pemimpin yang hebat (jujur). Bahwa setiap pemimpin patut meniru gaya Ahok.

6. Agama bukanlah sebuah alat untuk bermain dalam politik atas nama agama dan mengkafirkan keyakinan umat beragama lain.

7. Bagi masyarakat Papua yang memberikan 1.000 lilin kepada ahok bahwa mereka melihat dari kesetiaannya melayani masyarakat Jakarta., ojujur, dan tegas. Bagi orang Papua yang tidak ikut menyalakan 1.000 lilin untuk Ahok, karena di Papua, masih ada persoalan yang belum dituntas oleh Negara. Sehingga bagi mereka, atas peristiwa ini masyarakat perlu melihat secara objektif dengan persoalan yang terjadi Papua (Pelanggran HAM)

Oleh: Yuventus Opki, Mahasiswa asal Papua, kuliah di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Semester VIIII

 

 

Share
 


Copyright by KOMAPO.