Home SOSPOL SOSPOL FENOMENA CALON INDEPENDEN
FENOMENA CALON INDEPENDEN
Monday, 04 April 2016 16:14

Oleh: Isak Bofra

Pemilukada merupakan suatu proses untuk menemukan pemimpin yang dapat memfasilitasi segala kebutuhan rakyat dan mendorong perubahan yang lebih baik, oleh karena itu momentum pemilu harus menjadi perhatian seluruh elemen masyarakat. Proses ini membutuhkan partisipasi masyarakat dalam rangka membangun tatanan demokrasi yang lebih dewasa menuju suatu perubahan yang menjadi harapan seluruh elemen masyarakat.

Pemilukada serentak jilid pertama telah usai dan telah melahirkan pemimpin pada tingkat daerah baik Walikota maupun Bupati. Pilkada serentak jilid kedua akan berlangsung pada 15 februari 2017,walau masih 10 bulan lagi, namun calon-calon telah mulai melakukan manuver-manuver politik baik itu lewat media, turun lapangan bertemu dengan masyarakat, mendaftarkan diri melalui melalui partai politik maupun lewat jalur independen( calon perseorangan).

Calon independen sekarang ini menjadi buah bibir pembicaraan masyarakat, politisi, maupun para pengamat. Antara pesimis dan optimis dalam memberikan tanggapan mereka entah itu ada yang mendukung maupun ada yang menolak. Terlepas dari pro dan kontra, calon independen memiliki hak konstitusi sebagai warga Negara untuk ikut serta dalam proses pilkada, karena UU Pilkada menjamin dan memberi hak bagi calon independen yang tidak mendapat restu dari parpol ataupun berangkat dari inisiatif sendiri untuk menyalurkan hak politiknya lewat jalur independen.

Fenomena yang berkembang mulai dari teman ahok di Jakarta yang bekerja untuk mengumpulkan sebanyak mungkin KTP sebagai syarat untuk maju melalui jalur independen serta yang berkembang belakangan ini yaitu ( Joint ) Jogya Independen yang telah dideklarasikan dengan maksud untuk mencari sosok pemimpin yang akan diusung maju pada pilkada kota Yogyakarta ini adalah perkembangan demokrasi yang baik untuk mengkampanyekan kepada masyarakat bahwa ada pilihan lain selain parpol sebagai kendaran menuju bursa pencalonan. Pada prinsipnya tujuannya baik yaitu mencari bentuk alternatif bagi individu-individu yang memiliki integritas, memiliki kemampuan leadership, serta bebas dari kepentingan ekonomi politik (Ekopol), yang sering tidak terakomodir lewat Partai Politik (Parpol), karena Parpol memiliki unsur kepentingan Ekopol yang menjadi beban bagi pemimpin yang dihasilkan oleh parpol, akibatnya pelayanan kepada masyarakat tersandera. Memang tidak bisa di jusfikasikan secara umum karena banyak juga pemimpin yang sukses ketika di usung oleh parpol, misalnya Ibu Risma di Surabaya, Jokowi ketika menjadi Walikota Solo dan Gubernur di DKI, Ridwan Kamil di Bandung maupun lainnya yang belum sempat terekspos oleh media.

Berangkat dari problem kepentingan Parpol yang mengakibatkan tidak efektifnya pelayanan kepada masyarakat sehingga lahirnya gerakan untuk membangun suatu persepktif politik yang lebih berani yaitu melaui jalur independen, karena sekarang masyarakat sudah lebih dewasa dalam memandang parpol, yang hadir pada momentum politik. Sedangkan ketika momemtum politik telah usai, masyarakat ditingalkan, sehingga terkesan masyarakat adalah objek politik, bukan sebagai subjek politik yang dijadikan sebagai patner untuk bersama membangun kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih maju, adil, serta untuk kemakmuran bersama, bukan kemakmuran segelintir orang. Atas dasar ini, kita sepakat bahwa harus ada alternatif yaitu melalui jalur independen. Dengan jalur ini kiranya menjadi menjadi solusi untuk menjawab kerinduan masyarakat akan perubahan kehidupan yang lebih baik lagi.

Untuk mencapai hal tersebut bukan perkara muda, karena calon indenpenden dalam konteks demokrasi di Indonesia masih belum terbukti kiprahnya, sehingga kiranya momentum pilkada kali ini calon Independen diberi kepercayaan oleh rakyat untuk memimpin. Pada prinsipnya calon independen dan calon yang diusung oleh parpol adalah putra-putri terbaik bangsa, pilihan ada pada rakyat untuk menentukan siapa pemimpinnya. Siapa yang mendapat restu dari rakyat, maka dialah pemimpin kita.

 

Share
 


Copyright by KOMAPO.