Home SASTRA CERPEN CERPEN HOSEA DEAL; MENGEJAR MIMPI, SEPULUH TAHUN TIDAK BERTEMU ORANG TUA
HOSEA DEAL; MENGEJAR MIMPI, SEPULUH TAHUN TIDAK BERTEMU ORANG TUA

Awal tahun 2000-an Hose masih di bangku SD, waktu itu distrik Pamek belum dimekarkan, masih tergabung di distrik Borme kemudian dimekarkan lagi menjadi distrik Eipomek. Kampung Pamek waktu itu tidak ada lapangan terbang dan Sekolah Dasar, hanya ada sekolah buta huruf. Sedangkan sekolah dasar terdapat di Eipomek, jarak tempuh dari kampung Hose kurang lebih 30 KM.

Sekolah Dasar yang terdapat di pos Eipomek tersebut hanya memiliki satu Guru PNS. Guru tersebut bernama Agus Jikwa. Guru yang sangat berjasa besar terhadap anak-anak muda penerus bangsa dari suku Mek. SD Inpres Eipomek waktu itu merupakan sekolah yang dipindahkan dari Tupuplom, Distrik Okbibab. Karena di Okbibab terdapat beberapa sekolah dasar sehingga Pak Agus Jikwa meminta izin Dinas Pendidikan dan pindahkan sekolah tersebut ke Eipomek. Sekolah tersebut menjadi satu-satunya sekolah dasar bagi masyarakat Mek yang memiliki jumlah penduduk terbesar di Pegunungan Bintang. Bayangkan daerah yang berpenduduk diatas 10.000 hanya memiliki satu sekolah dasar, satu hal yang aneh tapi nyata untuk kehidupan masyarakat Mek pada awal tahun 2000-an.

Untuk menggapai mimpinya setiap hari Hose bersama teman-temannya harus bangun pagi jam 3.30, dan mulai berangkat ke sekolah jam 4.00 WIT, tiba di sekolah sekitar jam 8.00. Perjalanan mereka sangat melelahkan, tetapi selalu terbayar ketika bertemu dengan teman-temannya di sekolah dari berbagai kampung. Ketika tiba di sekolah langsung masuk kelas karena guru-guru sudah lebih awal menungguh mereka. Bapak Agus Jikwa bersama guru-guru suka-relah dengan penuh kesabaran sehari-hari mendampingi dan memfasilitasi anak-anak negri nan-jauh tersebut belajar seadanya. Guru-guru tersebut sangat paham dengan kondisi anak-anak dan lingkungan sekitar sehingga selalu ada kompromi ketika anak-anak dari kampung yang jauh tidak masuk sekolah pada saat cuaca buruk.

Waktu pulang sekolah biasanya jam 13. 00 WIT, tapi karena perjalanan yang cukup jauh anak-anak dari kampung Pamek tiba di rumah masing-masing sekitar jam 17.00 WIT. Kemudian faktor jarak teman-teman seangkatan Hose yang selesai sekitar 20 orang dari sekolah Buta Huruf di kampung Pamek hanya 16 orang yang melanjutkan pendidikan ke sekolah dasar. Mereka diantaranya; Hosea Deal, Nahason Tengket, Yovilos Mirin, Norianus Soll, Esau Milu, Yosek Mirin, Lemina Nabyal, Yerina Tengket, Linda Tengket, Yoset Tengket, Yewina Deal ( Alm), Makmina Wisabla, Resona Deal, Losina Deal, Arina Merial dan Ferry Tengket. Mereka inilah yang sering mengalami susah dan senang bersama-sama menempuh pendidikan sekolah dasar. Diantara mereka Hose yang paling kecil, karena itu orang tua sempat melarangnya melanjutkan pendidikan tetapi Hose bersikeras sehingga orang tua membiarkannya. Pegunungan yang terjal, sungai Eipo setiap hari banjir, bahaya tanah longsor, jalan berlumpur, cuaca yang ekstrim tidak menyurutkan semangat anak mungil itu menempuh pendidikan sekolah dasar.

Kampung-kampung di wilayah Pamek sebelum dimekarkan menjadi sebuah distrik belum pernah ada perhatian dari Pemerintah Daerah Kabupaten Pegunungan Bintang sehingga jalan dan jembatan masih jauh dari harapan. Kali Eipo yang hampir setiap hari banjir hanya memiliki satu jembatan yang terbuat dari tali rotan dan kayu sekitar 50 meter. Kondisi tersebut tentunya sangat berbahaya bagi anak-anak seumuran SD, sehingga mereka harus ekstra hati-hati menyeberangi sungai, apabila salah injak pasti terjatuh ke sungai yang sangat deras, harapan untuk selamat sangat tipis. Kemudian, salah satu jalur yang selalu dilewati Hose dan kawan-kawannya untuk pergi ke sekolah adalah kampung Baramirye, wilayah ini apabila hujan sulit dilewati karena jalannya terdapat lapisan lempung dan pasir yang licin, jika terpeleset langsung masuk ke jurang yang sangat terjal. Oleh karena itu sebagian orang selalu melarang anaknya pergi ke sekolah hanya karena kondisi geografis yang sangat sulit tersebut.

Walaupun bahaya maut selalu menghantui, Hose dan teman-temannya memiliki niat yang sangat tinggi berjuang mengejar mimpi, suatu kelak akan menjadi pemimpin-pemimpin hebat dan membawa para orang tuanya keluar dari ketidakberdayaan.

Langkah demi langkah mereka mulai lewati, tahun 2006/2007 Hose dan teman-temannya menyelesaikan pendidikan dasar di Eipomek. Hose memilih melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Pertama di SMPN 1 Oksibil, Ibu Kota Kabupaten Pegunungan Bintang. Di Oksibil Hose bertemu dengan orang yang sangat spesial dalam hidupnya, yaitu Bapak Niko Uropmabin yang selanjutnya menjadi orang tua angkatnya. Selama pendidikan di Oksibil tidak mengalami kesulitan hidup karena Hose difasilitasi oleh Bapa Niko yang kini menjabat sebagai kepala DPMPK Kabupaten Pegunungan Bintang. Pada tahun 2010 menyelesaikan SMP, kemudian dia dikirim bersama teman-teman lainnya ke Semarang mengikuti jalur beasiswa Pemerintah Daerah Pegunungan Bintang. Di Kota Semarang, Hose dan temannya mengikuti program matrikulisi (pembekalan) selama satu tahun di Yayasan Binterbusih Semarang. Setahun kemudian mereka masuk SMA, Hose memilih SMA Sint Louis Semarang, salah satu sekolah Katolik berkualitas di Kota Semarang. Setelah tamat SMA Ia melanjutkan pendidikan di Universitas Soegijapranata Semarang, jurusan Akuntansi, tetapi kemudian Hose pindah kampus karena mengalami masalah biaya pendidikan. Pada waktu itu pemerintah Pegunungan Bintang lamban mengirim biaya pendidikan. Ia melanjutkan pendidikan di jurusan yang sama di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Widya Manggala Semarang. Sekarang sudah masuk semester 7, Ia sedang menyusun skripsi, ditargetkan akan selesai pada pertengahan tahun 2018.

Hose sekarang menjabat sebagai Sekjen Komunitas Mahasiswa Pelajar Aplim Apom, Kabupaten Pegunungan Bintang, Se-Jawa, Bali, Sulawesi, Sumatra dan Kalimantan. Pada masa kepemimpinannya sejak awal tahun 2017 diperhadapkan dengan situasi dan kondisi yang sulit untuk menjalankan organisasi. Dengan perubahan kebijakan pengembangan SDM oleh pemerintah daerah mengakibatkan banyak mahasiswa yang cuti kuliah dan putus kuliah, oleh sebab itu satu tahun masa kepemimpinannya belum menjalankan organisasi dengan baik karena Ia sibuk mengurus nasip mahasiswa Pegunungan Bintang yang tergabung dalam Komapo. Sudah dua kali pergi-pulang Papua, pertama Ia bersama beberapa senioritasnya ke Jayapura untuk bertemu Pemerintah Daerah tetapi tidak bertemu karena waktu itu pemerintah sibuk dengan pembangunan daerah. Kemudian untuk kali kedua relah berkorban mengurus nasip mahasiswa ke Oksibil, Kabupaten Pegunungan menggunakan biaya pribadinya. Pengorbanan yang Ia lakukan untuk orang lain itu bukan hal baru karena sikap pengorbanannya sudah terbentuk secara alami melalui perjalanan hidupnya yang penuh dengan pengorbanan.

Pada tahun 2017 ini genap 10 tahun Hose meninggalkan orang tua dan kampung halaman tercinta Pamek. Semenjak Hose menyelesaikan pendidikan sekolah dasar Ia tidak pernah ke kampung halamannya untuk bertemu orang tua. Tetapi ini berjanji akan bertemu orang tuanya ketika Ia membawah Ijazah Sarjana ke kampung halamannya pada pertengahan tahun 2018 nanti. Hose berharap dengan keberhasilannya dalam pendidikan kiranya menjadi inspirasi dan memberikan dorongan motivasi bagi anak-anak pedalaman supaya belajar tekun dan menjadi pemimpin-pemimpin hebat masa depan Papua (Komnews).



Share
 


Copyright by KOMAPO.