MEKU

Aku menyadari bahwa tubuhku ini masih terlalu kecil untuk bisa menangkap buruan yang sangat besar bagi penglihatanku. Aku ingin menjadi orang dewasa yang bisa mendapatkan buruan karena tubuh mereka sudah besar dan sudah kuat untuk menangkap buruan.

Wah hari sudah semakin larut, hawa dingin pasti akan menyelimutiku karena aku tidak memakai baju hangat. Aku harus segera pulang, mungkin ayah dan ibuku sudah mencemaskanku karena aku terlalu lama bermain di hutan.

“Meku! Meku!” ibu berteriak memanggilku.

“Iya bu aku pulang!”

“Kamu ini dari mana saja, bahaya anakku, jangan bermain di hutan terlalu lama, banyak hewan buas di sana.”

“Iya ibu maaf, aku tadi melihat warga berburu babi hutan bu, dan aku lupa pulang, maaf bu”

“Dapat tidak babi hutannya?”

“Aku tidak tahu, karena aku lelah berlari maka, aku langsung pulang”

“Ya sudah mungkin warga desa sudah mendapatkannya karena mencarinya ramai-ramai.”

“ Ya sudah ayo masuk, hari sudah semakin gelap, dan udaranya dingin sekali.”

Aku dan ibuku masuk ke dalam rumah kerucut jerami yang kecil, sementara ayah sudah menunggu di dalam. Rumah kami terbagi menjadi dua lantai. Lantai pertama untuk tempat tidur, lantai kedua untuk istirahat dan makan. Dalam rumah kami tidak ada jendela, kalau ada jendela maka udara dingin di luar akan masuk. Rumah kami ini sangat nyaman walaupun kecil, karena jika malam tiba udara dingin tidak kami rasakan, yang kami rasakan hanya kehangatan dari jerami dan api dari kayu bakar. Ubi bakar adalah hidangan malam hari kami.

Setelah selesai makan, kami akan turun kebawah untuk tidur. Aku masih belum tidur, aku masih terjaga, belum mengantuk, aku tiba-tiba memikirkan masa depanku, kelak aku akan jadi apa, apakah aku akan terus tinggal di desaku ini atau aku akan merantau dan melihat dunia luar. Aku ingin melihat perkembangan zaman di desa atau di kota lain bagaimana. Apakah masih seperti di desaku atau sudah maju. Aku sepertinya ingin belajar, ingin bisa membaca, menulis, aku ingin pintar.

“Bu apakah ibu sudah tidur?”

“Belum, ada apa?”

“Bu apakah waktu ibu kecil dulu, ibu pernah sekolah?”

“Ibu tidak pernah sekolah, karena orangtua ibu dulu tidak pernah mengenalkan ibu yang namanya sekolah, jadi ibu sampai sekarang tidak bisa menulis dan membaca.”

“Bu jika aku mau sekolah bagaimana, aku ingin bisa membaca dan menulis, aku ingin jadi anak yang pintar, jika aku sudah pintar nanti aku akan memajukan desaku yang terpencil ini bu.”

“Niatmu sangat mulia nak, ibu merestui apa yang kamu inginkan, tetapi apakah ada guru di kampung ini?”

“Sepertinya ada yang pandai di kampung ini bu, tetapi tidak begitu pandai dan juga bukan seorang guru. Dia hanya lulus SD tetapi tidak melanjutkan lagi.”

“Ya sudah kau boleh menemuinya, bujuklah dia agar mau mengajarkan ilmunya kepada kamu dan anak-anak lainnya seperti kamu.”

“Ya ibu aku akan coba menemuinya siapa tahu dia bersedia membagikan ilmunya.”

Saat matahari terik aku dan teman-teman seusiaku menuju rumah abang Jalu untuk membujuk dia agar dia mau mengajarkan kami ilmu yang di dapat ketika SD dulu. Abang Jalu kemudian mau mengajarkan kami ilmu, dan kami belajar hanya dengan ingatan saja, karena kami tidak mempunyai buku dan pensil, jadi ketika abang jalu sudah menjelaskan dan kami tidak mengingatnya maka, kami akan di tampar dengan sadisnya karena ilmu itu sangat berharga. Aku sering di tampar karena aku tidak bisa mengingat terlalu lama, tetapi aku akan berusaha mengaktifkan otak bebalku ini menjadi otak yang bekerja dan berfungsi. Aku berusaha memahami pelajaran yang diberikan . aku datang belajar beramai-ramai dengan anak seusiaku. Tetapi banyak temanku yang di minta tidak meneruskan pelajaran karena memang otak mereka tidak dapat menerima pelajaran. Jadi hanya empat orang yang lolos dan sudah dapat membaca dan menulis, termasuk diriku. Tetapi ketika kami berempat sudah mahir menulis dan membaca, abang Jalu tidak melanjutkan lagi, dia berkata

“ Kalian sudah pandai dan sudah melebihi kepandaianku, jika kalian ingin sekolah yang sebenarnya, aku akan mengantarkan kalian ke desa tetangga, di sana terdapat sekolah, jadi kalian dapat belajar lebih banyak lagi.”

Akhirnya abang Jalu mengantarkan kami ke desa tetangga untuk sekolah di sana, tentunya aku sudah meminta restu dari orang tuaku bahwa aku akan ke desa tetangga yang jaraknya lumayan jauh. Tetapi orangtua teman-temanku tidak memperbolehkan anaknya keluar dari desanya, jadi hanya aku sendiri yang pergi ke desa tetangga. Ketika aku sampai di desa tetangga, aku langsung masuk ke dalam kelas. Murid-murid yang berada di dalam kelas terheran-heran melihatku, karena aku tidak memakai baju seragam seperti yang dikenakan mereka, jadi mereka berkata

“Hei kau ini, kalau mau main jangan di sini, mainlah di luar, di sini bukan tempat bermain!”

Aku hanya terdiam, tertunduk malu, karena mereka menganggapku aneh, aku masuk kelas hanya dengan baju mainku saja dan beralas kaki sendal jepit, tidak ada tas, sepatu, buku, pena atau alat tulis yang lain. Akhirnya kepala sekolah memberikanku baju seragam, sepatu, tas dan peralatan sekolah seadanya, jadi aku dapat mengikuti pelajaran dengan baik.

Pada waktu itu, aku masuk kelas satu SD, tetapi ketika di tes lagi ternyata aku seharusnya sudah setara dengan kelas empat, jadi kepala sekolah dan guru-guru pun heran kenapa anak ini baru masuk kelas satu tetapi sudah pintar membaca dan menulis. Akhirnya kepala sekolah sepakat memindahkan aku ke kelas empat. Ternya aku sudah menjadi pintar, otakku sudah bekerja dan tidak bebal lagi. Setelah di tes juga ternyata tingkat kecerdasanku sudah setara dengan anak kelas enam SD.

Akhirnya aku lulus SD aku sangat senang dapat rapor dan akan ku perlihatkan kepada ibu dan ayahku. Setelah aku mendapat rapor, aku langsung pulang ke kampung halamanku yang tak begitu jauh, dan orangtuaku menyambutnya dengan gembira, orang-orang sekampungku juga menyambut kelulusanku dengan gembira, akhirnya untuk merayakan kelulusanku, ayah dan ibuku membuat upacara Bakar Batu. Upacara bakar batu ini berisi talas keladi dan babi.

“Ayah dan ibu bangga padamu, tidak menyangka kamu bisa lulus SD, anakku bisa melebihi orangtuannya. Apakah kamu mau melanjutkan sekolah lagi nak?”

“Iya bu aku ingin melanjutkan SMP bu, sekarang aku tahu cita-citaku bu, aku ingin menjadi guru, dan membangun sebuah sekolah, supaya anak-anak bisa sekolah bu. Meskipun jauh bu tidak apa-apa, aku tidak akan menyusahkan orangtuaku, karena aku akan mencari uang sendiri bu supaya aku bisa sekolah.”

“Kau memang anak yang baik, ibu doakan supaya cita-citamu tercapai ya nak, ibu hanya membekalimu dengan doa, hati-hati ya anakku.”

“Iya ibu, ayah , terimakasih atas restu kalian, aku pergi ya bu.” Aku melambaikan tangan kepada orangtuaku, orangtuaku pun melambaikan tangan dan sesekali air mata ibuku menetes karena kepergianku untuk merantau melanjutkan sekolah.

Aku pergi merantau ke kota, aku mencari dimana terdapat sebuah gedung SMP, dan aku mendaftar sebagai murid SMP, entah bagaimana aku akan membeli seragamku nanti, aku tidak peduli, yang hanya aku pikirkan hanyalah aku belajar di SMP. Akhirnya aku menemukan SMP dan aku mencari pekerjaan. Memang sulit mencari pekerjaan hanya bermodalkan ijasah SD. Tetapi kemudian aku mendapatkan pekerjaan sebagai kuli panggul, dan sebagai pembantu yang majikannya adalah seorang guru. Ketika aku lapar, aku harus mengerjakan pekerjaan rumah terlebih dahulu, barulah aku boleh makan. Begitulah pekerjaanku, dan hasil dari kerjaku itu aku tabung untuk membeli seragam SMP. Saat aku SMP aku tidak memiliki tempat tinggal, maka aku tidur di pinggir jalan. di rumah majikan itu pun tidak mempunyai kamar bagi pembantu, maka apa boleh buat, aku terpaksa tidur di jalanan yang dingin. Aku hanya ditemani oleh empat orang pengemis jalanan.

Meskipun aku tidur di jalanan yang dingin, aku tetap belajar demi masa depanku, aku harus ingat cita-citaku, ketika aku kembali ke desaku, aku harus membuat perubahan dalam hal pendidikan.

Akhirnya tiga tahun berlalu dan aku dapat lulus dengan nilai yang bagus dan aku ingin melanjutkan SMA di kota dengan modal Rp 50.000,00. Aku berdoa kepada Tuhan, cukupkan tuhan aku hanya punya uang 50.000. dan tuhan mengabulkannya, aku tidak perlu keluar uang karena aku mendapatkan basiswa dan pakaian gratis dari kepala sekolah. Dan aku dapat menuntaskan SMA ku dan melanjutkan ke perguruan tinggi swasta. Sungguh suatu kebannggaan aku bisa bersekolah sampai setinggi ini, bahkan aku bisa kuliah, tanpa bantuan orangtuaku. Orangtuaku akan menanti kelulusanku. Dan pada akhirnya aku bisa lulus kuliah dan bisa menjadi guru untuk anak-anak yang membutuhkan pendidikan seperti masa kecilku dahulu. Aku akan memajukan desaku, tanah kelahiranku. Akulah MEKU, satu-satunya orang yang sudah merantau mencari ilmu, sampai ke jenjang teratas.

Penulis: Holy Anniversary Christie, Mahasiswi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Share
 


Copyright by KOMAPO.