TERASING

Tergaget oleh genggaman tanggan hangat di pundakku, tangan yang mengalirkan suatu aliran yang begitu kuatnya, sampai menyentuh lorong-lorong terdalam dalam kalbuku, seolah tersengat akan aliran listrik, apakah aliran ini nyata, atau hanya ungahan dalam detupan jantungku. Sentuhan yang membangungkan mimpiku yang sedang bermimpi dalam melek mataku. Aku tersanjung akan liku-likunya pinggul gadis di pojok pohon yang sedang bermesraan dengan kekasihnya, yang kurus tak bergairah untuk hidup, tapi cinta membuat seolah ia hidup, dalam keceriahan malam yang di temani oleh bintang-bintang yang berterbangan di langit yang terlihat indah, mengikuti keindahan foto malam.

Malam yang indah darling, sory agak terlambat, kenalkan ini adik sepupuku, ultra.

Apa kabar terasa dinggin tanggannya, mengikat aku dalam kebekuan perasaan ini, aku terasa asing.

Akan diriku sendiri, inggin berteriak, inggin terbang tinggi, inggin merasakan rasanya di sengol ban mobil yang elok putarannya, burung pu merasa asing berada di tempat yang asing tanpa dahan pohon untuk di singahi, rasa ini sungguh menyudutkan aku.

Aku menyukai ia, tetapi apakah aku mencintai ia atau tidak, aku inggin merasakaan eforia jatuh cinta, aku ingin merasakan jatuh cinta yang bisa membuat aku gila,gila akan dia,gila yang tidak bisa di jelaskan oleh psikologi, hanya ia yang bisa memahami arti jatuh cintaku padanya, cinta yang mengalir bersama nadi kehidupanku, cinta yang berjalan bersama nafasku, cinta mengalir bersama darahku, cinta yang membuat aku merasakan cinta sebenarnya, bukan cinta yang membuat aku terasing, pada diriku, pada dirinya.

Aku kwatir ini hanya panggung permainan yang akan menyeret aku terjatuh dalam gelapnya perasaanya hatiku.

Burug jatuh ketika tertembak sehingga ia tak berdaya untuk merasakan kebebasan, andai aku terjatuh apa yang akan terjadi, apakah aku akan hilang bersama perasaan ini, seolah berlalu tanpa teringat akan sesuatu hal yang pernah aku alami.mengasingkan diri dalam kekosongan jiwa yang sedang lagi hampa,memang terasa berat untuk di jalani,tetapi harus aku coba agar memahami arti sesunguhnya perasaan ini.

Hai apa kabar, baik,kak sendiri gmna kabar

Baik nona, kami berdua dari kos kax

Oh gtu ya, baguslah kok bisa telat datangnya.

Iya sayang, tadi ada indisiden di jalan,ada tabrakan beruntung sambil berciuman antara motor dengan mobil xenia, akibat ciuman tersebut berdarah, sehingga jalan menjadi macet sekitar 1 jam ,arah jalan Simanjuntak kejadianya.

Ngeri sekali, semua orang merasa asing satu sama lain,semua orang terkadang menjadi lawan dalam medan perlombaan di jalan raya, sayang sekali. Seolah seperti harimau yang merebut makan,apa yang kita perebutkan dalam dunia ini, apakah waktu, memang sistem kapitalisme menciptakan orang seperti benda yang di kontrol dengan waktu, jangan sampai terlambat,nyawa bukan urusan,yang penting kita tepat waktu, iya waktu adalah segalanya tetapi nyawa juga merupakan hal yang sangat penting untuk keberlangsungan hidup kita.

Dunia yang tentram ini, dunia yang harmoni ini, dunia yang penuh cinta ini, dunia yang indah ini, dunia yang menjadi habitat kehidupan kita dewasa ini, sangat sempurna, tetapi menjadi asing ketika kita lupakan itu, yang ada hanya ego, hanya emosi, hanya mau menang sendiri, sehingga jalan raya yang merupakan penghubung untuk memudahkan jalur aktifitas kita, tetapi terkadang juga merupakan tempat saling memangsa satu sama lain.

Dunia yang terasing bagi kehidupan kita, apakah dunia ini yang kita inginkan.’Pasti bukan, semua mahluk hidup menginginkan dunia seperti taman eden, menciptakan harmoni bersama untuk saling melengkapi dalam cinta, karena cinta mampu membuat kita merasakan rasa terasing, tetapi mampu juga menghilangkan rasa terasing antara kita.

Love antara aku dengan Z merupakan jembatan persahabatan yang berujung pada saling menyukai, terpisah jarak umur sekitar 5 tahun membuat kita menjadi terasing satu sama lain, karena terkadang ada ungkapan perasaan aneh dari Z, tentang aku, tetapi tidak mengurangi rasa rindu aku padanya, rasa cinta aku padanya, yang seiring waktu berjalan ia bisa menyatu seperti aliran ombak yang selalu mengerti dan memahami butiran pasir yang begitu halus namun padat, sepadat aku mencintaimu.

Mengapa rasa terasing ini selalu menghantui aku,mengapa engkau ciptakan untuk aku,apakah jarak umur, selalu membuat kita saling membandingkan, aku bertanya apakah yang engkau ragukan untuk aku,aku bukan seperti yang engkau bandingkan, aku adalah aku, mungkin persoalannya aku terlanjur menikmati matahari lebih dahulu dari engkau, tetapi aku terlanjur mencintai engkau dalam Rahim ibumu sebelum engkau menikmati matahari.

Apakah perbandingan dapat memberi arti tersendiri bagi aku, apakah keraguan itu menjadi petunjuk bagi aku, untuk menasfirkan apakah ini hanya permainan cinta darimu untuk pembalasan dendam.

’Dendam’’ yang menjadikan engkau seperti harimau yang siap untuk melahap setiap korban yang ada di depan matamu, apakah aku salah satu korbanya’karena engkau adalah salah satu korban yang pernah di khianati oleh sang tunanganmu kata temanmu pada aku, sebelum aku mengenal engkau.

\Aku takut ketika engkau hanya menjadikan aku sebagai alasan pembalasan dendam bagi dirimu,atas apa yang pernah engkau alami,dalam perjalan tunangan dirimu, engkau di khianati oleh nafsu sang kekasihmu, karena selingkuh, aku adalah aku, aku bukan sang tunangamu, yang mungkin tidak menghargai cinta, tidak menghargai kehidupan, aku bukan bahan permainan, hidup hanya sementara, seperti kereta yang melaju meningalkan tatapan mata, dalam hitungan detik, kita hanya persingahan sementara di stasiun, dalam waktu yang singkat itu seharusnya ada lukisan terindah yang menjadi kado perpisahan ketika kereta yang membawa kita menghilang dalam sekejap mata oleh tatapan mereka yang mencintai kita dan kita juga mencintai mereka, yang ada hanya lambaian tangan dan tangisan perpisahan, sebagai ungkapan kesediahan atas segala hari-hari terindah yang pernah kita ukir bersama dalam lukisan yang menjadi kado terindah dalam kehidupan ini, rasa terasing jangan menjadi beban hidup kita.

Manisku, apakah engkau selalu menyiksa aku dalam omong kosong ini, janganlah sayangku,

Sayangku engaku menjadi mentari pagi yang selalu menyinari, kegelapan jiwaku, yang sedang menungu seberkas harapan untuk hidup kembali,hidup yang bukan sekedara hidup, tetapi hidup yang dapat engkau rangkai menjadi sesuatu yang indah,sesuatu yang memiliki arti, arti yang memberi harapan untuk aku, untuk hari ini dan selamanya,jangalah engkau menyebaku dalam kepalsuan keterasingan ini sayangku,

Oh my love,

Because I love you,

lebih dari semua yang terindah di dunia ini, karena engkau mahlub terindah bagi aku, bagi hidupku, bagi impian masa depanku, bunga yang indah di taman, selalu memberi arti berbeda bagi yang memandang,tetapi engkau bungaku, bunga yang terindah, yang akan bermekaran indah ketika datangnya saat mentari menyingsing di pagi hari, hanya aku yang bisa memahami keindahan dirimu, keindahan kepribadianmu, karena engkau selalu memberi arti bagi harapan hidup ini.

Hidup yang tingal menungu waktu untuk menghilang, hidup yang tak mengerti arti siang dan malam, hidup yang selalu berujung pada pesimisme kehidupan. Engkau adalah harapan kehidupan itu.

Z mengapa engkau mengasingkan aku dari rasa keterasingan aku sendiri, yang terjebak pada penjara yang entah aku sendiri tidak mengerti untuk menemukan jalan keluar itu.

Apakah dunia ini begitu terasing bagi aku, atau engkau yang membawa aku pada jalan yang tak aku mengerti untuk menemukan jalan kembali

’Mengapa’??

Engkau ingin mengasingkan aku darimu, aku hanya mahlub yang tak berdaya oleh kelembutanmu,kedewasaanmu dalam memanjankan aku, yang menjadi sosok ibu. Ibu bagi aku adalah engkau, karena engkau mengerti aku, karena engkau memahami aku, karena aku hanya bayi mungil yang sedang sekarat dalam dukanya hidup yang begitu keras ini.

Apakah ini hanya perasaan terasing yang aku ciptakan sendiri, atau hanya perasaan yang menyekap diriku dalam lamunan kesendirian aku, ketika engkau ada maupun tidak ada di sisiku,mengapa perasaan terasing ini begitu membara dalam diriku, apakah aku sulit untuk menyatu bersama dirimu, atau engkau yang sulit untuk menyatu bersama diriku, lalu apakah yang harus aku lakukan untuk menghilangkan perasaan terasing ini, dari dalam diriku,

‘Oh cintaku,’

Aku hanya bisa mengadu padamu wahai pemilik hati, wahai pemilik dua insan yang lagi sedang sekarat jatuh hati.

oh angin tolonglah semburkan sepoi-sepoimu dalam dirikku agar menyegarkan keraguan perasaan terasing ini dalam diriku, aku berharap, aku menunggu, aku memohon, agar perasaan terasing ini dapat segera menghilang dari diriku ,dari pikiranku, dari angan-angan khayalanku.

Oh angin engkau harapan terahirku.

Perasaan terasing ini sungguh menyiksaku,

Apakah ini berarti kami tak bisa menyatu,

Atau ini hanya perasaan galauku, di kala rembulan malam di tepi alun-alun selatan kota Yogya.

Isak bofra, Januari 2016

Share
 


Copyright by KOMAPO.