Home SASTRA CERITA RAKYAT CERITA RAKYAT LEGENDA: KISA YEZANG DAN YUMIP DI PEGUNUNGAN BINTANG-PAPUA
LEGENDA: KISA YEZANG DAN YUMIP DI PEGUNUNGAN BINTANG-PAPUA

Penulis: Wengyepmut Opki

Di zaman dahulu kala, hiduplah dua orang pemuda kakak beradik. Kedua pemuda tersebut adalah orang-orang yang sangat berpengaruh dilingkungan dimana mereka berada. Kedua pemuda tersebut, sang kakak yang bernama Yesang, sedangkan sang adik bernama Yumip. Mereka tinggal di sebuh kampung kecil yang bernama Bukataman disitulah kampung mereka. Bukataman adalah sebuah kampung yang dimana tempat pemukiman warga guna melakukan segala aktivitas mereke termasuk Yezang dan Yumip.

Ditempat itu pula hidup berbagai jenis atau spesies suku bangsa khususnya mereka yang bersuku Ngalum yang berada di wilayah Pegunungan Bintang. Pada suatu hari, semua warga mengadakan musyawara untuk meninggalkan kampung Bukataman, kemudian pergi ke Mimkataman lalu mereka memanen hasil kebun keladinya atau talasnya. Setelah memanen hasil kebun mereka, mereka pun membuka lahan baru guna untuk menanam kembali bibit keladi yang mereka panen tadi. Karenakan, kalu bibitnya ditaru begitu saja hingga beberapa hari kemudian bibitnya atau anakannya itu akan menjadi busuk. Agar bibitnya tidak menjadi busuk dan dimakan serangga, biasanya mereka menguburkan di tempat yang layak lalu ditutupi dengan dedaunan supaya bibitnya tidak busuk atau dimakan sejenis ulat keladi.

 

Disana para warga bergotong royong dengan penuh ramai dan suasana yang begitu humor, mereka bekerja. Disana mereka bekerja selama kurang lebih satu setengah minggu. Secarah turun temurun, dimana mereka buka lahan kerja, biasanya disediakan juga pondok-pondok kecil di sekitar kebun agar ada hujan turun atau hari semakin sore, mereka bisa bermalam. Sistim berladang masyarakat tersebut adalah sistim nomaden (berpindah-pindah lahan). Pada saat itu, yang tidak ikut kerja bersama warga adalah Sang Yumip, karena pada hari itu juga sang Yumip harus mengadakan inisiasi adat oleh para tetua adat.

Dalam mitos orang setempat mengatakan bahwa Yesang dan Yumip adalah tokoh terbesar bagi masyarakat suku Ngalum di Pegunungan Bintang terlebih khusus bagi mereka yang marga Uropmabin dan Uropdana.

Jadi keturunan Yezang yang ada di Pegunungan Bintang adalah mereka yang bermarga Uropmabin, sedangkan keturunan Yumip adalah mereka yang bermarga Uropdana. Urop adalah manusia pertama (Kakak) yang ada di Pegunungan Bintang kemudian marga – marga yang lainnya menyusul.Manusia pegunungan bintang sejak dari penciptaan sampai sekarang, nenek moyang mereka berasal dari satu tempat dan kemudian dibagi tia – tiap manusia ini ke segela penjuru atau wilaya di pegunungan Binatang (menurut cerita tetua adat). Tempat dimana Attangki atau TUHAN Sang Pencipta menciptakan kedua kakak beradik tersebut termasuk manusia Pegunungan Bintang seluruhnya adalah di ‘’Aplim Apom’’, Aplim yang artinya ‘’Ibu’’ leluhur orang Pegunungan Bintang sedangkan Apom yang artinya ‘’Bapak’’ leluhur orang pegunungan Bintang. Yumip dan Yesang adalah manusia pertama yang ditempatkan oleh Attangki (TUHAN Sang Pencipta),.

Disitulah pusat penciptaan Manusia Pegunungan Bintang (menurut cerita tetua adat). Kemudian hari mulai siang, Sang Yumip melanjutan perjalannya dari Bukataman ke sebuah kampung yang dimana sang Yumip ini akan diinisiasi oleh para tetua adat. Tempat dimana Sang Yumip akan mendapatkan pendidkan moral atau pendewasaan adalah Kungor. Hari mulai sore, Yumip terus berjalan tanpa lelah hingga dia pun tiba di tempat tujuan, kemudian disambut oleh tetua adat dengan riang gembira atas kedatangan Sang pemuda ini. Pada hari itu juga, malamnya inisiasi dapat dilaksanakan di rumah adat selama kurang lebih satu bulan.

Setelah itu, Yumip pun kembali melanjutkan perjalanannya dari Kungor tempat dimana mendapatkan pendidikan non formal melalui tetua adat setempat sesuai tradisinya ke kampung asalnya. Dengan terselenggaranya itu, Ia pun diberi bekal dari tetua adat berupa busur, anak panah, makanan, dan bekal lainnya serta alat perlengkapan yang diberikan oleh tetua adat. Sesampai di tengah perjalanan, ada hal buruk yang terjadi setelah dia balik dari sana (Kungor) , ada orang-orang tertentu yang tidak senang atau irih dengan Yumip, akhirnya dia dibunuh lalu masukan kedalam sebuah sumur yang dalam kira-kira setinggi 20 meter kedalamannya. Sehingga, yang kelihatan adalah hanya ujung jari kaki sedangkan, sebagian tubuh semua sudah ditenggelamkan.

Keesokan harinya sang kakak sedang menunggu adiknya yang bernama Yumip, ternyata sang adiknya tidak muncul-muncul juga. Akhirnya sang kakak mulai mengambil keputusan untuk membalas dendam. Ketika warga masi bekerja di ladang keladi atau talas, sang kakak membalas dengan membunuh seorang wanita dengan cara yang dia telah direncanakan. Pada keesokan harinya, sang Yezang keluar dari kampung dan mempersiapkan alat- alat yang ia akan membunuh seorang putri. Setelah itu, hari sudah gelap, suasana di kampong tersebut sudah sepi. Akhiryan, Yezang memulai melakuan aksinya. Dari kampong tersebut, ada salah satu rumah yang orang sedang melakukan aktivitas di dalam rumah itu, hanya tinggal seorang wanita kemudian malam itu Yezang melakukan ini secara rahasia mengambil kulit kelamin perempuan itu dan menempel pada mulut pancuran air yang biasa diminum oleh warga disaat kegiatan berlangsung di kebun keladi atau talas tersebut.

Akhirnya apa yang dilakukan oleh Yezang berhasil. Pada hari berikutnya, orang-orang mulai kembali beraktivitas di kebun keladi atau talas, hari menjelang sore, orang berbondong- bondong ke air pancuran itu, kemudian minum air. Tiba-tiba setelah mereka meminum dari air pancuran tersebut, mereka meninggal satu persatu sampai akhirnya orang-orang yang ada di kebun keladi yang sedang kerja pun meninggal semua tanpa satupun. Keesokan harinya sang Yesang mengangkat mayat adiknya dari sumur lalu menguburkannya. Namaun sebelum melakukan pembalasan ini, Yezang pun memanjat pohon pandan yang berduri kebetulan pohon itu sudah berbuah kemudian setelah dia sampai di atas, Ia memegang buah pandan lalu katanya, ‘’Kalau saya membalas kematian adik ku, setelah aku memegang buah ini dan lompat ke bawa lalu berdiri’’. Kemudian Yezang pun lompat dari pohon tersebut dan mendarat di darat di atas batu dan menurut cerita bapak ku, bekas kaki Sang Yezang itu benar-benar ada sampai sekarang.

Penulis adalah mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Share
 


Copyright by KOMAPO.