Home RESENSI RESENSI DSCHUNGELKIND, KISAH CINTA DARI RIMBA
DSCHUNGELKIND, KISAH CINTA DARI RIMBA
RESENSI

Suku Fayu tidak percaya dengan sakit. Bagi mereka sakit merupakan kutukan istri Gohu mengalami keram karena hamil ketika Doris yang seorang perawat inggin menolong tetapi terlambat dan ia meninggal di pangkuan Doris. Bagi suku Fayu, orang tidak bisa mati secara alami menurut pandangan mereka itu adalah pertanda atau kutukan. Suku Fayu percaya bahwa sakit adalah kutukan yang tidak bisa disembuhkan. Dalam kondisi ini Doris yang seorang perawat yang terbiasa melihat sesuatu secara rasional dilawankan dengan kebiasaan suku Fayus yang melihat sesuatu dari sisi Alam atau budaya mereka. Suku Fayu seseorang sakit karena melanggar aturan, dendam sehingga seseorang mengalami kutukan, tetapi bagi Doris itu adalah sakit.

Sabine, gadis yang ceria suka akan tantangan dengan cepat ia bisa menemukan teman perempuan dari suku Fayu bernama Faisa dengan membuat mainan pesawat kertas dan menerbangkannya bagi anak-anak suku Fayu itu sesuatu yang aneh,baru. Sabine dengan cepat beradaptasi dengan suku yang baru dengan karakter, budaya, bahasa, dan kebiasaan yang berbeda dan Sabine menemukan banyak teman baru anak-anak seusianya. Ketimbang kakaknya Judith yang lebih memilih tinggal di rumah dan adiknya Cristian yang masih berusaha untuk beradaptasi.

Istri Gohu yang meninggal akibat keram waktu hamil, kepercayaan suku Fayu seseorang yang meninggal sebelum di bawa ke hutan, mayat tinggal di rumah untuk waktu yang telah di tentukan menurut kepercayaa suku fayu, setelah itu mayat di bawa ke hutan diletakan di atas parah-parah yang telah di siapkan. Setelah jasad menjadi tulang, tulang tersebut di bawa untuk diletakan di rumah, karena suku Fayu percaya bahwa mereka yang sudah meninggal akan tetap bersama mereka.

Suku Irigre berperang dengan suku Fayu karena ada masalah sehingga terjadi perang, perang di lakukan di lapangan terbuka dengan berhadapan muka dan saling menyerang. Setelah waktu yang telah di sepakati untuk berperang selesai kedua suku tersebut membantu anggota sukunya yang mengalami luka,mengangkat yang meninggal akibat terkena anak panah.

Gohu yang menduda setelah istrinya meninggal akibat kena kutukan waktu hamil, tetapi bagi Doris Ibu Sabine itu adalah keram waktu mau melahirkan. Gohu mengambil Nala dari kampong Irigre untuk dijadikan sebagai istrinya, tetapi Nala tidak mau karena anaknya Auri di panah oleh Gohu dan melarikan diri ke hutan. Mereka Auri kena kutukan jadi hidupnya tidak akan lama sehingga menjadi pembenaran bagi Gohu untuk memanahnya. Nala tidak mencintai Gohu tetapi ini tentang kelangsungan hidup Nala, sehingga Nala tidak memiliki pilihan kecuali menerima Gohu sebagai Suaminya, karena ketika ia menolak resikonya adalah Mati.

Ketika menelusuri hutan,sabine bersama adiknya Cristian dan sahabatnya Faisa,bermain di tengah hutan menikmati mainan tarzan-tarzaan lalu dalam perjalanan pulang tanpa sengaja mereka menemukan Auri yang terbaring tak berdaya,akibat anak panah Gohu yang tepat di dada Auri. Luka yang di derita Auri cukup parah karena lama berada di hutan, masih kecil, tak berdaya, luka sudah membusuk Klaus bersama warga suku Fayu menelusuri hutan untuk menemukan Cristian yang menemani Auri di tengah hutan.

Auri di bawah pengobatan Doris yang seorang perawat, namun mereka memperoleh tantangan dari warga suku Fayu yang menolak Auri karena bagi mereka siapa yang memperoleh kutukan akan meninggal. Kutukan yang tidak bisa lawan, tidak ada kekuatan yang mampu untuk mengalahkan kutukan tersebut ungkap Gohu yang menjadikan Nala ibu Auri sebagai Istri dan memanah Auri, tetapi atas kebijaksanaan kepala suku Boko. Auri yang merupakan bagian dari suku Irigre di perbolehkan tinggal bersama keluarga Klaus. Kepala suku Fayu Boko mengatakan kita akan liat apakah Auri mampu melawan kutukan atau meninggal karena kutukan biarlah waktu menjawab.

Sore yang indah menyinari sungai kampong, di tempati oleh suku Fayu, ada sungai yang memamerkan keindahan pasir, batu, hutan, sungainya. Judith yang mempunyai kemampuan untuk mengotak atik pensil gambar, pada kertas gambar melukis keindahan pantai, ketika hujan lebat melandai kampung Judith tidak melepaskan momen tersebut. Judith kakak perempuan Sabine mahir dalam melukis. Ketika petang terjadi perang yang keras antara suku Irigre dan suku Fayu di lapangan terbuka di halaman rumah Klaus, akibat suara yang menyertai proses perang membuat Judith menangis pada kondisi tersebut. Sedangkan Klaus memberanikan diri untuk membubarkan kedua suku yang sedang bertikai. Atas kebijaksanaan kepala suku boko dan kepala suku Irigre maka mereka berjanji untuk tidak saling berperang lagi dengan harapan Klaus jangan meninggalkan mereka.

Selama 8 minggu keluarga Claus meninggalkan hutan Papua Barat ( West Papua ) untuk berlibur ke Jerman, ketika berada di Jerman Sabine merasakan ada sesuatu yang berbeda yaitu perbandingan antara hutan Papua dengan Jerman. Selama berada di hutan tidak ada salju ketika melihat salju ia mengagumi sebagai hasil karya Tuhan yang patut di syukuri oleh Jerman, tetapi Sabine tidak merasa nyaman berada di Jerman. Ia selalu merindukan hutan,teman-temanya, Auri, berbeda dengan Judith dan Cristian yang tidak terlalu merindukan hutan Papua.

Setelah liburan di Jerman selesai claus beserta keluarga kembali ke hutan Papua Barat, tempat di mana suku Fayu berada. Mereka mulai tumbuh dewasa, Judith tetap tinggal di Jerman dan Sabina beserta Cristian yang tetap berada di hutan bersama kedua orang tuanya. Usia dewasa inilah benih-benih cinta antara Auri dan Sabine mulai perlahan-lahan timbul. Cinta Sabine kepada Auri menjadi beban bagi Claus dan Doris karena mereka tidak yakin apakah Sabine bisa menjadi bagian dari suku Fayu atau tidak.

Sabine bersama Cristian menghabiskan waktu 3 minggu di Jayapura, namun sabine tidak merasa betah berlama-lama di Jayapura waktu 3 minggu terasa 6 minggu. Karena kerinduan yang mendalam kepada Auri.

Tahun 1989 menjadi tahun yang kelam bagi Sabine karena kehilangan seorang sahabat abadi, cinta masa remajanya, kematian Auri membawa Sabine pada kesedihan, shock berat, perasaan putus asa, bagi sabine Auri sudah bertahan lama, begitu berani dan kuat begitu bersemangat untuk hidup pada akhirnya meninggal karena tubereulosis.

Sabine, dunia yang sempurna apakah itu benar ada..?? bagaimana dunia yang sempurna itu..?? apakah itu tergantung pada warna kulit kita..? nenek moyang kita..? atau paspor kita..??

Dunia tidak ada yang sempurna baik di hutan maupun di Jerman, karena kebahagian sejati tidak terdapat dalam kesempurnaan, tetapi bersama mereka yang kita cintai, mereka yang melindungi kita, dan yang menyangi kita……di situ di mana hati kita bisa damai dan bagi Sabine ia menyadari selamanya dalam hatinya, ia akan terus menjadi anak rimba West Papua.

Film ini untuk segala umur dan layak untuk di tonton karena merupakan kisah nyata dari von sabine Kuegler yang di Novelkan dan menjadi Novel bestseller. Novel tersebut difilmkan. Film ini sangat menginsiprasi dalam memaknai hidup, cinta, keluarga, dan orang yang menyangi kita .dan yang penting untuk menumbuhkan kecintaan kita akan Indahnya Alam Papua dan Instrumen music yang indah membuat kita terpesona akan karya Tuhan yang luar biasa bagi Alam Papua.


Penulis adalah Kontributor Komaponews

Share
 


Copyright by KOMAPO.