Home RESENSI RESENSI TERPAKSA KELUAR DARI SEKOLAH KUMU ITU
TERPAKSA KELUAR DARI SEKOLAH KUMU ITU
RESENSI

 

Dari kegelapan, keraba- rabaan, seorang anak manusia dilahirkan dibalik kesunyian. Dia adalah satu-satunya seorang anak manusia yang mampu melihat dan memahami, memaknai apa itu kata. Kata yang dikampanyekan oleh pemerintah kolonial Indonesia. Kata yang melekat di kertas putih. Hanya kata itu yang dikejar oleh ribuan anak manusia. Mereka melupakan dirinya, melupakan lingkungan mereka, meninggalkan kebiasaan mereka, budaya mereka demi mengejar kata tersebut. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berhanti bulan, tahun berganti tahun, tibalah tahun 2001/2002. Tahun ini awal mulannya seorang anak manusia mendengar kata yang namanya kata sekolah. Ia mendengar kata tersebut, ketika Ia bersama ayahnya menemui salah seorang yang baru saja datang ke kampong itu. Seorang laki-laki itu datang dari mana, kurang jelas arah kedatangnnya. Yang jelas orang itu, juga mendengar kata sekolah dari orang lain. Memang aneh!

Sekolah, baginya adalah hal aneh dalam sejarah kehidupannya. Ia merenung dan berpikir mengilingi bumi. Belum ketemu dalam pikirannya. Ia hanya menelan luda saja. Dia bertanya kepada ayahnya pun belum dijawab karena ayah baru mendengar kata itu juga. Apa lagi Masyarakat di daerah itu pada umumnya belum mendengar dan mengerti apa itu sekolah. Sekolah itu bagaimana melakukannya. Beranggapan bahwa Sekolah adalah barang makanan yang dapat mengkenyangkan mereka dari rasa kelaparan. Dengan demikian, rasa penasaran yang tinggi sih boca ingusan tersebut harus keluar dari kumuh itu, untuk mengenal dan merasakan yang namanya sekolah. Ia merasakan yang namanya sekolah, ia melupakan segala-galanya. Bagaimana kisah seorang anak manusia tersebut? ikuti jejak terjang perjuangan anak manusia tersebut.

Anak manusia itu adalah Seri Kulka. Anak manusia kelahiran Nongme 1995 itu keluar dari sarangnya untuk mencari yang namanya sekolah. Seri Kulka, sang pengembara sekolah, keluar dari nongme berumur 7 tahun. Kemudian dia mengembala ke penjuruh bumi. Ia keuar kampong meninggalkan sahabat-sahabatnya, kakak kandungya, saudaranya, orang tuannya demi menemui sekolah. Ia berjalan kaki melewati bukit, menyeberangi sungai, melewati jembatan kayu dan lainnya.

Dalam perjalanannya, Ia menghadapi berbagai hambatan. Hambatan tersebut misalnya dia jatuh, tubuhnya dimakan lintah dan lain-lainnya. Ditemani ayahnya, mereka menjajaki sebuah gunung, menelusuri suangai, hingga dua hari berikutnya tiba di suatu daerah. Daerah tersebut adalah Bime. Daerah bime terlihat dari jauh, Nampak ada keramaian kota. Ia bersama ayahnya tiba di kota bime. Mereka betemu dengan salah satu keluarga di daerah tersebut. Keluarga itu, suaminnya berasal dari kampong mereka, sedangkan istrinya adalah asli bime. Di rumah itulah menjadi tempat dia tumbuh dan berkembang menjadi dewasa.

Keluarga Tengket namanya. Sebelumnya Tengket keluar dari kampong asalnya demi istri tercintanya di bime. Dia keluar dan berkeluarga di bime semenjak 15 tahun lalu. Anak dari keluarga itu ada 3 anak. Anak pertama cowok berumur 13 tahun, anak ke dua cewek berumur 10 tahun sedangkan anak ke tiga cowok berumur 7 tahun. Ayah Kulka adalah teman sepermainan semasa kecilnya sampai dewasa di kampong halamanya. Kulka dan Tengket waktu itu kembali seperti masa lalu. Mereka bergurau sambil menceritakan dan mengingat kembali semasa kecilnya di Nongme.

Selama dua hari di Bime bersama keluarga itu. Kulka mencetikan semuanya apa yang diinginkan anaknya sehingga Dia antar anaknya ke Bime. Ia berpesan kepada Tenget bahwa “ Sobat saya menitip anak saya ini kepada kamu, saya mohon jagalah dia tuntunlah dia, sehingga dia bisa menemukan Apa yang dia inginkan. Dia ingin menemukan dan merasakan yang namanya sekolah. Saya berharap suatu hari tiba saatnya tolong perkenalkan anak ini kepada sekolah tersebut” katanya sambil menghisap sebatang rokok. Waktu menunjukan pukul 13.00 malam. Ayah Kula menyerahkan kebutuhan anaknya kepada Tengket. Semua bekal anaknya selama 6 tahun sudah serahkan kepadanya. Sambil bercerita, mereka menyiapkan bahan makanan buat Kulka makan di dalam perjalanan pulang ke kampong halamannya.

Waktu pukul 4.00 pagi. Si kulka menyiapkan semua keperluan dan mulai berangkat. Sebelum berangkat Ia bersalaman dengan Tengket. Dia meninggalkan Bime menuju kampong halamannya. Tengket melihat kulka dari pintu rumah, semakin jauh dan jauh hingga menelan diantara pepohonan hutan belantara itu. Entalah dia suda pulang ke rumahnya di Nongme atau belum. Lupakanlah si tua Kulka itu.

Seri dan konconya yang bernama Tery (7 tahun) anak kandung yang ke tiga dari keluarga Tengket masih tidur dalam tempat tidur. Waktu pukul 07.00 pagi, mereka bangun dari tempat tidurnya. Mereka kemudian pergi ke dapur. Seri berfikir bapaknya masi di dapur, namun Ia tidak melihat Ayahnya itu. Dia merenung diantara keluarga tengket. Lalu 10 menit kemudian dia bertanya kepada Tenget, katanya “ Bapa, sa pu bapa ke mana?” lalu ayah Tengket mengatakan “ mulai hari ini sampai selama-lamnya saya adalah ayah kamu dan kamu adalah anaku” katnya sambil memberikan makanan buat makan pagi. Dia hanya menelan luda saja, dan tidak melanjutnya pembicaraan lagi.

Musim semi telah mulai berkurang, memasuki pertengahan musim baru. Menunggu musim baru. Kini mendekati musim hujan. Musim yang sering datang di wilayah pedalaman pegunungan itu. Libur panjang-liburan semester telah mulai berkurang. Kota Bime terlihat ada keramaian. Banyak anak-anak berumur 7-15 tahun terlihat mondar mandir di sekitar ibu kota itu. Sekolah-sekolah yang ada di ibukota telah membuka pendaftaran bagi murid baru. Sekolah menerima murid baru. Ayah Tengket secara diam-diam mendaftar kedua anaknya itu ke salah satu sekolah bergengsi di daerah itu. Dua minggu berikutnya disarankan dari panitia penerima siswa baru untuk kedua anaknya masuk sekolah. Bagaimana kisah selanjutnya? ikuti terus, cerita seorang anak manusia adalah anak sayembara sekolah. (bersambung)

 

Fransiskus Kasipmabin, Tinggal DI Yogyakarta

 

Share
 


Copyright by KOMAPO.