Home RENUNGAN RENUNGAN MENGAPA KITA HABISKAN UANG SAKU SEBELUM TANGGAL BELASAN?
MENGAPA KITA HABISKAN UANG SAKU SEBELUM TANGGAL BELASAN?

Oleh Bryan Sevianus Urwan

Uang menjadi sesuatu yang bermanfaat , namun jika digunakan sembarangan uang justru menjadi akar dari segala masalah. Kebanyakan dari kita belum memahami prinsip dalam menggunakan uang sehingga sulit sekali mengontrol uang meskipun dalam jumlah besar. Masalah uang menjadi masalah yang sangat serius dalam setiap pribadi manusia dalam beberapa dekade, lebih khusus dalam kalangan mahasiswa masa kini.

Kita semua sepakat bahwa uang bukan segalanya dan bukan menjadi pusat hidup kita, tetapi alangka baiknya kita perlu memahami apa tujuan uang itu sendiri. Kita juga mengakui bahwa di dunia ini tidak ada orang yang hidup serba gratis, apalagi hidup tanpa uang. Jadi uang sebagai alat tukar ( medium of exchange ) dan sebagai alat pembayaran atau means of payment.

Berangkat dari definisi dan latarbelakang carut-marutnya penggunaan uang, kita mencoba melihat kenyataan –kenyataan terjadinya, misalnya ketidakefisienan, penyalahgunaan uang, dan tidak terkontrolnya uang kita. Mengapa hal penggunaan dan pengaturan uang sangat penting untuk didiskusikan bahkan perlu mendapat perhatian serius oleh kita semua? Masalahnya adalah terlalu menghambur-hamburkan uang, pemborosan, terlalu banyak hutang dan pinjaman menyebabkan kita frustrasi, stress, dan menjadi orang yang selalu kelaparan.

Berpikir tentang napsu, berfoya-foya adalah akar daripada pemborosan dan tidak terkontrolnya uang kita. Hidup dan kuliah jauh dari pengawasan orang tua adalah suatu hal yang menjadi dilematis bagi kita mahasiswa, namun kondisi semacam ini kita tidak pernah menyadari sehingga uang kita digunakan hal-hal yang bukan menjadi kebutuhan primer. Kebanyakan kita mahasiswa cenderung membeli rokok, minuman beralkohol, dan menggunakan uang kita demi memuaskan napsu menjadi hal penting dan prioritas daripada membeli makan, membayar sewah rumah, menjaga kesehatan dan membeli buku-buku pelajaran.

Satu kebiasaan bahwa kita kadang meminjam uang dan bon di warung-warung, kepada teman sehingga kita seolah –olah menjadikan bon dan pinjaman menjadi batu sandungan. Kita tidak bisa mandiri menghemat uang kita dengan benar sehingga kebiasaan pinjam dan bon menjadi kebiasaan yang sulit kita hentikan. Kecenderungan demikian memperbudak diri, kita menganggap kebiasaan –kebiasan semacam itu normal-normal saja, namun kalau kita menyadari akan kecendrungan itu justru kita membangun kebiasaan yang manja dan tidak mandiri.

Godaan-godaan dan napsu sering menjadi ancaman serius. Kita dihadapkan dengan pilihan-pilihan dan kita harus mengambil keputusan. Jika keputusan kita salah maka kita akan menerima konsekuensi dari keputusan kita sendiri. Dalam kalangan kita mahasiswa, ada suatu budaya atau semacam tradisi yang kita bangun dan hal itu menjadi suatu aturan atau sistem yang kita patuhi bersama yakni “ sifat sosial” alias menghambur-hamburkan uang demi teman atau orang lain agar orang tersebut senang atau puas. Sistem seperti itu normal dan masuk akal kalau pemasukan (income) kita tiap hari miliaran rupiah. Kadang kita salah persepsi tentang sifat sosial tadi, sebab kadang kita tidak berpikir apa yang kita makan dan pakai untuk esok hari.

Pada umumnya sifat sosial yakni niat dan keinginan untuk membantu orang lain pasti dimiliki oleh setiap orang. Kita dapat menjadi orang dermawan tetapi perlu kita sadari volume dan kapasitas yang kita dimiliki saat ini dengan bijaksana. Kebanyakan orang yang bisa menggunakan uang secara hemat dan efisien, mereka dapat bertahan dengan pemasukan mereka hanya 400 ribu atau 500 ribuh per bulan. Mereka bisa beli makan, beli alat-alat mandi , dan memenuhi kebutuhan primer lainnya hingga habis bulan.

Pertanyaannya adalah mengapa dan ada apa kita mahasiswa Komapo cepat sekali menghabiskan uang saku atau uang kiriman orang tua sebelum tanggal belasan ? Pasti ada sesuatu yang salah dan tentu kita telusuri bersama. Kita tidak saling menggurui, mengejek, dan mengkambinghitamakan bahkan mencari kelemahan-kelemahan masing-masing. Kita perlu koreksi, saling menegur, dan merefleksi satu sama lain agar supaya kita berubah. Teguran dan perbaikan tidak pernah kita lakukan dalam komunitas kita, sehingga kita selalu berantakan bahkan hancur-hancuran dalam berbagai aspek dan lebih khusus dalam hal finansial.

Bukan masalah kita jadi sarjana atau menjadi orang yang intelek atau pintar, masalah efisiensi uang menjadi penting untuk kita memperhatikan bersama. Kehidupan dan perilaku kita sangat menentukan atau menjadi cermin bagi orang lain, tapi penggunaan uang kita tidak benar, kita masih kompromi dengan nafsu, suka berpikir negatif tentang diri sendiri dan orang lain, sesungguhnya hal-hal semacam ini menjadi tembok pemisah bagi diri kita untuk melihat hal-hal supernatural yang Tuhan sediakan bagi kita. Akibatnya orang lain menjadi tidak minat, kita tidak dapat lagi menjadi figur dan teladan bagi masyarakat kita.

Tidak dipungkiri bahwa kita sering membicarakan kelemahan kinerja pemerintah daerah kita, membandingkan kinerja politikus yang satu dengan yang lain, seolah-olah kita mengatur lembaga-lembaga dan institusi mereka padahal kita tidak memiliki wewenang sama sekali. Namun kita tidak pernah menyadari betapa kebobrokan kita dalam kehidupan kita masing-masing. Kehancuran dan kebobrokan seperti mengatur uang pemerintah asal-asalan, menghamili perempuan tanpa belas kasihan, minum minuman ( miras ) sembunyi –sembunyi, menjadi tukang tipu-tipu asal toki dada, menghabiskan waktu dalam perangkap-perangkap lokalisasi, dan berbagai petualangan –petualangan dan kenakalan kita. Sungguh ironis dan mengerikan jika kita tidak menyadari hal- hal kecil yang ada dalam diri kita saat ini. Sangat tepat dan jenius sekali kita bisa membagun idealisme–idealisme, sistem-sistem dalam organisasi, tetapi kalau kita tidak pernah berubah , sangat dikhawatirkan justru kita sendiri menjadi perusak, pemberontak, dan menjadi orang-orang yang suka kompromi atas dosa-dosa dan ketidakbenaran.

Kita sedang buka kedok dan rahasia kita bersama , kita tidak pernah menutup-nutupi kebiasaan-kebiasaan buruk kita. Hal-hal inilah yang menjadi penghambat perkembangan organisasi dan paguyuban-paguyuban kita . Kita semua sudah pernah mendengar suatu slogan yang pernah ada dalam benak kita yakni “ aku berubah dunia berubah”. Kita tidak pernah mengerti slogan semacam ini, mungkin orang yang menciptakan slogan semacam ini mempunyai tujuan yang berbeda. Meskipun kita dilatih melalui pelatihan-pelatihan oleh orang-orang luar biasa dan berpengalaman dalam berbagai bidang tetapi mengapa kita tidak membuat terobosan, masih jalan di tempat, masih stagnan dan tidak berubah-berubah.

Kita semua tahu bahwa kita kuliah untuk membangun negeri kita, setelah selesai kita pasti kembali ke kampung halaman kita untuk menjadi figur-figur pembangunan. Misi dan tujuan kita sudah jelas dan sudah tertanam dalam diri kita setiap pribadi. Sayangnya, akhir-akhir ini banyak sekali membuat kubu-kubu dan kelompok-kelompok seindiri-sendiri. Bayangkan dalam satu komunitas saja sudah membuat kubu-kubu dan kelompok sendiri- sendiri. Kita tidak bisa membantah bahwa secara otomatis kita sudah bangun sukuisme, extrimisme, egisme, dan isme –isme lain sehingga kita tidak menciptakan kader-kader organisasi yang bisa melihat segala sesuatu secara netral dan objektif .

Pada prinsipnya jika kita memiliki prasangka, kecurigaan-kecurigaan, memandang seseorang atau sesuatu dengan perspektif negatif tidak bisa bekerja di organisasi dengan hati yang murni. Salah satu contoh yang paling kongkrit adalah kita sudah dilatih melalui pelatihan jurnalistik dengan ekpektasi agar menjadi penulis-penulis berita dan artikel yang ulung, tetapi kita tidak pernah tunduk dan melatih diri. Padahal media sudah ada dan itu merupakan kesempatan bagi kita untuk melatih, tetapi kebanyakan dari kita suka mengeluh dan protes. Pintar sekali mengkomentari bahkan meneror tulisan hasil karya tulisan orang lain tetapi tidak bisa menyadari kelemahan diri sendiri.

Saat ini banyak orang akui bahwa mahasiswa Komapo adalah orang-orang intelek, pemikir-pemikir hebat dan jenius, tetapi tindakan nyata dalam organisasi tidak sebanding dengan ucapan. Kita mengklaim tidak menjatuhkan orang lain, namun kenyataan tidaklah demikian. Yang menjadi masalah adalah ketika kita sadar bahwa banyak kehancuran terjadi di interen kita, tetapi sulit sekali kita saling menegur satu sama lain. Kita membiarkan kebiasaan-kebiasaan buruk itu semakin hari semakin bertumbuh terus menerus. Kalau kita bawah kebiasaan-kebiasaan itu ke tanah leluhur Aplim-Apom apa yang akan terjadi.

Jadi kita mesti mulai sadar dan berubah , jika kita habiskan uang dengan hal-hal tidak penting sebelumnya, sekarang marilah kita hemat dan gunakan uang dengan bijak berdasarkan prinsip Tuhan –Asal ada makanan dan pakaian cukuplah ( I Timotius 6: 8). Kita percaya bahwa Tuhan ada dalam kita maka kita tidak perlu mempersembahkan tubuh kita kepada pelacuran, minuman keras, boros uang dirokok, pesta pora dan hal-hal yang membuat kita menghabiskan uang. Mari kita berubah dengan jalan mengalami pertobatan kelahiran baru dan menerima Kristus agar Tuhan menjadi pemimpin atau leader atas hidup kita supaya bisa mengendalikan uang termasuk hidup kita seluruhnya, dengan itu tentunya menjadi berkat bagi bangsa ini.

Share
 


Copyright by KOMAPO.