Home RENUNGAN RENUNGAN MAU JADI MAHASISWA TUKANG TIPU-TIPU DAN KOMPROMI ATAU BERUBAH?
MAU JADI MAHASISWA TUKANG TIPU-TIPU DAN KOMPROMI ATAU BERUBAH?

Oleh Bryan Sevianus Urwan

Beberapa tahun terakhir slogan “Mahasiswa Kritis” menjadi populer. Slogan ini seolah-olah membuat mahasiswa bersangkutan mendorong untuk terus menyikapi dan mengkritisi berbagai problema yang terjadi di Nusantara, mulai dari masalah di lingkungan Kampus hingga masalah umum. Masalah umum yang paling diperbincangkan mahasiswa adalah masalah korupsi, polemik Bahan Bakar Minyak (BBM), dan Kisruh Sepak Bola Tanah Air.

Mahasiswa menganggap ruang demokrasi untuk mencurahkan aspirasi mereka terbatas, tidak ada ruang untuk menyampaikan kritik, dan usulan-usulan yang membangun sehingga demonstrasi dilakukan mahasiswa di berbagai daerah. Mahasiswa sendiri mengklaim bahwa mahasiswa kritis sebagai agen perubahan (agent of change), menjadi problem solver (pemecah masalah), menjadi seorang teladan bagi orang lain, dsb. Ekpektasi–ekpektasi luhur inilah yang kemudian memotivasi mahasiswa untuk terus semakin gencar mengkritisi berbagai permasalahan, baik masalah ekonomi, keamanan, pilitik, pendidikan dan lain-lain. Harapan mahasiswa pengkritis ini yakni “mencari keadilan, kemerataan pembangunan, HAM, dan kesejahteraan ekonomi dan pendidikan.

Namun, Ekspektasi mahasiswa justru berbanding terbalik. Kita semua sadar bahwa hari ini kita hidup di atas sebuah sistem yakni “ sistem relativisme “. Jangan salah paham ,yang dimaksud sistem relativisme adalah ketika orang menganggap segala hal bisa dilakukan dengan kompromi”. Itulah sebabnya dosa, masalah, rasa frustrasi terus berkembang. Sudah tidak bisa dibendung lagi.

Mahasiswa yang dulu menjadi kritikus sekarang menjadi pemain facebok, menjadi tukang gosip di kantin–kantin kampus. Banyak menghabiskan waktu mengasihi gadget, gila terhadap blackberry dan smart phone. Mahasiswa yang suka selfi-selfi. Jika hal-hal seperti ini mengontrol kita, kita akan menjadi penonton di negeri kita sendiri dan menjadi pemberontak. Kita tidak berbicara masalah nilai IPK tinggi-tinggi , lulus dari Universitas ternama, bukan masalah itu. Perlu ingat bahwa mentalitas konsumtif, gosip, berbuat curang , hamil di luar nikah, dan mentalitas lain inilah yang perlu kita ubah.

Berdasarkan penilaian masyarakat bahwa mahasiswa itu suka kritik kinerja orang lain, tetapi tidak bisa melihat kesalahannya sendiri, suka mencari kelemahan orang lain, ungkit-ungkit masalah, tetapi buktinya nol. Di Republik ini, masyarakat sudah kental dengan nilai-nilai moral, nilai-nilai kebenaran. Meskipun kita jadi sarjana, master, profesor, tetapi tingka laku kita menyimpang kita menjadi social disorder ( dikucilkan dari masyarakat ) tanpa ampun.

Kita mengklaim diri mahasiswa sebagai agen perubahan akan tetapi bagimana kita bisa menjadi teladan sedangkan kita sendiri telah terbiasa suka bergosip, mengasihi gadget, menjadi pemain facebok, twitter, tukang main BBM, dan penyimpangan lainnya. Sungguh ironis bahwa kalau kita tidak menyadari konsekuensi dari dunia teknologi, kasih dan kepedulian dan berbagai kemanusiaan lain akan diabaikan. Lambat atau tidak lambat akan muncul anggapan “ saya siapa anda siapa” , kamu kaya saya kaya”.

Kita semua tahu, di negara kita, darurat narkoba, korupsi merajalela, diskriminasi ras, suku, semakin hari semakin mengerikan. Mahasiswa kritis, akademisi, Lembaga Swadaya Masyarakat ( LSM), para pakar dan ahli-ahli berusaha mencari solusi agar orang hidup bebas dari berbagai ancaman narkoba, korupsi dan masalah lain, tetapi hal-hal itu masih saja terjadi. Kita dikejutkan dengan eksekusi mati terpidana narkoba di Nusakambangan 12 April lalu. Pemerintah menganggap dengan melakukan eksekusi mati, kasus narkoba pasti selesai, namun pada kenyataannya pemakaian, pengedaran narkoba masih saja terjadi dan ada setiap hari.

Pengedaran narkoba, orang-orang yang korupsi adalah para akademisi termasuk mahasiswa pengkritis itu sendiri, artinya orang yang korupsi pernah duduk di bangku studi dan menjadi kritikus, tetapi kemudian imannya tidak kuat, berpikir dan bertindak dengan cara pikirnya sendiri akhirnya masuk dalam perangkap korupsi. Apa yang salah dengan semua kemunafikan ini ? Orang semakin pintar, justru semakin pintar memanipulasi dan ceroboh.

Banyak mahasiswa hamil di luar nikah, tetapi dimana para kritikus yang bisa mengubah permasalahan demikian. Kita semua pasti diuji suatu saat dengan berbagai hal. Kita tentu ingat bahwa riwayat Simson yang dicatat di Kitab Hakim-hakim mengajarkan kita mengerti sisi kelemahan dan kelebihan kita. Dikatakan, Simson merupakan orang yang paling kuat dan perkasa pada zamannya, sebab ia diurapi Roh Kudus, namun tetap saja Simson masih memiliki kelemahan. Singkat cerita bahwa kelemahan itulah yang merusak segala potensi yang Tuhan berikan, padahal Tuhan ingin Simson bisa membunuh orang Filistin yang suka memberontak terhadap Tuhan. Kalau kita tidak menyadari kelemahan kita, iblis akan memanfaatkan kelemahan kita guna mencuri segala Firman yang sudah kita tanamkan itu.

Kita sangat mendukung dan mengapresiasi atas upaya-upaya, transformasi dan inovasi serta kreativitas yang sedang dibangun mahasiswa dalam organisasi-organisasi di Kampus saat ini. Kita tidak pernah anggap remeh, dan pesimis atas usaha mereka dalam memulihkan bangsa ini. Perlu kita sadar bahwa apa pun idealisme yang teman-teman bangun itu, kalau tanpa kehendak Tuhan, ujung-ujungnya akan membawa kehancuran. Komitmen dibangun berdasarkan pikiran dan idealisme manusia tidak bisa mengubah apapun.

Itulah sebabnya, sejak awal kita katakan bahwa yang bisa dan mampu mengubah setiap manusi adalah hanya Tuhan sendiri. Hati nurani kita semua menolak bahwa eksekusi mati terhadap terpidana narkoba adalah tindakan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Mengapa demikian? Sebab yang memiliki kewenangan dan hak paten mengambil nyawa manusia adalah hanya Tuhan sendiri. Itulah sebabnya Tuhan Yesus sendiri mencegah kita jangan menghukum dan menghakimi ( Matius 7:1). Di lain sisi undang-undang narkotika bertentangan dengan Firman Allah. Segala hukum dan aturan yang dibuat manusia akan menuju kepada kebinasaan dan perlu kita ketahui bahwa bobot kebenaran manusia lebih kecil daripada bobot kebenaran yang berasal dari Tuhan.

Dengan demikian jika kita ingin mengubah bangsa ini, ubah diri kita sendiri. Masalah terbesar dalam hidup ini adalah diri anda sendiri. Penyimpangan -penyimpangan seperti ; hamil di luar nikah, miras, menkonsumsi narkoba, sex bebas, tindakan curang, apatis, kedegilan, dan konsumerisme adalah buah dari dosa-dosa. Jika kita tidak sadari hal-hal ini dan berubah, kita tidak pernah menjadi agen perubahan, kita tidak bisa menjadi teladan, dan menjadi kritikus. Justru kita menjadi orang yang suka kompromi dengan ketidakbenaran. Kita semakin hari menjadi orang yang dikontrol oleh gadget, black berry, dan menjadi tukang main facebook dan tukang mengeluh di jejaring sosial. Perlu kita sadari bahwa Tuhan ciptkana kita dengan tujuan yang jelas dan punya maksud yang abadi. Bertobatlah menerima Kristus dan terus kejar Tuhan. Iman penulis mengatakan “KETEMU TUHAN PASTI BERUBAH “. Semoga menjadi inspirasi bagi kita semua.

Share
 


Copyright by KOMAPO.