Home RENUNGAN RENUNGAN MENILAI ORANG LAIN, SUDUT PANDANG ETIKA KEBIASAAN EKSTENSIAL
MENILAI ORANG LAIN, SUDUT PANDANG ETIKA KEBIASAAN EKSTENSIAL

Penulis: Bryan Sevianus Urwan


Menilai orang lain merupakan sesuatu yang tidak mudah seperti yang kita bayangkan. Jika kita salah menilai seseorang atau orang lain di sekitar kita tentu akan menyebabkan stigma dan citra negatif terhadap orang tersebut dan tentu kita menangap orang itu ibarat sampah yang telah busuk. Di dalam ilmu psikologi, dikemukakan dua pandangan atau sikap negatif yang berbeda dalam menilai oran lain, yakni, apriori dan sikap under estimate atu over-estimate .

Sikap apriori artinya kita menilai orang lain secara keliru, menilai orang lain terlalu rendah atau tinggi. Tidak pas, tidak sesuai fakta. Kita menilai orang lain secara negatif. Sedangkan sikap under- estimate atau over- estimate adalah kita menganggap seseorang atau orang lain tidak pandai, bodoh, tidak mampu , miskin, tidak punya uang , pendidikannya rendah , dan anggapan-anggapan atau penilaian yang bermotif merendahkan.

Berangkat dari hal-hal tersebut, distingsi anatara legalitas semata-mata dan moralitas yang sebenarnya berarti bahwa tidak mungkin kita menilai orang lain secara moral melulu dari tindakan –tindakan yang dapat kita amati dari luar. Untuk menilai watak, sikap dasar, dan mutu kepribadian seseorang kita harus mengetahui motivasinya. Maka sangat sulit untuk menjatuhkan penilaian moral terhadap orang lain. Yang dapat kita nilai adalah sikap lahiriah. Kita boleh saja mengatakan bahwa tindakan atau kelakuan tertentu kita anggap salah atau buruk dan menegur orang yang melakukannya. Tetapi kita tidak berhak untuk langsung menarik kesimpulan bahwa orang itu sendiri buruk. Barangkali ia salah perhitungan , mungkin maksudnya baik.

Kita juga tidak pernah dapat mengatakan bahwa orang lain berdosa. Yang dapat kita katakana adalah bahwa kelakuan seseorang tidak sesuai dengan apa yang menurut hemat kita dituntut Tuhan . Jadi kelakuan itu dari kaca mata Agama salah . Tetapi karena kita tidak dapat melihat ke dalam hati seseorang , kita juga tidak dapat mengatakan apakah ia dalam hatinya berdosa . Hanya Tuhanlah yang dapat menilainya. Karena yang dipentingkan Tuhan adalah hati dan budi baik orang , sedangkan kalau orang itu berbuat keliru karena bingung , kurang cakap , atau salah tafsir , itu bagi Tuhan tidak menjadi masalah . Jadi setiap penilaian bahwa orang lain merupakan orang pendosa , orang terkutuk , pantas masuk neraka dan sebagainya merupakan kemunafikan yang buruk sekali dan sering mengungkapkan lebih banyak tentang watak orang yang menjatuhkan penilaian itu, daripada tentang orang yang mau dinilai . Orang yang tahu diri di hadapan Tuhan , tidak akan berani menjatuhkan sustu penilaian yang hanya dapat diberikan oleh Dia yang mengenal hati manusia sampai sedalam-dalamnya .

Tentu saja, kalau kita mengenal seseorang dengan lebih baik, kita dengan sendirinya mengetahui lebih banyak tentang motivasinya. Dengan sendirinya kita tidak mudah “ tertipu”oleh perbuatan yang nampaknya baik sekali, tetapi sebetulnya hanya berdasarkan perhitungan atau ketidakberanian untuk mengambil sikap sendiri. Manusia tidak dapat untuk selamanya menyembunyikan motivasinya. Hal itu juga berlaku sebaliknya. Kita akan mengerti bahwa tindakan yang secara objektif kurang tepat atau bahkan keliru, dapat saja keluar dari hati yang baik . Ada semacam tes untuk mengecek hal itu . orang yang berbuat sesuatu yang secara objektif salah , padahal maksudnya baik dan kita juga mengetahui hal itu , tetap akan kita percayai. Kita tidak akan merasa takut ditipu olehnya. Barangkali kita sangat meragukan ketajaman pemikirannya , tetapi kita merasa aman dengannya. Kita tahu bahwa ia orang baik.

Tetapi tentang orang yang kita kenal baik pun tetap berlaku bahwa kita tidak mungkin mengetahui dengan seratus persen apa motivasinya. Itu berlaku bagi motivasi yang kita curigakan sebagai buruk. Kebaikan seseorang lama-kelamaan akan menampakan diri . Kalau kita merasakan bahwa seseorang memang baik, kita boleh, bahkan harus mengandaikan pasti menilai dia sebagai manusia buruk . Karena rahasia hari orang bagimanapun juga tertutup bagi kita. Sekali lagi bahwa: hanyalah Tuhan yang menyelami lubuk hati manusia , maka betul juga bahwa Tuhan mengenal kita lebih baik daripada kita mengenal diri kita sendiri.


Penulis adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Bahasa Asing STBA LIA Yogyakarta

Share
 


Copyright by KOMAPO.