Home RENUNGAN RENUNGAN “KEBENARAN MEMERDEKAKAN BATIN” (Yoh 8:32)
“KEBENARAN MEMERDEKAKAN BATIN” (Yoh 8:32)

(Sebuah Refleksi Persiapan memaknai Natal)

(Oleh: Kotipky Oksianus Bukega)

Kehidupan manusia adalah suatu misteri. Misteri berarti sesuatu yang belum bisa dibuktikan secara lahiria pun pula oleh akal budi manusia. Untuk membuktikan dan membuka misteri itu hanya jika manusia melepaskan dirinya dari praduga-praduga yang ada pada dirinya (batinnya). Karena dalam batin manusia itu tersimpan dan tersembunyi keterikatan yang tak bisa dibendung oleh akal budi atau intelek sekali pun. Sehingga, mengalangi manusia untuk sampai pada pengalaman pemahaman tentang misteri. Menyingung batin maka semua hal yang bersifat rohaniah dan jasmaniah mengalir dan bermuara padanya. Untuk itulah dibutuhkan “kebenaran untuk memerdekakan batin” (Yoh 8:32) yang terikat itu. Dengan melepaskan batin, manuisa sampai pada permukaan penemuan kebenaran yang memerdekaan batinya. Manusia menjadi terbebas dari batinya hanya dengan bantuan kebenaran. Karena pada kebenaran itulah yang menjadi titik akihirnya (line finish).

Merujuk pada kebenaran, maka sang sumber kebenaran itu adalah Allah sendiri yang mau merendahkan diri-Nya untuk membebaskan atau memerdekakan manusia dari keterikatan batin tadi. Kebenaran sampai kepada manusia dalam berbagai bentuk. Kebenaran bisa kita sebut sebagai Allah sendiri sebagai sang kebenaran dan bisa juga dalam bentuk ajaran-Nya yang diajarkan oleh Yesus sebagai bentuk penjelmaan kebenaran dan semua yang baik yang dialami dan diterima oleh manusia di dunia ini sebagai benar. Itulah kebenaran yang di alami secara mutlak dan masih dicari pula oleh manusia.

Benar berarti sesuai sebagaimana adanya (seharusnya) betul, tidak salah dan, adil lurus, dan sekaligus dapat dipercaya. Pada tingkat ke-benar-an (truth) segala sesuatu ada dalam keadaan yang cocok dengan keadaan atau hal yang sesungguhnya; sesuatu yang sungguh-sungguh benar-benar ada, terjadi dan terbukti. Kebenaran tidak lain berasal dan bermuara dari Allah sendiri yang adalah sang pengada kebenaran itu. Atau secara lebih jelasnya Allah sendiri sebagai ‘benar’ atau kebenaran mutlak. Fokus perhatiannya pada Allah karena “Kebenaran Allah adalah keterpercayaan-Nya” (Yes 65:16). Konsentrasi seputar kebenaran yang disertai dengan kepercayaan bahwa Allah adalah asal muasal kebenaran maka sampai kepada ‘permukaan’ atau realitaas hidup manusa sehingga teladan dan ajaran-Nya sebagai kebenaran dan dapat diikuti oleh umat manusia ialah tokoh yang kita kenal yaitu Kristus karena “Kristus sendiri adalah kebenaran” (Yoh 14:6), yang adalah Anak Allah sekaligus sebagai perantaraa Allah dan manusia untuk mengajarkan kebenaran Allah. Kuncinya adalah percaya. Pengajaran-Nya sekaligus diyakini dan diimani oleh umat manusia yang mengenali-Nya. Yesus Kristus itulah sebagai sang kebenaran yang secara faktual menampilkan dirinya kepada siapa saja yang mengimani-Nya. Dia (Kristus) secara serentak diimani oleh manusia yang pernah hidup di muka bumi ini karena Dialah kebenaran yang nyata dan kelihatan. Dengan demikian, Kristus adalah sebagai kebenaran sekaligus memerdekakan manusia dari keterkungkungan batin yang tak kunjung bebas.
Merdeka (Fredoom) berarti bebas (dari perhambaan, penjajaha; berdiri sendiri, tidak terkena atau lepas dari tuntutan) leluasa. Kemerdekaan selalu ada pada keadaan berdiri sendiri, lepas dari ikatan. Lepas landasan untuk sampai pada tujuan hidup yang lebih bebas. Manusia yang merdeka adalah manusia yang hidupnya menaruh perhatian pada tujuan hidup yang leluasa (free and easy). Singkat kata hidupnya terbebas dari hal-hal yang mengganggu tujuan hidupnya. Kemerdekaan bila dihubungkan pada kehidupan manusia zaman Perjanjian Lama maka secara jelas diberi keterangan bahwa para budak dijadikan sebagai orang-orang merdeka “Budak harus diberi kemerdekaan…(Kel 21:2). Kemerdekaan itu diperolehnya dari suatu keadaan yang mengancam dan menantang kehidupan mereka, lalu diantar kepada siatuasi yang tidak mengancam kehidupannya. Pada situasi yang tidak mengancam kehidupan itulah “kebenaran yang memerdekaan batin” itu berlaku untuk selamanya.

Menurut Paulus, setiap orang Kristen adalah manusia yang dimerdekakan oleh Tuhan (1Kor 7:22). Kemerdekaan itu dipakai pula sehubungan dengan pembebasan ‘dosa-dosa’ (Rm 6:18,22). Maka, kemerdekaan yang diperoleh manusia itu semata-mata tidak hanya ada pada dirinya (manusiawi) semata tetapi ada kekuatan luar biasa yang tidak dapat disadari oleh manusia yang dapat membebaskan batin manusia. Kekuatan luar biasa itu tidak lain yaitu selalu berorientasi kepada Allah selaku kekuatan besar dan sekaligus kemerdekaan final. Dialah yang menjadi hakim untuk memberi kemerdekaan kepada manusia. Kemerdekaan pertama-tama ditujukan kepada Allah berarti barang tentu manusia terbebas dari godaan yang datang menghalangi hidupnya. Godaan dapat dimengerti sebagai dosa. Dosa itulah yang membuat manusia tidak terbebas dari keterkurungan batin. Dalam pada itu dosa sebagai penghalang ‘kelas berat’ bagi manusia untuk sampai pada kemerdekaan batinnya. Untuk itu sangat dibutuhkan kekuatan besar tadi agar manusia itu dibatuh untuk mengenali dan menemukan penghalang yang senantiasa ada dan menghalngi hidupnya sehingga lebih-kurang memperbaharui dirinya demi tujuan hidup yang mulia.

Untuk menemukan kehidupan yang mulia Allah menganugrahkan kepada kehidupan ini Roh Kudus, sehingga Roh Kudus itulah yang juga membantuh membebasakan dan mengarahkan tujuan hidup mulia tadi. Dari awal sudah memberi siasat kepada manusia untuk mempersiapkan diri untuk menerima kebenaran itu yang kemudian memerdekakan batinnya, sebagaimana secara jelas terungkap dalam Injil Yohanes “Roh Kudus, Roh kebenaran itu, akan datang” (Yoh 15:26), dengan demikian melalui Roh Kudus inilah semua orang sudah, sedang dan akan dipimpin-Nya dalam seluruh kebenaran yang memerdekakan batin manusia.

Kemerdekaan batin tidak akan tercipta, sekali pun Allah adalah selaku sumber kebenaran yang memberi kemerdekaan batin mausia. Tidak tercipta berorientasi pada batin yang masih belum terbuka untuk menerima kebenaran yang mau memerdekaan batin. maka pertama dan terutama haruslah menaruh perhatian pada sang kebenaran, karena melalui kebenaranlah (Allah-lah) yang sanggup memerdekakan batin manusia.

Batin (internal/inner) dapat diartikan sebgai sesuatu yang terdapat di dalam hati; sesuatu yang menyangkut jiwa (perasaan hati); sesuatu yang tersembunyi, gaib, tidak kelihatan. Sehingga, pada batin yang sakral atau tidak kelihatan itu tersimpan dan tersembunyi hal-hal rohaniah dan jasmaniah. Pendekatan terhadap sesuatu yang tersembunyi dalam batin misalnya hal rohani dan jasmaniah tadi membutuhkan kebenaran. Karena pada akhirnya kebenaran itulah yang akan menerobos ketertutupan batin itu.

Mengapa batin harus bebas. Bebas atau kebebasan dapat dihubungkan dengan eksistensi manusia yang hidupnya bebas dan tidak bisa secara langsung dikontrol oleh siapa pun. Dalam kebebasan manusia itu, dosa mengambil peranan sebagai kunci utama yang mengikat dan menutup batin manusia sehingga manusia tidak terbebas. Batin belum bebas berarti manusia masih hidup dalam kabut kegelapan. Untuk membuka kabut kegelapan itu membutuhakan kebenaran yang adalah konsekuensi akhir yang tampil dam memberi pembebasan kepada batin mmanusia. Sehingga akhirnya manusia memperoleh kebebasan sempurnah.

Kebenaran pertama-tama berasal dari Allah. Interfretasi dari kebenaran dalam kehidupan manusia dimengerti dengan berbagai bentuk. Bentuk yang amat mempengaruhi kehidupan manusia adalah kebenaran Allah; kebenaran yang ditampilkan Yesus; dan Kebenaran yang diterima benar oleh manusia. Semntara kemerdekaan diperoleh manusia dalam keadaan yang tidak sangkut pautnya dengan unsur negatif melulu, dengan demikian batin yang adalah sakral dan gaib-tersembunyi itu terbebas karena bantuan kebenaran, sehingga “kebenaran membebaskan batin” dan kebenaran itulah yang menjadi garis finishnya (line finish).

Jadikanlah Tubuh Anda Sebaga Bait

“Kalau ada sesuatu yang sakral tubuh manusia yang sakral” (Walt Whitman)“ Terimalah tubuh anda. Tubuh anda adalah bait Roh Kudus, pembawa percik ilahi. Belajarlah mempercayai hikmat tubuh anda” dan sekaligus berterimakasihlah kepada tubuh anda atas segala jasanya”.

 

Share
 


Copyright by KOMAPO.