Home PENDIDIKAN PENDIDIKAN MAHASISWA COPY PASTE, LATIHAN KORUPSI?
MAHASISWA COPY PASTE, LATIHAN KORUPSI?
Tuesday, 14 October 2014 00:38

Bryan Sevianus Urwan


Aksi copy paste atau salin kemudian tempel menurut pendapat Prof Soeparno jelas tidak boleh karena bukan hasil karya sendiri. Adapun copy paste yang diperbolehkan yaitu hanya digunakan untuk catatan, bahan atau dokumen yang dipelajari sendiri untuk bahan menyusun makalah atau referensi belajar.

Dalam penyusunan makalah tentu membutuhkan bahan atau referensi sebagai acuan, misalnya buku, internet dan lainnya. Copy paste untuk menyusun makalah yang benar yaitu mempelajari isi dari makalah orang lain kemudian diolah kembali menggunakan kata-kata sendiri. Kalau ingin mengutip isinya maka harus disebutkan sumbernya. Sumber yang dijadikan copy paste itu yang telah dipublikasi secara umum. Sumber lain yang tidak boleh dijadikan referensi makalah seperti catatan sendiri, bahan-bahan kuliah, bahan kuliah yang diuploud sendiri dan lain sebagainya.

Kalau copy paste diatasnamai sendiri itu disebut plagiasi atau mencuri karya orang lain. Sanksi seorang plagiator yaitu bisa diperkarakan di depan pengadilan atau dituntut di depan umum. Misalnya membuat skripsi menjiplak karya orang lain, maka skripsinya bisa dibatalkan. Kasus seperti ini telah terjadi di Universitas Gadjah Mada (UGM). Celakanya jika seorang dosen menjiplak hasil karya mahasiswa sendiri. Itu sanksinya bisa dituntut di depan umum.

Dampak positif dari copy paste yaitu dapat memiliki dokumen dengan cepat, tidak perlu banyak berpikir dan penggunaan waktu lebih efisien. Termasuk download juga merupakan copy paste. Dampak negatif dari copy paste bisa dituntut di depan umum atau diperkarakan di pengadilan. Adapun semua dokumen yang diunduh itu isinya tidak pasti benar. Prof Soeparno mempunyai pengalaman bahwa ada salah satu temannya mempunyai tulisan banyak, lalu diunggah sendiri dan diunduh sendiri. Ia berpendapat kalau dahulu sumber dari internet itu bisa benar, namun sekarang sebagian besar sumber dari internet itu banyak yang salah dan ngawur. (Fitriana Nurhayati, Oki Tri W, Irda Rohmah, Putri Suhardi, Heti Nur Hasanah dan Yunita, semua mahasiswa PBSI FKIP UAD) Mahasiswa Copy Paste, Latihan Korupsi?

Bagaimana Pandangan Dosen Terhadap Mahasiswa Hobi 'Copy Paste'?


Dosen PBSI UAD Dedi Wijayanti menilai, perilaku copy paste adalah tindakan yang sama artinya dengan "penipuan" atau "korupsi". Penipuan karena tulisan atau pendapat orang lain diakui sebagai pendapat atau tulisan sendiri, padahal ia tidak menulisnya. Perilaku copy paste biasanya dilakukan karena mahasiswa "tidak percaya" dengan dirinya sendiri.

Seharusnya, mahasiswa tidak copy paste karena dia sudah mendapat mata kuliah umum atau MKDU Bahasa Indonesia yang di dalamnya dilatih untuk membuat karangan, mulai dari menulis kerangka sampai paragrafnya, terlebih di Prodi PBSI, ada mata kuliah dasar Ekspresi Tulis, kemudian Penulisan Karangan Ilmiah. Karena itu seharusnya tidak copy paste dalam membuat tugas karena di dalam 2 mata kuliah tersebut sudah diajarkan dan dilatih untuk "terampil" menulis.
Jika melakukan copy paste, maka mahasiswa tidak pantas disebut kaum cendekia atau "civitas akademika", karena tidak dapat berperilaku ilmiah dalam tulisan-tulisannya. Mahasiswa harusnya mengembangkan sikap perilaku ilmiah dengan menulis segala sesuatunya secara ilmiah, dengan proses ilmiah dan aturan yang ilmiah pula (termasuk di dalamnya mengutip pendapat orang lain harus secara ilmiah juga dengan mencantumkan sumbernya).

"Hukuman terhadap mahasiswa copy paste, saya tidak tahu, tetapi khusus di mata kuliah saya (yang pernah saya terapkan), mahasiswa yang copy paste akan mendapat nilai D. Di kalangan masyarakat, saya pernah mendengar berita dosen dicopot gelar S3-nya, yaitu dari gelar Doktornya karena Disertasi-nya copy paste," jelasnya.

Dampak bagi pelaku copy paste, yang jelas pelaku copy paste akan rugi selamanya. Pertama, seumur hidupnya tidak akan tenteram, atau merasa kurang nyaman, atau kurang percaya diri karena takut sewaktu-waktu tulisan hasil copy paste-nya akan terbongkar. Kedua: dia akan "terbiasa" tidak kreatif, dan itu sangat "mematikan" potensi menulis yang sebenarnya ada di dalam dirinya. Lambat laun watak "meniru" atau "menipu" tersebut akan mengakar dalam dirinya dan hal inilah yang akan menimbulkan bahaya yang lebih besar lagi yaitu penipuan-penipuan yang lain akan dilakukannya dalam kesehariannya. Dan dampak yang fatal yang ketiga adalah bisa dituntut oleh si penulis aslinya dan bisa saja gelar kesarjanaannya dihapus.


Penulis adalah Mahasiswa Papua Kuliah di Yogyakarta


 

Share
 


Copyright by KOMAPO.