Home PENDIDIKAN PENDIDIKAN BANGUN KESADARAN MANUSIA, WUJUDKAN KEADILAN DAN KEBENARAN SEJATI
BANGUN KESADARAN MANUSIA, WUJUDKAN KEADILAN DAN KEBENARAN SEJATI
Saturday, 20 September 2014 23:07

Penulis: Fransikus Kasipmabin


Kaum tertindas selama in itenggelam dalam mitos yang ditiupkan oleh kaum penindas .Karena itu, pendidikan untuk mereka harus berintikan pembebasan kesadaran atau dialogika-memancing mereka untuk berdialog, membiarkan mereka mengucapkan sendiri perkataanya, mendorong mereka untuk memahami dan dengan demikian mengubah dunia (Paulo Freire)


Pada prinsipnya manusia itu dilahirkan untuk hidup bebas. Manusia bebas menentukan hidupnya tanpa campurtangan orang lain, selain hal hal tetentu yang dapat interfensi (melahirkan, mendidik, hingga manusia tersebut mengenal dirinya dan lingkungannya, saling melengkapi, bukan saling menindas). Hak untuk hidup. Hak untuk berkata kata tentang dunia (dunia sekitarnya). Hak untuk mengenal drinya sebagai manusia. Hak untuk mengenal orang lain sebagai manusia, bukansebaliknya.

Manusia sebagai mahkluk yang memiliki akal, berjjiwa, berbeda dari segala mahluk yang ada di bumi. Dalam kehidupannya manusia di hadapkan dua dimensi keidupan, duniawi dan sorgawi. Kontadiksi antara duniawi dan sorgawi. Manusia dikuasai dengan Duniawi, maka dalam hidupnya menyembah pada segala yang ada di duni (harta- benda). Manusia sebagai mahkluk yang berakal, memahami duniawi sebagai karya Allah.

Dalam perkembangan manusia, manusia hidup untuk berkarya, memiliki dan mendominasi atas segala makhluk yang ada di bumi. Manusia melihat dunia sekitar (tumbuh-tumbuhan, binatang, hewan dan segala isinya) hanya untuknya. Kelompok manusia, suku bangsa (kaum penindas) mendominasi, melakukan penindasan terhadap kaum kelompok manusia lain, kaum tertindas, mahluk hidup lain.

 

Disini saya mengulas tentang kaum penindas melakukan penindasan terhadap kaum tertindas. Kaum penindas dengan segala cara melakukan penindasan. Sehingga menimbulkan kontradiksi antarkaum penindas dan kaum tertindas. Kaum penindas dengan hasrat akan penindasan, membangun ideology penindasan, membangun nasionalisme penindas, membangun watak penindas kepada kaum tertindas. Kaum penindas berkeinginan bukan untuk memanusiakan manusia (Humanisasi) melainkan bukan memanusiakan manusia (dehumanisasi).

Penindasan dan kaum tertindas. Kaum tertindas tidak menyadari bahwa kaum penindas sedang menindas. Kaum tertindas memahami dirinya, ketika suatu gerakan penyadaran dibangun melalui proses yang panjang. Kaum tertindas tidak tau kalau mereka ditindas dengan berbagai cara, seperti buruh kasar, kerja bangunan, pendidikan, ekonomi, budaya orang lain yang mengajarkan kepada kaum tertindas.

Pembebasan, suatu proses saling penunjang. Manusia harus hidup bebas. Bebas dari pola pola yang dibangun oleh manusia lain sebagai kelompok dominasi, penguasa, kaum penindas. Kaum tertindas menyadari dirinya bahwa drinya sedang ditindas oleh kaum penindas. Untuk menyadari harus adagerakan penyadaran melalui pendekatan pendekatan. Pendidikan kesadaran adalah salah satu pendekatan yang dibangun agar kaum tertindas memahami drinya sebagai manusia bebas. Kaum penindas juga bebas dari maut penindasan.

Kaum penjajah (kaum penindas) menyadari diirnya, bahwa sedang menindas kaum tertindas. Sebagai manusia harus menyadari akan manusia lain (Humanisasi) bukan Dehumanisasi. Hasrat akan penindasan terhadap kaum tertindas harus keluar dari maut ini. Paham paham yang dibangun oleh kaum penindas harus dibongkar. Untuk menyadari bahwa dirinya sedang menindas kaum tertindas, melakukan tindakan dehumanisasi, makaharus ada gerakan penyadaran melalui pendidikan kesadaran.

Gerakan pembebasan untuk membebaskan kaum penindas maupun keum tertindas melalui pendidikan kesadaran (pendidikan Populis, seminar, aksi pemberantasan buta aksara, pendidikan pembebasan, metode sekolah yang membebaskan). Dengan demikian, kaum penindas keluar dari paham paham yang dibangun untuk melakukan penindasan terhadap kaum tertindas, keluar dari watak penindasan.

Pendidikan kesadaran menjamin kaum tertindas keluar dari belenggu penindasan. Membangun kesadaran melalui pendidikan kesadaran, rakyat bangkit melawan belenggu penindasan. Kekuatan rakyat tidak terbantahkan. Rakyat bersatu, rakyat memahami kehidupan diri mereka, mereka melihat dunia, mereka memahami apa yang seharusnya menjadi hak mereka, tanggungjawab mereka. Pada akhirnya, kaum tertindas bangkit untuk meraih kebebasan, meraih kemerdekaan sejati, memperoleh keadilan. Bangun kesadaran rakyat, rakyat keluar dari belenggu maut, Revolusi terjadi. Tanpa teori revolusi tidak akan ada gerakan revolusi (Lenin).

Gerakan pembebasan tidak akan terjadi tanpa adagerakan penyadaran melalui pendidikan kesadaran. Walaupun kemerdekaan kaum tertindas raih (kemerdekaan secara politik, ekonomi dan maupun budaya) tetapi belum ada terwujudnya kesadaran sejati, maka kaum tertindas bangkit menindas bangsa lain. Kaum penindas memberikan watakwatak penindas kepada kaum tertindas, sehingga kaum tertindas bangkit menindas bangsa lain (Suku, wilayah, bangsa).

Bangkitnya kesadaran kritis membuka jalan kearah pengungkapan ketidakpuasan social secara tepat karena ketidakpuasan itu adalah unsure unsur yang nyata dari situasi yang menindas. Rakat akan menyadari, ketika kehidupan sosialnya secara terus menerus dihadapkan pada situasi yang tidak menetuh, merasa dirampas atas hak-hak dasarnya.

Dalam kesaksiannya George Hegel, hanya dengan mengambil resiko hiduplah kebebasan dapat dicapai, seseorang tidak berani mempertaruhkan hidupnya, tidak diragukan memang, dapat diakui sebagai pribadi, tetapi dia tidak akan mencapai hakikat pengakuan tersebut, yakni sebagai suatu kesadaran diri yang mandiri.

Kebebasan karenanya ibarat kelahiran bayi yang menimbulkan rasa sakit. Kontaradiksi penindas-penindasan terhadap kaum tertindas digantikan dengan humanisasi segenap manusia.

Para penindas melakukan penindasan melalui alat penindasan, pendidikan (pendidikan gaya bank gagasan Kritk Paulo Freire, pendidikan yang membangun nasionalisme, sentralisme), Politik ekonomi, politik budaya, politik kesehatan, politik pemerintahaan, otsus,UP4B, Otonomi khusus Plus. Kalo ada alat penindasan pasti ada alat pembebasan. Seperti pendidikan hadap masalah (Paulo Freire), Dialog politik ekonomi, dialog politik budaya, dan lainnya.

Dialog pada hakikatnya sebagai praktik pebebasan. Hanya ada dialog kaum penindas maupun kaum tertindas meraih kebebasan dari belenggu penindasan. Aktivisme dan refleksi sebagai alternative pembebasan. Kata tanpa tindakan berarti tidakakan mengubah dunia. Menusia mengungkapkan melalui kata kata. Dialog sarana perdamaian.

Menggembar gemborkan demokrasi sembari membungkam mulut rakyat adalah sebuah kebohongan. Menganjur- anjurkan kemanusiaan sembari menindas manusia lain adalah sebuah penipuan (Paulo Freire).

Dialog untuk mewujudkan harapan. Hapan akan terwujudkan keadilan dan kebenaran sejati itu. Menghidupi kehidupan manusia pasti ada harapan. Pengaharapan menuntun manusia bangkit dari keterpurukan, bangkit dari penindasan. Harapan adalah senjata rakyat.

Sebagai alat penindasan dan sebagai alat pembebasan, manipulasi dan serangan budaya. Dominator mendominasi hak rakyat. Dominasi segala hal, tanpa dialog. Dialog sejati dibutuhkan dalam situasi dimana manusia mengalami depresi yang panjang akibat kaum penindas melakukan penindasan terhadap kaum tertindas. Para memimpin revolusi yang tidak bertindak dialogis dalam hubungan dengan rakyat berarti meniru waktak dominator, dan bukan revolusioner sejati.

Berikut ini adalah bentuk bentuk anti dialogis yang digunakan oleh kaum penindas dalam melakukan penindasan yang digagas oleh Paulo Freire.

Panaklukan. Penguasa menaklukan rakyat, merebeut seluruh hak hak rakyat. Dominator mendominasi dan menaklukan seluruh kekuatan rakyat. Kekutan rakyat ditaklukan dengan berbagai cara, diantaranya para penguasa membeking tokoh revolusi, tokoh yng yang dipercaya masyarakat. Membuat organisasi-organisasi buatan kaum peninas. Pecah dan kuasai. Pecah bela kekuatan rakyat adalah alternatif atau teori penindasan yang dilakukan oleh kaum penindas. Politik pecah bela.Teori konflik diciptakan untuk kaum tertindas.

Manipulasi.Manipulasi bentuk tindakan anti dialogis. Semakin rendah kesadaran politik rakyat, (desa, kampung) semakin gampang memanipulasi politik. Media kaum penindas juga berperan dalam manipulasi.

Serangan budaya. Minoritas maupun mayoritas sebagi kelompok penindas akan melakukan tindakan penindasan melalui serangan budaya terhadap budaya kaum tertindas. Politik pecah bela melalui pendekatan budaya. Bentuk pengahncuran budaya adalah wujud dari dominasi budaya setempat.

Untuk itu, rakyat sebagai korban penindasan membutuhkan bebera hal yang harus dilakukan seperti kerjasama. Kerjasama unsure utama dialog. Bangun kerjasama dan berdialog dengan rakyat. Persatuan untuk pembebasan. Para pemmpin revolusi menyerahkan hidupnya bersama rakayat untuk meraih persatuan demi pembebasan.

Kemudian Organisasi. Organiasi untuk mengorganisasikan diri dan rakyat. Organisasi adalah salah satau wadah dimana rakyat berkumpul, membicarakan segala hal, demi perjuangan apa yang diinginkan yaitu pembebasan.

Pada akhirnya, untuk mewujudkan keadilan dan kebenaran sejati, Rakyat bebas dari segala penindasan oleh kaum penindas, dominator dalam mendominasi (dominasi politik, ekonomi, agama, kebudayaan, pemerintahaan,) manusia harus menyadari bahwa saya sebagai manusia sedang menindas manusia lain dan saya sebagai manusia sedang ditindas oleh manusia lain. Meraih kemerdekaan setiap manusia penindas, harus ada gerakan penyadaran melalui pendidikan kesadaran. Berjuang untuk membebaskan kaum penindas maupun kaum tertindas. Agar tidak lagi kaum tertindas bangkit menindas bangsa lain. Dialog sejati solusi meraih pembebasan.Setelah pembebasan sejati di tangan rakyat, dengan sendirinya keadilan dan kebenaran dapat terwujud.


Fefrensi:

1. Pendidikan kaum tertindas, Paulo Freire, LP3ES, 2008.


Penulis adalah ketua FKPMKP DIY. Materi ini disampaikan pada pendampingan anggota baru Forum Komunikasi Pelajar Mahasiswa Katolik Papua Daerah Istimewa Yogyakarta, Realino 19 September 2014

 

Share
 


Copyright by KOMAPO.