Home PENDIDIKAN PENDIDIKAN SURAT UNTUK PEMERINTAHAN CODE
SURAT UNTUK PEMERINTAHAN CODE
Saturday, 03 March 2018 12:15

Kepada "CODE" untuk Perubahan Peg. Bintang.

Di-

Oksibil.

Damai sejahtra, & Salam Perubahan !.

Selamat Memasuki Hari Pra paska (Pantang dan Puasa), dan selamat merayakan HUT Bupati yang kedua, 17 Februari 2018”. Semoga damai dan sejahtra menyertai Code dalam menjalankan Tugas dan Tanggungjawabnya sebagai Kepala daerah, yang diembankan oleh Negara dan Masyarakat Pegunungan Bintang. Saya berdoa selalu agar, sebuah visi yang tengah dijalankan oleh Code untuk perubahan dapat terwujud. Semua hanya karena rencana dan Kehendak Tuhan Sang-Segalanya.

Saya menulis surat ini hanya untuk “ Kondisi Pendidikan kita”  di Pegunungan Bintang tercinta.

Sejarah yang tidak lazim bagi kita adalah “ Sekutu (Amerika, dkk) menjatuhkan Bom Atom di Kota Hiroshima & Nagasaki berturut-turut tanggal 06 Agustus 1945 di Hiroshima dan 09 Agustus 1945 di Nagasaki”.  Akibatnya menghanguskan Pusat Teknolgi Industri dan Militer mereka. Enam hari kemudian Jepang meyerah tanpa syarat kepada  Amerika. Karena Kota pusat Industri dan Militernya hancur. Kaisar Hirohito memiliki niat membangun kembali bangsanya. Kasisar memulai dengan pertanyaan yang konyol rasanya waktu itu,sampai panglima perangnya menggeleng-gelengkan kepala. Kaisar Hirohito bertanya,’’Berapa Banyak Guru Yang Masih Hidup?’’. Kemudian Kaisar memerintahkan Menteri pendidikan untuk mendata banyaknya guru yang masih Hidup. Setelah didata, guru yang masih hidup adalah sebanyak 45.000 guru. Hirohito mengarahkan guru yang sisa untuk membangun pendidikan dengan 5 perintah. 1) Guru harus melaksanakan pendidikan yang bermutu, 2) Guru harus disipilin lebih dari murid, 3) Guru Harus lebih pintar, 4) Pendidikan harus menuntun Industri, 5) saya akan kirimkan sebagian anda ke luar negeri, pelajari dengan benar dan bawa pulang ke jepang untuk membangun kembali Jepang. Inilah sebagai langkah awal membangun kembali kota Jepang yang hancur itu. Selain itu, pemerintah Jepang juga mendatangkan Prof., dan para ahli teknologi untuk Training (Pelatihan) guru, melatih para petani, dan lainnya. Dengan demikian dalam gurun waktu 30 tahun Jepang kembali membangun teknologi dan Industri, Perekonomian mereka menduduki urutan kedua dunia.

Jepang membangun kembali setelah menyerah tanpa syarat dan berhenti perang dunia II dan perang Pasifik pada 15 agustus 1945 adalah mulai dari pendidikan. Kualitas Guru, disiplin Guru, penguasan materi/Kemampuan guru, pelatihan guru, adalah langkah awal menuju pendidikan bermutu dan seterusnya membangun Jepang yang rusak akibat Bom atom itu.

Setelah Jepang mulai bangkit pada tahun 70-an, China mulai meniru Jepang. China yang tadinya anti  berunsur barat, dan terlalu kental dengan budaya dan tradisional mereka, membuka diri untuk menerima budaya luar pada tahun 70-an. Lalu Pemerintah China  mengirimkan ratusan mahasiswa S2 untuk belajar Engineering dengan maksud kembali ke China untuk membangun Teknologi dan Industri. Sekitar tahun 90-an China mengambil ali perekonomian dunia.

Setelah Jepang dan China, mucul Korea Selatan, negara  yang sedang ditakuti karena kehebatan Industri dan Teknologi yang canggih. Korea Selatan ikut jejak Jepang dan China. Negara ini menggunakan anggaran lebih banyak untuk bangun industri dan teknologi. Lebih super lagi adalah  untuk memasuki perguruan tinggi jurusan keguruan harus melalui seleksi yang sangat ketat, sehingga output kualitas gurunya sangat handal.

Menyimak dari cerita di atas, saya kembali melihat kondisi Papua. Selama 58 Tahun Papua Integerasi ke bingkai NKRI. Sepanjang Tahun itu, Papua dalam keterpurukan berbagai aspek pembangunan. Berbagai Stigma datang dari seluruh penyuruh dunia, bahkan Indonesia sendiri mengatakan Papua itu tertinggal, terbodoh, termiskin, terbelakangan dan lainnya. Sebagian kecil dari masyarakat Papua yang masih terbelengku kemiskinan di atas kekayaan alam yang kaya raya adalah Pegunungan Bintang.   Meskipun Pemerintah Pusat memberikan dana yang cukup besar bagi rakyat Papua.

Jepang dan China menguasai dunia dalam Teknologi, industri, dan Ekonomi karena lahir dari sebuah masalah, dan dimulai dengan visi jelas.

Setelah saya mendengar dan memahami Visi “PERUBAHAN” yang digerakan oleh CODE untuk perubahan dan penekananya kepada Perubahan Paradigma berpikir, dalam benak saya terbaca beberapa masalah tentang pendidikan kita. Misalnya, Motivasi Guru kami yang terkontaminasi hanya uang dan fasilitas, kurangnya guru berkualitas, kurangnya pendidikan berkualitas langka, kurang siapnya pengelola sekolah, kurangnya fasilitas sekolah, penerapan kurikulum yang memadai, dan yang lain sebagainya menjadi titik acuan perubahan Paradigma.

Sebuah Visi “Perubahan”  yang Code lahirkan adalah ketika melihat beberapa masalah, seperti Kudis, kurap, dan lainnya.  Anggapan saya bahwa paradigma berpikir, dan menjadi tidak kudis dan kurap tidak bisa lahir atau tercipta, apabila tidak melalui pendidikan yang benar dan bermutu. Saya sedikit mengingat pidato Bapak Bupati pada saat syukuran pelantikan pada tanggal 17 Februari 2016 di Afron baru, Oksibil. Dalam pidatonya membicarakan bagimana mengembangkan Pendidikan Pegunungan Bintang dengan sistem kelas pararel. Perioritaskan guru, menaikan insentif, mendatangkan makanan dan sediahkan fasilitas belajar untuk menjangkau yang tidak terjangkau supaya pendidikan kita merata adalah program prioritas pendidikan kepemimpinan Bapak. Sayapun tersenyum lebar, Jika visi ini benar-benar diterjemahkan oleh dinas pendidikan secara utuh. Kalau benar-benar di terjemahkan oleh dinas pendidikan, pendidikan dasar kita akan bangkit dalam waktu 5-10 tahun mendatang.

Gerakan Perubahan yang dicanangkan Code  untuk Perubahan sudah berjalan selama 2 tahun(17 Februari 2018) hari ini. Selama itu, pro dan kontra terjadi. Itulah hal yang wajar dan harus dihadapi seorang pemimpin, saya pikir.

Selama 2 tahun terakhir kepemimpinan, isi dari visi perubahan tidak begitu nampak dalam aspek Pendidikan. Sedangkan aspek pendidikan sangatlah penting karena memiliki fungsi dan strategis yang besar untuk meningkatkan kualitas/mutu IPM pegunungan Bintang nantinya.

Ketika Peraturan Bupati Pegunungan Bintang No.04 tahun 2017 tentang bantuan studi akhir dan beasiswa bagi pelajar dan mahasiswa yang berprestasi berlakukan, kemudian memberhentikan bantuan sosial bagi pelajar dan mahasiswa yang dijalankan oleh kepemimpinan sebelumnya, dan memberhentikan program kerja sama dengan beberapa lembaga/instituti pendidikan, semua menjadi abur-adul.

Sebagian besar mahasiswa cuti, lantaran berangkat dari keluarga yang tidak mampu secara ekonomi. Psikologi anak terganggu, anak yang berangkat dari kurang mampu dalam finansial, dan berangkat dari pendidikan dasarnya yang lemah.  Untuk mendapatkan beasiswanya, seorang pelajar atau mahasiswa harus memenuhi syarat yakni IPK 2,75 adalah syarat momok besar bagi mereka yang kurang mampu dalam pendidikan dasar. Akibatnya Sampai hari ini, sebagian besar (85%) mahasiswa Pegunungan Bintang cuti dan tidak kuliah.  Artinya code gagal menginvestasi masa depan yang gemilang.

Meskipun Peraturan bupati ini sudah direalisasikan oleh BP SDM pegunungan bintang, ada beberapa mahasiswa masih mengeluh karena belum menerima, meskipun IPK mereka sudah memenuhi syarat (2.75). Penomena ini menggambarkan badan pengembangan sumber daya manusia (BPSDM) kita tengah melakukan diskriminasi Pendidikan. Telah mencoreng nama baik, serta jasa bakti baik Bapak kepada masyarakat Pegunungan Bintang.

Pendidikan itu kunci masa depan Pegunungan Bintang. Saya secara pribadi sangat bersyukur atas visi mulia Code yang mengarah kepada paradigma cara berpikir dan bertindak. Ada upaya-upaya luar biasa yang dilakukan oleh Bapak selama dua tahun ini. Seperti pembangunan USB dari pusat dibeberapa lokasi, permintaan tenaga didik dari pusat, pengiriman siswa dan guru di Bali untuk Training Bahasa English, pemberlakuan beasiswa bagi yang berprestasi, dan program sekolah tarap nasional di Serambakon, dll.

Meskipun demikian menurut emat saya, selama dua tahun ini program dan strategi pendidikan belum nampak secara menyeluruh di seluruh pelosok tanah air Pegunungan Bintang. Dinas pendidikan (Khusus sekolah-sekolah) masih memelihara kudis, kurap, dan lainya yang Bapak ingin musnakan itu. Masih anak yg putus sekolah karena orang tua secara ekonomi kurang mampu.  Bagimana pendidikan kita mau maju, sedangkan penyakit yang Bapak ingin musnahkan itu masih menyebar di beberapa sekolah dan diskriminasi pendidikan terus dipelihara?.

Melihat dari situasi yang ada, saya ingin menyampaikan kepada CODE untuk berubahan beberapa Masalah dan Tantangan Pendidikan kita di Pegunungan Bintang-Papua. 1) Problem pendidikan. Problem rill pendidikan di Pegunungan Bintang hari ini adalah Kurangnya guru berkualitas, Pendidikan berkualitas langka, Pengelola sekolah kurang siap (SDM), tidak ada SDM orang asli yang punya hati untuk daerahnya, Motivasi SDM yang ada sudah terkontaminasi oleh uang dan fasilitas, fasiliatas sekolah kurang memadai, Penerapan kurikulum yang tidak memadai, guru masih kurap dan kudis di sekolah-sekolah, belum terealiasi strategis untuk terjangkau yang tidak terjakau, belum digunakan anak Alsi yang selesai dari keguruan secara maksimal,  dan tidak mendukungnya Infrastruktur, merupakan kondisi pendidikan kita hari ini di Pegunungan Bintang. Sedangkan kondisi pendidikan secara global adalah (a) life skill  (Inovatif, mandiri, mampu beradaptasi,bertanggungjawab, produktif, accountable, mampu bersosialisasi antar budaya). (b) Innovatif   Skill (kreatif, innovatif, mampu bekerja sama, kritis dan mampu memecahkan masalah);  2)  Tantangan. Tantangan pendidikan kita  hari ini di Pegunungan Bintang adalah Selalu ganti arahan setiap ada pergantian Pimpinan Pemda. akibatnya Perkembangan dan psikologi anak terganggu dan menjadi korban; Tidak ada konsep pendidikan yang jelas. Apa Visi pendidikan untuk daerah nya?, Apa problem yang harus dipecahkan melalui pendidikan? Apa output & outcome yang diinginkan melalui pendidikan?; SDM & sistem. Sulit mencari SDM yang punya hati pendidikan anak daerah tertinggal, Motivasi SDM terkontaminasi hanya untuk uang dan fasilitas, Belum ada sistem pendidikan yang sustainable; Evaluasi. Tidak ada alat evaluasi yang tepat apakah program pendidikan sesuai target tujuan;  Dana.  Dana sangat besar, Tanpa hasil yang nyata untuk kesejahteraan daerah, merupakan realitas tantangan pendidikan kita.

Dengan demikian, izinkan saya untuk menyampaikan paling tidak beberapa usul untuk code dapat mempertimbangkannya.

1) Visi Pendidikan Harus Jelas. Pendidikan Pegunungan Bintang harus dibangun atas Visi pendidikan yang jelas dan tajam, yang mampu diterjemahkan menjadi straegi dan program yang terukur, yang dipanudi oleh visi perubahan paradigama sebagai payung. Untuk visi pendidikan harus dimulai dengan keadaan pendidikan saat ini. Paling tidak persoalan dan tantangan yang saya sebutkan ditas menjadi panduan visi pendidikannya.

2) Pemetaan. Sangat penting. Tanpa peta pendidikan yang jelas, pendidikan kita akan tersesat. Untuk mencapai pada visi pendidikan tersebut, langkah awal adalah perlu melakukan Pemetaan yang baik. Tujuannya untuk mendapatkan data dan informasi yang akurat sesuai kondisi rill pendidikan kita.  Misalnya, jumlah sekolah, status dan fungsi sekolah.  jumlah guru, jumlah murid,  fasilitas pendukung, kemampuan dasar guru dan siswa, dan lain-lainnya serta tak kala pentingnya adalah kependudukan, insprastruktur,logistrik, kesehatan, dan potensi daerah.  Hasil ini dianalisis dengan benar, kemudian selanjutnya direkomendasikan untuk menjadi panduan membangun pendidikan dengan pola yang tepat sesuai kondisi daerah. Saya pikir langkah ini sangat penting. Bukan hanya pendidikan saja, tetapi untuk bidang lainnya juga.

3) Pola pandang. Pendidikan kita dibangun dengan tujuan bisnis yang jelas, dan pola yang baik. Dalam konteks ini pola pandang kita adalah “Manusia adalah Citra  atau Gambar Allah”, (kejd.1:26). Sehingga setiap kebijakan harus berlaku hadil, tanpa diskirmansi, sukuis, dan seterusnya. Hal ini dilakukan guna menstabilkan situasi pro-dan kontra antar sesama, untuk sama-sama dukung dalam menjalankan program Code yang sedang dijalankan.

4) Mengetahui Kondisi Rill. Untuk mencapai mutu dan kulaitas pendidikan kita sesuai tuntutan kurnas dan globalisasi, kita mulainya dari masalah realitas kita.  Pendidikan kita probelmnya sangat besar. Jika tidak menyikapi dengan sungguh-sungguh,  kemiskinan, kebodohan, dan lainnya akan terus membelengku kita dari generasi ke generasi menjadi penyakit keturuan di atas tanah yang kaya raya, penuh madu dan susu. Benalu datang isap seluruh eksistensi alam, dan kami menjadi tulang-belulang diatas tanah Papua, Pegunungan Bintang.

Pertanyaannya adalah siapa yang berdosa?

5) Tenaga pendidik. Selain Code mendukung program pusat, SM3T, Indonesia Cerdas dan teman-temannya, sediahkan anggaran untuk memperdayakan guru asli. Program pusat sifatnya sementara sedangkan kebutuhan guru adalah selamanya, kita meninggalpun Anak cucu kita akan terus membutuhkan. Data guru asli, baik PNS dan pencaker, dorong mereka dengan membekalinya seperti training untuk meningkatkan kualitas job mereka. Beasiswakan mereka kulaih S1 & S2, dengan dana yang ada. Jika ini dilakukan dari sekarang, mereka akan mengerti jobnya mereka sesuai profesi. Kekurangan guru akan berkurang, dan kami sendiri secara kualitas siap membangun pendidikan pegunungan bintang. Tidak mengharapkan kepada siapa-siapa termasuk pusat.

6) Pendidikan itu KUNCI masa depan Pegunungan Bintang. Belajar dari Jepang dan cina adalah contoh baik. Konsentrasi kepada Engineering, fokuskan sampai ambil S2 melalui beasiswa, puji Tuhan bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. jika dikehendaki oleh-Nya,Code akan dikenang sepanjang abat manusia Ok dan Me.

7) Membangun kembali mitra kerja sama dengan beberapa lembaga pendidikan yang sangat peduli pendidikan, seperti Yayasan Binterbusih, Yayasan Alirena(yayasan ini sedang konsentrasi pendidikan berkarakter, membangun sekung -sekolah unggulan daerah 3T) ", sanata darma,  UGM dan lainnya.

Salam Perubahan !!

Oleh: Salmon kasipmabin

 

Share
 


Copyright by KOMAPO.