Home PENDIDIKAN PENDIDIKAN SMANOKS: JENDELA GENERASI PEGUNUNGAN BINTANG MELIHAT DUNIA
SMANOKS: JENDELA GENERASI PEGUNUNGAN BINTANG MELIHAT DUNIA
Wednesday, 14 February 2018 10:03

(Sekolah itu Rohnya Pendidikan, Pendidikan itu Rohnya Pembangunan)
Bapak. Drs. Theodorus Sitokdana

Oleh: Anak Jalanan

SDM dianalogikan sebagai darah dalam tubuh manusia.Tanpa darah, manusia tidak akan hidup. Begitu pula dengan pembangunan. Tanpa SDM, pembangunan tidak akan maju”. Testimoni ini di ungkapkan seorang Intelek Asal Pegunungan Bintang Mr. Melkior Sitokdana, S.Kom. M. Eng. Dalam bukunya berjudul”Kaka Semon”. Beliau sekarang staf Dosen UKSW, Salatiga. Setelah membaca tulisan ini, saya merasa terpanggil untuk menuliskan bagimana keadaan sekolah yang saya tamatkan Tingkat SMAnya di lembah sibil bakon Pegunungan Bintang 8 Tahun yang silam.

SMANOKS bukanlah nama yang sebenarnya disebutkan penghuni lembah sibil itu. SMANOKS artinya “SMA NEGERI OKSIBIL’’, yang merupakan satu-satunya Sekolah Tingkat pertama yang ada di lembah Sibilbakon Pegunungan Bintang berstatus milik Pemerintah. Sekolah ini dirikan sejak tahun 2005. SMNOKS tepatnya terletak di Jln. Raya Yapimakot. Meskipun beroprasi sejak tahun 2005, SK Izin Operasinya keluar pada tahun 2015. Saya tidak tahu kenapa demikian?. SMANOKS terletak dibagian barat Ibu Kota Kabupaten Pegunungan Bintang. Tepatnya di wilayah distrik Serambakon, Desa derapding. Sampai di serapding dekat PKBM dan TK, belok kanan dan masuk kedalam, disanalah SMA ini berdiri.

SMANOKS  artinya SMA negeri Oksibil, dicetuskan oleh Bapak Dr. Sutarjo. Selaku kepala sekolah pertama di SMA Negeri Oksibil. Sebutan SMANOKS biasanya gunakan saat yel-yel. Sekolah ini memiliki luas 500 Km ². Sekolah ini juga merupakan satu-satunya tingkat SMA kepemilikan berstatus Pemerintah. Sekolah berstatus milik Pemerintah ini sudah beroperasi kurang lebih 13 Tahun, dan meluluskan sekitar 10 angkatan. Di sana terdapat 1 bangunan kantor guru, dan 7 bangunan lainnya. Masing-masing terdiri dari 4 bangunan ruang kelas belajar, 1 Lab komputer, 1 perpustakaan, dan 1 lap MIPA. Dari 4 bangunan untuk KBM, hanya 3 yang dipakai untuk KBM. Lab.komputer dan MIPA tidak dimanfaatkan. Meskipun sekolahnya beroperasi selama 13 tahun, kondisi sekolah sangatlah memperihatinkan. Foto di atas merupakan kondisi lingkungan sekolah yang sebenarnya. Jarak dari Ibu kota ke SMANOKS kira-kira 2,5 Km. Untuk sampai di SMANOKS hanya jalan kaki, jadi anak-anak mulai berangkat dari rumah sekitar pukul 5.00 pagi. Dengan perkiraan sampai di Sekolah sekitar pukul 07.30-08.00 WIB. Dan inilah yang sering dilakukan siswa/i SMANOKS selama di SMANOKS. Mereka pergi dan pulang hanya jalan kaki sepanjang 2,5 km. Semua itu hanyalah Motivasi mereka sendiri untuk mellihat dunia dari jendela yang memiliki kaca tembus yang jelas. Tidak ada dukungan orang lain, orang tua, bahkan pemerintah daerah Pegunungan Bintang yang diamanatkan Negara untuk mencerdaskan anak bangsa dengan legalitas hukum yang jelas, yaitu Undang-undang Dasar 1945.

SAYA. Saya masuk di SMANOKS Tahun 2007. Waktu itu SMA ini hanya tiga kelas. Ruang kelas yang satu dipakai untuk ruang kantor guru, sedangkan dua kelas lainnya digunakan untuk KBM. Duka kelas tersebut, satu kelas dibagi dua, kelas 11 dan 12. Sedangan yang satu kelas 10. Waktu itu fasilitas belajarnya tidak ada, bangku dan mejapun tidak ada, jadi kami belajar dilantai berkayu. Saya termasuk angkatan ketiga. Waktu itu kondisi jalan Oksibil-Yapimakot juga belum ada. Masih jalanan setapak. Saya menamatkan tingkat SMA di SMANOKS tahun 2010, dan mengikuti pendidikan tinggi di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Surya Tangerang,Jakarta Selatan melalui program beasiswa dari daerah. Selama 2007-2014, Pembangunan Jalan dan Bangunansekolah sudah dibangun. Meskipun dibangun bangunan kelas dan lainnya, sampai saat ini belum secara optimal digunakan oleh Pihak sekolah atas dukungan semua pihak. Ada beberapa bangunan dibongkar habis oleh masyarakat setempat. Semua proses mandeg setelah pergantian pemimpin 2010. Hal ini juga merupakan masalah rill di Papua. Pergantian pemimpin, pasti ada pergantian program atau kebijakan. Waktu itu Bapak Dr. Theodorus Sitokmabin,selaku Wabub yang benar-benar mengerti dan prihatin tentang pembangunan pendidikan sehingga bisa melakukan sedikit terobosan. Namun sayangnya tidak diteruskan pondasi SDM ini oleh pemimpin berikutnya. Selalu berjalan mandeg, pengembangan pendidikan di Pegunungan Bintang untuk mencapai pada mutu dan kualitas pendidikan yang diharapkan.

Saya datang ke SMANOKS, pada tanggal 1 sebtember 2015, sekitar pukul 8.00 WIB. Setelah saya pulang dari Jawa. Saya Sambil berdiri dan menatap bangunan pertama yang kami pakai KBM di tahun 2007. Saya kembali memikirkan semuanya aktivitas kami 8 tahun yang lalu. Tahun 2007 mulai bongkar jalan Oksibil-Yapi. Kami sering dikejar oleh kepala sekolah menggunakan sepada, Angkat Balok dan kayu yang besar dari hutan yang jauh, membersihkan lumut pada halaman sekolah dll. Memang waktu itu cukup sulit ceritanya karena kerja keras. Lebih sadis lagi angkatan pertama dan kedua. Lebih banyak kerja keras, dari pada KBM di sekolah. Dengan demikian output prestasi siswa yang dihasilkan waktu tidak sesuai harapan. Tetapi secara kuantitas, banyak sarjana selesai di tahun 2015-2017 ditamatkan SLTA nya dari SMANOKS.

Waktu itu kepala sekolahnya Bapak Dr. Sutarjo. Saya secara pribadi melihat, beliau adalah satu-satunya orang jawa yang hadir di Oksibil sejak tahun 70-an yang memiliki hati untuk mengantar generasi kepada jendela dunia untuk melihat dunia yang luas ini. Beliau punya komitmen, untuk SMANOKS sebagai Jendela dunia bagi generasi Pegunungan Bintang melihat dunia. Saya kembali membuka memori 2007-2010, ternyata sakit ketika melihat perkembangan sekolahnya yang tidak menyenangkan itu.

Saya datang ke sana, berdiri sebentar di depan kantor, sambil menunggu kepala sekolah dari jam 7.30-9.00 belum datang-datang. Gurupun belum datang semua meskipun waktunya menunjukan 9.30. Hanya dua guru, Pak Manfret Asem sebagai guru Agama dan Ibu Endah Widiastuti sebagai guru fisika. Mereka itu guru lama di sekolah itu, Bapak dan Ibu Guru saya. Saya lihat keprihatinannya kepada generasi papua itu sangat tinggi.

Karena hanya dua guru yg ada hari itu, anak-anakpun masih lalu lalang di sekitar sekolah, naik motor main di kota, pergi mandi di kali, noggrong dihutan, di kelas dll. Saat itu saya sempat bertanya kepada salah satu anak yang sempat datang mampir ke saya untuk bersalaman:

Saya : Kenapa kamu tidak di kelas dan belajar?

Siswa : Tidak ada guru kaka

Saya : gurunya ke mana?

Siswa: ke Jayapura

Saya : Sudah berapa Lama?

Siswa: sudah lama

Hehe...itulah sedikit percakapan saya dangan salah seorang siswa SMANOKS di saat itu. Setelah saya bertanya kepada Pak Manfred Asem, beliau bilang, Kepsek sedang di Jayapura. Tidak tauh kapan datangnya. Akhirnya saya pulang sekitar jam 10. Dalam perjalanan saya melihat anak-anak SMA ini sudah pulang satu persatu sepanjang jalan raya Oksibil-Yapi itu. Saya hanya melewati mereka tanpa bertanya, karena saya tahu bahwa mereka menunggu gurunya tidak datang. Dan inilah kegiatan mereka sehari-hari. Datang ke sekolah pagi-pagi tunggu beberapa jam gurunya tidak datang merekapun memutuskan pulang. Bagi mereka tidak ada artinya menunggu guru sepanjang hari dari jam 7.30-13.45, tanpa menerima pelajaran. Datang dengan harapan yang besar dan pulang tanpa memenuhi harapan mereka sebagai pelajar adalah aktivitas generasi papua yang ada di SMANOKS. Bagimana pendidikan kita mau maju jika aktivitas generasi kita setiap hari hanya begini terus?. Sambil dalam perjalanan dalam hati saya berpikir”Oh..Tuhan berapa lama lagi kami harus mendapatkan pendidikan yang sebenarnya ?”

satu bulan kemudian, saya memiliki niat untuk kembali ke SMANOKS Meminta diri untuk menjadi guru pembantu.Karena niat saya diterima oleh Kepala Sekolah, sayapun menemani ade-ade di SMANOKS selama satu semester. Saya mengajar dan bawa diri saya sebagai anak putra daerah. Tidak menuntut uang, dan fasilitas. Karena uang yang saya kejar, nasib generasi akan hancur. Saya menjadi guru pembantu tanpa Honor dari dinas atau Sekolah, karena saya merasa pendidikan itu penting untuk Generasi kami. Mereka itu adalah tongkat Stafet bangsa. Generasi kami sangat membutuhkan tuntunan oleh kita semua sebagai senior. Saat saya di SMANOKS, saya menyadari bahwa ternyata kesediaan beban SDM untuk menjadi guru yang benar tidak ada, semua motivasi sudah terkontaminasi oleh uang dan pasilitas. Tidak ada daya juang ketika tidak memberi dorongan berupa uang dan pasilitas. Itulah gambaran umum SDM kita saat ini di Papua. Dan lebih khusunya di Pegunungan Bintang. Bukan hanya SMANOKS tetapi semua sekolah yang ada di Pegunungan Bintang.

Saya sendiri melihat dan merasakan perkembangan sekolah ini, Sungguh sangat menyedihkan. Sekolah sebagai tempat untuk mencerdaskan anak bangsa dalam hal ini anak negeri Ok dan Me, dibiarkan jalan sendiri. Pemimpin bangkit dengan gaya dan pola pikir yang berbeda dan membiarkan SDM tidak maju-maju dan tidak pernah dinamis, mengikuti perkembangan pendidikan secara Nasional dan Internasional.

Perkembangan SMANOKS. Meskipun waktu saya sedikit di SMANOKS, banyak sekali pengalaman pahit yang saya rasakan. SMA negeri 1 Oksibil yang merupakan satu-satunya SLTA di Ibu Kota Kabupaten ini, tidak pernah mencerminkan waja pendidikan. Pihak sekolah bahkan sampai pemda tidak pernah sadar dengan perkembangan sekolah yang sedang menuju kehancuran. Padahal sekolah adalah tempat mendidik anak menjadi anak yang berkarakter. Sekolah itu rohnya pendidikan dan pendidikan itu rohnya pembangunan. Sekolah dan pendidikan yang baik membina bibit-bibit bangsa menjadi manusia yang berguna bagi masyarakat. Jika hal ini tidak kita sadari, keterpurukan akan terus berlangsung sepanjang ayat dan dari generasi ke generasi berikutnya. Dan ini penomena yang sangat miris.

Ada beberapa hal yang merasa perlu saya catat untuk menjadi bahan refleksi selama satu semester di SMANOKS. Hal-hal ini ceritanya konyol. Tidak enak dibaca, tetapi realitas. Misalnya, 1) Berangkat Ke sekolah menempuh jarak 2,5 km hanya berjalan kaki, 2) siswa dan guru datang terlambat pulang cepat, 3) Guru datang dengan jumlah yang lengkap di saat UN atau UAS berlangsung, 4) ada beberapa guru sudah melakukan ujian duluan, sebelum ujian sesuai kalender pendidikan, 5) Anak-anak seringkali melakukan acara miras dan narkoba di lingkungan sekolah, 6) Guru tidak pernah bekerja sama,bahkan banyak guru tidak beta ditempat, 7) tidak pernah ada evaluasi kerja sekolah, 8) sekolahnya tidak memiliki pagar sekolah, sehingga untuk mengawasi anak sangat kesulitan. Kita menjaga di jalan utama, anak sudah mulai kabur lewat hutan-hutan tembus jalan raya dan pulang, 9) tidak ada dinas yang pernah nongol ke sekolah, hanya saat UN berlangsung, saya tidak tahu motivasnya apa? 10) tidak ada sarana dan prasana belajar, 11) dinas tidak pernah mengadakan sosialisasi tentang pemberlakukan Kurikulum, ataupun teknis peningkatan pendidikan lainnya, seperti pembuatan RPP, SILABUS, PORTA,PORSEM dll,12) sekolah tidak pernah mitra dengan orang tua anak, untuk mendorong anak bersama-sama dalam peningkatan disiplin dan prestasi. 13) sekolah tidak menerapkan 8 standar Pendidikan nasional secara utuh, dan ada banyak lagi kegiatan yang lainnya. Masalah ini adalah masalah realitas pendidikan di Pegunungan Bintang hari ini. Bukan hanya SMANOKS Tetapi lebih dari 100 sekolah. Baik, Sekolah Dasar (SD), SLTP, dan SLTA di tingkat Kabupaten Pegunungan Bintang, kondisinya demikian. Cerita konyol di atas sangatlah tidak enak dibaca oleh mereka yang dimaksud, tetapi apa bole buat jika realitasnya demikian. Bagimana pendidikan kita mau maju, sedangkan kesiapan dan motivasi SDM kita tidak ada ?. Bagiamana guru bisa mengembangkan porfesinya sebagai guru, kalau dinas pendidikan dan pemdanya tidak mau tahu tentang persoalan dasar pendidikan?, bagimana sekolah-sekolah mendidik anak menjadi anak bangsa yang berkarakter, jika kualitas guru, dinas, serta sistem sekolah tidak ada?. Nah, inilah sebuah penomena yang tidak pernah disadari oleh orang yang memiliki kewenangan dalam pendidikan. Peran dinas pendidikan untuk meningkatkan kualitas profesi guru sama sekali fakum.

Kesimpulan:Bahwa pekembangan SMANOKS sangat memprihatinkan. Selama 13 tahun sekolah ini beroperasi, SLTA satu-satunya di Ibu kota Kabupaten Pegunungan Bintang ini tidak ada tanda-tanda kemajuan baik kualitas SDM maupun siswa/i. Semangat SDM, Peserta didik, dan Pemda setempat belum terlihat sama sekali. Sangat statis. Pemda belum siap untuk mendorong guru, dan guru mengarahka anak-anak dari Negeri Ok dan Me ini melihat dunia globaliasi saat ini. Program pendidikan seringkali dilaksanakan dengan visi yang kurang tajam, tanpa strategi yang jelas, dan tidak terukur. Sistem di sekolah menjadi statis, tidak mengenal dinamika pendidikan nasional dan internasional. Kemampuan guru sangat tertinggal. Orang tua dan komunitas kurang mengerti pentingnya pendidikan, sehingga nilai-nilai adat seringkali “berbenturan” dengan program pendidikan. Lingkungan masyarakat dan komunitas membebaskan anak usia dini melakukan kegiatan yang tidak seharusnya dilakukan akhirnya sering kali tidak mengikuti pembelajaran di sekolah. Waktu belajar dihabiskan hanya oleh kegiatan yang sia-sia. Sistem pendidikan sebagai rel panduan dari sisi pemerintah pusat dan pemerintah daerah seringkali tidak jelas dan membingungkan di sekolah daerah. Pemerintah tampaknya seringkali sulit mengimplementasikan dan mengukur sistem yang diinginkan ke sekolah-sekolah di daerah-daerah. Program Perguruan Tinggi (PT) kurang terarah. Lulusan SMA masuk PT dalam bidang yang kurang sesuai dengan potensi daerah. Tidak ada pemetaan potensi daerah yang lengkap, yang bisa menjadi panduan visi pengembangan daerah. Paling tidak ada 2 masalah dengan mahasiswa Pegunungan Bintang: 1) Kurang mampu bersaing secara akademis; 2) Bidang yang ditekuni kurang relevan dengan potensi di daerahnya. Ketertinggalan dan kemiskinan adalah realitas Pegunungan Bintang hari ini. Potensi daerah tidak dikembangkan dan dimiliki oleh masyarakat Pegunungan Bintang sendiri. Harkat dan pencitraan menjadi bagian dari dinamika Papua – Orang Pegunungan Bintang hidup dalam kemiskinan di atas tanah yang sangat kaya, dan orang lain yang menikmati. Kurangnya infrastruktur membuat daerah menjadi terisolasi dalam keberadaan alam yang masih sangat berat. Jika problem ini tidak disadari oleh pemerintah, orang tua, komunitas, serta seluruh komponen masyarakat, maka kemisikinan, ketertinggalan/kerterbelakangan, kebodohan akan terus melanda negeri Pegunungan Bintang dari Generasi ke gerasi berikutnya. Peran pendidikan diabaikan artinya menutup diri dari perkembangan jaman. Pendidikan pegunungan Bintang akan terus tertinggal. Persoalan pendidikan bukan masalah Pegunungan Bintang, tetapi masalah nasional. Perkembangan dunia ini semakin digitaliasi. Pembaharuan informasi harus diupdate seiring waktu, untuk mengantiviasi keterpurukan yang semakin kejam karena dunia semakin maju dengan berbagai tekonologi. Ini tantangan berat bangsa kita. Harus ada target pencapaian dalam pendidikan oleh setiap daerah dengan mengacu pada kurnas.

Pendidikan bukan acara seremonial. Pendidikan itu kuci masa depan bangsa. Dalam hal ini pendidikan adalah kunci masa depan Pegunungan Bintang. Pendidikan itu bagaikan darah dalam Pembangunan. Tidak ada pendidikan, pembangunan akan lumpuh. Kurang darah pasti tidak sehat, begitupula pembangunan. Tanpa SDM yang siap(Kurang) pembangunan tidak akan pernah maju-maju. Mari berbicara pendidikan untuk mecegah kemiskinan, kebodohan, ketertbelakangan, dan dengan berbagai stikma lainnya. Bangun sekolah yang baik, menuju pendidikan yang baik, dan selanjutnya dari pendidikan yang baik menuju segala aspek pembangunan yang baik demi kesejahtraan rakyat. Pendidikan harus dibangun tanpa diskiriminsi, tanpa berpolitik Identitas, tanpa ada kepentingan-kepentingan lainnya. Egois tidak layak dibangun, jika peemimpin benar-benar merakyat . Program pendidikan menjadi prioritas, karena hanya lewat pendidikan yang baik saja kesejahtraan rakyat terpenuhi.

Saya ingin memberitahuka juga bahwa, IPM Pegunungan Bintang yang tercatat di BPS provinsi Papua per-tahun 2016 adalah 41,90. Jauh tertinggal dari beberapa Kabupaten di Provinsi Papua. Hasil ini adalah cerminan dari kondisi pendidikan Pegunungan Bintang yang saya ceritkan di atas. Meskipun SMANOKS yang saya bahas, tetapi itu menjadi sampel untuk sekolah yang lainnya. Dan buktinya adalah IPM kita yang jauh tertinggal. Yang menjadi pertanyaan adalah kemana dana pendidikan kita dari dana OTSUS sebesar 30% itu?. Dana besar, tanpa hasil nyata kesejahtraan rakyta, kebijakan selalu berganti setiap ada pergantian pemimpin, tidak ada Sistem pendidikan yang jelas, serta kualitas SDM yang kurang merupakan masalah rill pendidikan hari ini. Sekian..!!.

Penulis: Salmon Kasipmabin, S.Pd

Alumni SMA N 1 Oksibil dan Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Surya, Jakarta

 

Share
 


Copyright by KOMAPO.