Home ARTIKEL KESEHATAN KESEHATAN HARI KESEHATAN NASIONAL: POTRET KESEHATAN DI PEGUNUNGAN BINTANG PROVINSI PAPUA
HARI KESEHATAN NASIONAL: POTRET KESEHATAN DI PEGUNUNGAN BINTANG PROVINSI PAPUA

Kajian Pustaka Sektor Kesehatan di Pegunungan Bintang

Oleh: Melkior N.N Sitokdana, S.Kom

Kondisi kesehatan merupakan bagian yang erat hubungannya dengan keberhasilan pembangunan manusia. Pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, meningkatkan kualitas kehidupan, meningkatkan usia harapan hidup dan mempertinggi kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat. Untuk meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik, maka tentu membutuhkan sistem jaminan kesehatan, fasilitas dan sumber daya manusia yang memadai. Hingga kini kondisi kesehatan di Papua sangat memprihatinkan sehingga dibutuhkan terobosan-terobasan yang tepat dan berkesinambungan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat Papua. Persoalan Papua pada umumnya adalah faktor geografis sehingga aksesibilitas pendidikan dan kesehatan tidak menyentuh sampai dipedalaman Papua, diperparah dengan fasilitas dan sumber daya manusia yang sangat minim.

Berdasarkan data BPS provinsi Papua tahun 2014, jumlah rumah sakit di Papua pada tahun 2012 sebanyak 33 unit dengan jumlah kapasitas tempat tidur sebanyak 2.955. Sementara jumlah puskesmas dan puskesmas pembantu mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya, yaitu dari 334 puskesmas, 781 puskesmas pembantu pada tahun 2011 menjadi 365 puskesmas dan 847 puskesmas pembantu pada tahun 2012. Namun tidak demikian dengan jumlah puskesmas keliling yang berkurang dari 873 pada tahun sebelumnya menjadi 826 pada tahun 2012. Jumlah petugas kesehatan pada tahun 2012 juga mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Jumlah dokter meningkat dari 682 pada tahun sebelumnya menjadi 802 pada tahun 2012. Peningkatan ini diharapkan memberikan dampak positif terhadap peningkatan kesehatan di Papua. Sedangkan penyakit yang dominan dengan angkah tertinggi adalah diare termasuk tersangka kolera, malaria tropika, malaria tertiana, malaria klinis, influenza dan HIV/AIDS (BPS Papua, 2014) . Laporan Kemenkes RI perjuni 2014 bahwa jumlah Penderita HIV/AIDS Papua masih menempati posisi pertama dengan jumlah HIV 15686 dan AIDS 10184, dengan prevalensi kasus AIDS per 100.000 di provinsi Papua adalah 35943.

Menurut data Kemenkes RI tahun 2007, Indeks Pembangunan Kesehatan  Masyarakat (IPKM) Pegunungan Bintang ranking 440 dari 440  kabupaten/kota, sebuah pencapaian mengenaskan. Kondisi kesehatan Pegunungan Bintang menurut data statistik provinsi Papua tahun 2014 bahwa terdapat 1 rumah sakit, 29 puskesmas, 11 puskesmas pembantu, dan posyandu 106, fasilitas puskesmas keliling 3 unit motor. Jumlah tenaga kesehatan adalah dokter umum 19, doktor gigi 1, bidan 37, perawat 122, tenaga gizi 5, tenaga sanitarian 3, dan tenaga analisis/laboran 7.

Menurut data AIPD tahun 2013, sepanjang tahun 2007-2011 jumlah dokter dan bidan cenderung mengalami peningkatan, namun jika dibandingkan dengan jumlah penduduk yang harus dilayani meningkat lebih cepat daripada ketersediaan dokter. Hal ini ditunjukkan oleh rasio dokter dan bidan per 10.000 penduduk cenderung menurun, dimana pada tahun 2010 sebesar 20,98 turun dari 26,67 pada tahun 2007. Rasio fasilitas kesehatan terhadap penduduk justru mengalami peningkatan. Kondisi ini menggambarkan bahwa di Kabupaten Pegunungan Bintang masih butuh dokter dan Bidan untuk melayani penduduk dan mengisi peningkatan prasarana kesehatan. Jenis penyakit yang mendominasi masalah kesehatan di Kabupaten Pegunungan Bintang sangat berhubungan dengan Kesehatan Lingkungan. Dari 10 jenis penyakit terbesar, Diare merupakan jenis penyakit yang masih mendominasi kesakitan, dan selanjutnya adalah penyakit cacingan. Selanjutnya adalah penyakit gangguan pernapasan yang sangat berhubungan dengan kondisi rumah dan kebiasaan dalam menjaga kesegaran udara di dalam rumah. Ini mengindikasikan bahwa sebagian besar kesakitan yang dialami penduduk amat berhubungan dengan kesehatan lingkungan dan pola hidup masyarakat. Cakupan balita yang kelahirannya ditolong oleh tenaga medis mengalami penurunan sejak tahun 2010. Walaupun jumlah dokter dan tenaga bidan cenderung stabil sepanjang tahun 2008-2012, namun cakupan balita yang kelahirannya ditolong oleh tenaga medis di Kabupaten Pegunungan Bintang angkanya mengalami penurunan dengan rata-rata 20 persen. Kondisi ini jauh dibawah angka kelahiran bayi untuk Provinsi Papua yang angkanya mencapai 51,20 persen. Cakupan balita yang kelahirannya ditolong oleh tenaga medis mengalami penurunan sejak tahun 2010. Dengan meningkatnya pelayanan kesehatan di Kabupaten Pegunungan Bintang, angka kematian ibu juga menunjukkan angka yang menurun. Tahun 2008 angka kematian ibu mencapai 6 orang, sedangkan tahun 2012 turun menjadi 2 orang. Setiap tahun penduduk yang terdeteksi HIV/AIDS angkanya fluktuatif namun dengan kecenderungan meningkat.Tahun 2007 tercatat 5 kasus, tahun 2012 telah mencapai 46 kasus. Perkembangan kasus HIV/AIDs ini tentunya amat mengawatirkan karena adanya fenomena gunung es, yang telah banyak menyebabkan penduduk yang terkena kasus HIV/AIDS, namun belum terdekteksi. Kondisi ini berarti bahwa kasus HIV/AIDS perlu mendapatkan perhatian yang lebih serius lagi dari pemerintah, dan perlu memberikan penyadaran kepada masyarakat tentang bahaya HIV/AIDS bagi diri sendiri maupun keluarganya. ingkat kematian bayi dan Rata-rata lama sakit di Kabupaten Pegunungan Bintang tahun 2010, diatas rata-rata Provinsi Papua. Estimasi angka kematian bayi di Kabupaten Pegunungan Bintang lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi rata-rata Papua. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kematian bayi masih sangat tinggi bahkan spesifik kematian bayi perempuan lebih tinggi. Dengan demikian maka kesehatan bayi masih menjadi masalah yang harus secara serius diperhatikan. Sedangkan untuk rata-rata lama sakit mencapai 6 hari yang berarti ada kecenderungan masyarakat terlambat untuk mendapat penanganan medis ketika sakit, baik disebabkan karena pengetahuan kesehatan yang masih relatif rendah dari masyarakat maupun kurangnya akses pada pelayanan kesehatan karena kendala geografis.

Menurut data AIPD tahun 2013, penganggaran dibidang kesehatan yang bersumber dari dana otonomi khusus disektor kesehatan selama ini belum sesuai dengan regulasi 15 persen untuk kesehatan. Dana APBN di lebih banyak teralokasi untuk fungsi ekonomi. Dalam kurun waktu lima tahun (2007-2011), rata-rata belanja APBN untuk menggerakkan fungsi ekonomi sebesar Rp 20,34 miliar. Fungsi lainnya yang cukup besar adalah fungsi pelayanan umum dan perumahan dan fasilitas umum. Fungsi-fungsi lainnya memperoleh alokasi dana yang relatif sedikit jumlahnya. Alokasi Dana APBN terkecil adalah fungsi kesehatan, menyusul fungsi keamanan dan fungsi pendidikan.

Dana APBN yang teralokasi di Kabupaten Peg Bintang untuk fungsi kesehatan baru terimplementasi pada tahun 2011 dengan nilai Rp 825 juta. Proporsi belanja sektor kesehatan cenderung meningkat dengan rata-rata pertumbuhan 5,90 persen. Rata-rata proporsi Belanja sektor kesehatan sebesar 7,94%. Dengan proporsi tertinggi terjadi pada tahun 2011 sebesar 10,57%. Dari sisi pertumbuhan rata-rata sebesar 13,71% dengan pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2008 sebesar 72,43%. Sebagaimana sektor pendidikan maka pada tahun 2011 pertumbuhan belanja sektor kesehatan bernilai positif yang berarti nilai belanjanya riilnya mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal ini mengindikasikan adanya dukungan kebijakan penganggaran dari pemerintah untuk lebih memperbaiki derajat kesehatan masyarakat di Kabupaten Pegunungan Bintang.

Belanja sektor kesehatan dari tahun 2007 s/d 2009 mengalami kenaikan, namun setelah itu menurun dan sampai tahun 2011 belum dapat menyamai belanja tahun 2009 sebagai tingkat belanja tertinggi. Kondisi tersebut memberikan gambaran alokasi dana kesehatan tidak mempertimbangkan perubahan harga yag terjadi. Belanja sektor kesehatan per kapita sangat berfluktuasi dengan nilai tertinggi terjadi pada tahun 2008 dan 2009 dan pada tahun 2011 menurun menjadi Rp 462,79 ribu atau rata-rata sebesar Rp. 456.639 sepanjang than 2007-2011.

Perkembangan belanja riil sektor kesehatan menunjukkan kecenderungan yang menurun. Penurunan belanja riil turut mempenguruhi penurunan alokasi belanja per penduduk di Kabupaten Pegunungan Bintang. Hal ini berarti pertumbuhan belanja tidak lebih cepat daripada peningkatan harga. Oleh karena itu, pengalokasian belanja sektor kesehatan dengan memperhatikan kondisi perubahan harga perlu diperhatikan melalui perbaikan kualitas perencanaan. Hal ini dimaksudkan agar secara riil alokasi belanja per penduduk tidak mengalami penurunan dimasa-masa mendatang.

Belanja kesehatan lebih banyak dialokasikan untuk belanja modal pada awal tahun dibandingkan

dengan belanja pegawai, namun pada dua tahun terakhir terjadi pergeseran dimana alokasi belanja pegawai lebih dominan. Dengan mencermati kinerja kesehatan, masih banyak permasalahan yang dihadapi, meskipun beberapa capaian kinerja lainnya telah berhasil, misalnya Rasio tenaga medis cenderung menurun namun rasio sarana prasarana meningkat, Jenis penyakit yang mendominasi pada 10 besar jenis penyakit sangat berhubungan dengan kesehatan lingkungan dan pola hidup yang berarti kesadaran masyarakat masih rendah, kelahiran bayi yang ditolong tenaga medis menurun sangat tajam dalam 2 tahun terakhir, namun angka kematian ibu mengalami menurun, angka penderita HIV/AIDS aktif menunjukkan peningkatan yang tajam, dan angka kematian bayi masih tinggi dan lama sakit juga masih tinggi.

Rekomendasi yang disampaikan kepada pemerintah daerah Pegunungan Bintang berdasarkan Laporan Analisis Pengeluaran dan Penerimaan Publik (kerja sama kerjasama BaKTI dan AIPD tahun 2013) adalah perlu upaya perbaikan kinerja untuk meningkatkan capaian dan mengurangi permasalahan kesehatan. Untuk itu, beberapa hal yang perlu diperbaiki seperti: (1) Peningkatan porsi alokasi belanja untuk sektor kesehatan, (2) Pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Kesehatan Kabupaten Pegunungan Bintang perlu memprioritas kebijakan pada upaya untuk meningkatkan rasio Tenaga Medis dengan meningkatkan penerimaan tenaga medis baik, dokter, perawat maupun bidan, (3) Perlu adanya upaya peningkatan pengetahuan mayarakat tentang kesehatan lingkungan dan pola hidup bagi masyarakat melalui sosialisasi, pemberian pengetahuan pada anak sekolah maupun melalui kader-kader posyandu. (4) perlu menaruh perhatian lebih pada isu HIV/AIDS yang terjadi di Kabupaten Pegunungan Bintang dengan meningkatkan upaya pendeteksian dini serta meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang bahaya dan penularannya. (5) Perlu memberikan pemahaman pada masyarakat untuk secepatnya mendapat penanganan medis jika mengalami kesakitan.

Sumber

1. Papua Dalam Angka, 2014. Badan Pusat Statistika Provinsi Papua

2. Laporan Analisis Pengeluaran Dan Penerimaan Publik/ Public Expenditure And Revenue Analysis (Pera) Yang Diterbitkan Melalui Kerjasama Bakti Dengan Pemerintah Australia Melalui Program Australia Indonesia Partnership For Decentralisation (Aipd) Tahun 2013.

 

Share
 


Copyright by KOMAPO.