Home MAJALAH PROFIL PROFIL KOMAPO NEWS LPM KOMAPO PEGUNUNGAN BINTANG -PAPUA "KOMAPO NEWS"
LPM KOMAPO PEGUNUNGAN BINTANG -PAPUA "KOMAPO NEWS"


SUARA PEMBEBASAN KRITIS MASYARAKAT TERTINDAS


Penulis: Fransiskus Kasipmabin


Sejarah Pers Mahasiswa di Indonesia

Sejarah pers mahasiswa di Indonesia bisa dibilang sama tuanya dengan sejarah gerakan mahasiswa itu sendiri. Pers mahasiswa didefinisikan sebagai pers yang dikelola mahasiswa. Namun rumusan ini memang kurang spesifik, karena ada berbagai macam pers mahasiswa. Didik Supriyanto membedakan dua jenis pers mahasiswa. Pertama, pers mahasiswa yang diterbitkan oleh mahasiswa di tingkat fakultas atau jurusan. Penerbitan ini biasanya menyajikan hal-hal khusus yang berkaitan dengan bidang studinya. Kedua, pers mahasiswa yang diterbitkan di tingkat universitas. Penerbitan ini menyajikan hal-hal yang bersifat umum. Dalam penelitian ini, pemilahan dengan mengaitkan pada tingkatan penerbitan (jurusan, fakultas, universitas) itu dianggap tidak relevan. Yang dipandang lebih pas adalah dengan melihat langsung dari materi isinya, apakah bersifat umum atau spesifik keilmuan. Dalam konteks peran pers mahasiswa dalam gerakan mahasiswa, tentu yang lebih relevan adalah pers mahasiswa yang isinya bersifat umum, tidak spesifik keilmuan. Didik masih membedakan lagi “pers mahasiswa” dari “pers kampus” atau “pers kampus mahasiswa”. Pers kampus dikelola oleh dosen, sedangkan pers kampus mahasiswa dikelola oleh dosen dan mahasiswa.

Penelitian ini jelas hanya memfokuskan pada pers mahasiswa yang dikelola oleh mahasiswa, tanpa mempermasalahkan apakah pers mahasiswa itu diterbitkan di dalam kampus atau di luar kampus. Selain itu, istilah pers mahasiswa sendiri telah dikukuhkan oleh tokoh-tokoh pers mahasiswa tahun 1950-an, seperti Nugroho Notosusanto, Teuku Jacob, dan Koesnadi Hardjasoemantri, ketika melahirkan Ikatan Wartawan Mahasiswa Indonesia (IWMI), Serikat Pers Mahasiswa Indonesia (SPMI), yang keduanya lalu dilebur menjadi Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI). Menurut Nugroho Notosusanto, di negeri-negeri yang sudah tua, yang tidak lagi underdeveloped, pers mahasiswa sungguh-sungguh merupakan community paper daripada masyarakat mahasiswa. Ia tidak ambil bagian terhadap persoalan-persoalan nasional, atau setidaknya ia tidak ambil pusing.

 

Namun di Indonesia dan negeri-negeri lain yang baru lahir (new-born countries), di mana jumlah kaum intelegensia sangat minim, keadaannya lain. Kaum intelegensia, sejak ia masih menuntut ilmu, sudah dituntut menyumbangkan pikiran, kepandaian, pengetahuan, dan pertimbangannya. Cikal bakal pers mahasiswa Indonesia tampaknya adalah Majalah Indonesia Merdeka yang diterbitkan pada 1924 oleh Perhimpoenan Indonesia di Nederland. Indonesia Merdeka merupakan nama baru dari Hindia Poetra, majalah yang diterbitkan Indische Vereeniging, yakni perkumpulan mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang sedang studi di negeri Belanda dan didirikan pada tahun 1908. Indische Vereeniging kemudian berubah namanya menjadi Indonesische Vereeniging pada 1922, dan berubah lagi menjadi Perhimpoenan Indonesia pada 1924. Perubahan nama ini juga mencerminkan perubahan orientasi politik ketika itu, yakni para mahasiswa pribumi yang mulai terbuka kesadaran politiknya berkat pendidikan, menyadari realitas ketertindasan bangsanya. Oleh karena itu, mereka secara tegas menuntut Indonesia merdeka. Nomor pertama Majalah Indonesia Merdeka menulis sebagai berikut: “Indonesia Merdeka meroepakan soeara Indonesia Moeda yang sedang beladjar, soeara jang pada waktoe ini moengkin tidak terdengar oleh pengoeasa, tetapi jang pada soeatu waktoe pasti akan didengar... Adalah meroepakan soeatu kesalahan oentoek menganggap remeh soeara itu, sebab dibelakang soeara itu, berdiri kemaoean pasti, oentoek tetap mereboet kembali hak-hak, tjepat atau lambat oentoek menetapkan kedoedoekan atau kejakinan ditengah-tengah doenia, jaitoe Indonesia Merdeka.”

Sejarah mencatat, para mahasiswa Indonesia yang belajar di Nerderland ini kemudian pulang ke Tanah Air dan meneruskan perjuangannya bagi kemerdekaan negerinya. Mereka antara lain Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Nazir Datoek Pamuntjak, Ali Sastroamidjojo, dan lain-lain. Selain di negeri Belanda, para mahasiswa Indonesia yang belajar di Cairo, Mesir, pada 1930 juga menerbitkan berkala bernama Oesaha Pemoeda. Redaksinya adalah Abdoellah Aidid dan Ahmad Azhari. Beberapa aktivis mahasiswa di Cairo ini setelah pulang ke Tanah Air banyak yang ikut memegang tampuk pemerintahan, atau aktif di bidang dakwah dan pendidikan. Sementara itu, pergerakan pemuda di Jawa sendiri dalam tahun 1914 juga sudah memiliki suratkabar sendiri. Berkala bernama Jong Java, yang pada tahun 1920 sudah mencantumkan tahun penerbitan yang ke-6, dan dicetak sampai 3.000 eksemplar. Suatu jumlah yang tidak sedikit pada waktu itu. Motonya: orgaan v.d studerenden. Jong Java, Perserikatan Pemoeda Djawa, Madoera dan Bali dari Sekolah Pertengahan dan Tinggi. Di antara nama-nama yang tercantum sebagai pengasuh berkala itu adalah: Soekiman (yang kemudian menjadi Dr. Soekiman Wirjosandjojo, pernah jadi Perdana Menteri RI) dan Wiwoho (yang kemudian menjadi Wiwoho Poerbohadidjojo, anggota Volksraad zaman Hindia Belanda). Sedangkan yang dijadikan beschermheer (pelindung) adalah Zijne Hoogheid Prins Prangwadono, yang kemudian menjadi Mangkoe Negoro VII. Selain Jong Java, ada berkala Ganeca yang diterbitkan organisasi mahasiswa BSC pada 1923, dan Jaar Boek yang diterbitkan mahasiswa THS (sekarang ITB) pada tahun 1930-1941.

Ketika para pemuda dan mahasiswa yang tergabung dalam berbagai organisasi pemuda dan politik mengadakan kongres di Jakarta pada 1928, lahirlah Indonesia Moeda, yang mencetuskan Sumpah Pemuda: Satu Bangsa, Satu Tanah Air, Satu Bahasa Persatuan: Indonesia. Organisasi pemuda dari berbagai suku bangsa ini lalu menerbitkan Soeara Indonesia Moeda. Organisasi lain yang memiliki onderbouw gerakan pemuda, seperti Moehammadiah (Pemuda Moehammadiah), Partai Sjarekat Islam Indonesia (Pemoeda Moeslimin), Nahdatul Oelama (Pemuda Ansor), masing-masing juga menerbitkan berkalanya. Di zaman pendudukan Jepang, karena represi yang sangat keras, praktis kiprah pers mahasiswa tak terdengar. Namun ketika kemerdekaan Indonesia baru diproklamasikan, para pemuda mempelopori terbitnya suratkabar pembawa suara rakyat Republik Indonesia yang baru lahir itu. Soeadi Tahsin, yang waktu itu pelajar Kenkoku Gakuin bersama beberapa temannya menerbitkan harian Berita Indonesia secara ilegal, untuk melawan pemberitaan propaganda dari Jepang yang disiarkan lewat Berita Goenseikanbu.

Dengan bantuan para pelajar, mahasiswa dan pemuda lainnya, Berita Indonesia disiarkan bukan cuma di Jakarta, tetapi juga dibawa dengan kereta api dan alat angkutan lainnya ke pelosok-pelosok. Namun karena risiko yang terlalu besar di Jakarta waktu itu, Berita Indonesia lalu berhenti terbit. Sesudah pemerintahan RI hijrah ke Yogyakarta, perjuangan mempertahankan kemerdekaan pindah ke ke pedalaman. Sementara itu, para pemuda pelajar SLTP dan SLTA di Jawa dan Sumatra yang tergabung dalam Ikatan Peladjar Indonesia (IPI) –yang lalu setelah digabung dengan beberapa organisasi mahasiswa menjadi Ikatan Pemuda Peladjar Indonesia—juga menyelenggarakan penerbitan pers. Entah bersifat mingguan, tengah bulanan, atau bulanan. Beberapa cabang IPI –seperti cabang Solo, Jawa Timur, Blitar, Kediri dan Cirebon—serta Pengurus Besar IPI di Yogyakarta juga menerbitkan organ masing-masing. Penyerbuan Belanda ke wilayah de facto RI menghentikan semua kegiatan penerbitan.

Setelah kedaulatan RI diakui Belanda, tidak banyak lagi penerbitan mahasiswa. Banyak pemuda, pelajar dan mahasiswa kembali menuntut ilmu di sekolah masing-masing untuk mengejar ketinggalan mereka. Setelah 1950, baru pers mahasiswa mulai tumbuh lagi. Dan pada 1955, komunitas penerbitan mahasiswa tumbuh lagi. Tercatat di Jakarta: Akademica, Mahasiswa, Forum, Vivat, Fiducia, Pemuda Masyarakat, PTD-Counrier, Ut Ommes Umum Sint. (GMNI), Pulsus, dan Aesculapium (Kedokteran). Di Bandung: Bumi Siliwangi (IKIP), Gema Physica, Gunadharma, Intelegensia (FT ITB), Mesin, Suluh Pengetahuan, IDEA (PMB), Scientia (FIPIA), Synthesia (CMB-CGMI) dan Ganeca. Di Yogyakarta: Criterium (IAIN), Gajah Mada (UGM), GAMA (UGM), Media (HMI), Tunas, Pulsus (PMKRI), Pantai Thei (Perhimi), Uchuwah (Islam), Universitas (Komunis). Di Surabaya: Ut Omnes Umum Sint (GMKI) dan Ta Hsueh Ta Chih. Di Makasar: Duta Mahasiswa (Dema Hasannudin). Di Medan: Vidia dan Gema Universitas. Di Padang: Tifa Mahasiswa (Dema Universitas Andalas).

Karena jumlah pers mahasiswa yang tumbuh pesat, timbul keinginan untuk meningkatkan mutu redaksional maupun perusahaan. Atas inisiatif Majalah GAMA dan dukungan sejumlah majalah lain, diadakan Konferensi I bagi pers mahasiswa Indonesia di Yogyakarta pada 8 Agustus 1955, dihadiri wakil 10 majalah mahasiswa. Terpengaruh oleh organisasi di kalangan pers umum, konferensi itu menghasilkan dua organisasi: IWMI (Ikatan Wartawan Mahasiswa Indonesia) dengan Ketua T. Jacob dan SPMI (Serikat Pers Mahasiswa Indonesia) dengan Ketua Nugroho Notosusanto. Konferensi juga berhasil menyusun Anggaran Dasar IWMI dan SPMI, dan Kode Jurnalistik Mahasiswa. Pada 1957, SPMI dan IWMI mengikuti Konferensi Pers Mahasiswa Asia I di Manila, yang diikuti wakil pers mahasiswa dari 10 negara. Konferensi itu menyetujui bahwa dalam negara yang sedang berkembang dituntut peranan lebih banyak dari pers mahasiswa untuk nation building. IWMI dan SPMI juga mengadakan kerjasama segitiga dengan Student Information Federation of Japan dan College Editors Guild of The Philippines. Pada 16-19 Juli 1958, diadakan Konferensi Pers Mahasiswa Indonesia II, yang meleburkan IWMI dan SPMI menjadi satu: IPMI (Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia). Jadi IPMI lahir pada akhir zaman Demokrasi Liberal dan awal Demokrasi Terpimpin, yang memberlakukan kontrol ketat terhadap kegiatan pers. Ini menjadi situasi yang sulit buat IPMI dan anggota-anggotanya yang menyatakan diri “independen.’ Padahal pers umum waktu itu banyak menjadi suara kepentingan kelompok atau partai politik. Pers mahasiswa pun mengalami banyak kemunduran. Di Yogyakarta, Majalah Gajah Mada dan GAMA mati. Di Jakarta, Majalah Forum dan Mahasiswa berhenti terbit. Namun ada juga yang bertahan, seperti di Bandung: Arena (1959), Tjarano (1960), Pembina (Sospol Unpad, 1960), Harian Berita-berita ITB (1961), Gelora Teknologi (Dewan Mahasiswa ITB, 1964). Di Jakarta: Mahajaya (1961).

Menjelang akhir masa Demokrasi Terpimpin, oleh ormas kiri, IPMI sempat dituduh sebagai anak Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia, karena tidak memasukkan Manipol-Usdek dalam AD/ART-nya. Untuk menyelamatkan organisasi, IPMI mengeluarkan pernyataan pada 10 September 1965, yang menegaskan bahwa IPMI adalah pembawa suara seluruh mahasiswa Indonesia, dan bukan golongan tertentu di kalangan mahasiswa Indonesia. IPMI merencanakan kongres pada Desember 1965, namun Peristiwa G30S keburu meletus. Setelah PKI ditumpas akibat G30S, IPMI terlibat aktif dalam menghapus sistem politik Demokrasi Terpimpin. Setelah keluarnya Surat Perintah 11 Maret dari Presiden Soekarno kepada Jenderal Soeharto, dan dimulailah periode awal Orde Baru. Suhu politik meningkat dan sejumlah pers mahasiswa yang menyatakan diri sebagai anggota IPMI bermunculan. Di Jakarta ada: Mahasiswa Indonesia (sudah terbit menjelang G30S/PKI) dan Harian KAMI (26 Juni 1966). Di Bandung: Mahasiswa Indonesia (Edisi Jawa Barat, 1966) dan Mimbar Demokrasi (30 September 1966). Di Yogyakarta: Mahasiswa Indonesia (Edisi Jawa Tengah) dan Muhibbah (UII, 11 Maret 1967). Di Banjarmasin: Mimbar Mahasiswa (1968). Di Pontianak: Mingguan KAMI (Edisi Kalimantan Barat, 1968). Di Surabaya: Mingguan KAMI (Edisi Jawa Timur, 1968). Di Malang: Gelora Mahasiswa Indonesia (1967). Di Makasar: Mingguan Kami (akhir 1966), dan lain-lain.

Pada periode awal Orde Baru ini, pers mahasiswa yang pemberitaannya memang lebih berani dan lebih kritis ketimbang pers umum kembali berjaya. IPMI sebagai organisasi pers mahasiswa melibatkan diri dalam politik dengan sekaligus menjadi Biro Penerangan dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia. IPMI waktu itu diakui sejajar dengan organisasi pers lain oleh Departemen Penerangan RI. Hal itu menimbulkan dilema antara amatirisme dan profesionalisme, dan ramai diperdebatkan pada Kongres II IPMI di Kaliurang, 28-30 Juli 1969. Namun bandul berayun mundur. Kebebasan yang dinikmati pada awal Orde Baru makin surut, dan rezim Orde Baru mulai menunjukkan watak otoriternya dengan mengontrol aktivitas kemahasiswaan. Pemerintah mengeluarkan konsep back to campus. Akibatnya, IPMI dan pers mahasiswa yang berada di luar kampus pun mau tak mau sangat dipengaruhi suasana itu. Dalam Kongres III di Jakarta, 1971, IPMI menerima konsep back to campus untuk mempertahankan kelangsungan eksistensinya, meski lewat perdebatan sengit. Saat itu, Harian KAMI melepaskan diri dari IPMI dan menyatakan diri sebagai pers umum. Banyak penerbitan IPMI yang mati. Memang masih ada yang bertahan, namun hanya pers mahasiswa yang kecil-kecil di dalam kampus. Tahun 1971-1974 adalah tahun kemunduran bagi pers mahasiswa. Setelah Peristiwa 15 Januari 1974, sejumlah pers umum yang besar dibreidel oleh pemerintah.

Sementara itu di dalam kampus lahir sejumlah pers mahasiswa dan mereka diberi angin untuk hidup, sebagai subsistem dari sistem pendidikan tinggi. Muncullah Suratkabar Kampus Salemba (UI), Gelora Mahasiswa (UGM), Atmajaya (Unika Atmajaya), Derap Mahasiswa (IKIP Yogyakarta), Arena (IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), dan Airlangga (Universitas Airlangga, Surabaya). Seluruh pers mahasiswa yang terbit dalam kampus itu mendapat subsidi dari universitas masing-masing minimal 50% dari biaya penerbitannya, sehingga terjadi ketergantungan pers mahasiswa pada pimpinan universitas. IPMI dalam Kongres IV di Medan, Maret 1976, masih belum mampu mencari solusi dari dilema hidup di dalam atau luar kampus. Keanggotaan IPMI yang bersifat penerbitan mahasiswa menjadi amat sedikit dan secara organisatoris lemah. Meski demikian, pemberitaan pers mahasiswa di dalam kampus, seperti Salemba (UI), Gelora Mahasiswa (UGM), dan Kampus (ITB), tetap berani melakukan kritik sosial secara tajam. Pada 1978, pemerintah kembali melakukan pembreidelan terhadap beberapa suratkabar umum ternama.

Kekosongan sementara pers umum ini diisi oleh pers mahasiswa, dan tiras pers mahasiswa mencapai puncaknya, sampai puluhan ribu eksemplar dan banyak dibaca orang di luar kampus. Tapi pemerintah kemudian juga membreidel penerbitan mahasiswa ini, dan baru boleh terbit lagi setelah enam bulan. Tapi belum genap setahun, Salemba, Gelora Mahasiswa, dan Kampus kembali dilarang terbit, karena isi pemberitaannya yang dianggap tidak berubah. Dalam situasi ini, IPMI melangsungkan Kongres V di Jakarta, Mei 1980. Namun pemecahan yang mendasar terhadap permasalahan yang dihadapi belum ditemukan. Dengan sikap terus mempertahankan independensinya, IPMI menghadapi kesulitan. Menteri Pemuda dan Olahraga Abdul Gafur bertekad meng-KNPI-kan IPMI sebelum kongres, namun karena IPMI dalam kongresnya tetap menolak bergabung dengan KNPI, ancaman Gafur untuk mematikan IPMI pun dijalankan. IPMI tak diberi izin untuk menyelenggarakan kongres berikutnya. Akses IPMI di lembaga penerangan pemerintah ditutup. Di beberapa kampus, pers mahasiswa tetap terbit, tapi tak ada lagi yang mencapai tiras besar seperti Salemba, Gelora Mahasiswa, dan Kampus. Eksistensi IPMI tahun 1980-1982 praktis hanya dipelihara dengan pendidikan dan pelatihan pers mahasiswa. Nama IPMI pun makin lenyap setelah kepengurusan terakhir habis masanya. Baru pada akhir 1985, kehidupan pers mahasiswa mulai bersemi lagi. Di UGM pada tahun 1986 terdapat 47 penerbitan fakultas dan jurusan, 26 di antaranya terus aktif, minimal sekali terbit tiap semester.

Para pimpinan penerbitan ini mengadakan Seminar Pers Mahasiswa se-UGM dan menyepakati terbitnya media tingkat universitas berbentuk majalah yang berorientasi pada intelektualisme. Majalah yang terbit di bawah struktur BKK itu adalah Balairung, yang terbit pertama kali pada 8 Januari 1986. Pada 1989, di Yogyakarta tercatat 69 publikasi mahasiswa di beberapa kampus. Sampai dicabutnya NKK/BKK, Juli 1990, Balairung sempat terbit 14 kali, dengan tiras 2.500 – 5.000 eksemplar. Di Universitas Indonesia, pada periode ini terbit Suratkabar Kampus Warta UI secara cukup kontinyu, yang dikelola mahasiswa dari berbagai fakultas. Namun karena ketergantungan keuangan dan kedekatan dengan pihak Rektorat UI yang tak bisa dihindari, pemberitaan Warta UI kurang tajam dan kurang banyak mengangkat isu politik dibandingkan Solidaritas. Warta UI juga sulit melakukan kritik terhadap pimpinan universitas didalam pemberitaannya. Meskipun demikian, sejumlah alumnus Warta UI kemudian berhasil berkiprah sebagai jurnalis profesional. Di Jakarta, penerbitan mahasiswa yang menonjol justru di universitas swasta, yakni di Universitas Nasional (Unas). Pola kelahirannya mirip dengan Balairung. Atas prakarsa majalah Fisip Politika, pada Oktober 1986 diadakan Musyawarah Pers Mahasiswa Unas dan menyepakati diterbitkannya media tingkat universitas, yang kemudian bernama Solidaritas. Pengelola Solidaritas, yang terbit pada Desember 1986, banyak didominasi pengurus Politika. Balairung dan Solidaritas cukup beruntung karena pimpinan universitas cukup apresiatif dan memberi cukup kebebasan.

Namun Solidaritas dilarang terbit oleh Laksusda Jaya setelah edisi kedua beredar pada Januari 1987. Rezim Orde Baru memang bersikap represif terhadap pers mahasiswa. Rezim melakukan pengekangan lewat Permenpen RI No. 01/Per/Menpen/1975, yang menggolongkan pers mahasiswa sebagai Penerbitan Khusus yang bersifat non-pers dan Surat Edaran Dikti No. 849/D/T/1989 mengenai Penerbitan Kampus di Perguruan Tinggi. Melalui peraturan tersebut, peran pers mahasiswa diamputasi sehingga tidak leluasa lagi menulis hal-hal di luar persoalan akademik (kampus), dan mengalami pengkotak-kotakan. Seolah-olah mahasiswa FE hanya boleh bicara tentang ekonomi, dan mahasiswa FT hanya boleh bicara soal teknik, dan mereka terisolir dari persoalan-persoalan kemasyarakatan lainnya. Pada periode ini juga terjadi pembreidelan terhadap sejumlah pers mahasiswa. Seperti: Arena (IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta), Opini (FISIP Undip, Semarang), Dialogue (FISIP Unair, Surabaya), dan Vokal (IKIP PGRI Semarang). Pada 26 Juni 1993, Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Semarang (FKPMS) menggelar aksi bertema "Aksi Keprihatinan Pembredelan Pers Mahasiswa" dalam bentuk kemah keprihatinan di lapangan basket Undip, sebagai wujud solidaritas terhadap pembreidelan Arena. Aksi ini diikuti perwakilan lembaga pers mahasiswa dari sejumlah PTN dan PTS di Semarang.

Pada 1992, aktivis mahasiswa Jakarta membentuk Solidaritas Mahasiswa Jakarta (SMJ) yang berbasiskan aktivis pers mahasiswa , yang diwadahi dalam organ FKPMJ (Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Jakarta) dan organ SMUJ (Senat Mahasiswa Universitas se-Jakarta). Elemen-elemen pers kampus di bawah FKPMJ antara lain: Black Post (ISTN), Aspirasi (UPN Jakarta), Citra Patria (Untag), Diaforma (Universitas Pakuan, Bogor), Gema Almamater (IPB), Didaktika (IKIP Jakarta), Driyarkara (STF Driyarkara), Format (IISIP), Politika (Unas), Perspektif dan Swara (UI), FAM (USNI), Konspirasi (Universitas Dr. Moestopo), Psynfo-UPI (YAI), dan Transparan (Unika Atmajaya). Aktivis pers mahasiswa yang membidani FKPMJ antara lain: Imron (IKIP Jakarta), Yana Supriyatna (IKIP Jakarta), Bob Randilawe (Untag), Danardono dan Hen Pers Mahasiswa 1998 Pada periode 1990-an, tidak banyak pers mahasiswa yang menonjol, apakagi memiliki tiras sampai puluhan ribu seperti Harian Kami Juga tidak ada pers mahasiswa yang dibaca secara meluas di luar kampus seperti Salemba sesudah pembreidelan 1978. Meskipun demikian, di setiap kampus –khususnya di perguruan-peguruan tinggi yang sudah mapan—selalu ada penerbitan pers mahasiswa dengan tiras dan penyebaran yang beragam, entah di tingkat jurusan, fakultas, atau universitas. Entah isinya bersifat spesifik keilmuan atau bersifat umum. Cara pengelolaan yang kurang profesional dan diberlakukannya kalender akademis dengan SKS yang ketat membuat penerbitan pers mahasiswa terbit seadanya. Jadwal penerbitan tidak teratur.

Masalah klasik yang sering dihadapi adalah sulitnya memperoleh dana penerbitan dan regenerasi kepengurusan untuk mengelola pers mahasiswa. Iklim politik Orde Baru dengan sistem pendidikannya, yang sengaja dibuat agar mahasiswa lebih memusatkan diri pada studi dan mengurangi aktivitas lain yang berbau politik, ikut andil dalam hal ini. Toh meski dengan kondisi demikian, tetap ada pers mahasiswa yang hadir. Di UI, misalnya, dikenal Media Aesculapius (Kedokteran), Teknika (Teknik), Gita Pertala dan Buletin KAPA FTUI (diterbitkan kelompok pencinta alam Kamuka Parwata FTUI), Architrave (Jurusan Arsitektur), Media Elektro (Jurusan Elektro), Warta Yon UI (diterbitkan Resimen Mahasiswa Batalyon UI), Suratkabar Kampus Warta UI (tingkat universitas), Economica (diterbitkan Badan Otonom Economica FEUI), Mini Economica (diterbitkan Badan Otonom Economica FEUI), Suara Mahasiswa UI (tingkat universitas), Viva Justicia (Fakultas Hukum), Gaung (Jurusan Sastra Indonesia), Ekspresi (Sastra Indonesia), Slovanik (Sastra Rusia), Historia (Sejarah), Gong (Sastra Jawa), Go Fisip Go (FISIP), Preventia (Fakultas Kesehatan Masyarakat), dan lain-lain. Di kampus lain dan kelompok mahasiswa lain, misalnya: Bilik (Yayasan Abu Dzarr al-Giffari, mahasiswa Universitas Nasional), Citra Patria (Universitas Tujuh Belas Agustus, Jakarta), Suara Ekonomi (Fakultas Ekonomi Universitas Pancasila), Dinamika (STAIN Walisongo, Salatiga), Didaktika dan Transformasi (IKIP/Universitas Negeri Jakarta), Spektrum dan Nurani (IISIP), Teknokra (Universitas Lampung) dan Republik (Fakultas Sospol Universitas Lampung), Pralaya (Universitas Bandar Lampung), Raden Intan (IAIN Lampung), Himmah (Universitas Negeri Yogyakarta), Balairung dan Bulaksumur (UGM, Yogyakarta), Ekspresi (Universitas Negeri Yogyakarta), Sintesa (Fisipol UGM), Pijar (Filsafat UGM), Media Publica (Fikom Universitas Prof. Dr. Moestopo Beragama, Jakarta), Boulevard dan Ganesha (ITB, Bandung), Detak (Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh), Genta Andalas (Universitas Andalas, Padang), Suara USU (Universitas Sumatra Utara, Medan), dan banyak lagi.

Namun berbagai pers mahasiswa era 1990-an ini sudah sangat berbeda dengan pers mahasiswa era sebelumnya, khususnya sebelum 1970-an. Pers mahasiswa sekarang dilihat dari orientasi politik pengelolanya telah mengalami pergeseran. Pada generasi 1908, 1928, 1945, pengelola pers mahasiswa menjadikan medianya benar-benar sebagai alat perjuangan politik melawan penjajahan pihak luar. Pada saat yang sama, para pengelolanya juga aktivis-aktivis politik di tingkat nasional. Jadi kepentingan politik sangat mendominasi cara pengelolaan pers mahasiswa waktu itu. Hal yang hampir serupa dimainkan oleh pengelola pers mahasiswa periode 1966 - 1971/74. pers mahasiswa seperti Harian Kami, Mimbar Demokrasi, Mahasiswa Indonesia waktu itu merupakan alat perjuangan untuk meruntuhkan “Orde Lama”.

Para pengelolanya adalah orang muda yang pada masa Demokrasi Terpimpin tertekan aspirasi politiknya. Kaum muda yang umumnya dicap “PSI-Masyumi” ini memanfaatkan momentum sesudah peristiwa G30S, untuk menyalurkan aspirasi politik mereka dan terlibat aktif bersama Angkatan Darat untuk meruntuhkan sistem Demokrasi Terpimpinnya Soekarno. Jadi dasar aktivitasnya di pers mahasiswa adalah kesamaan aspirasi politik. Pergeseran mulai terjadi pada pers mahasiswa periode 1971/74 – 1980, seperti Salemba, Gelora Mahasiswa, dan Kampus. Para pengasuh pers mahasiswa ini berasal dari mahasiswa yang pada mulanya didasari minat pada dunia jurnalistik. Karena latar belakang semacam itu yang dominan, keterikatan mereka pada pers mahasiswa lebih banyak oleh kesamaan minat pada jurnalistik. Sedangkan kritik sosial yang bebas, tanpa harus memihak kubu politik tertentu, ditempatkan sebagai fungsi utama penerbitannya.

Tampaknya ini sejalan dengan konsep gerakan mahasiswa sebagai “kekuatan moral” yang mulai dilontarkan pada 1970-an, di mana kritik sosial yang dilancarkan mahasiswa tidak dilandasi keinginan mahasiswa untuk memperoleh kursi kekuasaan. Kecenderungan ini tampaknya berlanjut pada pers mahasiswa periode 1980-an dan 1990-an. Para pengelolanya berminat pada dunia jurnalistik, namun tidak punya interest untuk duduk di kursi kekuasaan lewat aktivitas di pers mahasiswa. Dengan demikian, dari segi independensi sikap dan keberpihakan politik, pengelola pers mahasiswa mulai generasi 1971/74, 1980-an, dan 1990-an relatif lebih independen dan bebas, serta lebih heterogen aspirasi politiknya. Warna gerakan prodemokrasi, yang tidak lagi berbasis di kampus, juga mewarnai pers mahasiswa 1990-an. Ini terlihat, misalnya, dari Kabar dari Pijar yang diterbitkan Yayasan Pijar (Pusat Informasi dan Jaringan Aksi untuk Reformasi). Dalam mencoba menerobos kebuntuan, sejumlah lembaga pers mahasiswa melakukan kerjasama pelatihan jurnalistik dengan organisasi profesi wartawan yang kritis terhadap Orde Baru, seperti Aliansi Jurnalis Independen (AJI), yang didirikan para jurnalis muda idealis pada 7 Agustus 1994.

Banyak aktivis pers mahasiswa juga terlibat dalam penyebaran dan penjualan Suara Independen, buletin AJI yang dianggap ilegal oleh pemerintah Soeharto waktu itu. Khususnya ini terjadi pada periode 1995-1997. Menghadapi tekanan rezim dan adanya kesulitan dalam berkiprah secara terbuka dan formal, mendorong AJI untuk secara sadar membangun jaringan kerjasama dengan para aktivis pers mahasiswa di berbagai kampus, khususnya di kota-kota besar Pulau Jawa. Hal ini karena para aktivis AJI waktu itu menganggap peran pers mahasiswa cukup strategis dalam menghadapi rezim Soeharto. Para aktivis pers mahasiswa juga dipandang oleh AJI sebagai kader-kader atau calon jurnalis potensial, yang suatu saat akan betul-betul terjun secara profesional dan mewarnai dunia pers Indonesia yang sudah terlanjur dikooptasi oleh penguasa Orde Baru lewat organisasi "wadah tunggal" semacam Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). PWI Pusat di bawah Ketua Umum Sofjan Lubis dan Sekjen Parni Hadi, dan PWI Jakarta di bawah Tarman Azzam, waktu itu praktis sudah menjadi alat rezim dengan sikapnya yang "memaklumi" dan tidak mengecam pembreidelan Tempo, DeTik, dan Editor, pada 21 Juni 1994.

Beberapa hari sebelum penembakan mahasiswa Universitas Trisakti, 12 Mei 1998, para aktivis pers mahasiswa di UPN Veteran juga mengadakan pendidikan pers bekerjasama dengan AJI. Salah satu materinya adalah bagaimana cara membuat siaran pers yang efektif, sehingga agenda-agenda gerakan mahasiswa 1998 bisa lebih tersosialisasi di tengah masyarakat. Selama periode 1997-1999, AJI juga menjalin kerjasama dengan pers mahasiswa di Sekolah Tinggi Theologi, UPN Veteran, IISIP Lenteng Agung, Unitomo Surabaya, Unila Lampung, IAIN Jakarta, Universitas Kristen Indonesia, Universitas Hasanuddin Ujungpandang, dan dengan Forum Komunikasi Senat Mahasiswa se-Jabotabek (FKSMJ).

Kerjasama organisasi jurnalis profesional dan aktivis pers mahasiswa itu ternyata kemudian terus berlanjut. Yayasan Jurnalis Independen (YJI), yayasan nirlaba yang didirikan oleh sejumlah pendiri AJI pada 12 Januari 2000, menjalin kerjasama berkesinambungan dengan aktivis mahasiswa Universitas Terbuka (UT). YJI bertujuan menumbuhkembangkan jurnalis yang profesional, kritis dan independen. Para aktivis YJI memberikan pelatihan pers secara gratis untuk mahasiswa UT, melalui Forum Komunitas Mahasiswa dan Masyarakat Internet (FKM2I), yang membuat media online, yakni MAMAnet (Majalah Mahasiswa Internet online) di www.kbi-ut.com. Penggunaan media Internet adalah perkembangan teknologi kontemporer yang dimanfaatkan oleh para aktivis pers mahasiswa. Di lingkungan Universitas Indonesia, YJI juga menjalin kerjasama dengan Senat Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat UI, dengan mengadakan seminar dan pelatihan jurnalistik di kampus UI Depok, 14-15 November 2001. Seperti pola-pola kerjasama sebelumnya, seluruh materi dan tenaga instruktur disediakan oleh YJI.

Acara yang diikuti lebih dari 150 orang ini lebih dari separuh pesertanya berasal dari luar UI, seperti dari UNJ dan IISIP. Ada juga peserta yang bukan mahasiswa (SMA), bahkan tiga jurnalis suratkabar Suara Kota yang berbasis di Depok ikut menjadi peserta. Kodeetik Pers Mahasiswa Indonesia (PMI) 1. Pers Mahasiswa mengutamakan idealisme pers. 2. Pers Mahasiswa menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia 3. Pers Mahasiswa pro aktif dalam mencerdaskan bangsa, membangun demokrasi dan mengutamakan kepentingan rakyat 4. Pers Mahasiswa dengan penuh rasa tanggungjawab menghormati, memenuhi dan menjunjung tinggi hak rakyat untuk memperoleh informasi yang benar dan jelas. 5. Pers Mahasiswa harus menghindari pemberitaan diskriminasi yang berbau sara. 6. Pers Mahasiswa menempuh jalan dan usaha yang jujur untuk memperoleh informasi yang jelas. 7. Pers Mahasiswa wajib menghargai dan melindungi hak narasumber yang tidak mau disebut nama dan identitasnya. 8. Pers Mahasiswa memberikan keterangan off the record terhadap korban kesusilaan dan atau pelaku kejahatan/tindak pidana dibawah umur. 9. Pers Mahasiswa dengan jelas dan jujur menyebut sumber ketika menggunakan berita atau tulisan dari suatu pemberitaan, repro gambar/ilustrasi, fota atau karya orang lain. 10.

Pers Mahasiswa senantiasa mempertahankan prinsip-prinsip kebebasan dan harus obyektif serta proporsional dalam pemberitaan dan menghindari penafsiran/kesimpulan yang menyesatkan. 11. Pers Mahasiswa tidak boleh menerima segala macam bentuk suap, menyiarkan atau mempublikasikan informasi serta tidak memanfaatkan posisi dan informasi yang di milikinya untuk kepentingan pribadi dan golongan. 12. Pers Mahasiswa wajib memperhatikan dan menindak lanjuti protes, hak jawab, somasi, gugatan dan atau keberatan-kebertan lain dari informasi yang dipublikasikan berupa pernyataan tertulis atau ralat. Perkembangan pers mahasiswa di papua Kita ketahui bersama bahwa Lembaga Pers Mahasiswa di Papua belum ada yang muncul sampai sekarang. Media-media local yang ada merupakan media para capital. Dengan demikian media-media yang ada di papua sama sekali tidak menyampaikan kebenarannya sesuai dengan fakta yang terjadi. Lembaga pers mahasiswa sebagai lembaga yang dikelola oleh mahasiswa memiliki nilai-nilai kritis tersendiri dengan melihat pada kebenaran dan mengacu pada kodeetik pers mahasiswa. Dengan demikian perluh ada media mahasiswa yang dikelolah di kampus sehingga menjadi media yang sangat kritis dan berbauh ilmiah dalam mengelola pers mahasiswa tersebut. Hal ini sangat penting dalam latihan tulis-menulis bagi mahasiswa pemula dan sebagai bagian dari proses berpendidikan. Proses berpendidikan nonformal untuk mnedukung pendidikan formal sangat penting yang harus dilakukan terutama melalui pelatihan jurnalisme.

Dengan membuka lembaga pers mahasiswa papua di beberapa perguruan tinggi yang berada di papua. Mengapa pers mahasiswa di tanah Papua harus ada? Bertolak dari keprihatinan para aktifis papua yang hanya pada sebatas menyuarakan dengan demo dan demo menjadi nuansa budaya atau tradisi mahasiswa Papua. Mengapa mahasiswa papua menyuarakan apapun dengan cara demo? Mengapa tidak melalui media mahasiswa dan melalui tulisan? Dua pertanyaan yang harus lebih melihat keobjektifan dan harus merubah pradigma bagi para aktifis demokrasi, pendidikan, sosial, budaya hokum dan lainnya. Berbagai cara untuk menyuarakan sikap moral mahasiswa atas suatu hal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kebenaran, keadilan, hak asasi manusia.

Salah satunya adalah melaui demo besar-besaran, mogok makan, kerja, boikot system pemetintahaan agar suatu revolusi terjadi. Kalo berbicara revolusi perluh diketahui bahwa apa itu revolusi dan bagaimana proses menju revolusi itu dan bayak pertanyaan yang harus dijawab. Revolusi merupakan suatu perubahan dimana peraktek pemerintahaan, kebiasaan masyarakat setempat, tradisi yang tidak sesuai dengan harapan menuju suatu perubahaan. Media-media local yang ada di papua tidak melibatkan mahasiswa dan mapun dikelola oleh mahaiswa pula. Oleh sebab itu kesadaran mahasiswa terhadap pentingnya pers mahasiswa sebagai media aspirasi mahasiswa, menyumbangkan pikiran, konsep terhadapa percepatan pembangunan sangat dibutuhkan dengan mengacu pada kodeetik pers mahasiswa. Tidak ada sejarah PERSMA yang terjadi di Papu. Beberapa pers mahasiswa yang dikelola oleh mahasiswa papua yang kuliah di luar papua belum bersatu untuk mempersatukan ideologi. Dengan demikian carut marutnya majalah-majalah yang dikelola oleh mahasiswa papua tidak berjalan dengan baik sehingga tidak berkembang.


LPM KOMAPO


Latar belakang KOMAPO


Berbagai persoalan yang terjadi dari tahun ke tahun dalam diri manusia Apyim/aplim Apom selama hidupnya, terutama pertumbuhan dan perkembangan pembangunan fisik dan nonfisik (SDM) yang selalu dikatakan oleh orang yang taraf berpikirnya cukup maju. Manusia Papua Apyim/aplim Apom tidak mengalami perubahan yang nampak dan keadaannya tetap begitu –begitu saja. Akhirnya kami sebagai mahasiswa Pegunungan Bintang yang sedang belajar bersama orang lain mempunyai keprihatinan bagi manusia dan alam Pegunungan Bintang. Kami mau dan berani mengangkat kembali realitas hidup itu melalui kumpulan sebuah gagasan dan akhirnya dibentuk sebuah Komunitas yang ingin menampung dan mengembangkan gagasan manusia mahasiswa Apyim/aplim Apom di Yogyakarta Indonesia. KOMAPO dibentuk atas dasar keprihatinan mahasiswa Apyim (aplim) Apom Papua di Yogyakarta mengenai realitas hidup manusia dan perkembangan pembangunan fisik dan non fisik di daerah Pegunungan Bintang. Kami menganggap hal ini sangat penting dalam pengkajian dan pengembangan potensi mahasiswa Pegunungan Bintang melalui komunitas ini untuk melihat kelebihan dan kekurangan kami masing – masing menuju pencapai tujuan. Kami melihat bahwa sejumlah manusia yang ada di Pegunungan Bintang mempunyai kekhasan budaya yang berbeda antara satu suku dengan suku yang lain walaupun pada hakekatnya satu, yaitu berasal dari Apyim (aplim) Apom. Ada beberapa suku yang hidupnya di pesisir sungai dan pantai sedangkan suku – suku lainnya berada di daerah pegunungan.

Dengan demikian kami mampu dan mau mempertanggungjawabkan atas apa pun yang dialami manusia dan akan terjadi dalam menjalankan kepengurusan komunitas ini kedepannya. Untuk itu, KOMAPO berani mengadakan komunikasi bersama orang lain dengan mengangkat sejumlah hal yang ada, melihat pengalaman lalu berpijak masa sekarang dan berorientasi ke masa depan daerah Pegunungan Bintang khususnya dan Papua Umumnya. Terbentuknya komunitas ini karena adanya keprihatinan dan dorongan para kader bangsa Pegunungan Bintang yang ada di Yogyakarta (Spey Yan Charolus Bidana ST. M.Si, Melianus Alwolka SE, Bibunbun Benny Yawalka SP), para pengurus adat Apyim Apom dan dengan melihat realitas hidup manusia Papua dan mahasiswa Papua se Indonesia. Untuk mengatasi berbagai hal yang telah berlalu itu, melalui wadah ini mau mengangkat kembali nilai budaya dan adat yang seharusnay diterapkan untuk dipelajari dan dimiliki oleh manusia Apyim (aplim) Apom. Dengan demikian pengaruh kegiatan mahasiswa terus merajai dimanapun manusia muda Pegunungan Bintang berada, supaya sungguh – sungguh menyadari akan apa yang seharusnya disiapkan untuk masa mendatang dan mengerti akan makna manusai baru sejak dini. Sejak menarik dan diakuinya wilayah Pegunungan Bintang sebagai bagian dari kabupaten Jayawijaya sungguh tidak mengalami perubahan pembangunan yang sesuai dengan apa yang dijanjikan melalu pemilu dan iven – iven lainnya (Pembangunan fisik dan terutama non fisik). Yang nampak hanyalah penunjukkan DPR, pengadaan gedung SD tanpa guru dan tidak mempunyai keprihatinan untuk daerah Apyim Apom. Utusan para penyambung suara rakyat dari tiap distric pun tidak pernah memperjuangkan kepentingan rakyatnya tetapi hanya untuk kepentingan pribadinya (terbatasanya pengetahuan – tingkat pendidikan).

Dari masa ke masa, perkembangan pendidikan guna memanusiakan manusia Apyim Apom sangatlah kurang, karena kurangnya perhatian pemerintah daerah dan mungkin karena kabupaten Jayawijaya memiliki wilayah yang sangat luas membuat tidak bisa bergerak sampai ke daerah – daerah terpencil. Kini manusia Apyim (aplim) Apom menyadari bahwa pendidikan merupakan tolok ukur keberhasilan segala lini kehidupan seluruh Negara di dunia dan “itulah yang kami mau”. Untuk itu KOMAPO mau berusaha di bidang pengkajian dan pengembangan secara intern dan ekstern dengan berfokus pada “pendidikan humaniora” dari tingkat mahasiswa dan realisasinya pada masyarakat adat dan manusia berikutnya. Kenyataan kongkrit yang dihadapi oleh manusia Pegunungan Bintang sampai saat ini, dalam rangka memperkenalkan manusia Apyim (aplim) Apom dalam dunia pendidikan yang nantinya menjadi manusia berkualitas yang dapat memanusikan manusia secara berkesinambungan adalah Swasta Katolik dan Protestan. Dimana misi utamanya adalah mengabarkan injil ke seluruh pelosok Pegunungan Bintang dan hasilnya tepat. Keberhasilan beberapa intelek Pegunungan Bintang dan juga begitu banyak jumlah mahasiswa yang menyebar ke seluruh Indonesia karena adanya sekolah swasta dan bukan keprihatinan pemerintah dengan mengadakan sekolah negeri. Untuk itu, melalui komunitas ini akan terus berjuang memberikan gambaran pemikiran kepada generasi Apyim (aplim) Apom untuk melihat dan merubah keadaan yang tidak menentu hingga akhir – akhir ini melalui jalan yang dirintis oleh para misionaris itu.

Dengan maksud, pada masa mendatang dapat menghasilkan manusiai yang sungguh – sungguh mempunyai hati untuk membangun dan mempertahankan keadaan kepolosan manuasi dan alam yang melimpah dengan kekayaannya itu. Dasar Pemikiran Bumi diciptakan Allah dan diperuntukkan bagi sejumlah makhluk hidup dan makhluk mati. Makhluk yang paling hakiki adalah manusia. Manusia mampu melakukan sesuatu sesuai dengan kemampuannya, sebagai manusia wanita dan manusia laki – laki. Oleh karena itu sebagai dasar pemikiran pembentukan komunitas “KOMAPO” adalah ingin mengangkat kenyataan hidup manusia Apyim (aplim) Apom. Manusia Apyim (aplim) Apom adalah hidup dan berkembang di sepanjang sungai Digul (Okhop/oksop) dan sungai sefik (Oktahin), sungai Papi (Okpapi) dan Sungai Yamii (Okyamii). Manusia Aplim Apom memandang keempat sungai ini adalah sebagai sumber kehidupan sepanjang manusia itu berada di Apyim (aplim) Apom. Manusia Apyim (aplim) Apom mempunyai pandangan bahwa Allah (Atangki) senantiasa bersama di dalam seluruh rangkaian hidupnya. Manusia Apyim (aplim) Apom mempunyai berbagai kekayaan alam yang tentu mendukung perkembangan potensinya yaitu talenta yang dimiliki oleh setiap suku, marga, bahkan pada individu manusia itu sendiri.

Bertolak dari keberadaannya bahwa sesungguhnya manusia ini (Apyim/aplim Apom) belum perna disentuh secara sadar oleh perkembagan luar, terutama pemerintah sebagai tulang punggung perkembangan pembangunan di negeri ini. Dimana salah satu tujuan negara ini adalah mencerdaskan kehidupan bangsa manusia, salah satunya adalah bangsa manusia Apyim (aplim) Apom (manusia Pegungan Bintang). Saat ini kami menyadri bahwa sejumlah langkah yang dilakukan oleh pihak tertentu belum mampu membuka mata dan hati manusia Papua Pegunungan Bintang untuk keluar dari kemelutan itu. Manusia Apyim (Aplim) Apom bisa keluar dari keadaan ini hanya dengan jalan pendidikan formal yang sungguh baik dan berakar. Manusia Apyim (aplim) Apom sungguh merindukan akan sejumlah hal yang dialami oleh orang lain di negeri ini melalui pendidikan, tetapi belum juga dijangkau oleh orang lain itu. Maka kini dia ingin berjuang bersama manusia lain atas terbentuknya kabupaten baru sejak 2002 lalu. Pada prinsipnya, yang menjadi tolok ukur keberhasilan pembangunan Kabupaten Pegunungan Bintang adalah harus adanya sikap keterbukaan dan kebersamaan dari manusia Apyim (aplim) Apom yang ada di seluruh jagat raya Pegunungan Bintang maupun di tingkat mahasiswa yang ada di seluruh Indonesia. Untuk itu, mahasiswa yang berada di luar dari Kabupaten Pegunungan Bintang harus berpikir secara kritis dan membuat sesuatu hal yang sungguh – sungguh membangun dirinya dan tentu akan kembali membangun daerah dan manusia Pegunungan Bintang dari berbagai bidang kehidupan. Manusia mahaiswa hendaknya cepat dan tanggap terhadap situasi yang telah terjadi di negara ini umumnya dan Papua khususnya. Dengan demikian kita bisa menyatukan ide dan pandangan untuk membantu penyelenggaraan pembangunan yang selama ini berjalan ditempat.

KOMAPO ingin menghasilkan manusia yang sungguh berkompeten, yaitu dengan cara mengikut sertakan mahasiswa dalam kegiatan kepemimpinan maupun bentuk kegiatan lain yang sungguh membantu perkembangan potensi diri dan meningkatkan kognitifnya melalui perkuliahan. Kami menyadari bahwa bukan manusia Pegunungan Bintang tidak akan membuat sesuatu dengan melibatkan dirinya secara sungguh – sungguh dalam kegiatan apa pun, karena kami tahu bahwa mental manusia Indonesia dan Papua umumnya adalah masih mempertahankan daerah, suku, dan marganya walaupun dia itu adalah seorang pemimpin. Sampai dengan saat ini orang Papua belum menyadari akan apa yang dia pikirkan, dikatakannya dan dilakukannya, lalu mengatakan bahwa dirinya adalah seorang nasionalis atau dikatakan bahwa dia adalah orang nasionalis. Hal seperti ini keliru karena kita semua berasal dari sistem pendidikan yang tidak sesuai dengan taraf berpikir manusia Papua (bagaimana mendewasakan manusia melalui pendidikan ala Papua). Oleh karena itu, KOMAPO ingin melihat dari beberapa sisi yang sangat fundamental ini dan merupakan hal yang sangat berat karena berbicara tentang pembentukan diri individu menjadi pribadi yang unik di kalangan masyarakat, yaitu menjadi pemimpin yang sungguh menjadi pemimpin.

Pendiri KOMAPO berpandangan bahwa sangat tepat jika manusia Apyim/Aplim Apom memulai dengan hal terkecil yang selama ini orang lain menganggap soal biasa seperti membina diri manusia adalah sangat sepele tetapi sekaligus menjadi hal yang sangat fundamental yaitu “ Membangun diri pribadi dan untuk membangun diri manusia lain melaui belajar ” supaya potensi manusia dari generasi ke generasi berikutnya sungguh – sungguh tumbuh dan berkembang secara terarah demi pengangkatan nama Apyim (aplim) Apom dan nama Suku Ngaum (Ngalum), Kupee (kupel), Batom, Aboi, dan muop (murop/morop) di mata dunia. Komunitas Mahasiswa dan pelajar Apyim (aplim) Apom mempunyai orientasi kedepan adalah membuat Lembaga Independent yang tugas utamanya adalah menyiapkan kader manusia Apyim (aplim) Apom yang siap dipakai di masa globalisasi, yakni manusia yang mempunyai hati untuk melihat realita hidup manusia masyarakat Papua umunya di masa mendatang.

Manusia yang akan disipakan adalah mereka yang sudah menyelesaikan perkuliahan entah D2/D3, starata satu atau Strata dua tetapi belum mampu memimpin orang banyak maupun mereka yang mempunyai kompetensi dan niat yang tinggi untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Bahkan menyiapkan para pengrajin untuk kembali membuka perusahaan tertentu di Pegunungan Bintang (pendiri KOMAPO).


Latar Belakang Komapo News


Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) yang luar biasa cepatnya harus diakui membawa dampak positif luar biasa besar dalam bidang komunikasi masyarakat. Sekarang, pola komunikasi dan penyampaian informasi setiap orang bisa dilakukan di mana saja tanpa takut terhalang jarak maupun waktu. Informasi tersebut dapat disampaikan melalui media cetak mapun elektronik. Kondisi itu berkat ditemukannya alat komunikasi seperti internet yang membuat setiap orang semakin praktis dalam berinteraksi maupun berkomunikasi dengan orang lain, meski berbeda kota, pulau, maupun negara sekalipun.

Berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menyebabkan berbagai informasi mengalir begitu cepat. Selain itu, dampak perkembangan iptek berpengaruh terhadap pola hidup masyarakat kini meningkat. Salah satunya kebutuhan akan informasi tentang perkembangan dunia sekitarnya. Oleh karena itu, Setiap makna yang terkandung dari sebuah isu atau masalah perlu diolah dan disajikan dalam struktur kalimat yang lengkap dan baku sehingga para penikmat informasi dapat memahami substansinya dengan benar. Untuk memenuhi itu diperlukan sumber daya manusia yang kompeten dalam hal mengola informasi. Kesiapan sumber daya manusia sangat penting karena seluruh input(berita aktual atau masalah aktual dan opini) dapat dikelola oleh pengelola wartawan misalnya. Perekembangan Iptek tersebut tentu menuntut setiap mahasiswa untuk mengembangkan diri secara akademik maupun non akademik. Globalisasi identik dengan penyebaran berbagai informasi dari satu negara-negara yang lain dalam hitungan detik. Perkembangan zaman tersebut menuntut setiap manusia termasuk mahasiswa membekali diri dengan berbagai ketermapilan. Tuntutan hidup saat ini tidak hanya membutuhkan kemampuan akademik yang baik saja tetapi setiap mahasiswa dituntut mampu mengembangan skill yang dimiliki. Salah satu keterampilan yang perlu dikembangkan adalah keahlian dalam ketermapilan jurnalistik. Mengungkapkan ide secara lisan sangat mudah. Bagi siapa saja bisa mengungkapan idenya secara spontan dan kapan saja. Sementara itu mengungkap ide dalam bentuk tulisan diperlukan proses pelatihan yang memadai. Untuk menyampaikan ide secara tertulis perlu sebuah wadah untuk mengekspresikan dan mengungkapkan idea atau pun gagasan-gagasan yang terekam dalam pusat berpikirnya(otak).

Pada saat ini, diperhatikan bahwa Mahasiswa Papua pada umumnya dan terlebih khusus mahasiswa Pegunungan Bintang sangat minim berniat untuk menuliskan gagasan-gagasannya secara tertulis. Hal ini menjadi salah satu kekurangan yang dimiliki dalam proses perkuliahan. Kita menyadari bahwa mengungkapkan ide secaa tertulis sangat bermanfaat dalam proses belajar kita. Dengan menulis setiap orang akan menyatuhkan ide abstraknya dengan pengetahuan atau pengalaman yang dimilikinya dalam bentuk sebuah tulisan yang selanjutnya disimpan dalam arsip yang permanen. Arsip permanen bisa digunakan kapan saja dan dimana saja bila diperlukan. Sementara itu sebuah ide yang disimpan dalam ingatan(otak) sewaktu-waktu akan hilang sehingga butuh waktu dan proses untuk mengembalikan atau mengingat kembali gagasan tersebut. Sebagian orang sering mengandalkan ide secara abtrak sehingga pada saat menyampaikannya kadang-kadang menghilangkan unsur pokok sehingga lawan bicara tidak menyimak secara utuh informasi tersebut. Oleh karena itu, sebaiknya setiap ide yang terpampang di benak harus dituangkan dalam bentuk tulisan. Hal ini dilakukan untuk menata pola pikir secara runtut dan memelihara substansi ide dasarnya. Lawan bicara butuh informasi yang utuh bukan sepotong-sepotong sehingga ide dasar perlu dikembangkan lebih lanjut. Pengembangan ide awal dilakukan dengan menambahkan pengetahuan yang dimiliki, pengalaman serta dihubungkan dengan masalah aktual yang terjadi di masyarakat sekitarnya. Keterampilan tulis menulis sangat terbatas bagi anggota Komapo.

Demi melengkapi kelemhan tersebut. Badan pengurus Komapo periode 2009 dan 2011 menyepakati dan membentuk sebuah media yang selanjutnya diberi nama “Komapo News”. Tujuan media ini adalah sebagai wadah untuk mengakomodir seluruh anggota komapo baik mahasiswa , pelajar maupun alumni untuk melatih diri dalam mengembangkan pengungkapan ide secara tertulis. Setiap pihak yang terlibat di dalam Komunitas ini diberikan kebebasan untuk mengungkapan seluruh idenya. Yakni Diberikan kebebasan untuk menganalisa diri dalam pengembangan kemapuan akademik, non akademik, kepemimpinannya dan bahkan mampu menganlisis permasalahan umum yang di hadapi masyrakat di daerah bahkan meliput dan melaporkan berita dari berbagai peristiwa yang terjadi dalam kehidupan masyarakat sekitarnya. Diharapkan setiap anggota mampu dan jelih melihat perkembangan dalam komunitas dan permasalahan aktual yang dihadapi oleh masyarakat papua secara keseluruhan dan Pegubungan Bintang pada khusunya. Lebih dari sekedar menganalisa masalah, setiap mahasiswa dan pelajar diberikan kesempatan untuk untuk memberikan kontribusi berupa usulan, saran kritik dan sumbangan dalam bentuk ide kepada organisasi-organisasi pemangku masyarakat terutama permerintah daerah dan orangisasi sejenis untuk mendampingi dan mengembangkan serta menciptakan masyakat yang aman ,damai dan sejahtera.

Mengingat wilayah Pegunungan Bintang merupakan daerah yang baru mengalami proses pembangunan modern sehingga generasi mudah terutama mahasiswa dituntut untuk belajar berbagai hal. Kesiapan diri merupakan modal utama dalam mengembangkan daerahnya. Kesiapan diri yang dimasud adalah kesiapan secara mental, fisik, spiritual dan empati harus baik dan berimbang. Ke empat hal dikembangkan secara seimbang maka akan membentuk keperibadian yang baik dalam hal kepemimpinan, kelakukan dan bersikap dalam mengatakan sesuatu secara tepat jujur dan menjunjung tinggi nilai keadilan dalam dalam kehidupan bermasyarakat. Masyarakat Pegunungan Bintang kini telah sadar akan kebutuhan dan perkembangan masa kini. Mereka bersikap dewasa mengahadapi dan menilai permsalahan dalam kehidupan disekitarnya termasuk menilai keperibadian sesorang yang patut dijadikan sebagai sosok pemimpin bagi mereka. Oleh karena itu, sebelum dikritik oleh masyrakat, setiap mahasiswa sebagai calon pemimpin masa depan perlu pembenahan diri secara total. Pembenahan diri yang maksudkan disini adalah belajar mempersiapkan diri secara baik. Salah satu ketermapilan yang perlu dikembangkan kemampuan menganalisa permasalahan melaui membaca dan menulis.

Membaca merupakan kegiatan awal bagi setiap orang untuk menemukan substansi dari sebuah masalah. Setelah menemukan masalah kemudian dikembangkan menjadi sebuah ide dengan perspetif yang baru. Dari ide perspektif seseorang ini dikembangkan dalam berbagai alternatif. Selanjutnaya dari ide yang semulanya abstrak menjadi pilihan sangat berguna bagi orang lain sebagai dasar untuk memmecahkan masalah yang dihadapinya. Disinilah tujuan utama dari pada pendirian komapo news. Demi mencapai tujuan Komapo News perlu dilakukan kaderisasi secara terus menerus. Proses kaderisasi dilakukan untuk menyadarkan pentinnya jurnalistik, memahami dan memaknai sebuah masalah dalam bentuk tulisan. Belajar menjadi seorang editor, konsep dasar wartawan dan meliput dan melaporkan berita. Selain itu peserta diberikan kesempatan untuk belajar konsep dasar organisasi khususnya orgaganisasi yang berperan dalam media jurnalistik. Seluruh program ini dilakukan dengan bermaksud mempersiapkan individu-individu yang berkompeten yang mampu mengembangkan dan menyeimbangkan kemampuan akademik maupun non akademik sehingga dapat bersaing dengan orang-orang lain baik yang berasal dari Papua maupun diluar Papua.

Selain itu, anggota Komapo diharapkan mampu menganlisa dan mengkritisi setiap permasalahan aktual yang terjadi di Daerah Pegunungan Bintang dan memberikan sumbangsi kepada masyarakat berupa ide, saran dan memberikan solusi-solusi atau alternative terkait dalam proses penyelenggaraan pembangunan secara berkesinambungan (pemimpin komapo news periode pertama).


Visi dan Misi Komapo News


Visi

1. Menjadikan KOMAPO News sebagai suatu sumber, penyalur media informasi yang dapat digunakan oleh kalayak umum dan dapat diakui oleh masyarakat Indonesia;

2. Menjadikan Komapo News sebagai media untuk memperlihatkan kultur dan integritas Manusia Aplim Apom Misi 1. Mencetak dan menyalurkan Majalah KOMAPO News di kalangan masyarakat umum (kelm.Ripka );

3. Melalui Majalah KOMAPO News dapat menyalurkan ide-ide kreatif mahasiswa maupun kalangan umum dalam mendukung proses pembangunan daearh- daerah di Indonesia ( Elip,akkis, yudefa,ravale) ;

4. Melalui media ini menjadi intrakomunikasi mahasiswa, pemerintah dan masyarakat umum (kelompok Anike)

5. Dengan adanya Majalah KOMAPO News ini dapat mengembangkan bakat menulis Mahasiswa APLIM APOM Kabupaten Pegunungan Bintang pada khususnya dan Indonesia pada umumnya (anggota);

5. Dapat mewujudkan hubungan yang harmonis dengan pihak-pihak yang berkepentingan (kelm. anike);

6. Meningkatkan kemampuan berpikir, berpendapat, berkomunikasi dan memiliki integritas, kreatifitas, dan nilai-nilai positif (Elip);

7. Dapat menyalurkan informasi yang baik dan benar serta aktual. (markal).


Tujuan


Menyumbangkan sumbangsih pikiran secara kontinyuv Menjadikan KOMAPO News sebagai suatu sumber, penyalurv media informasi yang dapat digunakan oleh kalayak umum dan dapat diakui oleh masyarakat Indonesia. Menjadikan Komapo News sebagai media untuk memperlihatkan kultur danv integritas Manusia Aplim Apom Media yang patuh terhadap etika jurnalistikv Sasaran Mahasiswa Apliim Apom di kota studi Yogyakarta sebagai penerusv generasi muda, tulang punggung, insfirator dan transformator pengembangan pembangunan kabupaiten Pegunungan Bintang. Mahasiswa menyadari bahwa peningkatan Sumber Daya Manusia akanv terwujud bila peranserta aktif generasi muda ini menjadi salah satu prioritas yang terus dilakukan secara kontinyu. Mahasiswa dibekali informasi, tentang isu-isu, opini-opini global danv untuk mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran di bidang akademik maupun melalui organisasi kepemudaan. Out put pemanfaatan majalah KOMAPO NEWS adalah pendukung pemerintah dalam percepat proses pembangunan kabupaten Pegunungan Bintang kedepan.

Landasan

Undang-undang Otonomi khusus Papua No. 21 tahun 2001. Yangv ujung-ujungnya menghasilkan sumber daya manusia berkualitas baik, menjadi manusia dan memanusiakan manusia lain secara terus menerus. Realitas sumber daya manusia Pegunungan Bintang sangat minim. Taget Diharapkan Anggota KOMAPO NEWS memahami kodeetik Jurnalistik.v Diharapkan agar mahasiswa/I KOMAPO bisa menulis dan memahami strukturv dan fungsi organisasi. Mahasiswa KOMAPO mempertanggungjawabkan atas tulisan yang pernahv dimuat di majalah KOMAPO NEWS Mahasiswa dapat memanfaatkan media ini dengan sebaik-baiknya untukv menyuarakan, mengakomodir, dan menyumbangkan pemikiran yang baik, konkrit, akuntabel secara terus menerus (kontinyu) untuk memberikan suatu perubahaan yang sangat berarti bagi tanah, masyarakat, pemerintah Pegunungan Bintang pada khusunya dan Papua pada umumnya.


Rangkuman


Perwujudan sebuah pembangunan yang baik tentu didukung dengan Kesiapan Sumber Daya Manusia yang kompeten sesuai dengan bidang keahliannya. Tuntutan ketrampilan sumber daya manusia itu tidak lain adalah melalui proses pendidikan secara baik dan benar sesuai dengan kemampuan yang dimiliki setiap orang/mahasiswa. Untuk menjawab tuntutan global saat ini tentu pemerintah mempunyai beban dalam memberdayakan generasi muda yang baru melihat dunia luar mulai saat ini. Dengan demikian mahasiswa serius memanfaatkan berapapun jumlah dana dialokasikan oleh pemerintah daerah. Salah satu cara yang tepat bagi mahasiswa mengembangkan sejumlah potensi diri mewujudkan persatuan dan kesatuan serta menyumbangkan pikiran kritis untuk membangun daerah Aplim Apom adalah “Membuat Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) yang diberi nama KOMAPO NEWS dengan landasan filofinya adalah “LPM KOMAPO SUARA PEMBEBASAN KRITIS MASYARAKAT TERTINDAS”

Filsuf Inggris Bertrad Russell, member nasehat kepada mahasiswanya: “Lakukanlah pengamatan sendiri. Seharusnya Aristoteles dapat menghindari kekeliruan tentang perkiraannya bahwa wanita mempunyai jumlah gigi yang lebih sedikit dari pria andaikan saja ia mau meminta isterinya untuk membuka mulutnya dan menghitungnya sendiri. Menganggap bahwa kita tahu, pada hal tidak, adalah kesalahan fatal yang cenderung kita lakukan”


Fransiskus Kasipmabin, Pemimpin Komaponews, 2011/2012.


Makalah Ini disampaikan pada Natal KOMAPO 2011/2012, di Bandungan, Jawa Tengah


Dikutip dari berbagai sumber.

AD/ART KOMAPO/Pendiri KOMAPO

Share
Last Updated on Wednesday, 01 May 2013 01:20
 


Copyright by KOMAPO.