Home KARYA ILMIAH KARYA ILMIAH PENGEMBANGAN BIOPESTISIDA TANAMAN KECUBUNG (DATURA METEL) SEBAGAI SUBSTITUSI PESTISIDA KIMIAWI
PENGEMBANGAN BIOPESTISIDA TANAMAN KECUBUNG (DATURA METEL) SEBAGAI SUBSTITUSI PESTISIDA KIMIAWI
KARYA ILMIAH

 

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA


JUDUL PROGRAM

PENGEMBANGAN  BIOPESTISIDA TANAMAN KECUBUNG (DATURA METEL) SEBAGAI SUBSTITUSI PESTISIDA KIMIAWI

BIDANG KEGIATAN:

PKM-GT

Diusulkan oleh :

Toga Kurniawan Manulang    (082214045) Tahun Angkatan 2008

Andriani Rambu Anajawa      (091434051) Tahun Angkatan 2009

Uski  Bidana                           (082214099) Tahun Angkatan 2008

Ina Lisnawati                          (091434033) Tahun Angkatan 2009

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2012

PENGEMBANGAN  BIOPESTISIDA TANAMAN KECUBUNG (DATURA METEL) SEBAGAI SUBSTITUSI PESTISIDA KIMIAWI

1. R    Ringkasan

Seperti diketahui bahwa Indonesia memdapat julukan Negara agraris yaitu dengan potensial penduduknya mayoritas pertanian/ perkebunan sehingga bercocok tanam yang menjadi prioritasnya. Akan tetapi pada kenyataannya Indonesia sendiri harus menginpor beras dari Negara-negara asing padahal apabila dibandingkan antara luas Negara-negara pengekspor beras dengan Negara Indonesia sangatlah berbeda.

Dari gagasan tertulis ini bertujuan untuk mendukung terlaksananya Go Green yang dicanangkan oleh pemerintah untuk mengurangi pemanasan global (Global Warming) dengan menggunakan biopestisida tanaman kecubung sebagai produk substitusi pestisida kimiawi menjadi biopestisida yang ramah lingkungan. Dalam gagasan ini dimaksudkan untuk membenahi pola penggunaan produk-produk pestisida yang dapat membahayakan lingkungan. Gagasan ini ditulis berdasarkan permasalahan yang timbul di masyarakat pertanian dengan mengacu pada tinjauan pustaka yang ada.

Berdasarkan hasil analisis, diketahui bahwa dengan adanya produk substitusi biopestisida tanaman kecubung dapat menggantikan produk pestisida kimiawi yang dapat membahayakan lingkungan. Untuk melindungi lingkungan hidup, maka dilakukan strategi penguatan internal petani selaku produsen serta pengembangan eksternal yang meliputi pencitraan dan pemasaran. Strategi internal yang dilakukan petani yaitu melakukan community development terhadap pertanian/ perkebunan di Indonesia dengan maksud untuk mebentuk komunitas atau badan usaha yang dapat mengelola secara mandiri dan kreatif. Pengembangan tersebut dapat difasilitasi oleh lembaga-lembaga serta kalangan intelektual dan didukung oleh dana program CSR perusahaan. Pengembangan dilakukan dengan mengajarkan pemanfaatan tanaman kecubung sebagai biopestisida yang ramah lingkungan secara menyeluruh terhadap petani-petani di indonesia. Pelaksanaan community development akan menjadikan agar Indonesia dapat mewujudkan dengan kualitas hasil pertanian kompoten. Dengan karakteristik hasil pertanian yang diminati oleh green consumers di dunia terbebas ketergantungan pada pengguna pestisida kimia yang begitu merusak lingkungan dan berhubungan umat manusia semua mahluk hidup.


Latar Belakang

2. L

Pada dasarnya Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas penduduknya bercocok tananam khususnya pertanian padi (Oryza sativa). Padahal diketahui bahwa Indonesia merupakan negara agraris tetapi bahan pokok (primer needs) mayoritas penduduknya mengkonsumsi beras akan tetapi dari tahun ketahun Indonesia meningkatkan impor beras dari berbagai negara.

Dengan adanya realita saat ini sebaiknya Indonesia berbenah dan berkaca kepada negara-negara tetangga terutama negara-negara yang mengekspor berasnya ke Indonesia yang notabenya luas wilayah negara-negara terebut sangat kecil apabila dibandingkan dengan Indonesia.

Dari sinilah kami berpikir apa yang sebenarnya yang menjadikan Indonesia harus mengimpor beras dari negara-negara asing. Kami melihat para petani yang selalu mengeluh akan hasil pertaniannya, ternyata hal tersebut disebabkan oleh hama tanaman mereka yang memicu menurunnya produktivitas panen mereka, tetapi di lain sisi para petani terbebani dengan harga pertisida kimiawi yang begitu mahal yang sebenarnya para petani tahu efek penggunaan pestisida kimiawi yang tidak ramah lingkungan. Penyebaran pestisida kimiawi dapat membunuh musuh alami yang hidup pada tanaman sehingga merusak pengendalian biologi hama dan meningkatkan resistensi hama terhadap pengaruh pestisida kimiawi tersebut.

Jika kerusakan akibat hama berkurang, maka produksi beras akan meningkat. Jika biaya pengendalian hama diperkecil dengan cara yang baik maka konsumen akan memperoleh keuntungan karena harga beras menjadi lebih rendah.

Dengan adanya kesempatan Program Kreativitas Mahasiswa kali ini kami ingin sekali mengimplementasikan pemikiran kami kepada banyak orang terutama masyarakat Indonesia dengan menciptakan Biopestisida dari tanaman Kecubung Datura metel sebagai produk substitusi yang ramah lingkungan.

3. Tu  Tujuan

Dari latar belakang tersebut di atas gagasan tertulis ini bertujuan untuk mendukung terlaksananya Go Green yang dicanangkan oleh pemerintah untuk mengurangi pemanasan global (Global Warming) dengan menggunakan biopestisida tanaman kecubung (Datura Metel) sebagai produk substitusi pestisida kimiawi menjadi biopestisida yang ramah lingkungan. Selain itu dengan penggunaan tanaman Kecubung (Datura metel) sebagai biopestisida alami dapat mengembalikan kesuburan tanah yang mengalami degradasi akibat penggunaan pestisida kimiawi.

4. M   Manfaat

Manfaat karya tulis ini adalah meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai potensi tanaman kecubung (Datura Metel) sebagai produk substitusi yang ramah lingkungan, adapun manfaat yang diperoleh dari penggunaan biopestisida dengan mengunakan tanaman kecubung seperti:

1) Produk biopestisida dari tanaman Kecubung (datura metal) tidak merusak tanah.

2) Produk tersebut tidak mencemari udara.

3) Produk biopestisida tidak menimbulkan efek negatif bagi kesehatan manusia.

4) Tanaman pertanian akan terhindar dari hama.

5) Petani mendapatkan pengetahuan baru dalam hal pemanfaatan tanaman Kecubung (Daura metel) sebagai biopestisida alami

6) Meningkatkan produktivitas hasil panen.

5. G Gagasan

5.1 Pe  Pengawetan Kayu Dengan Pemberian Filtrat Buah Kecubung

Pengawetan kayu yang berbasis dengan pemberian filtrat buah kecubung merupakan hasil eksperimen yang dilakukan oleh seorang mahasiswa Universitas Negeri Malang, Moh. Ali Imron pada tahun 2011. Berdasarkan hasil eksperimen tersebut bahwa adanya perbedaan antara kayu yang diawetkan dengan konsentrasi 0%, 5%, 10%, dan 15% dan ada pengaruh yang signifikan terhadap ketahanan kayu akibat serangan rayap pada konsentrasi 0% adalah 7.10 gr atau 33.60%, pada konsentrasi 5% adalah 6.47 gr atau 24.74%, pada konsentrasi 10% adalah 4.20 gr atau 15.43%, dan pada konsentrasi 15% adalah 5.68 gr atau 22.69%. Sehingga dalam penelitian ini campuran yang paling tahan akibat serangan rayap adalah pada konsentrasi 10% yang mempunyai nilai kehilangan berat paling sedikit, jadi filtrat buah kecubung dapat digunakan sebagai bahan pengawet kayu yang alami dan ramah lingkungan.

5.2 K  Konsep Pertanian yang Ramah Lingkungan

Perkembangan dunia industri saat ini mengakibatkan semakin banyaknya produk-produk kimiawi yang dapat mencemari tanah, udara dan termasuk didalamnya lahan pertanian yang jelas-jelas terkontaminasi akan produk-produk pestisida kimiawi. Selain pengunaan pestisida dan bahan kimia sebagai pembasmi hama pertanian, termasuk pada pertanian padi. Maraknya perkembangan green customers di dunia yang menjadikan konsumen semakin memilih produk pertanian yang terbebas dari bahan-bahan kimia dan menginginkan produk yang diolah secara alami. Berikut merupakan hal-hal yang harus diperhatikan mengenai penerapan pertanian padi organik dapat dijabarkan sebagai berikut:

1) Pemilihan benih (Local/ Hybrid).

2) Dengan sedikit metode pengolahan lahan untuk menjaga keseimbangan tanah.

3) Penggunaan pupuk organik.

4) Waktu panen yang tepat waktu.

5) Dilakukannya controlling pada setiap tahapan pada wakty paska panen baik dari pemanenan, pengeringan, penyortiran, pengemasan, penyimpanan hingga penggilingan hasil panen.

6) Menggunakan produk yang memiliki sertifikasi seperti:

a. Memiliki label produk organik.

b. Petunjuk proses pengolahan yang jelas.

c. Kemasan dalam keadaan baik  dan menarik.

d. Memiliki identitas negara Indonesia.

e. Harga bersaing/ relatif lebih mahal dibandingkan dengan produk non organik.

5.3 So Solusi yang Pernah Ditawarkan

Upaya community development seperti yang telah dilakukan oleh pemerintah. Berikut penggalan jurnal litbang pertanian dengan judul “Pembangunan Pertanian Berkelanjutan Melalui Kemitraan Usaha” (sumber: http://pustaka.litbang.deptan.go.id, 2007)

Pemerintah mengembangkan program pengendalian hama terpadu dengan melibatkan masyarakat tani melalui Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT). PHT didasarkan pada keseimbangan ekologi, siklus alami, pemanfaatan pestisida nabati, serta melalui pendekatan partisipatif. Selain itu diintroduksikan pula Sistem Integrasi Padi Ternak (SIPT) untuk meningkatkan produksi padi dan daging nasional serta pendapatan petani. Pelaksanaan program tersebut cukup berhasil, namun kelembagaan yang dibangun masih bersifat kerja sama horizontal dan terfokus pada usaha tani, belum berorientasi membangun kelembagaan kemitraan usaha agribisnis secara menyeluruh. Oleh karena itu, pengembangan SLPHT menjadi SL Agribisnis dan SIPT menjadi Sistem Integrasi Agribisnis Padi-Ternak merupakan alternatif yang lebih prospektif.

Selain upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah untuk pengembangan masyarakat (community development) adapun solusi yang diterapkan oleh perusahaan seperti PT. Medco E & P Indonesia. Berikut cuplikan berita tentang pelaksanaan community development oleh PT. Medco E & P Indonesia (sumber: http://mediacsr.com, 2011)

Untuk meningkatkan hasil pertanian/ perkebunan perlu adanya proses sistem manajemen yang mampu menggerakan sistem yang berbasis pada pengolahan tanah, tanaman, air, serta sarana pendukung lainnya. Semua bahan yang digunakan dalam pengembangan termasuk di dalamnya pupuk yang berasal dari alam (kompos), sehingga ramah lingkungan dan hasil produksinya baik untuk kesehatan manusia. Melalui program CSR perusahaan dapat memberdayakan dan mengembangkan perekonomian pertanian maupun perkebunan, sambil menyelamatkan lingkungan hidup.

Dengan metode yang dibuat oleh CSR perusahaan maka akan menumbuhkan kemandirian masyarakat dalam pengadaan pupuk organik untuk meningkatan hasil pertanian/ perkebunan. Dalam penggunaan lebih luas, akan mengurangi beban pemerintah untuk mensubsidi produk. PT. Medco E & P Indonesia perusahan menularkan pengalaman petani binaannya ke skala nasional. Program tersebut telah sejalan “ Bright & Green” yang telah dicanangkan oleh BPMIGAS beberapa waktu lalu, “Bright” tidak hanya sekadang menerangi, tetapi juga mensejahterakan masyarakat setempat dan memberi kesempatan untuk bersama-sama maju seiring dengan kemajuan bidang migas di daerah mereka masing-masing dan sedangkan “ Green” secara luas termasuk dapat menjaga lingkungan.

5.4 G Gagasan  Baru yang Ditawarkan

Berdasarkan fakta empiris dilapangan dan solusi yang pernah ditawarkan, maka upaya untuk menggati produk-produk pestisida kimiawi menjadi produk biopestisida secara organik dengan menggunakan tanaman kecubung dapat ditunjukkan melalui strategi-strategi sebagai berikut:

Tabel 1. Strategi pemanfaatan tanaman kecubung sebagai alternatif produk pestisida pengganti dari kimiawi menjadi produk yang  ramah    lingkungan dengan tanaman kecubung

 

Aspek

Strategi

Pemanfaatan produk lokal

Integrated Local Product petani padi di Indonesia dengan pendekatan produk organik.

Pemanfaatan hasil eksperimen anak bangsa untuk mengembangkan pertanian padi di Indonesia dengan pemanfaatan biopestisida tanaman kecubung.

Peranan pemerintah dalam menunjang anak bangsa untuk berkreasi dengan pemanfaatan produk lokal yang ada.

 

(sumber: hasil analisis tim, 2012)

Strategi tersebut merupakan solusi alternatif yang dapat menjawab persoalan pertanian. Strategi tersebut untuk menghindari penggunaan produk-produk kimiawi yang akan memberikan efek negatif dalam jangka panjang untuk itu solusi tersebut dimaksudkan agar para petani dapat memanfaatkan produk-produk biopestisida dengan berbahan kecubung yang ramah lingkungan.

5.5 Pi  Pihak Yang Dapat Mengimplementasikan Gagasan

Gagasan tersebut dapat terwujud apabila adanya campur tangan dari berbagai pihak seperti sebagai berikut:

Table 2: Pihak Pelaksana dan Sumber Dana

 

Pihak Pelaksana

Sumber Dana

Lembaga yang menangani keunggulan lokal dibawah pengawasan pemerintah daerah.

Dana dialokasikan dari APBD pemerintah untuk mengembangkan keunggulan lokal.

Kalangan intelektual (Perguruan tinggi)

Diperoleh dari pinjaman Bank atau lembaga keuangan bukan bank dengan bunga pinjaman   relatif rendah

LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat)

LSM mengajukkan permohonan mengenai gagasan sebagai program CSR perusahaan agar gagasan tersebut dapat di danai.

Pemerintah Pusat

APBN

 

(sumber: hasil analisis tim, 2012)

5.6 La Langkah-langkah Strategi Implementasi Gagasan

Gagasan tersebut dapat terimplementasikan dengan baik apabila adanya dukungan dari berbagai pihak seperti sebagai berikut:

1) Diadakannya penelitian akan pemanfaatan tanaman kecubung agar dapat dikembangkan.

2) Adanya campur tangan pemerintah untuk mendukung penggunaan produk-produk yang ramah lingkungan dengan mengedepankan tercapainya go green untuk mengurangi pemanasan global (global warming).

3) Peranan CSR (Corporate Social Responsibility) dalam pendistribusian dana secara jelas.

4) Adanya UU yang mengatur penemuan yang bermanfaat bagi banyak orang diatur secara tegas dalam hal pematenan penemuannya.

5) Adanya pengawasan atas produk-produk impor yang dapat membahayakan masyarakat.

6) Terjalinnya komitmen yang baik antara petani dengan pemerintah untuk menjadikan Indonesia yang mampu menerapkan swasembada beras yang selama ini digalakkan oleh pemerintah.

6. Kes Kesimpulan

6.1 In Inti Gagasan

Dalam gagasan penggunaan tanaman kecubung sebagai biopestisida pada dasarnya meliputi hal-hal pokok yaitu adanya penyuluhan secara rutin dari lembaga-lembaga terkait seperti (dinas pertanian, CSR perusahaan serta perguruan tinggi), kesadaran petani dalam penggunaan biopestisida tanaman kecubung sebagai produk substitusi produk kimiawi, dilakukannya sistem pemasaran kepada potential green consumers dan menciptakan potential market di Internasional melalui swasembada beras.

Dari inti gagasan di atas ini, kami dapat menyimpulkan bahwa ada beberapa inti gagasan, yaitu:

  • Biopestisida kecubung baik menggantikan pestisida kimiawi
  • Untuk mendukung biopestisida
  • Sosialisasi penggunaan biopestisida
  • Manfaat biopestisida
  • Bisa menjaga kelestarian lingkungan

6.2 Te Teknik Implementasi Gagasan

Langkah-langkah untuk mengimplementasikan gagasan yang berbasis pada community development petani padi dalam penggunaan biopestisida tanaman kecubung sebagai produk substitusi dari produk pestisida kimiawi:

1) Biopestisida mudah digunakan di sektor pertanian dan perkebunan produktifitas hasil pertanian.

2) Langkah awal uji coba pada daerah kecamatan Moyudan Sleman.

3) Melakukan pendekatan secara bertahap kepada tokoh masyarakat setempat sebagai awal untuk mengenalkan produk biopestisida tanaman kecubung.

4) Implementasi tingkat lebih luas regional.

5) Melakukan evaluasi secara periodik untuk mengetahui seberapa epektif program tersebut dilakukan oleh petani.

6.3 Pr Prediksi Keberhasilan Gagasan

Gagasan penggunaan biopestisida tanaman kecubung merupakan produk substitusi pestisida kimiawi yang telah jelas efek dari penggunaan produk kimiwi tersbut. Untuk itu dengan adanya kesadaran dari masing-masing pihak dapat diketahui bahwa dengan menggunakan produk biopestisida tanaman kecubung akan mengurainya untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Keberhasilan dari keseluruhan gagasan ini nantinya akan ditentukan oleh dukungan dari berbagai pihak sehingga petani mampu meningkatkan taraf hidupnya. Jika gagasan ini diterapkan secara konsisten dan professional diseluruh nusantara, maka peluang Indonesia dalam produktivitas pertanian dan perkebunan sehingga tercipta kemandirian bangsa.

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

  • Trubus. Vol. 09. Hama & Penyakit Tanama Agoes,Azwar. 2010.
  • Tanaman Obat Indonesia. Jakarta: Salemba Medika. Halaman 45 – 46

  • Mary dan Robert. 1990. Pengendalian Hama Terpadu. Yogyakarta: Kanisius.

 

6)

 

 

Share
 


Copyright by KOMAPO.