Home EKONOMI EKONOMI Orang Papua Tergantung Pada Nasi
Orang Papua Tergantung Pada Nasi
Friday, 26 April 2013 19:11

Penulis: Melkior N. N Sitokdana


Penentuan nasib sendiri (self-determination)

Seiring dengan perkembangan globalisasi telah berdampak pada segala bidang kehidupan. Dengan berjalannya waktu dampak tersebut secara langsung maupun tidak langsung dapat dirasakan oleh setiap orang didunia. Dampak dari globalisasi berpengaruh terhadap perubahan-perubahan kehidupan manusia di segala bidang misalnya dibidang politik lahirnya demokrasi, dalam bidang kesehatan penyediaan obat-obat dan fasilitas yang serba canggih, di bidang IPTEK perkembangan teknologi yang semakin canggih berdampak pada penyebaran informasi dan komunikasi antar individu dan individu, individu dan kelompok, kelompok dan kelompok, kelompok dan individu semakin cepat, tepat dan akurat tanpa mengenal batas wilayah dan waktu. Dibidang ekonomi terjadi pasar bebas sehingga berdampak pada pemenuhan kebutuhan hidup manusia baik kebutuhan primer, sekunder dan tersier. Perubahan-perubahan tersebut mempengaruhi setiap orang mau tidak mau atau suka tidak suka mengikuti pola-pola globalisasi yang terjadi, jika orang yang tidak dipengaruhi oleh dampak globalisasi akan di cap sebagai orang yang ketinggalan zaman. Salah satu dampak pada bidang ekonomi yang dirasakan di Papua adalah ketergantungan pada satu jenis bahan makanan, salah satunya adalah ketergantungan pada nasi, rata-rata masyarakat Papua tergantung pada makanan impor (nasi) dibanding mengkonsumsi makanan khas asli daerah seperti sagu, ubi jalar, ubi kayu (singkong), dan keladi. Dampak dari pola ketergantungan masyarakat pada nasi dapat dilihat pada semakin hari semakin tingginya harga beras di seluruh wilayah Papua. Harga beras disetiap daerah di Papua beragam, semua tergantung pada daya akses transportasi, daerah-daerah yang dijangkau oleh moda transportasi laut/sungai dan darat harga berasnya lebih murah dibanding daerah yang mengandalkan moda transportasi udara. Rata-rata didaerah Pegunungan Tengah harga beras tinggi karena akses transportasi hanya melalui udara kecuali daerah Paniai, Dogiyai, Deyai dan Yahukimo agak murah karena dapat dijangkau dengan transportasi darat dan sungai. Bila dibandingkan dengan Kabupaten Pegunungan Bintang yang hanya mengandalkan akses transportasi udara sehingga harga-harga beras tergolong sangat mahal di Papua bahkan di Indonesia, misalnya harga beras di ibukota kabupaten (Oksibil) 35.000 – 40.000/Kg, distrik Batom 35.000/Kg, distrik Okbi 50.000/Kg dan distrik Kiwirok 50.000/Kg. Semakin jauh dari daerah ibukota kabupaten/distrik atau daerah yang sulit dijangkau oleh transportasi udara harganya semakin mahal dan bervariasi. Harga beras semakin hari semakin tinggi karena daya beli dan ketergantungan masyarakat terhadap nasi, terlepas dari itu belum ada perda harga barang dari pemerintah di setiap daerah di Papua terutama daerah otonom baru sehingga pebisnis seenakknya menentukan harga. Di Kabupaten Pegunungan Bintang kecenderungan masyarakat tergantung pada nasi berdampak pula pada budidaya ubi jalar dan sagu. Terutama ubi jalar yang diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyang Aplim Apom (Tempat sakral orang Pegunungan Bintang) sudah hilang tertelan oleh zaman misalnya jenis ubi jalar Suku Ngalum; boneng beleng, boneng yamuyap, boneng mebo, boneng sibon, boneng pererok, dan boneng malmolki. Kemudian hutan sagu dieksploitasi demi pembangunan tanpa melakukan budidaya/ penanaman ulang secara continue. Berdasarkan pengelompokkan wilayah, makanan pokok masyarakat di Pegunungan Bintang dapat dibagi menjadi beberapa wilayah dan sub wilayah, diantaranya dari Tinibi (Barat) sampai Langda (Timur) dan Pepera (Selatan) sampai Bemta (Utara) makanan pokoknya adalah boneng (ubi jalar), sedangkan di sub wilayah utara mulai wilayah Aboy kearah utara (perbatasan Kabupaten Mamberamo dan Keerom) makanan pokoknya sagu, sub wilayah selatan mulai dari distrik Iwur ke arah selatan (perbatasan Boven Digoel) makanan pokoknya sagu. Walaupun rata-rata masyarakat di pedalaman Pegunungan Bintang masih mengkonsumsi Boneng dan Om Sero (Bahasa Ngalum)/ ubi jalar dan sagu sebagai makanan pokok sehari-hari namun tidak menutup kemungkinan seiring berjalannya waktu ketergantungan pada nasi akan terjadi, hal ini dapat dilihat dari daya beli masyarakat yang sangat tinggi walaupun harganya semakin mahal. Dengan demikian penulis berharap semua kalangan yang ada dan generasi yang akan datang harus benar-benar sadar akan warisan nenek moyang orang Papua agar kedepannya kita tidak tergantung pada produk-produk luar tetapi lebih memanfaatkan sumber daya lokal, dengan ini kita menjadi bangsa yang mempunyai harga diri dan mampu hidup tanpa tergantung pada pihak lain.

Pemanfaatan sumber daya lokal seperti sagu dan ubi jalar harus di pertahankan karena melihat potensi sumber daya yang ada sebenarnya merupakan angin segar bagi pebisnis, masyarakat dan pemerintah daerah untuk mengembangkan industri-industri rumah tangga/skala kecil, menengah bahkan skala besar, misalnya ubi jalar diolah menjadi tepung, permen, kripik, chips, snack, dan gula fruktosa. Sedangkan sagu diolah menjadi tepung, kripik dan membuat cadangan energi alternatif etanol karena pengelolahan sumber daya alam yang baik dan benar akan berdampak pada peningkatan perekonomian keluarga dan secara tidak langsung berdampak pada pendapatan daerah (PAD).

Melihat pola kehidupan orang Papua yang sangat konsumerisme alias konsumen sejati, di prediksi sekitar tahun 2040 semua orang Papua akan tergantung pada beras (nasi) sebagai makanan pokok utama, sedangkan ubi jalar dan sagu yang notabennya adalah warisan nenek moyang Papua akan dijadikan sebagai makanan pelengkap ataupun tidak dikonsumsi sama sekali (punah). Sekarang tinggal penentuan nasib sendiri (Self Determination), apakah kita tetap dan akan tergantung pada nasi?, atau mempertahankan ubi jalar dan sagu yang merupakan harga diri kita sebagai bangsa yang beradat dan bermartabat?. Lantas siapa yang akan mengembangkan/ mengelolah makanan pokok orang asli bangsa Papua? sedangkan kita sendiri sedang berlombah-lombah hidup di zona aman yaitu; mentalitas uang (kerja sedikit ingin dapat uang banyak), lebih cenderung ke dunia politik karena motivasinya uang, demi zona aman membeli ijazah palsu, terlalu aman dengan makanan instan dsb. Secara langsung maupun tidak langsung kita telah membangun sebuah paradigma yang keliru yang tentunnya secara tidak sadar telah kita menentukan nasib (Self Determination) Papua kedepan. Berharap seluruh orang Papua (Melanesia) sadar akan hal ini. Pemimpin pemerintahan di Papua harus membuat roadmap orang Papua untuk jangkah panjang kemudian melakukan program strategis yang fokus pada pengembangan dan pemanfaatan kearifan lokal, orang muda Papua yang mempunyai potensi berwirausaha harus serius mengelolah sumber daya alam yang ada, bagi para konsumen sejati orang Papua marilah kita cinta produk-produk lokal Papua yang diwariskan oleh nenek moyang kita.

Masih banyak hal perlu didiskusikan bersama, semoga melalui tulisan tak sempurna ini dapat membuka cakrawala berpikir bagi anak negri cendrawasih, penulis sangat mengharapakan kritikan dan saran demi penyempurnaan tulisan tersebut.

(Boneng adalah Harga Diriku )

Melkior N.N Sitokdana adalah Alumni Teknik Informatika Universitas Kristen Satya Wacana Jawa Tengah

Share
 


Copyright by KOMAPO.