Home EKONOMI EKONOMI MEA PELUANG ATAU ANCAMAN BAGI PAPUA
MEA PELUANG ATAU ANCAMAN BAGI PAPUA
Friday, 05 December 2014 15:40

Penulis: Ishak Bofra

Ekonomi Politik ibarat musuh dan kawan dalam percaturan peradaban di berbagai negara bangsa dewasa ini, tidak mengherankan ketika  politik berselingkuh dengan ekonomi maka anak haram yang dihasilkan akan mewujud menjadi ketidakadialan ,keseremautan, kemelaratan, kelaparan, kemiskinan, dan tidak memiliki akses untuk menunjang setiap aktivitas  individu, bangsa, negara untuk menampakan otonomi mereka sebagai manusia yang harus di hargai dan diberi ruang untuk berkembang tetapi itu dibungkan dalam akumulasi kepentingan personal, kelompok, bahkan negara yang ikut untuk melegalkan  ketidakadialan tersebut.

Pertanyaanya kemudian adalah mungkinkan itu akan  terjadi pada Masyarakat Economic Asean ( MEA ) ataukah tidak? Kita akan melihat ke depan bagaimana dinamikanya. Masyarakat Economic Asean  yang pada awalnya akan di terapkan pada tahun 2020, tetapi melihat dinamika perekonomian Cina dan India yang mempunyai pertumbuhan ekonomi yang  menunjukan treen positif dan menjadi pesaing utama Amerika. Sehingga dalam pertemuan  Aseean cebu filipinan pada 2007 dan pertemuan Asean charter 2008 oleh pimpinan Asean telah  disepakati untuk di percepat menjadi  tahun 2015.

Memperkuat hubungan intergrasi antara anggota negara asean dengan tiga vision yaitu Asean Economy Comunity, Asean social cultural Comunity, Asean security Community. Ini adalah tiga pilar yang akan menjadi agenda utama bagi negara anggota ASEAN untuk di jalankan bersama dengan menghilangkan segala hambatan yang menghambat proses integrasi MEA tersebut.

Pada prinsipnya distibribusi tenaga kerja akan bebas memasuki Indonesia tanpa ada hambatan begitupun pada sektor lain. Namun hingga hari ini melihat dinamika yang berkembang antara pesimisme dan optimisme dalam memandang MEA yang sudah di depan mata  yaitu janurai 2015 akan mulai bergulir. Masing-masing negara anggota ASEAN sudah mulai menyiapakan amunisis untuk merebut pasar ASEAN dan memperkuat basic domestik agar siap menghadapi pasar bebas ASEAN.

Meminjam pemikiran tokoh liberal David Ricarido tentang ‘’comparative advantage’’ yaitu dengan memperhatikan sturktur produksi masing-masing, ekonomi setiap negara harus bersepsialisasi dalam memproduksi barang-barang yang memiliki nilai keunggulan komparatif paling tinggi di banding dengan barang yang di produksi rekaan dagangnya yaitu negara ASEAN lain.

Proses spesialisasi ini juga berkaitan dengan tenaga kerja yang memiliki keunggulan untuk terserap di pasar tenaga kerja, ketika tidak memilik keunggulan maka akan terserap di sektor informal. Hal ini akan menjadi ancaman yang luar biasa ketika kita belum mampu untuk bersepialisasi baik pada sektor produksi yang memilik keunggulan. Indusri dalam negeri akan kalah dalam persaingan, walaupun ini adalah bentuk kerjasama tetapi tidak bisa naif. Sebab persaingan untuk memperebutkan pengaruh di lingkungan ASEAN untuk menjadi yang terbaik dalam  menguasai ekonomi ASEAN. Mengikuti pola liberal dimana peran negara akan di perkecil semua mengkuti naluri pasar.


Bagaimana Dengan Papua Siapkan Mengahadapi MEA

Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) ini menjadi agenda Negara yang tergabung dalam forum integrasi Aseaan  maka Papua yang notabene terletak di bagian timur Indonesia juga akan mengalami dampak dari Integrasi ASEAN, sehingga menjadi ancaman tersendiri bagi Papua. Ketika sarana dan prasarana belum disiapkan dengan baik dan masih mengalami hambatan dalam menyongsong MEA yang akan berjalan tahun besok, maka ancaman yang lebih besar dari peluang. Kareran berbagai sektor potensial yang menjadi fokus MEA seperti belum ada SDM yang handal untuk mampu merebut pasar Asean.

MEA melihat dari sudut pandang kepentingan ekonomi politik Papua   seperti terjebak dalam  suatu proses rekayasa pemaksanaan yang dilaksanakan untuk mengantungkan kehidupan bangsa Papua pada ketergantungan yang sangat mengerikan. Melihat kembali sejarah Papua yang kala itu bernama Irian Jaya dijadikan objek investasi perusahaan-perusahaan besar pasca UU penanaman modal 1967 yang di keluarkan oleh soeharto sehingga lahirlah Freport Indonesia.

Berbagai eskploitasi  sektor sumber daya alam di Papua dan rakyat di bawah ancamana yang luar biasa kerena berada di bawah penekanan militer, sehingga selama 32 tahun kehidupan rakyat terhambat di segala sektor kehidupan. Sebenarnya ini merupakan suatu bentuk perekayasaan atas kehidupan bangsa Papua untuk di hambat perkembanganya. Mulai dari akses pendidikan yang sangat terbatas, akses kesehatan yang buruk, pembangunan yang tidak adil, pelayanan pemerintahan yang dikuasai oleh militer mengakibatkan hak rakyat untuk mengakses segala kehidupan yang baik menjadi tidak ada.

Ketika reformasi digulirkan karena atas tuntutan rakyat Papua yang semakin massif untuk menuntuk kemerdekaan sehingga melahirkan otonomi khusus, ini adalah anak haram yang dilahirkan oleh kompromi politik antara Indonesia dengan beberapa tokoh Papua. Namun nasib anak haram itu kini tidak jelas peruntuannya untuk siapa?  Rakyat tetap miskin dan melarat.

Merut data kompas (28/11/2014) jejak kemiskinan Papua dan Papua Barat sangat memperihatinkan. Kemudian muncul pertanyaan adalah alokasi otsus yang  pada 2015 meningkat  mencapai 50 Triliun itu di kemankanan? Berarti menjawab tuntutan  rakyat Papua bahwa otsus gagal, rakyat tidak memperoleh peningkatan taraf kehidupan yang lebih baik. Kemudian apa relevansinya bagi kesiapan Papua dan papua barat dalam menyongsong MEA 2015? Saya pikir benang merahnya ketemu keterkaitan dengan infrastruktur dan suprastruktur akan berpengaruh pada kesiapan Papua dalam menyongsong MEA 2015.

MEA 2015 tinggal sebulan lagi akan bergulir di hadapan kita, siap atau tidak kita harus menjalankanya karena itu merupakan agenda ekonomi politik sesama anggota negara Asean yang memaksa kita disaat kita tidak mempunyai pilihan untuk mempersiapkan segala hal terkait dengan MEA 2015. Papua akan dihadapkan pada dilema baik dari sisi ekonomi maupun sosial budaya. Bagi saya bisa menjadi predator  lapar yang siap memangsa segala mahluk lemah yang tidak berdaya.


Dari Sisi Asean Economic Comunity ( AEC )

AEC adalah integrasi pada sektor ekonomi. Berbicara tentang ekonomi berati berkaitan dengan akumulasi modal, eksploitasi SDA, masuk keluarnya tenaga kerja, persaingan pada bidang usaha, investasi asing. Beragam indikator ini menjadi isu yang selalu menghiasai perdagangan internasional, ataupun intgrasi ekonomi antara berbagai kawasan yang secara geografis saling berdekatan salah satunya adalah MEA 2015.

Sumber daya manusia (SDM) sebagai garda terdepan dalam memperkuat dan menopang suatu daerah dalam mengejar ketertinggalan. Papua membutuhkan SDM yang harus mnenjadi motor pendonbrak dalam elemen kehidupan manusia Papua agar mengangkat kehidupan rakyat Papua ke taraf yang lebih baik lagi. Bukan intelektual yang menjual Papua dan menjadi budak kapitalisme untuk menginjak harkat dan martabat Papua.

Lepaskan keselamatan pribadi, Papua butuhkan keselamatan bersama untuk menuju terang fajar yang cerah bersama. Sehinga ini akan menjadi kekuatan bagi intelektual Papua untuk bisa bersaing dengan beberapa negara anggota ASEAN, bersaing pada level domestik. Persaingan pada MEA akan sanggat berat, kita hadapkan pada beberapa negara anggota ASEAN yang secara sofskill bisa dikatakan di atas rata-rata diantara singapura, filipina, malayasia dan lainya. Tantangan sekaligus bahan refleksi bagi Mahasiswa dan generasi muda Papua ke depan agar sedini mungkin memperkuat potensi, kelak bisa ikut ambil bagian pada percaturan MEA agar tidak menjadi penonton dan menjadi budak di atas tanahnya sendiri.

Perlu garis bawahi MEA tidak ada tuan di atas negeri sendiri semua mempunyai peluang yang sama karena itu merupakan inti dari bebas hambatan yang sudah di canamkan lewat perjanjian untuk menuju MEA. Pemerintah pronvinsi Papua harus memperkuat SDM baik berupa pemberian Beasiswa maupun peningkatan pelatihan pada BLK atau bahasa asing sebagai persiapan untuk dapat bersaing. Kalau pemerintah sibuk sendiri dan melupakan fondasi sumber daya manusia Papua maka kita akan serahkan nasib untuk di tindas, semoga itu tidak terjadi.


Arus Modal Dan Eksploitasi SDA

Papua dikenal sangat kaya  kata  kaum kapitalis tetapi kata kaum sosialis kehidupan rakyat Papua sungguh memperihatinkan karena termarjinalkan dan termiskinkan di atas kekayaanya. Arus modal yang masuk untuk proses investasi di tanah Papua cukup besar ada Freeport, BP, perusaan kayu, ikan, timah, nikel, dan lainnya. Tetapi apa feetback bagi peningkatan kesejahteraan rakyat Papua sangat minim.

Oleh karena itu, besar harapannya kepada pemerintah untuk dapat memanfatkan proses investasi untuk peningkatkan kehidupan rakyat Papua. MEA 2015 kemungkinan besar arus modal yang akan ditanamkan di Papua sanggat besar sehingga di sini harus ada regulasi yang ketat agar tidak meninggalkan kemiskinan bagi Papua dan membawa akumulasi keuntungan keluar, tetapi harus mampu ada perubahan yang positif bagi rakyat Papua yang memiliki hak ulayat.

Pemikiran St.Thomas Aquinas tentang distribusi yang berkeadialan sehingga sudah selajaknya perusahan-perusahaan harus membagi pendapatanya bagi rakyat dalam rangka peningkatanya dan penguatan kesejahteraan rakyat Papua pemilik tanah. ini butuh control ketat dari seluruh pemangku kepentingan karena pemerintah biasa bermain mata untuk akumulasi keuntungan pribadi, kelompok, melupakan rakyatnya ini adalah karakter penghisap dan menindas. Pemerintah harus pro pada kepentingan rakyat karena selama rakyat belum sejahtera berarti kalian gagal.


Pengusaha Lokal

Pengusaha lokal  juga menjadi sasaran, akan dihadapkan pada persaingan dengan pengusaha dari luar secara modal bisa dikatakan mapan karena didukung oleh negaranya atau NGO _nya. Pengusaha lokal Papua harus sudah mulai meninggalkan tradisi lama yang selalu mengantungkan nasib atas belaskasihan pemerintah daerah untuk memberi proyek tetapi mentalitas menjadi pengusaha itu harus diperkuat manajerial yang lebih baik, akuntansi/pembukuan yang lebih berorientasi bisnis, dan juga leadership manajerial yang mumpuni agar bisa mampu untuk memanfatkan peluang yang akan datang. Tanpa itu maka kemungkinan besar pengusaha pribumi/lokal akan mengalami kesulitan untuk bersaing dengan pengusaha dari luar. Baik dari tingakat Domestik Indonesia maupun pengusaha dari Negara Anggota Asean.


UMKM

Usahan Mikro kecil menengah adalah basis perekonomian rakyat yang harus mulai diperkuatkan untuk mampu memperebutkan pasar tunggal Asean, disinilah nadir perekonomian rakyat di pertaruhkan, jangan sampai UMKM akan mengalami distorsi atau tidak siap dalam mengahadapi MEA. Secara manajemen UMKM memang beberapa negara ASEAN lebih baik dalam manajemen sehingga kuat dan tersruktur dengan baik.

UMKM ini harus di hidupkan agar survival dalam menyongsong MEA. Papua mempunyai ciri khas yang bisa di kelola dengan baik dan akan menjadi nilai komoditi yang bisa menjadi keunggulan untuk di eskport atau di jual di luar. seperti buah merah, rotan, batik Papua, ataupun anak panah ukiran yang mempunyai nilai keindahan luar biasa. Jangan sampai komoditas yang ada di Papua akan di ambil oleh singapura, malaysia untuk diolah lalu di jual kembali ke Papua, berarti pada sisi ini kita sudah mengalami kekalahan dalam persaingan memperebutkan pasar. Pemerintah harus sudah memikirkan scenario agar menopang UMKM agar tetap survival dalam percaturan MEA. Sangat disayangkan ketika orang malayasia jual pinang di Papua.

Dalam konsep Asean Economic Community ketika mengikuti naluri pasar yang di cetuskan oleh Adam Smith dan David Ricardo dengan argumen bahwa Negara sebaiknya jangan mencampuri transaksi ekonomi yang melintas batas nasional.  MEA adalah perwujudan dari prinsip Liberal sehingga persaingan yang akan berlaku, karena yang dikejar adalah laba, profit, dan akumulasi modal. Ancaman besar ketika dihadapkan pada ketidaksiapan, maka Papua akan berada di bawah bayang-bayang  kegelapan kehancuran.

Semoga itu tidak terjadi Papua harus bangkit untuk mempertahankan kekayaan Alamnya dengan perkuat regulasi PERDA dengan berpatok pada UU Otsus dan juga memperkuat SDM Papua sekarang juga agar jangan terjebak pada politik tanpa arah yang menjebak kehancuran karena kemiskinan Papua merujuk pada data statistic 2013. Tingkat kemiskinan Papua dan Papua Barat sungguh memperihatinkan jangan sampai kemiskinan ini akan menjadi mengurita ketika MEA bergulir.


Daftar pustaka:

Mas’oed, Mohtar.1990. Ekonomi Politik Internasional.pusat pengembangan fasilitas bersama antar Universitas ( Bank Dunia XVII Universitas Gadjah Mada.Yogyakarta.

Kompas, 28 2014. edisi khusus MEA.

Panggestu,Elka,Maria.2014.kesiapan Indonesia Asean Economic Community 2015,di bidang pariwisata dan ekonomi Kreatif.di sampaikan pada Munas HILDIKTIPARI.


 

Penulis Adalah Mahasiswa Papua, Kuliah Di Yogyakarta

Share
 


Copyright by KOMAPO.