Home EKONOMI EKONOMI PAPUA SURGA YANG HILANG
PAPUA SURGA YANG HILANG
Friday, 29 August 2014 04:10


Penulis: Ishak Bofra


Surga secara teologial adalah kehidupan akhiran yang baik oleh karena itu kehidupan di bumi harus di jalankan sesuai dengan perintah dan ajaran Tuhan, dan tidak terlepas. Esensi surga adalah ketika manusia tidak di korbankan oleh kepentingan segelintir orang untuk mengeruk kekayaan bagi individu, kelompok, Negara untuk kemakmuran dan kesejanteraan mereka. Tetapi rakyat kecil dikorbankan untuk menanggung semua penderitaan hidup ini. Namun pada konteks ini saya tidak membicarakan surga karena itu adalah wewenang rohaniwan baik pendeta/pastor dan haji.

Secara teologi surga adalah urusan manusia dengan Tuhan. Tetapi yang akan coba kita lihat bersama adalah bahwasanya ada suatu bangsa yang kehidupan_nya dirusak oleh komprador kapitalisme berselingkuh dengan rezim Negara Indonesia untuk mengahancurkan surga di tanah Papua.

Surga menurut pandangan saya adalah alam papua karena kehidupan rakyat papua diberikan oleh Alam, sehingga rakyat Papua sangat menghargai alam. Alam menyediakan makanan bagi rakyat Papua yaitu babi, burung, ikan di kali, soa-soa, tikus hutan, buaya, kus-kus, rusa. Ini semua disediakan bagi rakyat Papua.

 

Hutan di Papua disediakan untuk masyarakat bercocok tanam dengan berbagai jenis umbian-umbian seperti singkong, ubi jalar, keledai, sagu yang tersedia di hutan. Begitupulah alam menyediakan berbagai jenis sayuran seperti pakis, genemo, gedi, jamur di kayu, Gohi.

Alam Papua juga menyediakan air untuk minum lebih sejuk dan segar dari air aqua yang menjadi komoditi hari ini, ketika membuat huniah/Rumah alam telah menyediakan kayu, rotan, pelepa sagu atau alang-alang, rotan, dalam dunia kesehatan masyarakat papua sudah mempunyai ramuan-ramuan tradisional untuk mengobati penyakit dan khasiatnya sangat baik karena menyembuhkan secara total penyakit.

Semua ini adalah anugerah secara alamih disediakan oleh alam Papua untuk kebutuhan dan kelangsungan hidup rakyat Papua. Alam juga merupakan symbol pertemuan antara orang papua dengan Tuhan. Namun Ilmu modern Antropologi mengangap itu animisme atau penyembahan berhala. Namun itu keliru karena pada prinsip _nya penyembahan tersebut sudah dilakukan secara turun-temurun dan diyakini bahwa dengan cara tersebut orang papua bisa berkomunikasi langsung dengan Tuhan.

Pada saat ini, isitilah modern Tuhan ala papua seperti salah satu contoh di Kabupaten tambrauw, tradisi masyarakat suku Karoon untuk melakukan komunikasi dengan Tuhan yaitu di totor, tempat yang disakralkan ( suci ) bagi suku Karoon. Dalam Gereja Katolik ada Goa yang ada patung Yesus dan Bunda Maria untuk berdoa. Hal itu sudah dikenal masyarakat Karoon pada dahulukala. Sebenarnya esensi_nya sama yaitu berdoa dan berkomunikasi dengan Tuhan sebagai ucapaan syukur, baik itu kelangsungan hasil panen, mohon perlindungan, atau berkat dalam berburu agar bisa memperoleh hasil berburu untuk dimakan bersama masyarakat.

Pada masa tersebut orang Papua hidup masih dalam berkelompok. Ini semua bagi masyarakat Papua adalah surga dimana segala sesuatu di lakukan secara bersama untuk kebutuhan dan keperluan bersama baik untuk makan, minum, bayar maskawin, buka kebun, bangun rumah, dengan maksud untuk memperkuat kebersamaan dan kesatuan sebagai satu keluarga. Bagi masyarakat Papua kita adalah mahluk sosial yang perlu untuk berinteraksi dan saling melengkapi. Saya pikir Ilmu sosiologi modern pada dahulu kala sudah dipraktekan oleh masyarakat Papua, walaupun tanpa panduan teori namun itu alamiah beriringan bersama perjalan kehidupan masyarakat Papua.

Bayang_bayang setan

Dalam alkitab perjanjian lama kita kenal manusia pertama Adam dan Hawa. Hidup tanpa kekurangan karena semua sudah disediakan oleh Allah, namun karena bujuk rayu setan akhirnya manusai pertama jatuh dalam dosa dan surga yang indah itu hilang dengan sendirinya. Ini sebagai suatu perbandingan dalam kehidupan masyarakat Papua. Dahulu kalla walaupun tidak relevan namun saya pikir dalam beberapa hal-hal bisa menjadi tolak ukur. Kalau merujut pada beberapa data, sekitar Abad XVIII_XIX bayang-bayang setan sudah mulai bergentayangan di tanah Papua, walaupun setan itu ada yang berbulu domba namun berhati harimau.

Ketika orang Eropa yang menjelma menjadi beberapa sel-sel yang berbeda namun mempunyai jaringan yang satu yaitu untuk kepentingan ekonomi dan politik. Mereka hadir sebagai peneliti, ada yang hadir sebagai pemberi kabar keselamatan yaitu Misi katolik dan Kristen, walaupun tidak menafikan bahwa mereka mempunyai jasa untuk membawa suatu perubahan bagi orang Papua. Namun seperti kata kebanyakan orang tidak ada makan siang yang Gratis pasti ada agenda terselubung yang mungkin kita tidak ketahui, namun itu menjadi kenyataan hari ini dimana segala sisi kehidupan orang Papua berada diambang kehancuran dalam segala segi kehidupan.


Abad XIX

Pada abad ke_19 semakin massif misionaris dan Kristen mewahjukan keselamatan di tanah Papua. Menyebarkan ajaran Katolik dan Kristen atau agama Modern mulai dari pesisir pantai, lembah sampai di pedalaman-pedalaman. Agama modern mulai disebarkan dan ditanamkan di benak masyarakat Papua sehingga perlahan-perlahan rakyat Papua mulai meninggalkan agama tradisionalnya karena itu menurut mereka adalah penyembahan berhala (memuji dan menyembah setan). Namun tanpa disadari masyarakat Papua sudah mulai dijauhkan dari Alam_nya. Sehingga alam dijadikan sebagai sarana komoditi.

Pada abad 19 _an di dunia sedang terjadi gejolak perang dunia ke_II. Tujuan utamanya adalah ekpansi daerah koloni, baik yang baru maupun mengusir Negara yang telah menguasai daerah koloni. Hal tersebut dialami oleh Indonesia selama 3,5 Abad dikuasai oleh Belanda guna memerkuat ekonomi kerajaan Belanda. Akibat perang tersebut, Belanda mengalami kekalahan dan mundur dan menyerahkan Indonesia kepada Jepang yang tergabung dalam kelompok fasisme bersama Italia dan Jerman yang merebutkan daerah jajahan untuk ekspansi ekonomi.

Namun, Jepang hanya singgah sementara di Indonesia yaitu sekitar 3,5 tahun ketika Hiroshima dan Nagasakti dijatuhi bom Atom. Maka jepang bertekuk lutut kepada sekutu yang di pimpin oleh AS. Memanfatkan kekalahan jepang, Ir.soekarno memproklamirkan kemederkaan Indonesia 17 Agustus 1945 ( 69 tahun yang lalu ) namun kemerdekaan itu tidak berjalan dengan mulus karena masih ada kontradiksi (pertetangan ) dengan Belanda yang masih menginginkan Indonesia yang secara SDA menguntungkan secara ekonomi.

Perpolitikan pasca selesai perang dunia ke_II, dimanfatkan secara pintar oleh Ir.soekarno dimana dunia sedang terjadi perang Ideologi yang memanas antara kelompok Barat yang dipimpin oleh AS vs kelompok Timur dipimpin oleh Uni Soviet. Ir.Soekarno untuk kepentingan mengamankan kemerdekaan Indonesia dan perebutan wilayalah Papua menjadi bagian dari Indonesia. Negosiasi ekonomi di tanah Papua maka dengan sendirinya Belanda harus mengakui kemerdekaan Indonesia.

Papua harus diserahkan kepada Indonesia dengan proses pepera yang penuh dengan manipulasi, rekayasa, intimidasi, dan penuh dengan kebohongan belaka yang mengorbankan nasib rakyat papua. Belanda takluk akan dominasi AS yang pada akhirnya perusahaan dari AS tersebut memperoleh hak usaha atas PT.Frepoor Indonesia di Timika, Papua.

Indonesia memberikan hadia kepada AS berupa Frepoort karena sudah memainkan dominasinya Papua masuk menjadi bagian dari Indonesia di dunia Internasional. Seperti memaksa Belanda untuk mundur dan menyerahkan Papua kepada Indonesia. AS memainkan perananan di PBB untuk memperkuat Indonesia untuk menganeksi Papua agar masuk menjadi bagian dari Indonesia, walaupun tanpa disadari akibat dari kepentingan ekonomi dan politik tersebut bangsa Papua mengalami masa depan yang suram di atas negerinya sendiri.


1969-2000 surga papua dihancurkan

Sejarah telah membuktikan bahwa Indonesia ketika menganeksasi Papua menjadi bagian dari Indonesia, tidak sesuai dengan prosedur penuh dengan kecurangan dalam proses pepera. Sehingga menjadi kontradiksi sampai hari ini, dimana perlawanan massif dilakukan demi memperjuangkan kembali Papua yang sudah final secara de fakto merdeka.

Proses pepera penuh dengan kecurangan mengakibatkan Papua mengalami penindasan disegala kehidupan. Hal ini awal kehancuran Papua, pada tahun 1965 lahir UU penanaman modal asing. Maka lahirlah PT.Frepoort Indonesia, dalam perjalanannya ekplorasi, operasi, produksi menghancurkan tatanan kehidupan Masyarakat Agimuga dan Kamoro sebagai pemilik hak ulayat di sekitar area beroperasinya PT.Frepoort Indonesia.

Perusahaan minyak di daerah sorong yang merusak lingkungan di sorong. Pemburu gaharu di merauke di sertai dengan pengiriman PSK yang sudah 100% terjangkit penyakit Hiv/Aids ini menghancam kehidupan rakyat papua di masa depan.

Ilegal logging dilakukan secara massif di tanah Papua menyebabkan kehancurkan ekositem hutan Papua dan tempat-tempat sacral. Paling mengerikan lagi adalah pencurian tanah rakyat secara besar-besaran untuk keperluan transmigrasi sekitar tahun 1980-1990 massif dilakukan dari sorong sampai merauke. Kalau diperhatikan, tanah di Papua semua bertuan tidak ada tanah yang tidak bertuan. Dimana hak ulayat tanah, yang mengikuti garis keturunan marga sehingga sanggat mengerikan sekali ketika tanah yang merupakan alat produksi untuk kebutuhan hidup rakyat Papua di rampas secara brutal oleh Negara untuk kepentingan transmigrasi.

Perusahan Gas LNG di tanggul Bintuni yang masih dalam tahap eksplorasi ini juga ke depan akan mengancam eksistensi kehidupan rakyat Papua. Alam akan hancur karena watak kapitalisme adalah akumulasi dan akumulasi keuntungan maka secara logika rakyat akan tetap miskin seperti nasib suku Agimuga dan Kamoro di Timika.

Manipulasi pembelian tanah di merauke untuk program Merauke Integrated Food and Energy Estate ( MIFEE ) mengancam kehidupan lokal rakyat Papua. Alam akan hancur akibat perusakan hutan untuk kebutuhan proyek MIFEE. Kekerasan terhadap kehidupan rakyat Papua dilakukan oleh Negara yaitu penculikan, pemerkosaan, pembunuhan terhadap rakyat Papua gencar di praktekan. Selama hamper 32 tahun semasa orde baru merampas hak hidup rakyat Papua di atas negerinya sendiri sehingga menimbulkan penderitaan bagi rakyat Papua sampai hari ini.

Tidak berhenti, tetapi terus di lakukan perampasan terhadap tanah rakyat Papua untuk penanaman kelapa sawit guna keperluan ekspor namu kelap sawit akan merusak hutan, membuat tanah menjadi tidak produktif lagi untuk jangka panjang illegal fishing juga terjadi di laut Papua. Hal ini mengakibatkan ekositem habitat laut hancur karena penangkapan dilakukan dengan tidak memperhatikan masa depan ekosistem laut.


Paruh 2000_An

Kompromi politik antara Papua dengan Indonesia akhirya melahirkan produk UU 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua, dengan jargon saatnya orang Papua menjadi tuan di negeri sendiri. Namun itu slogan yang sering dikatakan oleh kelompok oportunis yang memanfatkan kesempatan untuk menjadi penguasa yang tidak jelas orientasi untuk rakyat papua. Sehingga yang ada hanya kemiskinan belaka. Akibat dari statemen saatnya orang Papua menjadi tuan di negeri sendiri membuat orang Papua terlalu ekslusif seperti tempurung yang terkurung di bawah alam kebodohan yang menutup diri untuk sesama orang Papua.

Membuka diri untuk imigrasi gelap di Papua yang kelak menguasi sektor kehidupan di Papua dan kembali menjajah orang Papua ini adalah potret buram yang harus kita mencoba untuk mengevaluasi. Bahwasanya siapa saudara, siapa musuh, harus clear agar penjajahan di Papua tidak merajalela seperti hari ini. Fakta sudah membuktikan di seantero Papua. Kemudian, akan muncul pertanyaa mengapa kita terlalu bodoh memberi ruang kepada penjajah, penindas dan menutup pintu kepada saudara kita sesama orang Papua? Hal ini adalah kehancuran yang memang sudah di agendakan oleh Negara untuk menjauhkan semangat persudaran dan kebersamaan kita sebagai orang Papua yang katanya hitam kulit, keriting rambut jangan sampai kondisi demikian menghancurkan kita, kalau pandangan ini tidak diakhiri sekarang masa depan papua berada dipersimpangan jalan antara hidup atau punah, tergantung sikap kritis kita dewasa ini.


Penulis Adalah Mahasiswa Papua, Kuliah di Yogyakarta

Editor: Fransiskus Kasipmabin

 

Share
 


Copyright by KOMAPO.