Home EKONOMI EKONOMI HEGEMONI BANGSA KOLONIAL ATAS PAPUA
HEGEMONI BANGSA KOLONIAL ATAS PAPUA
Saturday, 07 September 2013 13:29

Penulis: Fransiskus Kasipmabin

“Suatu saat nanti cepat atau lambat seluruh kota di papua didominasi oleh kaum kolonialis”

Sebelum saya mengutarakan hegemoni bangsa Kolonial terhadap segala bidang kehidupan (Ekonomi, Politik, Sosial Budaya, Pendidikan, Hukum) atas bangsa Papua Barat, mari kita mengenal lebih dahulu apa itu hegemoni dan bagaimana perkembangannya. Hegemoni berasal dari Bahasa Yunani yaitu ‘eugemonia’. Sebagaimana yang dikemukakan encylclopedia Britanica dalam prakteknya di Yunani, diterapkan untuk menunjukkan dominasi posisi yang diklaim oleh negara-negara kota (polism atau citystates) secaara individual misalnya yang dilakukan opleh negara Athena dan Sparta terhadap negara-negara lain yang sejajar (Hendarto, 1993:73).

Adapun teori hegemoni yang dicetuskan Gramsci adalah Sebuah pandangan hidup dan cara berpikir yang dominan, yang di dalamnya sebuah konsep tentang kenyataan disebarluaskan dalam masyarakat baik secara institusional maupun perorangan; (ideologi) mendiktekan seluruh cita rasa, kebiasaan moral, prinsip-prinsip religius dan politik, serta seluruh hubungan-hubungan sosial, khususnya dalam makna intelektual dan moral.

Berdasarkan pemikiran Gramsci tersebut dapat dijelaskan bahwa hegemoni merupakan suatu kekuasaan atau dominasi atas nilai-nilai kehidupan, norma, maupun kebudayaan sekelompok masyarakat yang akhirnya berubah menjadi doktrin terhadap kelompok masyarakat lainnya dimana kelompok yang didominasi tersebut secara sadar mengikutinya. Kelompok yang didominasi oleh kelompok lain (penguasa) tidak merasa ditindas dan merasa itu sebagai hal yang seharusnya terjadi.

Konsep hegemoni banyak digunakan oleh sosiolog untuk menjelaskan fenomena terjadinya usaha untuk mempertahankan kekuasaan oleh pihak penguasa. Penguasa disini memiliki arti luas, tidak hanya terbatas pada penguasa negara (pemerintah). Hegemoni bisa didefinisikan sebagai: dominasi oleh satu kelompok terhadap kelompok lainnya, dengan atau tanpa ancaman kekerasan, sehingga ide-ide yang didiktekan oleh kelompok dominan terhadap kelompok yang didominasi diterima sebagai sesuatu yang wajar (common sense).

Melihat secara keseluruhan hegemoni para kolonialis atas bumi Papua mulai diberlakukan pada masa penjajahan belanda sampai saat ini Indonesia. Belanda (baca: Eropa) dengan budayanya mempengaruhi orang asli Papua untuk memahami, menghayati dan menyebarkan pandangan (ideologi) mereka ke seluruh pelosok tanah Papua. Bangsa eropa pada masa itu mempunyai tiga misi untuk menguasai dunia yaitu penjajahan, ekonomi, mengajarkan ajaran agama.

Berkaitan dengan tiga misi itu, yang paling populer sepanjang zaman adalah mengajarkan ajaran Agama (Kristen maupun Katolik). Penyebaran Ideologi (agama) di papua, menyadarkan masyarakat pribumi. Ini meruapakan tradisi atau kebiasaan orang Eropa, menyebarkan ke seluruh dunia. Dampak dari penyebaran agama di papua, bias mengenal dunia luar. Selain itu, kebiasaan masyarakat setempat menghilangkan atau membakar budaya (terutama membakar rumah adat sebagai tempat doa kepada Allah orang Papua di setiap suku atas kepercayaannya).

Misalnya masuknya agama Kristen (Gereja Gidi) masuk di wilayah Barat Pegunungan Bintang (wilayah Suku Ketengban) membawa dampak yang sangat signifikan. Para misionaris di wilayah tersebut dengan mudah mempengauhi dan mengajarkan ajaran agama Kristen di kalangan masyarakt pada waktu itu. Dengan demikian masyarakat di wilayah ketengban sampai pada sebagian wilayah timur membakar rumah adat dan segala isinya, serta hasil bumi yang tersimpan didalamnya dibakar. Pada hal, kita meninjau kembali kebiasaan orang Ketengban dan Ngalum pada umumnya memilki kesamaan atau kemiripan seperti sembah dan berdoa kepada Tuhan. Kasus ini merupakan salah satu contoh para kolonia, orang barat menguasai dunia.

Sedangkan bangsa Indonesia mulai ekpansi ke tanah Papua, setelah Papua barat, (waktu itu Irian Barat) dirampas paksa oleh Indonesia. Bangsa Indonesia menguasai bangsa papua Barat melalui berbagai cara (termasuk 2000 relawan yang diturunkan ke daratan Papua, transmigrasi besar besaran di Papua, penumpang gelap, serta mengangkut kapal dengan alasan bekerja di Papua ). Kehadiran mereka di Papua membawa dampak yang sangat berarti bagi mereka.

Bidang ekonomi misalnya orang AMBER menguasai sektor ini. Kehadiran mereka di Papua mencari keuntungan, bukan memberdayakan masyarakat setempat. Kedudukan orang bugis, Madura, Jawa, Maksar, Batak , Toraja, Kei dan daerah lain Indonesia di Papua, menjadi catatan sejarah bermula. Sektor ekonomi dikuasai oleh AMBER, warung makan Padang misalnya menguasai pasar Indonesia termasuk Papua. Mental wirausaha orang papua di patahkan dengan berbagai tawaran murah. Pengusaha orang asli Papua sampai sekarang ini belum juga muncul. Kios-kios bertebaran di mana mana, penjaga warung makan dan kios pun bertebaran di mana mana. Sebuah konspirasi menguasai bumi papua.

Bidang politik, sistem diatur dan disetir oleh pusat, berbagai regulasi dibuat oleh pemerintah pusat. Kebijakan Otsus, UP4B, Otsus Plus sampai pada UU pemerintahaan. Semua ini diuat oleh pemerintah pusat dan melibatkan oknum oknum tertentu yang tentunya mengerjakan proyek tersebut. Persengkongkolan antara pemerintah pusat dan pejabat daerah demi menguasai, mengeruk kekayaan, menjajah rakyat, begitu pula bidang- bidang lain. Inilah potret buram hegemoni kaum klonialis-borjuis untuk atas wilayah Papua.

Fransiskus Kasipmabin, Mahasiswa Papua Kuliah Di Yogyakarta

Share
 


Copyright by KOMAPO.