Home BUDAYA BUDAYA DAMPAK PERGAULAN BEBAS BAGI REMAJA DI KABUPATEN PEGUNUNGAN BINTANG
DAMPAK PERGAULAN BEBAS BAGI REMAJA DI KABUPATEN PEGUNUNGAN BINTANG
BUDAYA
Sunday, 16 February 2014 16:02

Penulis: Salmon Kasipmabin

Remaja adalah masa peralian dari kanak-kanak menjadi dewasa. Kebanyakan para ahli bersependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia antara 13 tahun sampai 18 tahun. Seorang remaja sudah tidak lagi di katakan kanak-kanak tetapi masih belum cukup matang untuk di katakana dewasa. Mereka sedang mencari pola hidup yang paling sesuai baginya inipun sering di lakukan melalui metode coba-coba walaupun melalui banyak kesalahan. Kesalahan ini sering menimbulkan kekuatiran serta perasaan yang tidak menyenangkan bagi kehidupan lingkungan dan keluarga/orang tuanya seperti terkutip dalam (http://rienodjokam.blogspot.com/).

Jaman dauluh masyarakat Pegunungan Bintang atau remaja pegunungan Bintang jarang sekali mengenal istilah pergaulan bebas remaja. Walaupun tetap saja akan terjadi tahap perahlian mereka (remaja jaman dauluh) tetap di lindungi oleh nilai-nilai budaya setempat sehingga masyarakat atau lingkungan dan orng tuanya tidak pernah merasa kuatir serta perasaan buruk sangka untuk anak-anaknya. Sangat berbeda dengan remaja sekarang, dengan seiringnya perkembangan jaman perahlian budayapun terjadi di kalangan masayarakat dan kehidupan social di Kabupaten Pegunungan Bintang. Dalam perahlian budaya dari luar akan terjadi kekuatiran dan prasangka buruk yang bertubi-tubi bagi orang tua remaja dan lingkungan masyarakat setempat , Karena dampak dari pergaulan bebas remaja yang di mediasi oleh budaya luar akan berdampak buruk terhadap remaja mereka dan lingkunganya. Samapai saat ini persoalan social yang sangat serius di Pegunungan Bintang dan beberapa daerah di Papua dan Indonesia adalah pergaulan bebas remaja. Damapak yang paling serius dari Pergaulan bebas tersebut adalah Minuman keras, Narkotika,Seks bebas dan lain-lain yang mengakibatkan penyakit seperti penyakit HIV dan AIDS.

Pemudah Kabupaten Pegunungan Bintang adalah tulang punggung daerah Aplim-Apom yang di harapkan di masa depan orang Pegunungan Bintang yang mampu meneruskan tongkat stapet kepemimpianan daerah agar lebih baik. Peran masyarakat untuk menyiapkan generasi mudah untuk memimpin masa depan adalah sebuah keharusan yang harus di lakukan yang di dalamnya di lindungi oleh nilai –nilai budaya yang baik. Terhindar dari budaya luar yang masuk mengancam budaya setempat harus di jaga bersama oleh seluruh masyarakat yang ada baik kalangan remaja,mudah-mudi dan orang tua. Hal ini di lakukan dengan guna menjaga generasi penerus bangsa dan daerah itu untuk meneruskan amanat dari Tuhan yang Maha Esa di mana manusia sebagai pelaksana amanat-Nya, dengan tujuan mengamankan para remaja dari dunia globalisasi. Kebanyakan remaja sudah terjerumus oleh dunia globalisasi yang berdampak negative karena globalisasi merupakan suatu kebebasan bagi setiap remaja bahkan sampai dewasa, sehingga orang-orang yang tidak sadar akan nilai-nilai budaya maupun nilai-nilai firman Tuhan (Spritualnya) tetap saja mengikuti pola-pola hidup dunia luar seperti minuman keras, narkotika, acara disko, yosim, seks bebas dan lain-lain. Salah satu dampak buruk dari dunia global dalam dunia teknologi adalah membuka situs free seks dan mengikuti videonya lalu memperaktekanya di lingkungan sekitar. Untungnya di Kabupaten Pegunungan Bintang belum ada jaringan sehingga jarang untuk akses situs –situs negative tetapi itu bukan jaminan untuk bagi generasi dan para orang tua tetapi masih tetap saja orang-orang edarkan video-video porno melalui hp kamera dan laptop sehingga secara tidak sadar sedang membunuh para remaja di pegunungan Bintang dengan kehadiaran globalisainya.

Kehidupan masyarakat Pegunungan Bintang, saat ini masalah yang sangat serius adalah pergaulan bebas yang menyebkan hilangnya budaya local, menurunya pertumbuhan spritualnya yang mengakibatnya seks bebas anatra remaja dengan remaja, remaja dengan orang tua, orang tua dengan orang tua yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Duluh orang tua kita tidak pernah melakukan seks bebas/ hubungan seks, ini berlaku untuk setiap tingkatan apalagi remaja atau mudah-mudi, sangat susa sekali untuk bertemu dan berbicara sebelum mereka di di satukan menjadi suami istri. Untuk acara pernikhan bukan seperti sekarang yang stilah kasarnya orang bilang suka-sama suka ,

Duluh yang menentukan nikahnya seorang mudah adalah orang tua dari kedua belah pihaknya dan ini sangat propesional dan meyamin sekali dalam hubungan kehidupan keluarga. Tetapi apa yang terjadi sekarang di Papua dan lebih khususnya di Pegunungan Bintang adalah untuk mau menjadi suami istri di tentukan oleh seorang perempuan mudah dan laki-laki itu sendiri ketika mereka cocok, bahkan tahap pacaranpun tidak berlangsung lama dan belum mengenal baik antara perilaku laki-laki dan perilaku perempuan sehingga pada saat mereka bertemu menjadi suami dan istri di dalam kehidupan keluraganya selalu saja tidak aman. Laki-laki jalan sendiri ,perempuan jalan sendiri dan melakukan aksi yang berbeda-benda akhirnya perceraian pun terjadi di tengah-tengah masyarakat dan ini benar-benar mengancurkan martabat dan moral keluarga, masyarakat serta nilai-nilai budaya dan spritualnya. Di samping itu yang menilai paling fatal dalam berhubungan sekseual dan perkawinan yang terjadi adalah perkawinan di bawah umur dan terjadi hubungan sekseual anatra laki dewasa dan si anak perempuan yang di bawah umur 10-15 tahun dan ini benar-benar mematikan masa depan anak si anak perempuan. Ini semua terjadi hanya karena pergaulan bebas yang merajalelah di antara remaja yang di mediasi oleh unsure-unsur budaya asing.

Dari uraian diatas dapat di atas apabila semua unsur kelembagaan dan instasi terkait yang berwenang dalam hal ini orang tua remaja, sekolah-sekolah, LMS, kepala- kepala suku adat semuanya berperan aktif dalam menanggulangi problem tersebut. Pergaulan bebas yang kian bertambah dari tahun ke tahun di Kabupaten Pegunungan Bintang adalah ada beberapa factor di antaranya : 1) . Kurangnya Peran orang tua terhadap anak kandungnya 2). Belum ada motivasi dari seorang guru di sekolah di saat proses belajar mengajar Berlangsung 3). Lembaga LSM yang kurang berperan dalam dunia budaya 4). Belum ada ketegasan / atauran-tauran yang di buat pemerintah setempat untuk menangani pergaulan bebas dari budaya-budaya luar. Dari ke emapat factor ini harus di tegakan apabila di sana ingin terindar dari kasus pergaulan bebas yang menyebabkan perasaan buruk yang menipa dalam kehidupan masyarkat Kabupaten Pegunungan Bintang.

Orang asli Kabupaten Pegunungan Bintang –Papua, Pergaulan antara para remaja jarang sekali melihat karena seperti kami telah di uatarakan di atas bahwa semuanya di lindungi oleh budaya asli sehingga kehidupan masyarkat di sana selalu aman namun ketika hadirnya Kabupaten di tengah-tengah masyarkat adat di tanah Aplim-Apom akan mengacaukan kehidupan di sana inipun dampak dari globalisasi di dunia. Orang tua yang seharusnya menjadi pengasuh para remaja untuk menghindar dari kehidupan pergaulan bebas tetapi malah mereka (orang tua) yang kebanyakan tidak sadar akan pentingnya budaya orang Pegunungan Bintang yang bernilai positif. Bentuk pergaulan ini di kategorikan dalam bentuk kejahatan yang fatal terhadap putra/putri Pegunungan bintang khususnya dan pada umumnya di propinsi Papua.

Menurut kordinator TIKI Jaringan kerja HAM di Papua, Fien Jarangga mengungkapkan Kejaksaan Negeri Manokwari menginformasikan bahwa kasus-kasus KDRT dan kekerasan seksual terhadap anak/remaja putri yang dilaporkan masih cukup tinggi, yaitu rata-rata 5kasusperbulan. Selain itu, ditemukan pula kekerasan verbal bernuansa seksis dan rasis oleh pejabat daerah terhadap perempuan asli Papua pun terjadi . Sesuai data yang ada pada Oktober 2013,  Komnas Perempuan menerima pengaduan seorang perempuan asli Papua yang mengalami kekerasan verbal berupa ejekan yang merendahkan identitas seksualnya sebagai perempuan dan identitas primordialnya sebagai perempuan asli Papua.


“Kekerasan verbal ini dilakukan oleh seorang pejabat daerah, yaitu seorang Sekretaris Daerah di kabupaten Supiori, Biak,” ( http://bintangpapua.com/index.php/component/k2/item/11831-di-papua) . Data ini menggambarkan bahwa pergaulan social yang tidak membangun masyarakat setempat akan membawa dampak buruk bagi warga di tempat. Dan inipula menggambarkan bahwa pergaulan bebas bukan hanya jatuh pada tingkat remaja melainkan tingkat dewasapun ikut perpartisisvasi dalam mengacaukan kehidupan warga di suatu lingkungan wilayah. Kasus-kasus ini bukan hanya terjadi di Pegunungan Bintang – Papua melainkan beberapa wilayah di Indonesia dan asia karena di pengharui oleh perkembangan jaman. Salah satu contoh adalah salah satu pejabat Negara, selaku kepala daerah( Bupati) Garut yang di puplikasikan di beberapa media bahwa beliau menikah dengan seorang putri bernama Nitta K Wijaya di bawah umur nikah yaitu umur 18 tahun (http://www.tempo.co/read/news/2012/11/22/058443427) ini adalah bukti kekerasan orang tua terhadap anak-anak remaja yang secara tidak sadar membunuh masa depannya dia.

Salah satu contoh lagi yang paling aneh adalah seorang perempuan di Zimbabwae Yang menikah dengan seorang putra kesayanganya dengan alasan sangat mencintai anaknya sehingga sulit merelahkan dirinya untuk di nikai dengan perempuan lain(http://www.vemale.com/relationship/keluarga/33841-mengaku-saling-cinta-ibu-dan-anak-ini-memutuskan-menikah.html). Semua ini terjadi karena perkembangan globalisasi yang merajahlelah di setiap pelosok tanah air yang mengancam di tingkat remaja dan di tingkat orang dewasa yang di hadiri oleh budaya-budaya asing di tenagh-tengah kehidupan masyarkat. Dari contoh-contoh di atas bisa saja kedepanya terjadi di Kabupaten pegunungan Bintang dan papua seluruhnya tetapi untuk mengantisipasi itu sehingga tidak terjadi di sana, semua unsure kelembagaan adat dan pemerintah setempat mengambil ketegasan dan tegakan nilai-nilai budaya untuk di tumbuhkembangan oleh semua elemen masyarkat untuk tidak terjadi perkembagan jaman yang aneh-aneh.

Pergaulan remaja terjadi di mana saja lebih-lebih terjadi di sekolah-sekolah karena berbagai perilaku anak bertemu dan rasa ingin tahu tentang sesuatu mulai bekerja di dalam otak setiap anak remaja baik laki-laki maupun perempuan, Namun kebanyakan terlihat pada remaja putra . Ingin coba akan sesuatu adalah hal yang biasa untuk para remaja karena tahap peralian dari kanak-kanak ke dewasa.

Dari problem yang menimpah pada remaja di Kabupaten pegunungan Bintang terjadi karena (1)Peran orang tua terhadap anaknya untuk menanamkan nilai-nilai moral dengan tegas belum ada; (2) Belum ada kesadaran akan pentingnya nilai-nilai budaya asli yang bernilai positif oleh semua unsur kemasyarakatan yang mendiami di wilayah Kabupaten Pegunungan untuk mengajarkanya kepada generasi penerus; (3) Mudah menerima budaya asing yang masuk di Kabupaten Pegunungan Bintang tanpa mempertimbangankan manfaat baik-buruknya budaya luar tersebut; (4) Jarak mendidik anak-anak remaja di sekolah-sekolah dan juga belum ada tempat pembianan yang di bangun oleh orang yang lebih tua.

Empat (4) hal di atas dapat di atasi apabila ada orang yang mengerti tentang kehidupan masyarkat yang aman. Untuk mengendalikan 4 faktor tersebut orang asli Pegunungan Bintang harus membangun, (1) Pembinaan moral yang berawal dari keluarga; (2) Ketegasan dari semua unsur kelembagaan untuk menanamkan nilai-nilai moral dan budaya yang positif untuk menjaga kearuman nama kabupaten pegunungan Bintang di depan public karena di lihat dari tingkah laku remaja yang baik; (3) Di sekolah-sekolah di adakan jadwal penanaman karakter dan moral oleh seorang guru yang berkompeten/profesional di dalam bidang pembinaan; (4) Menghindari menerimanya budaya asing oleh semua masyarakat bukan hanya para remaja saja. Sehingga tidak terjadi kasus-kasus sosil yang kami jelaskan di atas; (5) Semua orang harus kerja sama dalam membenakan diri dan sesama dalam kehidupan social

Harapanya kami bahwa semua eleman masyarkat yang ada di kabupaten pegunungan Bintang berperan aktif dalam menanggulangi pergaulan remaja yang berdampak negative sehingga tidak ada lagi perasaan buruk yang menipah dalam lingkungan masyarakat. Perluh di jaga lagi adalah budaya asing, karena budaya asing itu yang mempengaruhi pergaulan remaja sehingga di nilai buruk di depan masyarakat pada hal secara defenisi, Remaja adalah tingkat peralian dari kanak-anak ke tingkat dewasa dan itu adalah sebuah proses yang positif . Tetapi yang mempengaruhi sehingga berbau negative adalah hanya karena budaya asing itu sendiri. Kesadaran akan nilai budaya local harus ada pada setiap individu Sehingga kedepan bisa mengendalikan budaya asing tersebut bersama-sama untuk menjadikan masalah pergaulan bebas menjadikan pergaulan yang baik.

Mungkin itu harapan kami , semoga bisa bermanfaat bagi seluruh masyarkat Kabupaten Pegunungan Bintang dan juga masyarakat yang lain yang ada di seluruh pelosok tanah air Indonesia yang memiliki budaya pergaulan yang baik dan mensyukuri itu sebagai karya cipta Tuhan dan manusia sebagai pelaksana amanat budaya pergaulan tersebut.

Penulis Adalah Mahasiswa Asal Pegunungan Bintang, Mahasiswa Jurusan Pendidikan Fisika, Sekolah Tinggi Keguruan Dan Ilmu Pendidikan (Stkip) Surya Tangerang, Banten, Jakarta

Share
 


Copyright by KOMAPO.