Home BUDAYA BUDAYA DAMPAK GLOBALISASI TERHADAP OTORITAS KEBUDAYAAN MASYARAKAT APLIM-APOM
DAMPAK GLOBALISASI TERHADAP OTORITAS KEBUDAYAAN MASYARAKAT APLIM-APOM
BUDAYA
Wednesday, 22 January 2014 00:16

Oleh: Maksimus Asiki

Dewasa ini masyarakat Aplim-Apom secara umum berubah sedemikian rupa, yang selayaknya disadari dan ditanggapi oleh para intelek dan cendekia Aplim-Apom. Perubahan yang disebabkan oleh berbagai kekuatan baik dari dalam maupun dari luar, telah menyebabkan apa yang dikatakan masyarakat dan kebudayaan Aplim-Apom sudah berbeda. Hal ini tampak jelas dalam ciri-ciri kebudayaannya. Seperti kultur agraris,penggunaan tenaga kerja, peran kepemimpinan lokal, integrasi pasar dan lain-lain.

Seperti kita ketahui dalam kultur agraris bahwa dahulu masyakat Aplim-Apom dalam kelompok etnisitasnya bersifat monopoli, namun sekarang menjadi suatu etnisitas yang dapat di praktikan secara umum. Kemudian kepemimpinan lokal juga dalam peranannya memudar. Oleh karena itu meskipun kepemimpinan lokal masih dianggap penting dalam berhubungan dengan dunia luar juga telah menyebabkan melemahnya keyakinan tentang sesuatu yang bersifat magis dan supernatural. Seperti kepercayaan terhadap para leluhur dan Atangki yang diyakini sebagai pencipta Aplim-Apom serta segalah isinya, termasuk manusia Aplim-Apom itu sendri.

Penggunaan tenaga kerja yang bukan orang asli Aplim-Apom yang masuk ke wilayah itu, tentu saja dapat mengubah bentuk kewajiban sosial antar anggota masyarakat asli yang ada. Sehingga akibatnya akan terjadi perluasan batas-batas solidaritas sosial masyarakat setempat. Perkawinan antar etnis yang berbeda tidak hanya mengubah citra etnis masing-masing. Tetapi juga melahirkan anak-anak yang mengalami orientasi lokal dan juga nasional sehingga dalam setingan kultural tidak menjadi jelas dalam status keaslian Aplim-Apomnya.

Penduduk lokal Aplim-Apom pada fase ini terkontaminasi dengan prinsip-prinsip totalitas yang menjadi ideologi nasional: contohnya dalam bidang pertanian, masyarakat sudah mengenal program pembangunan pertanian. Dan dalam kesehatan masyarakat sudah mulai mengenal puskesmas, obat-obatan yang berbauh nasional. Demikian pula pola kepemimpinan lokal yang kemudian mengikuti aturan main yang sudah ada disiapkan secara nasional. Dan bukan prinsip-prinsip lokal yang didasarkan oleh keyakinan terhadap apa yang sudah diseyakini secara turun temurun dan sebagainya. Seperi obat-obatan tradisonal yang dulu diyaki sebagai obat-obatan yang paling ampuh, kini tidak mengkui lagi adanya itu.

Begitu cepat masyarakt Aplim-Apom menerima semua pengaruh luar tanpa mempertimbangkan sehingga begitu banyak damapk yang dapat kita lihat dan rasakan saat ini. seperti yang tampak sekarang adalah, bahwa manusia Aplim Apom yang dulunya sederhan dan serba ada namun sekarang lebih pada harapan harapan musiman.

Hal lain juga yang menjadi dampak dari pengaruh luar adalah, masyarakat Aplim-Apom menjadi masyarakat konsumtif, (masyarakat korban iklan). Contoh kasus penggunaan obat-obatan yang berbau nasional seperti obat rambut, sabun yang dapat mengubah wajah asli, garam, dan bebagai banyak prodak lain yang dapat mengubah pola pikir dan eksistensi kebudayaan masyarakat Aplim-Apom yang seharusnya dapat dipertahankan.

Adapun periodisasi perubahan yang dapat kita lihat adalah sebagai berikut; masyarakat duluh hidupnya tergantung pada alam, sederhana dan serba ada, orang tua kami saat ini menjadi masyarakat konsumtif, generasi kami sekarang menjadi masyarakat korban iklan, anak kami besok menjadi korban zaman.

Dengan demikian supaya tidak terjadi lagi korban-korban berikutnya, perlu ada pendidikan adat agar tetap lestarikan kebudayaan kami sebagai manusia Aplim-Apom.

Referensi:

Prof. Dr. Irwan Abdudullah, (Rekonstruksi dan reproduksi kebudayaan)

Share
 


Copyright by KOMAPO.