Home BUDAYA BUDAYA PROGRAM PENGEMBANGAN PARIWISATA PEGUNUNGAN BINTANG
PROGRAM PENGEMBANGAN PARIWISATA PEGUNUNGAN BINTANG
BUDAYA
Monday, 30 December 2013 17:47

Penulis: Omkular Sostenes Uropmabin, Amd.Par


Sebelum menyampaikan menyampaikan materi pokok saya mengajak kita sekalian membaca kutipan berikut yang disadur dari www.wisatanews.com, tertanggal 16 April 2013 Pada Jumpa Pers Akhir Tahun 2012, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif memperkirakan bahwa sektor pariwisata menyumbang penerimaan negara sebesar 9,07 miliar dollar AS atau mengalami kenaikan 6,03 persen dibanding tahun lalu.   “Kenaikan yang diperoleh pada sektor pariwisata ini dikarenakan adanya kenaikan jumlah rata-rata pengeluaran wisatawan mancanegara (wisman) pada setiap kunjungan,” ujar Menparekraf, Mari Elka Pangestu. Berdasar data yang dimiliki Kemenparekraf, sepanjang tahun 2012 pengeluaran wisman mencapai 1.133,81 dollar AS per orang setiap kunjungan atau mengalami kenaikan sebesar 1,39 persen dibanding tahun 2011 yang hanya sebesar 1.118,26 dollar AS.

Dikatakan Mari, Meski pendapatan negara mengalami kenaikan, tercatat untuk waktu tinggal wisman di tahun ini mengalami penurunan sebesar 1,79 persen perkunjungan. Sementara itu, berdasar data yang dikeluarkan oleh Kemenparekraf untuk wisatawan nusantara (wisnus) sepanjang tahun 2012 mencapai 245 juta perjalanan atau mengalami kenaikan sebesar 3,81 persen dibanding tahun 2011. “Adanya kenaikan perjalanan wisnus ini membawa dampak positif atas pembelanjaan wisnus, sepanjang tahun 2012 jumlahnya kami perkirakan mencapai Rp. 171,5 triliun. Ini berarti mengalami peningkatan sebesar 9,3 persen dibanding tahun 2011,” kata Mari.

Saudara pembaca, kutipan diatas jelas memberikan bukti gamblang bagi kita semua betapa penting dan bermanfaatnya pengembangan bidang pariwisata. Jika selama ini kita memandang sebelah mata terhadap peran pariwisata, maka dengan bukti yang terpampang jelas di depan kita program pengembangan produk pariwisata menjadi program penting yang mesti dilakukan secara berkelanjutan.

Pengertian, asas, tujuan dari Wisata menurut UU no 10 tahun 2009

Dalam Undang-Undang Nomor 10 tahun 2009 Tentang Kepariwisataan menyatakan bahwa Penyelenggaraan Kepariwisataan ditujukan untuk meningkatkan pendapatan nasional dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat, memperluas dan memeratakan kesempatan berusaha dan lapangan kerja, mendorong pembangunan daerah, memperkenalkan dan mendayagunakan obyek dan daya tarik wisata di Indonesia serta memupuk rasa cinta tanah air dan mempererat persahabatan antar bangsa.

 

Perkembangan pariwisata juga mendorong dan mempercepat pertumbuhan ekonomi. Kegiatan pariwisata menciptakan permintaan, baik konsumsi maupun investasi yang pada gilirannya akan menimbulkan kegiatan produksi barang dan jasa.

Wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati obyek dan daya tarik wisata. Jadi pengertian wisata mengandung unsur sementara dan perjalanan itu seluruhnya atau sebagian bertujuan untuk menikmati obyek atau daya tarik wisata.

Unsur yang terpenting dalam kegiatan wisata adalah tidak bertujuan mencari nafkah, tetapi apabila di sela-sela kegiatan mencari nafkah itu juga secara khusus dilakukan kegiatan wisata, bagian dari kegiatan tersebut dapat dianggap sebagai kegiatan wisata.

Undang-undang Nomor 10 tahun 2009, menyebutkan pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata, termasuk pengusahaan obyek dan daya tarik wisata serta usaha-usaha yang berhubungan dengan penyelenggaraan pariwisata, dengan demikian pariwisata meliputi:

(1) semua kegiatan yang berhubungan dengan perjalanan wisata;

(2) Pengusahaan obyek dan daya tarik wisata seperti: kawasan wisata, taman rekreasi, kawasan peninggalan sejarah, museum, waduk, pagelaran seni budaya, tata kehidupan masyarakat atau yang bersifat alamiah: keindahan alam, gunung berapi, danau, pantai,

(3) Pengusahaan jasa dan sarana pariwisata yaitu: usaha jasa pariwisata (biro perjalanan wisata, agen perjalanan wisata, pramuwisata, konvensi, perjalanan insentif dan pameran, impresariat, konsultan pariwisata, informasi pariwisata), usaha sarana pariwisata yang terdiri dari akomodasi, rumah makan, bar, angkutan wisata.

Hunziker dan Kraff (Pendit, 1995:40) menyatakan kepariwisataan adalah setiap peralihan tempat yang bersifat sementara dari seseorang atau beberapa orang dengan maksud memperoleh pelayanan yang diperuntukkan bagi kepariwisataan itu oleh lembaga-lembaga yang digunakan untuk maksud tersebut.

Wisatawan adalah orang-orang yang melakukan kegiatan wisata (Undangundang nomor 10 tahun 2009). Jadi menurut pengertian ini, semua orang yang melakukan perjalanan wisata dinamakan wisatawan.

Apapun tujuannya yang penting, perjalanan itu bukan untuk menetap dan tidak untuk mencari nafkah ditempat yang dikunjungi. Pacific Area Travel Association (PATA) memberi batasan bahwa wisatawan sebagai orang-orang yang sedang mengadakan perjalanan dalam jangka waktu 24 jam dan maksimal 3 bulan di dalam suatu negeri yang bukan negeri di mana biasanya ia tinggal. Kabupaten Pegunungan Bintang memiliki potensi wisata baik alam maupun budaya yang asli, alami, mengagumkan, bervariasi dan belum terjamah merupakan aset berharga sebab ini semua adalah emas yang tak dapat lekang oleh waktu. Segala potensi obyek dan daya tarik wisata yang dimiliki mesti didata, diidentifikasi, dikelompokkan, dikemas secara profesional, dan dipasarkan dengan gencar berpromosi di berbagai media baik cetak, elektronik dan pada berbagai iven kepariwisataan di tingkat daerah, nasional, regional dan internasional.

Menurut undang – undang pemerintah nomor 10 tahun 2009 tentang kepariwisataan,wisata adalah perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari daya tarik wisata yang dikunjunginya dalam jangka waktu sementara.

Wisatawan adalah orang yang melakukan wisata. Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata yang didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan masyarakat, pengusaha, Pemerintah dan Pemerintah Daerah.

Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dengan pariwisata dan bersifat multidimensi serta multidisiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan negara serta interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat sesama wisatawan, pemerintah, pemerintah daerah dan pengusaha.

Daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam budaya dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan

Daerah tujuan wisata atau Destinasi Pariwisata adalah kawasan geografis yang berada dalam satu atau atau lebih wilayah administrasi yang di dalamnya terdapat daya tarik wisata.

Asas Kepariwisataan :

Kepariwisataan diselenggarakan berdasarkan asas : manfaat, kekeluargaan, adil dan merata, keseimbangan, kemandirian, kelestarian, partisipatif, berkelanjutan, demokratis, kesetaraan dan kesatuan.

Tujuan :

Kepariwisataan bertujuan untuk:

Meningkatkan pertumbuhan ekonomi

Meningkatkan kesejahteraan rakyat

Menghapus kemiskinan

Mengatasi pengangguran

Melestarikan alam, lingkungan, dan sumber daya

Memajukan kebudayaan

Mengangkat citra bangsa

Memupuk rasa cinta tanah air

Memperkukuh jadi diri dan kesatuan bangsa

Mempererat persahabatan antar bangsa

Politik Pariwisata Tanah Papua

Siapa pun mengetahui dan menyetujui bahwa alam Papua menyimpan dan memiliki kekayaan sumber daya alam luar biasa banyak yang jika dikelola dengan baik, bertanggungjawab dan berkesinambungan tidak akan cepat musnah.

Diantara kekayaan tersebut adalah potensi sumber daya alam dari sector pariwisata. Dengan lebih dari 250 suku di Papua memberikan kekayaan tambahan yaitu kekayaan budaya dimana potensi budaya dapat dikelolah menjadi objek wisata budaya. Kekayaan budaya seperti tarian, rumah adat, upacara adat, alat budaya dapat dikelolah sedemikian rupa sehingga pemiliknya memperoleh manfaat ekonomi dari padanya. Sementara dari sisi sumber daya alam air terjun, pantai, gua, danau, gunung, sungai,bahkan hutan merupakan potensi yang unggul bila dikelola secara tepat guna, berkonsep ramah lingkungan dan partisipatif.

Fakta menunjukkan semua potensi tersebut seperti mandeg di tanah Papua. Biar pun kita kelolah dengan baik dan membuang anggaran besar dalam pengelolaannya, semua nampak sia-sia meski pun ada sedikit pendapatan daerah dari sector pariwisata.

Saya melihat ada beberapa factor penyebab mandegnya pengembangan pariwisata dan budaya di tanah Papua:

A.Kepentingan Politik/ keutuhan wilayah NKRI

Kita orang Papua mesti sepakat jika tanah kita dijuluki Negeri 1001 intel. Yah sudah menjadi rahasia umum alias bukan rahasia lagi kalau Papua adalah tanah bermasalah sejak digabungkannya wilayah ini dengan NKRI. Setelah digabungkannya wilayah ini ke wilayah RI, kemudian diisolasikan dari dunia luar oleh Indonesia dengan sepengetahuan USA. Upaya mengawasi, mengontrol, mengisolasikan tanah papua berlangsung hingga kini. Akses wisatawan asing ke Papua dibatasi dengan berbagai persyaratan yang rumit urusannya dan dipantau ruang geraknya oleh intel Indonesia. Akibatnya wisatawan terpaksa tidak ke papua. Ketika wisatawan asing ke papua dipantau terus sehingga mereka tidak nyaman. Hal yang sama tidak diperlukan atau diperlakukan kepada wisatawan jika hendak berkunjung ke Pulau lain di Indonesia. Disinilah letak perbedaannya. Selain itu kini ketika ada kegiatan wisata maka pasti pihak keamanan dilibatkan. Bagi wisatawan asing,kehadiran militer menandakan dua hal yaitu pemantauan terhadap dirinya dan wilayah yang dikunjunginya tidak aman. Akhirnya kondisi seperti sekarang.

B. Penutupan Jalur Penerbangan Internasional Biak

Dahulu kala sebelum penutupan jalur penerbangan internasional di Biak memberikan nafas kehiduapan bagi pariwisata di tanah Papua. Wisatawan langsung tiba di papua karena waktu yang efisien dan biaya murah selain potensi wisata di Papua yang beraneka ragam dan asli. Penerbangan itu selalu dipenuhi wisatawan dari berbagai Negara. Belanda, Amerika Serikat, Jepang dan Cina dan Negara lain.

Melihat kecenderungan wisatawan ke papua meningkat dari waktu ke waktu sementara pada saat yang sama terjadi penurunan arus kunjungan wisatawan ke pulau lain di Indonesia menurun drastis maka melalui menteri Perhubungan menutup langsung penerbangan jalur internasional di Biak.

C.Sumber Daya Manusia Rendah

Tidak dapat dipungkiri bahwa kita Orang Asli Papua memiliki kualitas sumber daya manusia yang lemah di beberapa bidang keidupan; pariwisata misalnya. Meski pun klaim ini tidak dapat dijadikan alibi mengingat Papua memiliki SDM yang mumpuni. Terbukti banyak orang Papua mendapat penghargaan international baik dalam bidang pendidikan umum maupun aktivitas kemanusiaan. Lulusan pariwisata di papua tidak banyak meski ada sedikit. Lebih banyak orang Papua mengejar pekerjaan sebagai PNS sementara sector lain tidak digubrisnya. Sementara ada anggapan bahwa PNS adalah kumpulan orang malas (bodoh maksudnya), seingga ketika orang papua menjadi PNS maka anggapan orang papua secara SDM lemah tetap akan dilekatkan pada orang papua.

D. Rendahnya Dukungan Pemilik Hak Ulayat Objek Wisata

Khusus Tana Papua, ada persoalan lain yang turut mempengaruhi perkembangan pariwisata. Di beberapa objek wisata terjadi pemungutan liar diluar ketentuan umum. Hal ini tentu mengurangi rasa nyaman baik bagi wisatawan dalam maupun luar negeri.

E. Dukungan Pemerintah Di Sektor Pariwisata Rendah

Menilik begitu banyak bidang kerja pemerintah, ditetapkan menurut bidang prioritas. Tidak heran jika bidang pariwisata diabaikan begitu saja. Kesehatan,Pendidikan, Pekerjaan Umum merupakan beberapa bidang yang selalu mendapat perhatian lebih dari pemerintah terutama dukungan dana yang melimpah. Kita semua dapat memahami alasan dibalik dukungan terhadap beberapa bidang penting tadi.

Pariwisata dianggapsebagai bidang yang hanya menghabiskan anggaran daerah hanya untuk jalan-jalan. Begitu sempitnya pola pikir pihak yang berpendapat demikian. Jika dikaji dengan teliti dan berpikir cerdas maka justru pariwisata lah yang memberikan pendapatan daerah dibanding bidang lain yang hanya mampu habiskan anggaran tanpa membawa pemasukan tambahan.

Pemerintah mesti proaktif menggalakkan program dan dana yang memadai bagi pengembangan pariwisata. Mengapa? Menurut hemat saya pariwisata memiliki manfaat ganda yakni bagi pemerintah dalam bentuk pendapatan Asli Daera (PAD) dan bagi masyarakat local.


Renstra Program Pembangunan Kebudayaan Dan Pariwisata Kabupaten Pegunungan Bintang

Dalam rangka memngembangkan sektor pariwisata dan mempertahankan, melestarikan dan memperkaya khasanah budaya lokal aplim apom demi meningkatkan kesejahteraan penduduk; Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pegunungan Bintang telah menuangkan segala program yang tertuang dalam Rencana Strategis Pembangunan Jangka Panjang dan Jangka Pendek. Dalam Lima Tahun pertama (2005-2010). Perlu diingat bahwa Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dibentuk pada tahun 2008. Mulai melakukan kinerjanya pada tahun anggaran 2009. Dinas ini telah melakukan berbagai Program dan Kegiatan diantaranya:

I. Bidang Budaya

1. Program Pengelolaan Kekayaan Budaya

2. Program Pengembangan Nilai Budaya

3. Program Pengelolaan Keragaman Budaya

4. Program Kerja sama Pengelolaan Kekayaan Budaya

Bidang Pariwisata

I. Bidang Pengembangan Produk Wisata

1. Program Pengembangan Destinasi Pariwisata

II. Bidang Pemasaran

1. Program Pengembangan Pemasaran Pariwisata

2. Program Pengembangan Kemitraan

Penulis Adalah Staf Pada Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kabupaten Pegunungan Bintang. Materi Makalah Dibawakan Pada Seminar dan Natal KOMAPO 2013 Di Jogyakarta

Share
 


Copyright by KOMAPO.