Home BUDAYA BUDAYA FILOSOFI PEMBERIAN NAMA: GUNUNG APLIM APOM, JULIANA, DAN MANDALA
FILOSOFI PEMBERIAN NAMA: GUNUNG APLIM APOM, JULIANA, DAN MANDALA
BUDAYA
Monday, 16 December 2013 19:04

Oleh: Melkior N. N Sitokdana

Mahasiswa Pascasarjana Teknik Elektro Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Aplim Apom (Bahasa Ngalum Kabupaten Pegunungan Bintang) pada masa penjajahan Belanda dikenal sebagai Julianatop atau Puncak Juliana, sekarang disebut Puncak Mandala oleh Pemerintah Indonesia. Dengan ketinggian 4.760 m, Aplim Apom adalah gunung tertinggi ke-2 di Indonesia setelah Puncak Jaya (www.wikipedia.com). Menurut mitos suku Ok dan Mek, Gunung Aplim Apom adalah gunung yang sangat sakral, dipercaya sebagai tempat dimana Atangki (Allah ) menciptakan langit dan bumi serta segala isinya. Nama Aplim Apom mempunyai filosofi yang mendalam bagi suku Ok dan Mek, bahkan beberapa suku di Papua mengakui bahwa nenek moyang mereka berasal dari gunung Aplim Apom. Wilayah otoritas suku Ok terdapat dibeberapa wilayah yaitu: Suku Ok diwilayah Papua New Guinea (PNG), antara lain: Bimin, Setamon, Faiwol, Telefol, Urapmin, Tifal, dan Mian. Suku Ok di wilayah di Wilayah Boven Digoel dan Merauke seperti: Iwur, Yonggom, Muyu Selatan, Muyu Utara, Ningrum dan diwilayah Pegunungan Bintang Sub Suku Ngalum (Healey 1964 and Voorhoeve 2005). Suku Mek terdapat di bagian barat Kabupaten Pegunungan Bintang dan bagian timur Kabupaten Yahukimo.

Suku-suku tersebut mengakui bahwa Atangki menciptakan alam semesta dan segala isinya di gunung Aplim Apom dan menempatkan manusia di seluruh penjuru dunia. Jika dikaitkan dengan ajaran agama Abrahamik maka Aplim Apom seperti tanam Eden. Gunung Aplim Apom yang diselimuti salju abadi, dibawah kaki gunung dihiasi bunga-bunga dan rumput yang tertatah rapi, telaga dan sungai-sungai yang membiru, terdapat beraneka ragam makhluk hidup dan tumbuh-tumbuhan. Ini membuktikan bahwa tanam Eden yang diakui oleh suku Ok dan Mek di Papua benar-benar ada dan bisa dapat dilihat dan dirasakan. Seluruh umat manusia didunia yang menganut ajaran agama Abrahamik, termasuk Kristen, Islam, mengakui bahwa ajaran tentang taman Eden mengisahkan tentang bagaimana Tuhan menciptakan Adam dan Hawa. Dalam Kitab Kejadian tidak memuat banyak informasi tentang taman itu sendiri. Di taman ini terdapat Pohon Kehidupan dan Pohon Pengetahuan tentang Yang Baik dan Yang Jahat, serta berlimpah tanaman lainnya yang dapat menjadi sumber makanan bagi Adam dan Hawa. "Sebuah sungai mengalir keluar dari Eden untuk mengairi taman itu, dan di situ sungai itu bercabang menjadi empat sungai". Teks ini menegaskan bahwa di dalam Taman itu sungai itu terbagi menjadi empat cabang: Tigris, Eufrat, Pison dan Gihon(Kejadian 2-3). Identitas kedua sungai yang terakhir telah menjadi bahan argumen yang tidak ada habisnya, tetapi bila Taman Eden memang benar-benar dekat sumber-sumber sungai Tigris dan Eufrat, maka pencerita asli di Tanah Kanaan mestinya telah mengidentifikasikan lokasinya di sekitar Pegunungan Taurus(Paul Lawrence. 2006). Ini membuktikan bahwa sungai-sungai yang dimaksud menurut mitos orang Israel di kitab kejadian masih misteri, bahkan taman Eden yang ajarkan melalui Alkitab dan Alquran belum bisa dibuktikan secara ilmu positif. Sedangkan bagi manusia Suku Ok dan Mek di Papua benar-benar melihat dan merasakan taman Eden yang sesungguhnya. Betapa dasyatnya karya-karya Tuhan Allah di bumi Aplim Apom.

Pada zaman penjajahan Belanda, dilakukan ekspedisi khusus dan terakhir ke puncak Gunung Aplim Apom, untuk seluruh wilayah Papua. Persiapan ekspedisi tersebut dimulai tahun 1953 oleh Nederlands Maatschappijk Onderzoek in Oost-en West Indiẻ (perkumpulan Belanda untuk penyelidikan ilmiah dalam hal keadaan alam di Hindia Timur dan Barat) dan Het Koninklikj Nederlandsch Aardrijkskunding Genootschap (persekutuan para geolog kerajaan Belanda atas prakarsa Prof. Vening Menesz. Persiapan untuk ekspedisi tersebut, berlangsung selama enam tahun. Kemudian dibentuklah sebuah yayasan tersendiri untuk ekspedisi dengan nama Stichting Expeditie Nederlands –Nieuw-Guinea atau Lembah Ekspedisi Nieuw Guinea Belanda. Yayasan ini menunjuk Dr. L. Brongersma sebagai pemimpin umum dan G.F Venema sebagai pemimpin teknis. Pada tanggal 9 september 1959 tim ekspedisi mengibarkan bendara Belanda di puncak juliana (Aplim Apom/ Puncak Mandala) (Brongersma & Venema, 1960).

Pertanyaan mendasar yang dijawab dalam tulisan ini adalah, mengapa gunung Aplim Apom di berinama “Puncak Juliana” dari Belanda dan "puncak Mandala" dari NKRI?.

Nama Juliana diambil dari nama Ratu Belanda, Juliana Louise Emma Marie Wilhelmina. Ratu Juliana diangkat menjadi Ratu Belanda pada tanggal 6 September 1948 karena Ratu Wilhelmina menyerahkan kepemimpinannya kepada Juliana sebagai penerus, selain karena kesediaan Juliana memimpin Belanda setelah melihat kehancuran ekonomi karena perang di Indonesia. Sebelum menjadi ratu, Juliana termasuk wanita yang sederhana dan dermawan, serta menimba banyak ilmu di luar negeri, aktif menjadi pimpinan Palang Merah Belanda, bahkan setelah menjadi ratu pun ia berbusana layaknya rakyat wanita Belanda dan tak suka disebut sebagai Majesty tapi lebih suka sebutan Misses. Ratu Juliana cukup membuat geger Belanda ketika 27 Desember 1949 menandatangani pengembalian kekuasaan Dutch-Indies kepada Indonesia setelah Konferensi Meja Bundar di Den Haag 23 Agustus 1949. New York Times menyebut sang ratu sebagai “An unpretentious woman of good sense and great goodwill”. Pada tanggal 30 April 1980 Ratu Juliana resmi mengundurkan diri dan anaknya melanjutkan tugas selanjutnya, Ratu Beatrix. Setelah mengundurkan diri ia disebut Her Royal Highness Princess Juliana of the Netherlands dan meninggal dunia di saat tidur, 20 Maret 2004 yang lalu (Julian, 2004).

Mengapa nama puncak gunung Aplim Apom diberinama ratu?

Dalam sebuah negara yang sistem pemerintahannya monarki, ratu adalah penguasa, atau kepala pemerintahan, yang dipimpin seorang perempuan karena pewarisan. Jika dimaknai maka Aplim Apom sebagai Ratu, istilah orang Papua "Mama". Konsep mama bagi orang Papua adalah; sumber kehidupan, sumber pengharapan, dan sumber cinta kasih. Mama adalah segala-galanya bagi manusia. Dengan demikian, Aplim Apom digambarkan sebagai mama bagi suku bangsa di dunia.

Mengapa diberi nama “Puncak Mandala”?

“ Puncak mandala” diberinama pemerintah Indoenesia setelah Papua aneksasi. Mandala berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti lingkaran. Mungkin ada bentuk-bentuk kotak maupun segitiga di sebuah mandala, tetapi seluruh mandala harus memiliki struktur yang konsentris. Segala sesuatu di mandala harus seimbang, dan harus memberikan nuansa harmonis. Inti dari mandala adalah untuk membantu seseorang menjalani perjalanan rohani mereka dengan mudah. Dari sini jelas dapat kita lihat bahwa pola dimana lingkaran pusat yang kemudian melebar ke arah luar melalui berbagai lapisan untuk mencapai sebuah keutuhan yang indah pada akhirnya merupakan tema universal yang bergaung di seluruh budaya dan konsep spiritual. Mandala adalah suatu bentuk pola desain(simbol) yang umumnya berbentuk lingkaran yang dibuat untuk merepresentasikan keutuhan secara personal maupun secara kosmologis. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana simbol ini menjangkau mitologi spiritual. Beberapa istilah mengenai mandala yaitu: mandala (Sanskerta) adalah untuk diagram yang melambangkan alam semesta, seni desain asian timur yang melambangkan alam semesta, dengan berpola pada lingkaran/ titik sumbu sebagi pusatnya. Mandala dalam konsep agama Hindu dan Buddha adalah gambaran bagi alam semesta. Secara harafiah mandala berarti “lingkaran.” Mandala ini terkait dengan kosmologi India kuno yang berpusatkan Gunung Meru. Suatu gunung yang diyakini sebagai pusat alam semesta. Di dalam Tantrayana mandala juga menggambarkan alam kediaman para makhluk suci, yang sangat penting bagi ritual atau sadhana Tantra. Saat berlangsungnya sadhana, sadhaka akan menyusun ulang mandala ini baik secara nyata ataupun visualisasi. Beberapa kalangan mengatakan bahwa konsep mengenai mandala ini sudah ketinggalan zaman. Meskipun demikian, apabila dicermati lebih jauh, mandala sebenarnya mengandung makna filosofis yang mendalam. Pada intinya mandala merupakan titik dimana makrokosmos dan mikrokosmos bertemu; melambangkan perjalan mistik melalui berbagi lapisan kesadaran hingga ke pusat kesadaran dan bersatu dengan kesadaran Agung. Bentuk lingkaran mandala melambangkan keutuhan dan pencapaian pencerahan (http://www.mandalanews.com).

Makna Mandala bagi orang Aplim Apom?

Jika Aplim Apom dimaknai sebagai Mandala maka digambarkan sebagai tempat kediaman Atangki (Allah). Sebuah tempat dimana Atangki menciptakan manusia. Pangkuan atas Aplim Apom sebagai tempat penciptaan manusia, telah diakui pemerintah Indonesia, dengan memberinama “ Puncak Mandala” . Untuk itu, diharapkan generasi suku Ok, Mek dan suku-suku lain di Papua dapat menggali kembali sejarah peradaban manusia dan filosofi hidup bangsa Papua.

Share
 


Copyright by KOMAPO.