Home BUDAYA BUDAYA ANAK NOKEN MEMBAWA PERUBAHAN PAPUA
ANAK NOKEN MEMBAWA PERUBAHAN PAPUA
BUDAYA
Wednesday, 04 December 2013 10:51

Penulis: Uski Bidana

Tas Rajutan atau Anyaman Multifungsi Noken yang adalah kerajinan tangan masyarakat Papua secara resmi telah ditetapkan di Lembaga PBB untuk bidang pendidikan, keilmuan dan kebudayaan (UNESCO). Noken termasuk dalam kategori warisan budaya tak benda yang memerlukan perlindungan mendesak. Noken dapat membawa perubahan, karena dengan adanya noken kita (orang Papua) bisa besar, bisa makan, bisa belajar dan yang melalui noken kita bisa tahu segala-galanya. Dengan adanya noken kita bisa isi apa yang ada di sekitar kita sehingga dengan ulang tahun ini mari kami sebagai Anak Noken Membawa Perubahan Papua” jadi cemerlang.

Ketua Sidang Komite Antar-Pemerintah ke-7 untuk Perlindungan Warisan Budaya tak benda, Arley Gill dari Grenada, mengetok palu menandai secara resmi momen penetapan yang disambut tepuk tangan dan sorak sorai 640 wakil dari 148 negara yang memadati Ruang XII di Markas UNESCO 4 Desember 2012.

Se-tahun yang lalu usia noken disahkan UNESCO sebagai warisan budaya dunia. Diwajibkan kepada semua anak-anak Noken Papua di belahan dunia manapun untuk menggunakan noken pada tanggal 4 desember 2013 sebagai penghormatan pada budaya Papua. Sebagai anak-anak bangsa yang tahu akan budaya, noken adalah bagian dari kehidupan kita. Untuk itu, mari kita bersama memperingati hari noken sedunia sebagai warisan budaya. Sekali lagi, kami anak noken wajib memakai noken karena dengan adanya noken dapat menghidupi manusia-manusia yang cerdas dan sehat intelektual dan emosional.

Noken (Tas) asli terbuat dari tumbuh-tumbuhan seperti serat pohon, daun pandan, daun kelapa, daun sagu dan rumput rawa. Namun, situasi sekarang karena memasuki globalisasi modern sehingga masyarakat mulai melirik ke buatan pabrik atau barang yang sudah jadi seperti benang wol, benang manila atau nilon untuk merajut noken. seiring perubahan dan perkembangan pesat di negeri Papua yang kaya raya akan potensi alam dan keragaman budaya, maka sudah menjadi kewajiban kita sebagai anak-anak bangsa Melanesia untuk menjaga warisan budaya yang telah disahkan UNESCO ini.

Uski Bidana, Mahasiswa Prodi Manajemen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

 

 

Share
 


Copyright by KOMAPO.