Home BUDAYA BUDAYA CARGO CULTS (BUDAYA KARGO)
CARGO CULTS (BUDAYA KARGO)
BUDAYA
Saturday, 07 September 2013 15:04

 

Penulis: Valentino Uldopwakla Urpon

Mahasiswa Universitas Widya Mataram Yogyakarta


Jamaika mempunyai penganut Rastafari terbanyak di dunia dibandingkan negara-negara lain dan juga negara-negara bagian kepulauan karibia. Namun lebih luas ajaran Rastafari ini lebih banyak terdapat di Kepulauan Karibia. Rastafari adalah sebuah kepercayaan yang lahir dari benua hitam yaitu Arfika tepatnya dari Ethiopia. Kaum Rastafari dari Ethiopia mempunyai TUHAN mereka sendiri yaitu KAISAR HAILE SELASSIE yang kemudian diajarkan kepada masyarakat jamaika versi ortodoks dari kristen yaitu bahwa Tuhan adalah manusia dan Tuhan. Teori ini (dyophysite) adalah salah satu kepercayaan rasta yang berbeda dari kepercayaan barat (monophysite). Ketika pertama kali ajaran rasta ini muncul banyak yang mengira bahwa ini merupakan suatu ajaran agama, namun pada akhir tahun 80-an para pengikutnya mulai menyadari bahwa Rastafarian ini hanya merupakan “jalan hidup” belaka.

Jauh sebelumnya kaum rasta itu sendiri menurut para sosiolog dan para antropolog merupakan agama yang disamakan dengan CARGO CULTS (BUDAYA KARGO). Yang dimana budaya kargo ini sendiri merupakan agama Melanesia, yang berada di beberapa wilayah kepulauan pasifik barat daya. Agama ini percaya bahwa sebuah kekuatan yang berasal dari nenek moyang mereka akan kembali ke pulau tersebut untuk membawakan barang-barang konsumsi moderen dan juga kekayaan. Sehingga setiap orang yang awalnya mengikuti agama lain dan kemudian melihat agama ini akan dengan mudah menjadi pengikut agama melanesia ini karena selain mereka mendapat sandaran iman, mereka juga mendapatkan kekayaan.

Agama melanesia ini atau yang lebih dikenal dilingkungan orang Pegunungan Bintang dengan sebutan “cargo” sekarang sudah berakar rumput ditanah Aplim Apom tercinta, bukan seperti ajaran Rastafarian yang telah berubah pola pandang pengikutnya dari ajaraan aagama menjadi “jalan hidup” dan pengikutnya sudah memiliki agama meraka sendiri yang dikenal global. Namun agama melanesia ini para pengikutnya belum berubah pola pikirnya dan masih terus mengikuti agama ini. Melihat kebutuhan yang semakin meningkat, ditambah dengan minimnya pengetahuan masyarakat kita dalam menganalisis suatu masalah serta kurangnya informasi tentang suatu agama baru yang ada maka ini merupakan lahan subur tempat dimana “cargo” ini tumbuh. Semua kebutuhan masyarakat dan juga barang-barang konsumsi moderen diberikan kepada masyarakat dan masyarakat dengan senang hati mengikuti ajaran ini. Kabupaten kita ini memiliki beberapa suku dan setiap suku mempunyai agama adatnya sendiri jauh sebelum mereka mengenal agama umum yang dibawah oleh orang-orang eropa ke tanah Aplim Apom. Sekarang ketika semua orang dari berbagai suku telah dipersatukan dalam agama yang dikenal secara global serta didalamnya terdapat larangan-larangan, serta penyelamatan yang jelas.

Ketika “cargo” ini merajalela di tanah kita maka yang terjadi adalah selisih paham dengan dibalut oleh rasa tidak bertanggungjawab maka perpecahan dalam tubuh masyarakat akan dapat terjadi dengan sangat mudah. Ketidakmampuan masyarakat kita dalam menganalisis masalah juga merupakan masalah yang sanga besar, ditambah lagi bahwa agama adalah sesuatu yang sangat sensitif sehingga gampang sekali digunakan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Keinginan akan harta benda merupakan dambaan setiap orang sehingga terkadang manusia juga lupa cara yang benar untuk mendapatkannya. Jika seseorang yang merupakan pengajar “cargo” ini dapat menjawab kebutuhan ekonomi masyarakat yang ada maka tidak akan diragukan lagi para pengikut agama ini akan semakin bertambah banyak dengan seiring berjalannya waktu sehingga jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan maka orang-orang yang tidak mampu dalam menganalisis masalah akan menjadi korban. Didalam peradaban manusia yang semakin maju ini, terkadang agama juga dijadikan oleh beberapa oknum tidak bertanggungjawab untuk menjadi basis kekuatan untuk dapat menguntungkan oknum-oknum tersebut dan tentu saja yang berdiri digaris depan ketika terjadi masalah adalah mereka yang tidak pernah merdeka dari ketertinggalan, kemiskinan, kebodohan dan yang lainnya. Ketika ini dibiarkan maka tanpa kita sadari yang terjadi adalah perang saudara setelah itu maka orang dari tempat lain yang akan menikmati kekayaan yang ada didalam perut bumi kita.

Share
 


Copyright by KOMAPO.