Home BERITA NASIONAL NASIONAL HASIL TEAM INVESTIGASI IMIPA PUSAT-SULUT TENTANG PEMBACOKAN PETIUS TABUNI
HASIL TEAM INVESTIGASI IMIPA PUSAT-SULUT TENTANG PEMBACOKAN PETIUS TABUNI


Pada Hari Minggu tanggal 19 Oktober 2014.

Sekitar jam 02.30 WITa(W) yang mengendarai mobil Avanza, bersama dengan temannya J dan K, Sekitar jam 02.00 wita keluar cari Air aqua di Tataaran dekat antara Pertigaan dan Atm, mencari toko tapi tidak ada yang buka pada saat itu,kemudian menoleh ke arah ATM ada seorang berhadapan dengan (L dan S) yang sedang beradu argumen. Sehingga saya lekas turun dari Mobil dan saya menghampiri mereka dan mengatakan, bapak “biarkan mereka. Kemudia bapak itu membiarkan mereka, Saya pun berjabatangan dengan bapak itu. Kemudian saya menyuruh mereka untuk segera kembali ke asrama Kamasan VI. Karena saya berlawanan arah dengan mereka sehingga saya memutar mobil untuk bisa mengawal mereka. Pada saat saya memutar mobil, mereka L dan S sudah mengunakan motor mendahului saya, menuju ke arah asrama Kamasan VI. Setelah saya memutar mobil dan mengikuti mereka dalam perjalanan menuju asrama, kedua teman mahasiswa (L dan S) sudah di keroyok, ada beberapa yang menggunakan Piso dan pedang. Karena kami melihat mereka mengeroyok Lasarus dan semi sehingga kami menuju asrama untuk sampaikan pada teman-teman di asrama, dengan maksud pergi menyelamatkan mereka dengan baik. Ketika saya sampaikan pada mereka, teman-teman yang lagi mebuat syukuran pada acara wisuda mahasiswa itu, sehingga mereka yang mendengar ikut kembali ke tempat kejadian perkara. Jarak dari asrama ke TKP sekitar 700-800 meter.

 

Hal yang sama di katakan oleh kedua Mahasiswa (L dan S) Awal mula tujuan ke ATM BRI, tepatnya di pangkalan ojek atau di depan ATM Bank Sulut. Disana kami bertemu dengan seseorang yang mengaku diri keamanan disekitar situ, untuk menyuh kami pulang.Sehingga kami pun bertujuan untuk kembali ke asrama, bersamaan dengan itu ada teman kami yang datang mengunakan mobil. (W) mereka menggunakan Mobil Avanza, kami kembali ke asrama Kamasan VI Tondano, sewaktu dalam perjalanan menuju asrama tepatnya di selokan sungai JEMBATAN KUNING, karena pada saat itu saudara (S) topinya tertiup angin hingga jatuh dan maksud kami untuk mengambil topi (Sendi L) yang terjatuh.

Pada Pukul 03.15 WITA

Pada saat mereka menggambil topi tersebut kemudian ada suara orang yang tidak dikenal, karena gelap, dia berkata “KIAPA NGANA” (Kamu kenapa), bersamaan dengan itu ada sekitar 7 orang lainnya, mengejar kami berdua (L dan S) ketika kami berusaha untuk menghidar atau berlari kemudian mereka mengejar kami (L dan S), dan ada yang menggunakan motor. Yang mengunakan motor yang menyelip di depan kami, mereka melakukan penganiyaan (menendang Sendi Lambe dan terbentur L, lalu kami berdua jatuh, kata L), kemudian kami berdiri namun mereka memukul kami mengunakan tangan, kemudian kami berlari dan terpencar ketakutan dan ada yang mengancam kami mengunakan pisau dan Pedang.Sehingga saya (L) berlari menuju persawahan warga, dan adik saya (S) berlari menuju ke sekitar area Asrama Raja Ampat, ada seorang ibu yang melihat saya dan menyuru saya masuk kedalam asrama.

Pada Pukul 03.45 WITa

Saya (kata L) berada di tempat persawahan disana sekitar 30 menit, kemudian saya mendengar ada beberapa suara dan saya kenal kalau itu teman-teman mahasiswa papua dari asrama Kamasan VI. Sehingga saya berani keluar dan menemui mereka dan mereka menyuruh saya pulang ke asrama kamasan.

Pada Pukul 03.45 WITa

(S) Sewaktu di asrama raja ampat saya bersembunyi, disana ada seorang ibu diasrama yang melihat saya, sehingga ibu itu mengatakan masuk ke dalam rumah (asrama raja ampat). Setelah sekita 25-30 menit berlalu, saya mendengar ada suara teman-teman mahasiswa papua mereka mencari saya sehingga saya memberanikan diri untuk keluar dengan maksud menemui mereka.Saya mengambil motor pada saat yang sama, saya mendengar ada yang menghunus Pedang di atas aspal (sebelah Barat) sehingga saya meninggalkan motor dan saya merapatkan barisan bersama dengan teman-teman asrama.

Pada Pukul 04.00 WITa

Rombongan I. Teman Kami (F)Pada yang menuju ke depan pertigaan jalan Tataaran.Karena pada waktu itu anak-anak tidak berhasil bertemu dengan kedua teman (L dan S) sehingga anak-anak MELAMPIASKAN KEMARAHAN MEREKA “secara spontanitas ke rumah-rumah warga”).Rombongan ke II mahasiswa asrama kamasan yang bertemu dengan mereka tak lebih dari 15 menit mereka menyusul Rombongan I (Pertama), rombongan ke II ini, yang bertemu dengan kedua teman (L) dan (S).

Pada Pukul 04.00 wita

Warga TATAARAN mulai berkumpul satu persatu dan semakain banyak, warga tataaran dengan membawa benda tajam (Pedang, parang dan Tombak) maupun benda tumpul (Kayu, besi dan Batu) untuk menyerang mahasiswa papua di RUAS JALAN JEMBATAN KUNING.

Pada saat Bentrokan antara Warga Tataaran versus Mahasiswa papua, pada saat itu saudara (sdr.L) keluar dari barisan sehingga dia (sdr L)terkena goresan pedang dengan luka berat warga tataaran. Teman-Teman Mahasiswa Papua berupaya untuk menyelamatkan sdr. Lemius, serta ditandu menuju asrama, semua teman-teman di asrama melihat (sdr.lemius)yang bersimbah darah mereka tidak menerima perlakukan warga tataaran.

ALMAHRRUM PETIUS TABUNI melihat keponakannya (sdr.L) berlumuran darah, maka Almahrum tidak menerima kenyataan (Pamanya di pukul dengan Balok oleh warga tataaran), Almahrum marah dan bersama-sama dengan Mahasiswa di Asrama menuju kerumunan warga Tataaran di depan ruas jalan Tataaran, Kejar kejaran antara warga Tataaran vs mahasiswa papua silih berganti saling menyerang dimana Warga Tataaran mengunakan beberapa alat tajam (Pedang, Parang, pisau dan Tombak dan alat tumpul lainnya (tidak bisa dipastikan), sehingga mahasiswa papua terdesak mundur ke asrama kamasan VI. Disana semua warga Masyarakat Tataaran sudah berkumpul dengan maksud mereka masuk dan menyerang Mahasiswa Papua yang berada di asrama kamasan VI, jumlah yang saat itu mengikuti syukuran dan acara wisuda dan terjebak dengan keadaan penyerangan warga tataaran berjumlah 447 orang, itu terdiri dari mahasiswa papua yang berkuliah di Tondano, Tomohon dan Manado.Almahrum PETIUS TABUNI.

Di Asrama Kamasan semakain banyak warga Tataaran yang sudah berkumpul dan melempari Asrama Kamasan VI dengan Batu, mereka juga mempersenjatai diri dengan benda tajam (Panah wayang, Pedang, Parang, Pisau, Tombak), benda tumpul (Kayu, Batu, Besi) ada yang menggunakan senapang angin. Pengepungan ini, terjadi hingga siang hari sekitar jam 11.00 WITa. Warga Tataaran juga mengintimidasi Mahasiswa Papuadi semua asrama kabupaten-kabupaten/Kotase tanah papua lainnya yang berlokasi di Wilayah Tataaran, hingga akhirnya polisi silih berganti menjemput mahasiswa di tiap asrama. Polisi juga mengamankan asrama-asrama kabupaten-kabupaten/kota yang berada di Tataaran. Ketika semua mahasiswa yang diungsihkan sementara di asrama Putra Kamasan VI di perkirakan berjumlah 600an orang mahasiswa papua yang berada di Tondano, dimana mereka semua berkuliahan di UNIMA Tondano.

PERNYATAAN SIKAP:

Setelah pasca bentrokan hari minggu tanggal 19 Oktober 2014 antara mahasiswa papua dan masyarakat tataaran di kabupaten Minahasa Sulawesi Utara, maka pada hari ini di kota manado kami ingin sampaikan kepada seluruh pemerintah sulawesi utara, pemerintah kabupaten Minahasa, Masyarakat Adat, Tokoh Agama, Kapolda Sulawesi utara, Dandrem Sulawesi utara dan saudara/i kami di bumi minahasa dan pada umumnya masyarakat Sulawesi utara. Dengan tegas kami menyatakan bahwa :

· Pertama :

Kepada bapak Gubernur Sulawesi Utara untuk menghadirkan orang tua kami yaitu Gubernur Papua & Papua Barat agar segera dihadirkan diatas tanah ini.

· Kedua :

Kepada Bapak Kapolda Sulawesi Utara untuk segera dan secepatnya mengungkap pelaku pembunuhan secara tidak bermartabat terhadap Alm. Petius Tabuni selambat-lambatnya satu minggu.

· Ketiga :

Acara proses penandatanganan kesepakatan perjanjian damai antara masyarakat tataaran kecamatan tondano selatan dan mahasiswa asal papua pada tanggal 23 oktober 2014 belum sempurna, bersifat sepihak dan sangat memaksakan

· Keempat :

Kami sudah menarik seluruh mahasiswa asal papua yang berstudi dan berdomisili di tondano, tomohon, kairagi, poli ke manado di as. Cendrawasih V manado.

· Kelima :

Kami mahasiswa papua yang berstudi di Sulawesi utara baik negeri/swasta tidak akan melaksanakan aktivitas perkuliahan selama tuntutan kami belum terpenuhi

· Keenam :

Jika point satu, dua, tiga, empat dan lima belum dilaksanakan maka point keenam dalam pernyataan sikap tentang eksodus atau pulang secara besar-besaran ke tanah suci di bumi cendrawasih tetap berlaku dan dengan catatan warga minahasa di seluruh daratan tanah Papua harus pulang.

Demikian pernyataan dengan tulus dan mulia oleh Bangsa Papua dan Papua Barat di atas tanah injil dan seribuh gereja. Atas perhatian dalam menanggapi sikap kami ini tak lupa kami menyampaikan terima kasih.

TUNTUTAN:

Kami Yang Bertanda Tangan Di Bawah Ini

N a m a : Ikatan Mahasiswa Indonesia Papua

S i f a t : Wadah Sosial Bagi Seluruh Orang Papua Di Sulawesi Utara

Dengan Ini Kami Menyatakan Kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara Bahwa Atas Pembunuhan Saudara Kami Alm. Etius Tabuni Di Tataaran Kabupaten Minahasa. Maka Kami Bermohon Kepada Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Utara Untuk Segera :

1. Membebaskan Tanpa Syarat Terhadap Mahasiswa/I Asal Papua Dan Papua Barat Sebanyak 447 Jiwa Di Tondano Pada Hari Ini Juga Untuk Turun Ke Manado Sebelum Jenazah Dikirim Ke Bumi Cendrawasih.

2. Bermohon Agar Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara Untuk Menghadirkan Pemerintah Provinsi Papua Dan Papua Barat, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat Minahasa, Untuk Mengklarifikasi Kebenaran Masalah.

3. Segera Mengungkap Pelaku Pembunuhan Yang Tidak Manusiawi

4. Seluruh Pengurusan Biaya Almarhum Adalah Tanggungjawab Pemerintah Sulawesi Utara.

5. Jika Semua Tuntutan Kami Tidak Ditanggapi Secara Serius Maka Kami Seluruh Bangsa Papua Akan Eksodus Besar-Besaran Ke Tanah Suci Melanesia dengan catatan bahwa orang Minahasa di Papua harus dipulangkan kembali.

Demikian Pernyataan Sikap Kami Atas Perhatian Tak Lupa Kami Menyampaikan Terima kasih.

Manado, 27 Oktober 2014

Hormat kami ;

BADAN PENGURUS PUSAT

IKATAN MAHASISWA INDONESIA PAPUA DI SULAWESI UTARA


Permenas Wolom

KOORLAP


YEMTO TABO FENTOM O. SOLOSSA


KETUA UMUM SEKERTARIS UMUM



Tembusan Disampaikan Kepada YTH :


1. Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara

2. Pemerintah Daerah Minahasa

3. Walikota Tomohon

4. Walikota Manado

5. Arsip

 

Share
 


Copyright by KOMAPO.