Home BERITA NASIONAL NASIONAL BILA MERAUKE DIJADIKAN LUMBUNG PANGAN
BILA MERAUKE DIJADIKAN LUMBUNG PANGAN

Yogyakarta-Komnews, Program Magister Ilmu Relegi dan Budaya (IRB) Universitas Sanata Dharma Yogyakarta mengadakan diskusi publik tentang ”Bila Merauke Dijadikan Lumbung Pangan” di gedung pusat kampus USD, ruang Driyarkara, Jumat (24/10/ 2014) dari pukul 08:00 –12:00 WIB.

“Kami menghucapkan terimakasih dan mengucapkan selamat datang kepada kepala Dinas Tanaman Pangan Kabupaten Merauke yang bisa hadir mengikuti seminar ini. Kami mengadakan seminar ini dengan alasan bahwa ada beberapa mahasiswa kami yang mengambil tesis tentang pertanian pangan perekonomian dapat di bebaskan sehingga patut untuk kita seminarkan ke Publik” kata Dr. Gregorius Budi Subanar, SJ dalam sambutannya.

 

Lebih lanjut, ketua Program Magister Ilmu religi dan Budaya tersebut mengatakan, jika makna dari kebebasan dalam ranah perekonomian global adalah pilihan bebas dan telah banyak dibahas oleh para pemikir dalam bidangnya, hal yang akan diteliti dalam penelitian tesis mahasiswa kami ini adalah apa yang sesungguhnya terjadi di masyarakat Marind, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua. Oleh karena itu, kami mengajak saudara-saudari untuk dapat mengikuti seminar ini dari awal sampai akhir semoga apa yang pemateri membagikan atau shering kepada kita itu berguna bagi masa yang akan datang.

Ketua panitia, Aris dan juga adalah Mahasiswa Magister IRB USD mengatakan bahwa semangat dengan berjuang dan mempertahankan hutan yang ada di tanah air. Maka itu dengan kesempatan ini, mari kita mengikuti seminar yang akan pemateri siapkan untuk sama-sama kita diskusi dan merumuskan supaya masa depan tanah air Indonesia menuju kemajuan sehingga bertujuan untuk memajukan dan mensejahterahkan masyarakat yang ada di pelosok karena.

Zuhdi S. Sang menyampaikan hasil tesisnya dengan materi “Lokasi Kebebasan Marind Dan Merauke Integrated Food And Energy Estate (MIFEE) Dalam Wacana Patriotisme”.

Dalam materinya Ia mengatakan “Suku Marind adalah masyarakat yang mendiami wilayah kabupaten Merauke. Pertemuan Malind dan MIFEE melahirkan pertentangan terkait bagaimana hutan dan tanah itu dimaknai. Marind dengan semangat Anim-Ha (Manusia Sejatih) yang dipegangnya berjuang mempertahankan hutan sebagai bagian tak bisa terpisahkan dari identitasnya, sementara pemerintah Indonesia menyikapi hutan tak lain sebagai asset ekonomi yang menyediakan peluang besar meraih keuntungan dan mengatasi ancaman krisis yang diwacanakannya”.

Dalam simptom histerisnya, Marind Anim-Ha menjelaskan bahwa kebebasan sesungguhnya adalah sesuatu yang tidak berada pada wilayah rasional atau bisa dirasionalisasi. Sebagaimana direpresentasikan oleh budaya totenisme Marind yang tak mungkin memisahkan tanah/hutang dari kehidupannya, tubuh pun tak lagi hanya tubuh secara fisik. Hutan bukanlah asset ekonomi, melainkan adalah bagian dari tubuh Marind. Pada titik nilah tidak ada yang bisa diharapkan dari MIFEE-MP3EI selain sebagai bentuk sistemik dari proses genosida simbolik, penghancuran atas identitas kebutuhan masyarakat.

Kemudian dilanjutkan dengan materi kedua. Materi ini disampaikan oleh Umih Lestari dan juga adalah mahasiswa IRB USD.

Dalam pembahasanya ia mengatakan melihat subjek Marind dalam menghadapi Merauke Integrated Food And Energy Estate –Masterplan Percepatan dan Perluasan Perekonomian Indonesia (MIFEE-MP3EI). Dalam penelitian Zuhdi telah melihat pergerakan masyarakat Marind dalam menolak MIFEE atau membantu MFEE dan menghabiskan hutan Marind. Namun, apa yang dikatakan Zizek sebagai pilihan ketiga adalah agar jangan terburu-buru untuk terjebak dalam Statement, kita diajak untuk melihat apa yang ada dibalik statement tersebt dan apa yang mendorong statent tersebut muncul.

Pemateri ketiga Dr. Laksmi A. Savitri menyampaikan tentang “MIFEE: Bila Lumbung Pangan adalah Lumbung Laba adalah Analisa Pembentukan ruang untuk perluasan kapital“.

“Rantai untuk penjelasan tentang MIFEE ternyata tidak bisa dimulai dari suatu daerah yang bernama merauke, bahkan sebuah Negara yang namanya Indonesia saja. Indonesia hanya satu titik kecil dari jejaring yang ingin dibangun untuk perluasan capital dari suatu konstruksi geografis yang bernama Asia, lalu meluas menjadi Asia dan Fasifik bahkan melebar lagi menjadi beyond ASEAN atau tanpa batasan geografis, melampaui sejauh-jauhnya dari sekedar Indonesia”katanya.

Lebih lanjut ia menjelaskan Merauke Integrated Food And Energy Estate (MIFEE) sebagai mega proyek investasi pangan dan energy adalah konvergensi dari misi MP3EI dan ambisi kepemimpinan local untuk menjadikan merauke sebagai ‘New Frontier of Capitalism’ atau sebutan lainnya adalah wilayah investasi baru.

Bambang, kepala dinas tanaman dan pangan kabupaten Merauke dalam sesi terakhir mengatakan “ mengenai persoalan yang terjadi di merauke setelah adanya MIFEE bahwa mata hari itu terbit dari Timur Indonesia. Jadi mata hari pertama di Merauke baru di Indonesia barat, namun untuk pembangunan terbalik semuanya di barat dulu baru kami orang Papua dan itu hasilnya pun kami tidak merasakan, karena saya sudah lama selama 50-an tahun bertugas di tanah Papua sehingga pemerintahan Jokowi-JK kedepan bisa merata sampai di merauke” katanya.

Lebih lanjut dari Merauke bisa menghidupkan seantero Papua, karena dilihat dari pertanian Merauke mampu memproduksi beras 100 ton sehingga kami membantu kabupaten yang ada di Pegunungan.

“Saya sebagai kepala dinas tanaman dan pangan kami harus berusaha semaksimal mungkin supaya bisa meningkatkan lagi. Kami sudah siap bahwa 80% bisa memproduksi beras sendiri, jadi rencana kami di tahun 2015 ini adalah bikin tepung dari ubi“ Kata Bambang. (Uski Bidana/Komnews)

Share
 


Copyright by KOMAPO.