Home BERITA NASIONAL NASIONAL SEMINAR REFLEKSI SEPULUH TAHUN KEPEMIMPINAN SBY BAGI TANAH PAPUA
SEMINAR REFLEKSI SEPULUH TAHUN KEPEMIMPINAN SBY BAGI TANAH PAPUA

Jakarta-Komnews, Pusat studi Papua Universitas Kristen Indonesia(UKI) mengadakan diskusi publik tentang ”Refleksi 10 tahun kepemimpinan SBY bagi tanah Papua” di kampus UKI, Kamis (16/10/ 2014) dari pukul 9.30 –15.00 WIB. Seminar tersebut dihadiri oleh Moctar Papahan akademisi UKI, Markus Haluk sekjen AMPTI sekaligus jurnalis dan Aktivis HAM di Papua, Hironimus Hilapok, S.Sos; Msi dan sebagai Staf ahli DPR RI perwakilan Papua sebagai pemandu acara.

Seminar tersebut diundang Gubernur Papua Lukas Enembe,S.IP, Kontras HAM Natalis Pigai dan tim Transisi Jokowi namun pihaknya tidak hadir.

“Pelanggaran HAM di Papua selama sepuluh tahun terakhir ini ditandai oleh kekerasan dan penembakan yang dilakukan aparat keamanan, ancaman pembungkaman suara dan aksi damai, dan berbagai ancaman lain yang berpotensi merenggut harapan hidup warga Papua” kata Markus Haluk dalam sambutan pembuka acara ini.

 

Kemudian, Markus Haluk membedah bukunya yang berjudul MATI ATAU HIDUP. Ia berbicara dalam tiga sesi yakni persoalan yang terjadi tahun 60-an Papua dianeksasi  NKRI, refleksi masa kepemimpinan SBY dan kekerasan di Papua oleh TNI/POLRI.

Berbicara masalah Papua bukan kerikil di sepatu melainkan duri dalam daging. Ia mengajak kepada seluruh masyarakat, pemerhati HAM bersatu mencari soluis untuk mengeluarkan duri dalam daging itu. Dari semua pembicaraan Markus Haluk menilai SBY gagal menyamin hak-hak dasar orang papua di 2 periode berturut-turut dari 20 oktber 2004-20 okbr 2014.

Sambutan kedua disampaikan oleh Bapak Prof.Dr.Mocthar, adalah Akademisi UKI dan juga orang yang selalu aktif dalam penelitian pelanggaran HAM di Indoensia. Ia adalah salah satu pembelah HAM di Timor Leste pada tahun 1975 dan pernah di penjarah oleh militer Indoenesia karena beliau mendukung Timor Timur terlepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam sambutannya, Ia mengapresiasi pernyataan Markus Haluk karena benar-benar yang dibicarakan adalah realita di masa kepemimpinan SBY.

“Saya pernah ikut seminar tentang Papua bersama Dr. Arnol Ap, Doktor pertama bagi orang Papua yang sudah di bunuh militer Indonesia. Kehadiran orang Jakarta di Papua bukan mensejahterakan Papua melainkan membunuh orang Papua”katanya.

Lebih lanjut, Ia mengatakan pernah berkunjung di seluruh tanah Papua dan bertemu dengan Theys Eluay dan kembali ke Jakarta beberapa bulan kemudian Beliau dibunuh karena militer Indonesia.

“Beberapa dekade yang lalu, saya ke Papua dan bertemu dengan sejumlah kepala suku di sana dan kembali ke Jakarta membawah surat dari Forkorus untuk diserahkan kepada Jokowi” ujarnya.

Ia menyerahkan surat berisi 8 poin  pemikiran masyakat Papua kepada Presiden dan wakil Presiden terpilih Joko Widodo dan Yusuf Kalla. Delapan poin itu,  semua dijawab tetapi hanya satu butir tidak direspon oleh JK karena ada unsur Refrendum.

Lebih lanjut dirinya mengatakan jika Jokowi memimpin bangsa ini dengan meneruskan program SBY, maka saya siap dukung Refrendum Bagi Bangsa Papua. Apabila Jokowi meneruskan kepemimpinanya SBY 1 tahun kedepan Papua akan Referendum, ujarnya  didepan 500-an peserta seminar . (Salmon Kasipmabin/Komnews)

 

Share
 


Copyright by KOMAPO.