Home BERITA LOKAL BERITA LOKAL SELAMATKAN GENERASI MUDA PEGUNUNGAN BINTANG, PAPUA DARI BAHAYA HIV/AIDS
SELAMATKAN GENERASI MUDA PEGUNUNGAN BINTANG, PAPUA DARI BAHAYA HIV/AIDS

Yogyakarta-Komnews, Anggota Komapo Koordinator Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta kembali melakukan diskusi rutin pada Selasa (16-07/2017) bertempat di Kantin Realino Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Diskusi kali ini merupkakan diskusi ke-III dengan fokus Perilaku Kesehatan. Topik yang diangkat dalam diskusi tersebut adalah“Selamatkan Generasi Muda Pegunungan Bintang, Papua dari Bahaya HIV/AIDS” . Hadir dalam diskusi sekertaris KOMAPO, Wilem Jaden Sipka dan juga dihadiri oleh 9 orang anggota Korwil Yogyakarta dan satu Orang anggota Korwil Salo (Salatiga-Solo). Dalam diskusi tersebut dimoderatori oleh Eling Urwan dan materi dibawahkan oleh Isak Kalka, Amd, S.Psi. Diskusi dimulai sekitar pukul 19.40 WIB dan berlangsung sampai pukul 22.20 WIB. Diskusi dibuka oleh moderator dan selanjutnya memberikan waktu sepenuhnya kepada pemateri.

Isak Kalka, Amd, S.Psi.“Menurut WHO (world Health Oragnization) mendefinisikan Bahwa sehat adalah suatu keadaan berupa kesejahtraan fisik, mental dan sosial secara penuh bukan semata-mata hanya terbebas dari penyakit dan keadaan lemah tertentu”. Dalam pemaparan materipemantik menggambarkan secara umum apa itu HIV/AIDS dan Hidup sehat dari berbagai pandangan ilmu seperti Antropologi Kesehatan, Sosiologi Kesehatan dan Sudut Pandang Pisikologilalu diakhiri dengan memberi dua contoh kasus HIV/AIDS di Jakarta dan Bali kepada para peserta diskusi serta beberapa pertanyaan reflektif diantaranya Peserta diskusi diminta untuk mengemukakan pendapat berdasarkan pengalaman yang mereka alami? Apa yang anda (peserta) lakukan setelah menyeleaikan kuliah dan kembali ke Papua untuk mengatasi masalah kasus HIV/AIDS dalam rangka menyelamatkan Generasi Muda Papua “Pegunungan Bintang”?.

Ferdinandus Bamulki Kesehatan merupakan dimensi penting yang menjadi tanggung jawab pemerintah pusat dan Daerah sehingga setiap warga berhak mendapat pelayanan kesehatan masyarakat pegunungan Bintang yang mana sebagai warga negara Indonesia berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Berdasarkan pengalaman dan pengamatanya penyebab tingginya kasus HIV/AIDS terutama disebabkan oleh kesenjangan sosial, Kesalahan Pendidikan Serta pengaruh sikologi yang dimaksudkanya adalah anak-anak yang lahir dan hidup di kota oksibil sebelum pemekaran Kabupaten Pegunungan Bintang dan setelah pemekaran sangat berbedah. Kenapa demikian? Karena jika dilihat dari proses pendidikan formal dan nonformal (keluarga) sebelum pemekaran berjalan baik setiap anak selain mendapat ilmu pengetahuan dari sekolah anak-anak dibina dan didik oleh orang tua dirumah dengan nasihat dan ceramah sesuai teradisi oarng Ngalum/OK. Tetapi, setelah adanya pemekaran teradisi tersebut sudah tidak ada sekarang orang tua sudah sibuk masing-masing bapak urus politik mama (Ibu) cari uang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan anak mereka lantarkan lalu anak belajar sendiri maka rentan sikologi anak terganggu dan membuat Si anak merasa tidak diperhatikan sehingga mudah terjerumus ke dalam hal-hal negatif yang, tandasnya.

Kristian Talmom menurutnya ketidak tahuan masyarakat tentang cara hidup sehat menjadi penyebab timbulnya penyakit termasuk kasus HIV AIDS di Kabupaten Pegunungan Bintang, masyarakat kita belum tahu bagiman cara hidup sehat itu, berapa kali mandi dalam sehari? Sehingga perluh memberikan pemahaman kepada masyarakat supaya masyarakat bisa hidup sehat seperti masyarakat di daerah-daerah lain. Lalu menurutnya juga pola hidup yang baik antara lain mandi rutin 2 kali/hari, Menjagga kebersihan lingkungan, mengonsumsi makanan bergizi, cuci tangan sebelum makan, rajin mengganti pakaian, dan kurangi mengkonsumsi MIRAS (minuman keras) dan rokok bagi para pengkonsumsi MIRAS dan rokok.

Derius A. Kaladana Manusia sehat pasti pinitar, Manusia pintar pasti sehat” Hubungan kesehatan dengan adat istiadat Pegunungan Bintang masa lalu adalah masyarakat masa lalu hidup sehat, Saling menghormati dan menghargai. Nilai hidup ini yang sekarang sudah tidak ada di masyarakat menyebabkan kesenjangan sosialtinggi sehingga rentan melakukan tindakan yang berdampak buruk bagi setiap individu. Kasus HIV/AIDS sangat tinggi oleh karena itu, perlu adanya penyuluhan kepada masyarakat oleh dinas terkait yang ahli dalam bidangnya untukdapat mencegah penyebaran kasus HIV/AIDS dan penyakit lainnya.

Fransisca Tepmul Urbanisasi atau perpindahan penduduk dari kampung ke kota sangat berpengaruh karena sekarang pusat pertembuhan pembangunan terpusat di ibu kota kabupaten (Oksibil) membuat masyarakat dari kampung-kampung berbondong-bondong ke kota untuk melihat dan merasakan perkembangan tersebut. Dengan latar belakang pendidikan masyarakat kita yang masih rendah mereka menerima proses perkembangan tersebut tanpa membedakan yang baik dan buruk. Bapak-bapak yang berkunjung ke kota karena urusan dinas atau tinggal menetap sementara di ibu kota sering jajan (berubungan Gelap) banyak atau ganti-ganti pasangan berpeluang mendapatkan penyakitHIV/AIDS lalu pulang kekampung dan menularkan ke istri mereka yang tidak tahu tenteng hal-hal tersebut. Lalu, hal ini juga sangat berbahaya karena secara otomatis jika bapak terkena HIV/AIDS maka akan ditularkan ke istri jika istri sudah tertular maka anaknya juga pasti akan terkena HIV/AIDS melalu ASI karena sekitar 90-95% ibu-ibu di Pegunungan Bintang menggunakan ASI (air susu ibu) untuk Bayi.

Anselina Uropmabin melalu pertanyaan reflektifnya Kenapa HIV/AIDS ada di Pegunungan Bintang? Karena adanya Transmigrasi walaupun pegunungan bintang belum mendapat program Transmigrasi dari pusat seperti Kabupaten-Kabupaten lain di Papua namun dengan adanya pemekaran kabupaten dan minimnya SDM (sumber daya manusia) mendatangkan para pencari kerja dari daerah lain. Para Pencaker datang mencari pekerkerjaan di Pegunungan Bintang yang tentu mendatangkan berbagai penyakit yang orang Pegunungan Bintang sebelumnya belum pernah mengetahuinya seperti penyakit HIV dan AIDS. Masyarakat Pegunungan Bintang pada umumnya belum siap menerima kehadiran kehadiran Kabupaten dalam artian bahwa SDM di kabupaten Pegunungan Bintang sangat kurang sehingga tidak dapat memberi pemahaman kepada masyarakat tentang pola hidup sehat dan bahaya HIV/AIDS dengan demikian masyarakat menerima proses perkebangan pemabngunan dan teknologi tanpa difilter.

Penyebab Munculnya Kasus HIV dan AIDS di Kabupaten Pegunungan Bintang

  1. Perilaku seks bebas
  2. Berganti-ganti pasangan
  3. Sistem sanitasi yang kurang baik (Perumahan)
  4. MCK belum dibangun sesuai standar
  5. Pendidikan dalam keluarga kurang baik
  6. Pendidikan formal kurang memberi informasi tentang HIV dan AIDS bagi masyarakat.
  7. Jarum suntik berganti-ganti lebih dari satu orang
  8. ASI (Air Susu Ibu)
  9. Transmigrasi ( masuknya orang luar ke Pegunungan Bintang Mencari Pekerjaan)10.
  10. Urbanisasi (Perpindahan penduduk dari kampung Ke Kota untuk melihat dan merasakan Pembangunan).
  11. Perkembangan teknologi

Usulan kepada orang-orang yang peduli dengan Tanah dan Manusia Pegunungan Binatang untuk mencegah HIV dan AIDS.

  1. Perbaharui diri di lingkungan sosial dan mengubah paradigma. Jika pacar pacaran yang sehat, Jika teman berteman yang sehat, adik-kaka jadi adik kaka yang sehat.
  2. Penuhi kebutuhan rohani (menyukupi dimensi rohani dalam diri)
  3. Pola pembangunan berbasis wiayah atau berpusat pada distrik-distrik lama
  4. Kurangi mengkonsumsi MIRAS (minuman keras) dan rokok bagi para pengkonsumsi MIRAS dan rokok.
  5. Bagi mahsiswa yang pernah beristudi diluar Papua yang pernah tahu tentang bahaya HIV jika pulang ke daerah memberi pemahaman kepada masyarakat disekitar tentang bahaya HIV/AIDS dan polah hidup sehat.
  6. Membangun MCK per Kepala Keluarga yang sesuai standar
  7. Mahasiswa Komapo melakukan penyuluhan di sekolah-sekolah yang ada di kabupaten Pegunungan Bintang
  8. Mahasiswa KOMAPO Menggadakan seminar besar-besaran tentang Kesehatan dan Pendidikan di Oksibil.
  9. Adakan bina Remaja dari pemerintah dan Gereja disetiap Kampung

Wilem J. Sipka “lebih baik mencegah dari pada mengobati” HIV/AIDS itu diibaratkan sebagai bom atom, kecil tetapi memiliki daya ledak yang tinggi. Atom akan meledak selama masih aktif. Jika satu ataom meledak dapat menghancurkan satu kota itulah virus HIV. HIV akan menghancurkan seluruh kehidupan yang ada di Pegunungan Bintang maka mari kita mencegahnya. Jika kita berkotbah kepada orang lain untuk hidup sehat dan mencegah HIV/AIDS tetapi kelakuan peribadi diri kita tidak menunjukan perilaku hidup orang sehat sama saja tidak memberi dampak positif bagi orang lain. Jadi, mari kita mulai menjagga diri dari Jawa dan SAY NO TO HIV/AIDS untuk kembali membangun negeri tercinta kita OK/MEK Pegunungan Bintang. (JS)

Ditulis Oleh : Mas Jay Sipka-Mahasiswa Papua-Yogyakarta

 

Share
 


Copyright by KOMAPO.