Home BERITA LOKAL BERITA LOKAL IICF UKSW: SANG CENDRAWASIH MENARI MEMIKAT HATI MASYARAKAT KOTA SALATIGA
IICF UKSW: SANG CENDRAWASIH MENARI MEMIKAT HATI MASYARAKAT KOTA SALATIGA

Salatiga-Komnews, Itulah yang tergambar dalam acara pawai budaya  Indonesian International Culture Festival (IICF) yang diselenggarakan Senat Mahasiswa Universitas (SMU), Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, Sabtu (16-04/16). Group tari dari etnis Papua tampil dengan gaya khasnya bagai sang Cendrawasih yang elok dipandang mata, alunan suara yang merdu diwaktu senja, dan goyangan yang inspiratif.

Beragam gerak tari dan aksesoris yang dikenakan Group Tari dari Etnis Papua menunjukkan betapa beragamnya kebudayaan Melanesia bagai eloknya burung Cendrawasih yang memiliki warna bulu kuning, coklat, putih, hijau dan hitam, dengan goyangan khasnya yang ditampilkan pada waktu-waktu tertentu memiliki makna filosofis, ekologis, teologis dan ekonomis.

Aksesoris yang dipakai, gerakan tari dan nyanyian kombinasi Papua wilayah pesisir dan pegunungan menunjukkan Cendrawasih yang sesunggunya. Cendrawasih yang berusaha untuk menunjukkan eksistensi dirinya ditengah habitatnya digusur, kawanannya diburu, dikandangkan, bahkan diusir dari sarangnya untuk beragam kepentingan.

Kegiatan tahunan yang diselenggarakan UKSW ini mengundang animo masyarakat di Salatiga yang sejak pagi memadati sejumlah ruas jalan protokol yang dilalui peserta pawai budaya. Pawai budaya ini diikuti oleh 19 etnis mewakili suku bangsa masing-masing, yakni Batak Toba, Toraja, Poso, Jawa, Sumba, Talaud, Pinaesaan, Batak Simalungun, Sumatra Selatan, Maluku, Batak Karo, Kupang, Halmahera, Lampung, Papua, Kalimantan Tengah, Kalimantan, Nias, dan juga perwakilan dari Timor Leste.

Sejumlah etnis yang tampil, salah satu yang menarik perhatian masyarakat Kota Salatiga adalah penampilan dari etnis Papua. Mahasiswa Papua tampil natural menggunakan koteka dan dilengkapi dengan aksesoris dan lukisan-lukisan, serta nyanyian dan goyangan yang khas berdimensi filosofis, ekologis, teologis dan ekonomis menyita ribuan mata masyarakat Salatiga tertujuh pada sang Cendrawasih yang melintasi jalan-jalan utama di Kota Salatiga.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Senat Mahasiswa Universitas (SMU) UKSW ini mengangkat tema "Bhineka Tunggal Ika". Tema ini merupakan citra UKSW yang selama ini dijuluki sebagai Indonesia Mini, yang mana mahasiswa berasal dari berbagai suku bangsa dari Aceh sampai Papua berkumpul dalam satu rumah “ UKSW”.

Kegiatan Indonesian International Culture Festival (IICF) dibuka secara resmi oleh Wali Kota Salatiga Yuliyanto, SE. MM, didampingi Rektor UKSW Prof. Drs. John A.Titaley, Th. D dan Kapolres Salatiga AKBP Yudho Hermanto.

Rektor UKSW dalam sambutannya menyampaikan rasa syukurnya karena festival perayaan budaya dapat kembali diselenggarakan di kampus UKSW. Menurutnya Pawai Budaya mulai diadakan UKSW sejak 1975. Lebih lanjut Ia mengatakan kegiatan ini diselenggarakan untuk menunjukkan bahwa mahasiswa UKSW berasal dari berbagai daerah.

" Kegiatan ini diselenggarakan untuk menunjukkan pada masyarakat bahwa mahasiswa yang belajar di UKSW berasal dari berbagai daerah," kata Titaley.

Sambutan Wali Kota Salatiga Yuliyanto, S.E., M.M mengajak para mahasiswa UKSW untuk menjadi warga kota yang baik dengan senantiasa menjaga perdamaian.

"Mahasiswa UKSW merupakan bagian dari Kota Salatiga, maka dari itu mari kita jaga bersama keamanan, ketertiban dan perdamaian Kota Salatiga," ucap Yuliyanto.

Lebih lanjutnya Yuliyanto mewakili seluruh masyarakat Salatiga menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya ajang kebudayaan terbesar di kampus UKSW.

Selain pawai budaya, kegiatan yang digelar hingga 22 April 2016 ini akan menampilkan kampung budaya, culture festival serta food festival. Sedangkan penutupan IICF ini ditutup dengan closing party yang menampilan Sekawan, Salatiga Movement, Kuda Lumping, Wanx Wunx, Dance of SWCU, Skatone Army dan juga penampilan kolaborasi etnis. (Mecko)

 

 

Share
 


Copyright by KOMAPO.